Anda di halaman 1dari 12

GANTUNG (HANGING)

AYNA NADIA

Tenaga tersebut bearasal dari berat badan korban sendiri, meskipun tidak perlu seluruh berat badan digunakan. Kasus gantung biasanya merupakan kasus bunuh diri (gantung diri) meskipun kasus pembunuhan kadang-kadang dilaporkan, yaitu menunjukkan kesan seolah-olah si korban bunuh diri denagn maksud untuk menghilangkan jejak pembunuhan.

Mekanisme kematian pada kasus gantung:


Kerusakan pada batang otak dan medulla spinalis. Hal ini terjadi akibat dislokasi atau fraktur vertebra ruas leher, misalnya pada judicial hanging (hukum gantung). Asfiksia akibat terhambatnya aliran udara pernapasan. Iskemia otak akibat terhambatnya aliran arteri-arteri leher. Refleks vagal.

Posisi korban pada gantung diri:


Kedua kaki tidak menyentuh lantai (complete hanging) Duduk berlutut (biasanya menggantung pada daun pintu) Berbaring (biasanya di bawah tempat tidur)

Jenis-jenis gantung diri:


Typical hanging, terjadi bila titik gantung terletak di atas darah oksiput dan tekanan pada arteri karotis paling besar. Atypical hanging, bila titik penggantungan terdapat di samping, sehingga leher dalam posisi sangat miring(fleksi lateral) yang akan mengakibatkan hambatan pada arteri karotis dan arteri vertebralis. Saat arteri terhambat, korban segera tidak sadar. Kasus dengan letak titik gantung di depan atau dagu.

Pemeriksaan jenazah:
Jejas jerat relatif terletak lebih tinggi pada leher dan tidak mendatar, melainkan lebih meninggi bagian simpul, kulit mencekung ke dalam sesuai dengan bahan penjeratnya, berwarna coklat, perabaan kaku, dan akibat bergesekan dengan kulit leher, maka pada tepi jejas dapat ditemukan luka lecet. Kadang-kadang terdapat sedikit perdarahan, sedangkan pada jaringan bawah kulit dan otototot sebelah dalam terdapat memar jaringan.

Rawan gondok biasanya patah pada perasambungan kornu superior dengan lamina sedangkan tulang lidah patah pada atau dekat persambungan taju dan korpus. Fraktur biasanya diliputi sedikit perdarahan. Distribusi lebam mayat pada kasus gantung, mengarah ke bawah yaitu pada kaki, tangan dan genitalia eksterna, bila korban tergantung cukup lama.

Asfiksia seksual
Terjadi pada kasus deviasi seksual yang menggunakan cara gantung atau jerat untuk mendapatkan kepuasan, yang karena terlambat mengendurkan tali atau sukar melepaskan diri sesudah tercapai keadaan penurunan kesadaran. Korban biasanya lelaki, pasca adolesens dan ditemukan tanda penyimpangan seksual lain.

GAGGING & CHOKING


AYNA NADIA

Terjadi sumbatan jalan napas oleh benda asing, yang mengakibatkan hambatan udara untuk masuk ke paru-paru. Gagging sumbatan terdapat dalam orofaring Choking sumbatan terdapat lebih dalam pada laringofaring. Mekanisme kematian yang mungkin terjadi adalah asfiksia atau refleks vagal akibat ransangan pada reseptor nervus vagus di arkus faring, yang menimbulkan inhibisi kerja jantung dengan akibat cardiac arrest dan kematian.

Kematian dapat terjadi sebagai akibat:


Bunuh diri (suicide). Hal ini jarang terjadi karena sulit untuk memasukkan benda asing ke dalam mulut sendiri disebabkan adanya refleks batuk atau muntah. Umumnya korban adalah penderita sakit mental atau tahanan. Pembunuhan (homicidal choking). Umumnya korban adalah bayi, orang dengan fisik lemah atau tidak berdaya. Kecelakaan (accidental choking). Pada bolus death yang terjadi bila tertawa atau menangis saat makan, sehingga makanan tersedak ke dalam saluran pernapasan. Mungkin pula juga terjadi akibat regurgitasi makanan yang kemudian masuk ke dalam saluran pernapasan.

Pemeriksaan jenazah:
Dalam rongga mulut (orofaring atau laringofaring) ditemukan sumbatan berupa sapu tangan, kertas koran, gigi palsu, bahkan pernah ditemukan arang, batu dan sebagainya. Bila benda asing tidak ditemukan, cari kemungkinan adanya tanda kekerasan yang diakibatkan oleh benda asing.