Anda di halaman 1dari 28

Referat

TRAUMA KIMIA
Prizqy Rimadhyani 1102009223

PENDAHULUAN
Trauma bahan kimia dapat terjadi pada kecelakaan saat bekerja maupun dirumah. Bahan kimia yang dapat mengakibatkan kelainan pada mata: trauma asam (ph < 7) & trauma basa (ph > 7) Setiap trauma kimia pada mata memerlukan tindakan segera Tingkat keparahan trauma dikaitkan dengan jenis, volume, konsentrasi, durasi pajanan, dan derajat penetrasi dari zat kimia

TRAUMA KIMIA
EPIDEMIOLOGI 60% kecelakaan kerja 30% rumah 10% kekerasan 20% trauma kimia mengakibatkan cacat visual & kosmetik Pria : Wanita = 3 : 1 Paling banyak terjadi usia 16-45 tahun

ETIOLOGI
Bahan asam: Asam sulfat (paling sering terjadi). Contoh: ledakan accu mobil Asam hidroklorik Asam nitrat Asam asetat Asam khromik Asam hidrofluorat. Contoh: pembersih karat di rumah, pengkilat alumunium, tanning kulit, fermentasi coklat

ETIOLOGI
Bahan basa: Ammonium hidroksida Potasium hidroksida Sodium hidroksida Kalsium hidroksida Magnesium hidroksida Contoh: semen, kapur, semprotan balon udara, percikan api

PATOFISIOLOGI

Trauma Asam
2 mekanisme: Ion hidrogen merusak permukaan okular dengan merubah ph Anion merusak dengan cara denaturasi protein, presipitasi, koagulasi Koagulasi protein umumnya mencegah penetrasi yang lebih lanjut dari zat asam menyebabkan tampilan ground glass dari stroma korneal

Trauma Asam
Trauma pada mata yang disebabkan oleh zat kimia asam cenderung lebih ringan daripada trauma yang diakibatkan oleh zat kimia basa. Biasanya kerusakan cenderung terlokalisir dan hanya pada bagian superfisial. Pengecualian: asam hidrofluorik secara cepat melewati membran sel, seperti alkali. nyeri lokal ekstrim, fluorinosis akut (gejala jantung, pernapasan, gastrointestinal, neurologic)

Bahan kimia asam Asam cenderung berikatan dengan protein Menyebabkan koagulasi protein plasma Koagulasi protein ini, sebagai barrier yang membatasi penetrasi dan kerusakan lebih lanjut Luka hanya terbatas pada permukaan luar saja. Asam masuk ke bilik mata depan menimbulkan iritis&katarak. Gangguan persepsi penglihatan

Trauma Basa
Biasanya lebih berat daripada trauma asam 2 sifat: hidrofilik & lipofilik secara cepat penetrasi sel membran dan masuk ke bilik mata depan, bahkan sampai retina Koagulasi sel dan proses safonifikasi

Bahan kimia alkali Pecah atau rusaknya sel jaringan dan Persabunan disertai disosiasi asam lemak membran sel penetrasi lebih lanjut Mukopolisakarida jaringan menghilang & terjadi penggumpalan sel kornea Serat kolagen kornea akan membengkak & kornea akan mati Edema terdapat serbukan sel polimorfonuklear ke dalam stroma, cenderung disertai masuknya pemb.darah (Neovaskularisasi) Dilepaskan plasminogen aktivator & kolagenase (merusak kolagen kornea) Terjadi gangguan penyembuhan epitel Berkelanjutan menjadi ulkus kornea atau perforasi ke lapisan yang lebih dalam, merusak retina Kebutaan

DIAGNOSIS

ANAMNESIS
Sering sekali pasien menceritakan telah tersiram cairan atau tersemprot gas pada mata atau partikel-partikelnya masuk ke dalam mata. Perlu diketahui apa persisnya zat kimia dan bagaimana terjadinya trauma tersebut serta kapan terjadinya trauma tersebut. Perlu diketahui apakah terjadi penurunan visus setelah cedera atau saat cedera terjadi. Onset dari penurunan visus apakah terjadi secara progresif atau terjadi secara tiba tiba. Nyeri, lakrimasi, dan pandangan kabur merupakan gambaran umum trauma. Harus dicurigai adanya benda asing intraokular apabila terdapat riwayat salah satunya apabila trauma terjadi akibat ledakan.

GEJALA KLINIS
Gejala klinis utama pada trauma kimia: epifora, blefarospasme, nyeri berat Penurunan ketajaman visual Peningkatan TIO Inflamasi konjungtiva Partikel dalam konjungtiva forniks Iskemia perilimbal Defek kornea epitel Kabut stroma Perforasi kornea Reaksi inflamasi bilik anterior Kerusakan adnexal / parut

PEMERIKSAAN FISIK
Periksa kejernihan dan keutuhan kornea Derajat iskemik limbus Tekanan intraokular Neovaskularisasi Peradangan kronik dan defek epitel Pemeriksaan penungjang: pH bola mata dgn kertas lakmus, lup/slit lamp, oftalmoskopi direk dan indirek, tonometri

Ground glass appearance

Gambar menunjukkan koagulasi protein akibat trauma asam dan menimbulkan kekeruhan pada kornea, dimana nantinya cenderung untuk masuk ke bilik mata depan dan bisa menimbulkan katarak

Trauma basa dapat dibedakan dalam klasifikasi Thoft: Derajat 1: Hiperemi konjungtiva disertai dengan keratitis pungtata Derajat 2: Hiperemi konjungtiva disertai dengan hilang epitel kornea Derajat 3: Hiperemi disertai dengan nekrosis konjuntiva dan lepasnya epitel kornea Derajat 4: Konjungtiva perilimal nekrosis sebanyak 50%

PENATALAKSANAAN
Tatalaksana emergensi: 1. Irigasi krusial. Meminimalkan durasi kontak mata dengan bahan kimia dan untuk menormalisasi pH pada saccus konjungtiva yang harus dilakukan sesegera mungkin. Larutan normal saline (atau yang setara) harus digunakan untuk mengirigasi mata selama 15-20 menit sampai pH mata menjadi normal. Dapat diberikan anestesi topikal.

2. Double eversi pada kelopak mata memindakan material yang terdapat pada bola mata. Mencegah terjadinya perlengketan antara konjungtiva palpebra, konjungtiva bulbi

3. Debridemen pada daerah epitel kornea yang mengalami nekrotik sehingga dapat terjadi re-epitelisasi.

4. Medikamentosa
Steroid: mengurangi inflamasi dan infiltrasi neutrofil. Namun pemberian steroid dapat menghambat penyembuhan stroma dengan menurunkan sintesis kolagen dan menghambat migrasi fibroblas. Untuk itu steroid hanya diberikan secara inisial dan di tappering off setelah 7-10 hari. Dexametason 0,1% ED dan Prednisolon 0,1% ED diberikan setiap 2 jam. Bila diperlukan dapat diberikan Prednisolon IV 50-200 mg. Siklopegik: untuk mengistirahatkan iris, mencegah iritis dan sinekia posterior. Atropin 1% ED atau Scopolamin 0,25% diberikan 2 kali sehari.

4. Medikamentosa
Asam askorbat: mengembalikan keadaan jaringan scorbutik dan meningkatkan penyembuhan luka dengan membantu pembentukan kolagen matur oleh fibroblas kornea. Natrium askorbat 10% topikal diberikan setiap 2 jam. Untuk dosis sitemik dapat diberikan sampai dosis 2 gr. Beta bloker/karbonik anhidrase inhibitor: untuk menurunkan tekanan intra okular dan mengurangi resiko terjadinya glaukoma sekunder. Diberikan secara oral asetazolamid (diamox) 500 mg.

4. Medikamentosa
Antibiotik profilaksis untuk mencegah infeksi oleh kuman oportunis. Tetrasiklin efektif untuk menghambat kolagenase, menghambat aktifitas netrofil dan mengurangi pembentukan ulkus. Dapat diberikan bersamaan antara topikal dan sistemik (doksisiklin 100 mg).

Pembedahan 1. Pembedahan segera Sifatnya segera dibutuhkan untuk revaskularisasi limbus, mengembalikan populasi sel limbus dan mengembalikan kedudukan forniks. Prosedur berikut dapat digunakan untuk pembedahan: Pengembangan kapsul Tenon dan penjahitan limbus bertujuan untuk mengembalikan vaskularisasi limbus juga mencegah perkembangan ulkus kornea. Transplantasi stem sel limbus dari mata pasien yang lain (autograft) atau dar donor (allograft) bertujuan untuk mengembalikan epitel kornea menjadi normal. Graft membran amnion untuk membantu epitelisasi dan menekan fibrosis

2. Pembedahan lanjut: Pemisahan bagian-bagian yang menyatu pada kasus conjungtival bands dan simblefaron. Pemasangan graft membran mukosa atau konjungtiva. Koreksi apabila terdapat deformitas pada kelopak mata. Keratoplasti dapat ditunda sampai 6 bulan. Makin lama makin baik, hal ini untuk memaksimalkan resolusi dari proses inflamasi. Keratoprosthesis bisa dilakukan pada kerusakan mata yang sangat berat dikarenakan hasil dari graft konvensional sangat buruk.

KOMPLIKASI
Tergantung berat ringannya trauma, jenis trauma. Simblefaron

Kornea keruh, edema, neovaskuler Sindroma mata kering Katarak traumatik Glaukoma sudut tertutup Entropion Phtisis bulbi

PROGNOSIS
Ditentukan oleh bahan penyebab trauma, derajat iskemik pada pembuluh darah limbus dan konjungtiva.

Dapat ditentukan dengan contohnya klasifikasi Hughes: Ringan Prognosis baik Terdapat erosi epitel kornea Kekeruhan yang ringan pada kornea Tidak terdapat iskemia dan nekrosis kornea ataupun konjungtiva Sedang Prognosis baik Kornea keruh, sehingga sukar melihat iris dan pupil secara terperinci Terdapat nekrosis dan iskemi ringan pada konjungtiva dan kornea Berat Prognosis buruk Akibat kekeruhan kornea, pupil tidak dapat dilihat Konjungtiva dan sklera pucat

Anda mungkin juga menyukai