Anda di halaman 1dari 50

IMUNISASI

Disusun oleh: Anindita Noviandhari Ivone Caroline Mardhiyah Rusdi

Imunisasi adalah proses pemberian kekebalan tubuh baik secara aktif (vaksinasi), maupun pemberian antibodi (pasif).

Jenis Vaksin
Live attenuated (bakteri atau virus hidup yang dilemahkan) Inactivated (bakteri, virus atau komponennya, dibuat tidak aktif)

JADWAL IMUNISASI REKOMENDASI IDAI

Tuberkulosis (vaksin BCG)

vaksin hidup dari M. bovis yang tidak virulen tetapi masih mempunyai imunogenitas tidak mencegah, mengurangi risiko tuberkulosis berat diberikan pada umur < 2 bulan Efek proteksi : 8-12 minggu setelah penyuntikan

Tuberkulosis (vaksin BCG)

Intradermal:
0,10 ml (anak) 0,05 ml (bayi)

regio lengan kanan atas pada daerah insersio m. deltoideus kanan

Tuberkulosis (vaksin BCG)


tidak boleh kena sinar matahari disimpan suhu 28C, tidak boleh beku KIPI :

BCG-itis diseminasi (jarang) Limfadenitis (1-2 per 1000 vaksinasi) ulkus

KIPI BCG : Ulkus

KIPI BCG : Ulkus

Kontraindikasi BCG

Reaksi uji tuberkulin > 5 mm, HIV, imunokompromais, pengobatan radiasi, penyakit keganasan yang mengenai sumsum tulang atau sistem limfe, Gizi buruk, Demam tinggi, Infeksi kulit yang luas, Pernah sakit tuberkulosis, Kehamilan.

Rekomendasi BCG

Pada bayi kontak erat dengan penderita TB dengan BTA sebaiknya diberikan INH profilaksis dulu

BCG

Hepatitis B
Indonesia daerah endemis sedangtinggi. Transmisi : perkutaneus atau parenteral, hubungan seksual Imunisasi :

Imunisasi VHB aktif Imunisasi VHB pasif : HBIG

Sasaran vaksinasi hepatitis B


Semua bayi baru lahir Individu yang karena pekerjaannya berisiko tertular Karyawan di lembaga perawatan cacat mental Pasien hemodialisis Pasien koagulopati Individu yang serumah dengan pengidap VHB atau kontak akibat hubungan seksual Drug users Homosexuals, bisexual, heterosexuals

Jadwal dan dosis vaksinasi hepatitis B


Minimal diberikan sebanyak 3 kali Imunisasi pertama diberikan segera setelah lahir Jadwal imunisasi yang dianjurkan adalah 0, 1, dan 6 bulan Dianjurkan hepB-3 diberikan lebih awal (umur 3-6 bulan) Bila sesudah dosis I terputus, segera berikan imunisasi kedua; imunisasi III diberikan dengan jarak terpendek 2 bulan. Bila dosis III terlambat, beri segera setelah memungkinkan.

Jadwal dan dosis vaksinasi hepatitis B


Dosis produk dan usia resipien. Bayi : dipengaruhi pula status HBsAg ibu. Pasien hemodialisis : dosis lebih besar atau penambahan jumlah suntikan. Pada pasien koagulopati : segera setelah terapi faktor koagulasi, jarum kecil, tempat penyuntikan ditekan min 2 menit. Bayi prematur dan ibu HBsAg (-) : ditunda sampai bayi usia 2 bulan atau BB 2000 gram

Efektivitas, lama proteksi


Efektivitas vaksin : 90-95%. Memori sistem imun menetap 12 tahun Pada pasien hemodialisis, proteksi vaksin kurang baik Non responder : tidak memberikan respons terhadap imunisasi primer
Vaksinasi tambahan

Uji serologis :
Bayi-anak : anti-HBs pra dan pasca

imunisasi tidak dianjurkan. pra imunisasi : profilaksis pasca paparan, individu berisiko tinggi tertular infeksi HBV. pasca imunisasi : bayi dan ibu pengidap VHB, individu yang memperoleh profilaksis pasca paparan, dan pasien immunocompromised.

Vaksinasi hepatitis B

Reaksi KIPI :
reaksi lokal ringan dan sementara,
demam ringan

Indikasi kontra :
tidak ada indikasi

Difteria, Pertusis, Tetanus


DTP : toksoid difteria (alumprecipitated toxoid) + toksoid tetanus + vaksin pertusis Potensi toksoid difteria : flocculate (Lf) 1 Lf : jumlah toksoid = 1 unit anti toksin difteria. Imunisasi anak : dianjurkan pemberian 5 dosis (usia 2, 4, 6, 15-18 bulan, saat masuk sekolah) DT : kontraindikasi pemberian vaksin pertusis

DTP

KIPI :
sulit dibuktikan
Beberapa laporan : reaksi lokal akibat pemberian vaksin dT (dosis dewasa) lebih sering dari TT

tidak diberikan pada anak < 6 minggu

Vaksin Pertusis
Antibodi telah dapat ditemukan dalam serum neonatus dan menghilang dalam 4 bulan tidak memproteksi Whole-cell : suspensi kuman B. pertussis mati Aselular : fraksi sel B. pertussis

memberikan reaksi lokal dan demam yang lebih ringan

KIPI Vaksin Pertusis


Kemerahan, bengkak, nyeri pada lokasi injeksi Demam ringan dan hiperpireksia. Gelisah, menangis terus Kejang :

Anak dengan kelainan neurologik dan riwayat

kejang: 7,2x lebih mudah terjadi kejang setelah imunisasi DTP Riwayat kejang keluarga : 4,5x hendaknya tidak diberikan imunisasi pertusis

ensefalopati akut atau reaksi anafilaksis

Indikasi kontra Vaksin Pertusis


Riwayat anafilaksis Ensefalopati Precaution :

riwayat hiperpireksia, keadaan hipotonikhiporesponsif dalam 48 jam, anak menangis terus menerus selama 3 jam, riwayat kejang dalam 3 hari sesudahnya.

Toksoid Tetanus
diberikan bersama DTP KIPI : reaksi lokal. Tidak diperlukan pengulangan dosis bila jadwal pemberian ternyata terlambat Ibu yang mendapatkan toksoid tetanus 2 atau 3 dosis memberikan proteksi yang baik terhadap tetanus neonatal.

Poliomielitis
Disebabkan virus poliomyelitis pada MS menimbulkan kelumpuhan Program memakai oral polio vaccine (OPV) Resevoir : manusia Transmisi : oro-fecals, oral-oral Vaksin Polio : OPV dan IPV

ERAPO
meningkatkan cakupan imunisasi OPV secara rutin melaksanakan PIN melakukan mopping up di daerahdaerah yang masih dijumpai transmisi virus polio liar melaksanakan surveilans AFP yang mantap

OPV
Berisi virus polio hidup tipe 1,2, dan 3 Memacu pembentukan antibodi baik dalam darah maupun pada epitelium usus Dapat bertahan (beredar) di tinja sampai 6 minggu setelah pemberian

Penerima vaksin dapat terlindungi setelah dosis tunggal I namun 3 dosis berikutnya memberikan imunitas jangka lama Vaksin akan kehilangan potensi disebabkan oleh perubahan pH setelah terpapar udara. dapat disimpan beku pada temperatur 200C

IPV
Vaksin polio inactivated berisi tipe 1, 2, 3 dan dibuat tidak aktif dengan formadehid. Harus disimpan pada suhu 2-8C, tidak boleh dibekukan. Dosis 0,5 ml dengan suntikan subkutan dalam 3 kali berturut-turut dengan jarak 2 bulan antara masing-masing dosis akan memberikan imunitas jangka panjang Imunitas mukosal yang ditimbulkan oleh IPV lebih rendah

Rekomendasi
Vaksin polio oral diberikan pada bayi baru lahir dan mulai umur 2-3 bulan, diberikan 3 dosis terpisah berturut-turut dengan interval waktu 6-8 minggu. Satu dosis sebanyak 2 tetes Untuk mereka yang berhubungan (kontak) dengan bayi yang baru saja diberi OPV supaya menjaga kebersihan dengan mencuci tangan setelah mengganti popok bayi.

Imunisasi penguat (booster) Sebelum masuk sekolah dan umur 15-19 tahun atau sebelum meninggalkan sekolah. Imunisasi polio untuk orang dewasa 3 dosis berturut-turut 2 tetes OPV dengan jarak 4-8 minggu Dosis penguat untuk orang dewasa :
Bepergian ke daerah endemis yang poliomielitis atau saat

epidemi Petugas kesehatan yang kemungkinan mendapat kontak poliomielitis. Bagi mereka yang terus-menerus mengalami risiko infeksi, dianjurkan dosis tunggal sebagai penguat 2 tetes setiap 10 tahun.

Vaksinasi untuk anak imunokompromais Suntikan IPV sebanyak 3 dosis masingmasing 0.5 ml, secara subkutan dalam atau intramuskular dengan interval 2 bulan.

KIPI
gejala pusing, diare ringan, dan nyeri otot. VAPP= vaccine associated polio paralytic VDPV= vaccine derived polio virus)

Indikasi kontra

Penyakit akut atau demam (suhu >38.5C), Muntah atau diare berat, Dalam pengobatan kortikosteroid / imunosupresif / pengobatan radiasi umum Keganasan Infeksi HIV / kontak HIV, ibu hamil pada 4 bulan pertama kehamilan, jangan bersama vaksin oral tifoid, bakat hipersensitif yang berlebihan,

Campak

Dua jenis vaksin campak yaitu :


vaksin yang berasal dari virus campak yang

hidup dan dilemahkan (tipe Edmonston B) Vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan

Dosis dan Cara Pemberian


Dosis baku minimal untuk pemberian vaksin campak yang dilemahkan adalah 1000 TCID50 atau sebanyak 0,5 ml. Pemberian : subkutan, intramuskular. WHO menganjurkan pemberian imunisasi campak pada bayi berumur 9 bulan. Untuk negara maju imunisasi campak (MMR) dianjurkan pada anak berumur 1215 bulan.

Reaksi KIPI
demam yang lebih 39,5C, merangsang terjadinya kejang demam. Ruam gangguan fungsi sistem saraf pusat seperti onsefalitis dan ensefalopati pasca imunisasi

Imunisasi Ulangan

Mereka yang memperoleh imunisasi sebelum umur 1 tahun dan terbukti potensi vaksin kurang balk kejadian luar biasa peningkatan kasus campak, Setiap orang yang pernah vaksin inaktif Setiap orang yang pernah memperoleh imunoglobulin. Seorang yang tidak dapat menunjukkan catatan imunisasinya.

Indikasi Kontra
sedang menderita demam tinggi sedang memperoleh pengobatan imunosupresi Hamil memiliki riwayat alergi, sedang memperoleh pengobatan imunoglobulin atau bahan-bahan berasal dari darah.

Penyimpanan Vaksin
harus didinginkan pada temperatur 2-8 C dan tidak membeku Sejumlah vaksin (DPT, Hib, hepatitis B, dan hepatitis A) menjadi tidak aktif bila beku

Penataan Vaksin dalam Refrigerator

Front Loading (freezer on top)


Vaksin campak, MMR, BCG, Polio di bagian

atas heat sensitive DPT, TT, Hep B, HiB, meningococcal, yellow fever, & JE di bagian tengah (freeze sensitive) Letakkan pelarut bersebelahan dengan vaksin

Ice Lined
Vaksin campak, MMR, BCG,Polio di bagian

bawah (heat sensitive) DPT, TT, HepB, HiB, meningococcal, yellow fever, & JE di bagian atas (freeze sensitive) Letakkan pelarut bersebelahan dengan vaksin

SESI IMUNISASI

Registrasi pasien
Tanggal kunjungan
Nama Alamat

Usia, tanggal lahir


Jenis kelamin Vaksinasi yang tersedia

Menilai pasien
Apakah sekarang adalah waktu yang tepat

untuk imunisasi? Berapa dosis yang sudah di dapat? Apakah jarak waktu dengan imunisasi sebelumya cukup? Dapatkah memberi vaksin yang berbeda disaat yang bersamaan? Dapatkah diberikan booster? Adakah kontraindikasi?

Informasikan pasien
Vaksinasi yang akan diberikan dan kapan

harus kembali Efek samping dan apa yang harus dilakukan

Mempersiapkan vaksin
Mencuci tangan Cek vaksin dan pelarut Apakah labelnya masih utuh? Apakah vaksin dan pelarutnya tepat? Tanggal kadaluwarsa?

Vaccine Vial Monitor (VVM)

Freeze Watch & Freeze Tag