Anda di halaman 1dari 17

HIPERSENSITIVITAS TERHADAP OBAT GOL.

PENISILIN
NAMA KELOMPOK :
1. 2. 3. 4.

BERNARDETE FREITAS B. MUFTITA RUSDIANA RIYAS SANJUNG ANDIKA SITI ASFIATUL

S1 FARMASI/TK. II

Hipersensitivitas
Reaksi

imun yang patologik, terjadi

akibat respon imun yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan jaringan tubuh.

PENISILIN

PENISILIN termasuk obat Antibotika.

Penisilin diproleh dari jamur Penicillium chrysogenum;

Penisilin dapat dibagi dalam beberapa jenis menurut aktivitas dan resistensinya terhadap laktamase sbb :
1.

Zat-zat dengan spektrum-sempit : benzilpenisilin, penisilin-V, dan fenetisilin. Zat-zat ini terutama aktif terhadap kuman Gram-positif dan diuraikan oleh penisilinase. Zat-zat tahan-laktamase : metilsilin, kloksasilin, dan flukloksasilin. Zat ini hanya aktif terhadap stafilokok dan streptokok. Asam klavulanat, sulbaktam dan tazobaktam memblokir laktamase dan dengan demikian mempertahankan aktivitas penisilin yang diberikan bersamaan.

2.

3.

Zat-zat dengan spektrum-luas : ampisilin dan amoksisilin, aktif terhadap kuman-kuman gram positif dan sejumlah kuman gram negatif, kecuali antara lain pseodomonase, klebsiella dan B.fragilis. Tidak tahan-laktamase, maka sering digunakan terkombinasi dengan suatu laktamase blocker, umumnya Klavulanat . Zat-zat anti-Pseudomonas : tikarsilin dan piperasili. Antibiotika berspektrum-luas ini meliputi lebih banyak kuman gram negatif, termasuk pseudomonas, proteus, klebsiella dan Bacteroides fragilis. Tidak tahan-laktamase dan umumnya digunakan bersama dengan laktamase-blocker.

4.

1. Zat-zat dengan Spektrum-Sempit


1.BENZILPENISILIN: Penisilin-G dihasilkan oleh Penicillium chrysogenum

2. FENOKSI METIL PENISILIN (PENISILIN V)

3. FENETISILIN (Broxil)

INDIKASI : Infeksi tenggorokan, otitis media, strepkokus, endokarditis, meningkokus, meningitis, pnemonia. Profilaksis amputasi pada lengan atau kaki.

INDIKASI : Otitismedia, demam rematik,

INDIKASI : Otitismedia, demam rematik,


EFEK SAMPING : Reaksi alegi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem, leukopenia, thrombositopenia, syok anafilaktik pada pasien yang alergi diare pada pemberian per-oral.

KI : Hipersensitivitas (alergi) terhadap penisilin.

PERINGATAN : Riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal.

2. ZAT-ZAT TAHAN-LAKTAMASE
1. METISILIN 2. KLOKSASILIN (Orbenin, Meixam) tahan laktamase 3. FLUKLOKSASILIN
EFEK SAMPING : Reaksi alegi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem, leukopenia, thrombositopenia, syok anafilaktik pada pasien yang alergi diare pada pemberian per-oral.

INDIKASI : Infeksi karna Stafilokokus dan streptokok yang memproduksi penisilinase.

KD : Hipersensitivitas (alergi) terhadap penisilin

3. ZAT-ZAT DENGAN SPEKTRUM-LUAS

1. AMPISILIN
INDIKASI : Infeksi saluran kermih, otitis media, sinusitis, bronkitis kronis, salmonelosis invasif, gonore.

2. AMOKSISILIN
INDIKASI : Infeksi yang disebabkan oleh strain bakteri yang peka infeksi kulit dan jaringan lunak dan infeksi saluran pernafasan

KD : Hipersensitivitas terhadap penisilin, mual, diare, ruam kadang-kadang terjadi olitis karena antibiotil.

KD : Hipersensitivitas pasien dengan riwayat alergi terhadap penisilin

EFEK SAMPING : Gangguan Lambung Usus dan reaksi alergi alergi kulit

EFEK SAMPING : gangguan lambung usus dan radang kulit lebih jarang terjadi.

4. ZAT-ZAT ANTI-PSEUDOMONAS

1.TIKARSILIN
INDIKASI : infeksi yang disebabkan oleh pseudomonas dan proteus spp.

2. PIPERASILIN
INDIKASI : infeksi pseudomonas aeurinosa.

KD :Hipersensitivitas (alergi)
terhadap penisilin ES:Reaksi alergi berupa urtikaria,demam,nyeri sendi,angioudem,leukopenia,tromb ositopenia,syok anafilaktik pada pasien yang alergi, diare pada pemberian per oral.

KD :Hipersensitivitas (alergi)
terhadap penisilin.
ES:Reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi,angioudem,leukopenia,trom bositopenia,syok anafilaktik pada pasien yang alergi, diare pada pemberian per oral.

BENTUK SEDIAAN

Hipersensitivitas tipe 1 Sindrom Steven-Johnson (SSJ)

Reaksi hipersensitivitas tipe 2

Reaksi hipersensitivitas tipe 3 Bintul-bintul merah pada kulit

Reaksi hipersensitivitas tipe 4 Lesi di punggung (urtikaria)

Pencegahan :

Anamnesis riwayat kemungkinan alergi obat sebelumnya


Kalau belum tau alergi obat atau tidak dilakukan skin test dulu. Semakin sering seseorang memakai obat maka akan semakin besar pula kemungkinan untuk timbulnya alergi obat. Jadi pemakaian obat hendaknya dengan indikasi kuat dan bila mungkin hindari obat yang dikenal sering memberikan sensitisasi pada kondisi tertentu (misalnya aspirin pada asma bronkial).

Penanganan/Pengobatan

Manifestasi klinis ringan umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus. Reaksi kompleks imun biasanya sembuh spontan setelah antigen hilang, namun sebagai terapi simtomatik dapat diberikan antihistamin dan antiinflamasi non-steroid. Untuk urtikaria atau edema angionerotik dapat diberikan antihistamin misalnya, diphenhidramin, loratadin atau cetirizine dan kalau kelainan cukup luas diberikan pula adrenalin subkutan dengan dosis 0,01 mg/kg/dosis maksimum 0,3 mg/dosis. Reaksi anafilaktik akut membutuhkan epinefrin, patensi jalan nafas, oksigen, cairan intravena, antihistamin dan kortikosteroid.

Bila gejala klinis berat (sindrom Stevens-Johnson, vaskulitis, kelainan paru) harus diberikan kortikosteroid serta pengobatan suportif dengan menjaga kebutuhan cairan dan elektrolit, transfusi, antibiotik profilaksis). Perawatan lokal segera dilakukan untuk mencegah perlekatan, sikatriks, atau kontraktur melalui konsultasi dan kerjasama interdisiplin dengan bagian terkait (mata, kulit, bedah).

Daftar Pustaka

Andajati Retnosari, dkk, ISO Farmakoterapi. (2008) : Jakarta. PT.Isfi Penerbitan.


Rahardja Kirana & Tjay Hoan Tan, Obat-obat Penting Edisi VI. (2010) : Jakarta . PT.Gramedia. Malcolm W G. Chronic urticaria ; pathophysiology, diagnosis and treatment. JACI APAPARI. Joint Meeting 2006.