Anda di halaman 1dari 16

TOILET TRAINING

1) Imam Rifai 2) Rut Aprilia Kartini 3) Sukmo Lelono 4) Sulis Ratnawati

Definisi
Toilet training pada anak merupakan suatu usaha untuk melatih anak agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar (Hidayat, 2005). Menurut Supartini (2004), toilet training merupakan aspek penting dalam perkembangan anak usia toddler yang harus mendapat perhatian orang tua dalam berkemih dan defekasi. Dan toilet training juga dapat menjadi awal terbentuknya kemandirian anak secara nyata sebab anak sudah bisa untuk melakukan hal-hal yang kecil seperti buang air kecil dan buang air besar (Harunyahya, 2007).

Pada tahapan usia 1 sampai 3 tahun atau usia toddler, kemampuan sfingter uretra untuk mangontrol rasa ingin berkemih dan sfingter ani untuk mengontrol rasa ingin defekasi mulai berkembang (Supartini, 2002). Sedangkan menurut Gupte (2004) sekitar 90 persen bayi mulai mengembangkan kontrol kandung kemihnya dan perutnya pada umur 1 tahun hingga 2,5 tahun. Dan toilet training ini dapat berlangsung pada fase kehidupan anak yaitu umur 18 bulan sampai 24 bulan (Hidayat, 2005).

Tahapan Toilet Training


Mengajarkan toilet training pada anak memerlukan beberapa tahapan seperti membiasakan menggunakan toilet pada anak untuk buang air, dengan membiasakan anak masuk ke dalam WC anak akan cepat lebih adaptasi. Anak juga perlu dilatih untuk duduk di toilet meskipun dengan pakaian lengkap dan jelaskan kepada anak kegunaan toilet. Lakukan secara rutin kepada anak ketika anak terlihat ingin buang air.

Anak dibiarkan duduk di toilet pada waktu waktu tertentu setiap hari, terutama 20 menit setelah bangun tidur dan seusai makan, ini bertujuan agar anak dibiasakan dengan jadwal buang airnya. Anak sesekali enkopresis (mengompol) dalam masa toilet training itu merupakan hal yang normal. Anak apabila berhasil melakukan toilet training maka orang tua dapat memberikan pujian dan jangan menyalahkan apabila anak belum dapat melakukan dengan baik ( Pambudi, 2006).

Prinsip Dalam Melakukan Toilet Training


1) Melihat kesiapan anak Salah satu pertanyaan utama tentang toilet training adalah kapan waktu yang tepat bagi orang tua untuk melatih toilet training. Sebenarnya tidak patokan umur anak yang tepat dan baku untuk toilet training karena setiap anak mempunyai perbedaan dalam hal fisik dan proses biologisnya. Orang tua harus mengetahui kapan waktu yang tepat bagi anak untuk dilatih buang air dengan benar.

2) Persiapan dan perencanaan Prinsipnya ada 4 aspek dalam tahap persiapan dan perencanaan. Hal yang perlu diperhatikan hal hal sebagai berikut : 1. Gunakan istilah yang mudah dimengerti oleh anak yang menunjukkan perilaku buang air besar (BAB) / buang air kecil (BAK) misalnya poopoo untuk buang air besar (BAB) dan peepee untuk buang air kecil (BAK). 2. Orang tua dapat memperlihatkan penggunaan toilet pada anak sebab pada usia ini anak cepat meniru tingkah laku orang tua. 3. Orang tua hendaknya segera mungkin mengganti celana anak bila basah karena enkopresis (mengompol) atau terkena kotoran, sehingga anak akan merasa risih bila memakai celana yang basah dan kotor. 4. Meminta pada anak untuk memberitahu atau menunjukkan bahasa tubuhnya apabila ia ingin buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB) dan bila anak mampu mengendalikan dorongan buang air maka jangan lupa berikan pujian pada anak (Farida, 2008).

Selain itu Ada Juga Persiapan dan Perencanaan yang Lain Seperti:
a) Mendiskusikan tentang toilet training dengan anak Orang tua bisa menunjukkan dan menekankan bahwa pada anak kecil memakai popok dan pada anak besar memakai celana dalam. Orang tua juga bisa membacakan cerita tentang cara yang benar dan tepat ketika buang air. b) Menunjukkan penggunaan toilet Orang tua harus melakukan sesuai dan jenis kelamin anak ( ayah dengan anak laki laki dan ibu dengan anak perempuan). Orang tua juga bisa meminta kakaknya untuk menunjukkan pada adiknya bagaimana menggunakan toilet dengan benar ( disesuaikan juga dengan jenis kelamin).

c) Membeli pispot yang sesuai dengan kenyamanan anak Pispot ini digunakan untuk melatih anak sebelum ia bisa dan terbiasa untuk duduk di toilet. Anak bila langsung menggunakan toilet orang dewasa, ada kemungkinan anak akan takut karena lebar dan terlalu tinggi untuk anak atau tidak merasa nyaman. Pispot disesuai dengan kebutuhan anak, diharapkan dia akan terbiasa dulu buang air di pispotnya baru kemudian diarahkan ke toilet sebenarnya. Orang tua saat hendak membeli pispot usahakan untuk melibatkan anak sehingga dia bisa menyesuaikan dudukan pispotnya atau bisa memilih warna, gambar atau bentuk yang ia sukai. d) Pilih dan rencanakan metode reward untuk anak Suatu proses panjang dan tidak mudah seperti toilet training ini, seringkali dibutuhkan suatu bentuk reward atau reinforcement yang bisa menunjukkan kalau ada kemajuan yang dilakukan anak dengan sistem reward yang tepat. Anak juga bisa melihat sendiri kalau dirinya bisa melakukan kemajuan dan bisa mengerjakan apa yang sudah terjadi tuntutan untuknya sehingga hal ini akan menambah rasa mandiri dan percaya dirinya. Orang tua bisa memilih metode peluk cinta serta pujian di depan anggota keluarga yang lain ketika dia berhasil melakukan sesuatu atau mungkin orang tua bisa menggunakan sistem stiker / bintang yang ditempelkan dibagian keberhasilan anak.

Factor-faktor yang mendukung Toilet Training pada anak


1.Kesiapan Fisik a.Usia telah mencapai 18-24 bulan b.Dapat jongkok kurang dari 2 jam c.Mempunyai kemampuan motorik kasar seperti duduk dan berjalan d.Mempunyai kemampuan motorik halus seperti membuka celana dan pakaian 2.Kesiapan Mental a.Mengenal rasa ingin berkemih dan devekasi b.Komunikasi secara verbal dan nonverbal jika merasa ingin berkemih c.Keterampilan kognitif untuk mengikuti perintah dan meniru perilaku orang lain

3.Kesiapan Psikologis a.Dapat jongkok dan berdiri ditoilet selama 5-10 menit tanpa berdiri dulu b.Mempunyai rasa ingin tahu dan penasarsan terhadap kebiasaan orang dewasa dalam BAK dan BAB c.Merasa tidak betah dengan kondisi basah dan adanya benda padat dicelana dan ingin segera diganti 4.Kesiapan Anak a.Mengenal tingkat kesiapan anak untuk berkemih dan devekasi b.Ada keinginan untuk meluangkan waktu untuk latihan berkemih dan devekasi pada anaknya c.Tidak mengalami koflik tertentu atau stress keluarga yang berarti (Perceraian)

Tanda anak siap untuk melakukan Toilet Training


Tidak mengompol dalam waktu beberapa jam sehari minimal 3-4 jam Anak berhasil bangun tidur tanpa mengompol Anak mengetahui saat merasa ingin BAK dan BAB dengan menggunakan kata-kata pup Sudah mampu memberi tahu bila celana atau popok sekali pakainya sugah basah dan kotor Bila ingin BAK dan BAB anak memberi tahu dengan cara memegang alat kelamin atau minta ke kamar mandi Bias memakai dan melepas celana sendiri Memperlihatkan ekspresi fisik misalnya wajah meringis, merah atau jongkok saat merasa BAB dan BAK Tertarik dengan kebiasaan masuk ke kamar mandi seperti kebiasaan orang sekitarnya Minta diajari menggunakan toilet Mampu jongkok 5-10 menit tanpa berdiri dulu

Masalah yang mungkin timbul dalam pelatihan toilet training (Thomson, 2003)
Rasa takut akan siraman air toilet adalah biasa, namun dapat mengganggu latihan memakai toilet Bagi beberapa anak rasa takut akan toilet membuatnya menahan trauma buang air besar Anak yang sudah dilatih dapat mengalami kemunduran dan mulai buang air lagi ditempat yang tidak seharusnya Anak bisa tertarik dengan fesesnya sendiri(anak tidak rela apabila fesesnya di siram). Baginya prestasi buang air besar adalah prestasi menakjubkan dan anak sangat bangga bisa melakukannya. Ada tahap ketika anak merasa tertarik dengan bagaimana anak yang jenis kelaminnya berbeda buang air kecil.

Kemampuan Toilet Training Anak Usia 18 36 Bulan


Kemampuan psikologi anak mampu melakukan toilet training sebagai berikut : anak tampak kooperatif, anak memiliki waktu kering periodenya antara 3 4 jam, anak buang air kecil dalam jumlah yang banyak, anak sudah menunjukkan keinginan untuk buang air besar dan buang air kecil dan waktu untuk buang air besar dan kecil sudah dapat diperkirakan dan teratur. Kemampuan fisik dalam melakukan toilet training yaitu anak dapat duduk atau jongkok tenang kurang lebih 2 5 menit, anak dapat berjalan dengan baik, anak sudah dapat menaikkan dan menurunkan celananya sendiri, anak merasakan tidak nyaman bila mengenakan popok sekali pakai yang basah atau kotor.

Kemampuan kogitif anak bila anak sudah mampu melakukan toilet training seperti dapat mengikuti dan menuruti instruksi sederhana, memiliki bahasa sendiri seperti peepee untuk buang air kecil dan poopoo untuk buang air besar dan anak dapat mengerti reaksi tubuhnya bila ia ingin buang air kecil atau besar dan dapat memberitahukan bila ingin buang air ( Nadira, 2006).

TERIMA KASIH