Anda di halaman 1dari 43

+

SEORANG LAKI-LAKI 64 TH DENGAN HEPATOMA

Sita Ardilla Rinandyta, S.Ked J500080085

Identitas Penderita
Nama Umur Jenis

Pasien
Kelamin

: Tn. S
: 64 tahun : Laki-laki : Silahung, Ponorogo

Alamat

Pekerjaan
Status Agama

: Petani
: Menikah : Islam

Perkawinan

Suku
Tanggal Tanggal

: Jawa
Masuk RS Pemeriksaan : 21 September 2013 : 22 September 2013

ANAMNESIS

AUTOANAMNESIS
DAN ALLOANAMNESIS

KELUHAN Nyeri perut kanan atas UTAMA

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang dengan keluhan nyeri perut kanan atas yang dirasakan sejak 15 hari SMRS. Nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk, terus menerus, bertambah sakit saat bergerak dan sedikit mereda saat pasien diam. Perut juga dirasakan sedikit membesar dan terasa penuh sejak 2 hari SMRS. Selain itu pasien juga merasa perut kanan atas mengeras. Nafsu makan pasien berkurang semenjak perutnya membesar, dan juga berat badan turun 5 kg sejak 6 bulan SMRS. Pasien merasa lemas sejak 13 hari SMRS.

Riwayat Penyakit Sekarang

BAB lancar normal, tidak ada mencret / darah / lendir. BAK lancar normal, tidak ada darah, nyeri, panas.

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat kencing manis Riwayat tekanan darah tinggi Riwayat alergi obat dan makanan Riwayat kencing batu Riwayat asma Riwayat sakit jantung Riwayat operasi

DISANGKAL

Riwayat mondok

diakui ( 3 bulan yang lalu dengan keluhan yang sama)

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat penyakit serupa

Riwayat alergi obat dan makanan Riwayat DM Riwayat sakit jantung Riwayat sakit ginjal

DISANGKAL

Riwayat darah tinggi

DIAKUI

Riwayat Kebiasaan
DISANGKAL

Riwayat merokok Riwayat minum kopi Riwayat konsumsi alkohol Riwayat konsumsi obat bebas

Riwayat minuman berenergi Riwayat konsumsi jamu

DIAKUI

+
Keadaan umum : lemah Kesadaran : compos mentis (E4V5M6)

TD : 110/60 mmHg N : 80 x/mnt (isi dan tegangan cukup) irama reguler RR : 24x/mnt, S : 36,5 0C per aksiler

Kepala :konjungtiva palpebra anemis(+/+), sclera ikterik (-/-), nafas cuping hidung (-), bibir kering (-), lidah kering (-).

Leher simetris, deviasi trakea(-), JVP R0, pembesaran kelenjar limfe(-)

PEMERIKSAAN FISIK
Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak Palpasi : Iktus kordis tidak kuat angkat, Perkusi : Batas jantung kiri atas : SIC III linea parasternalis sinistra kiri bawah : SIC V midclavicularis sinistra kanan atas : SIC III linea parasternalis dextra kanan bawah : SIC IV linea parasternalis dextra pinggang jantung : SIC II-III parasternalis sinistra Konfigurasi jantung kesan tidak melebar Auskultasi : Bunyi jantung I-II reguler, murni, intensitas normal, bising (-), gallop (-).

PEMERIKSAAN FISIK
Inspeksi : Bentuk dan Pengembangan dada kanan = kiri, simetris. Palpasi : Fremitus raba kanan = kiri Perkusi : Sonor seluruh lapang paru Auskultasi : Suara dasar (SDV/SDV), Rhonki (-/-), Wh(-/-)

Inspeksi : simetris, venektasi (-), sikatrik (-) , bekas operasi (-) Auskultasi : peristalitik (+) N Perkusi : shifting dullnes (+), sonor-pekak-timpani (hepatomegali dengan liver span 17cm) di regio hipokondriaka dextra. Palpasi : Nyeri tekan (+), teraba hepar 3 jari dibawah arcus costa dengan permukaan tidak rata/ berbenjol-benjol, konsistensi keras, ujung tumpul.

+ -

+ -

+ -

Ekstremitas
Superior dextra et sinistra Inferior dextra et sinistra

pitting edema (+) ext inferior, palmar eritem (-)

Pemeriksaan Laboratorium (21 Okt 13)


Pemeriksaan WBC Lymph # Mid Hasil 9,3 x 103 1,4 x 103 0,8 x 103 uL uL uL Satuan Nilai Normal 4,0-10,0 0,8-4,0 0,1-4,0 Interpretasi N N N

Gran #
Lymph % Mid Gran % HGB RBC HCT MCV MCH MCHC RDW-CV RDW-SD PLT MPV PDW PCT

7,1 x 103
14,6 9,5 75,9 7,9 4,34 x 106 27,3 63,0 18,2 28,9 18,6 43,3 790 x 103 6,0 16,7 0,474

uL
% % % g/dl uL % Fl pg g/dl % Fl Ul Fl mg/dl mg/dl

2,0-7,0
20,0-40,0 3,0-15,0 50,0-70,0 11,0-16,0 3,5-5,5 37,0-54,0 80-100 27,0-34,0 32,0-36,0 11,0-16,0 35,0-56,0 100-450 6,5-12,0 9-17 0,108-0,282 N N N N

Pemeriksaan Laboratorium (21 Okt 13)


Pemeriksaan
GDA DBIL 123 0,11

Hasil
mg/dl mg/dl

Satuan

Nilai Normal
< 140 0-0,35

Interpretasi
N N

TBIL
SGOT SGPT ALP GAMA GT TP ALB Glob UREA CREAT UA CHOL TG HDL LDL

0,41
21,3 18,1 612 160 7,3 3,7 5 22,14 1,15 6,3 95 163 70 36

mg/dl
u/L u/L u/L u/L g/dl g/dl g/dl g/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl

0,2-1,2
0-38 0-40 98-279 10-54 6,6-8,3 3,5-5,5 2-3,9 10-50 0,7-1,4 3,4-7 140-200 36-165 35-150 0-190

N
N N

N N

N N N N N N N

+
Anamnesis Nyeri perut kanan atas Nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk Perut terasa keras dan penuh Lemas Penurunan berat badan

Pmx fisik

Mata: Konjungtiva anemis (+/+) Abdomen Perkusi: pekak beralih (+), hepatomegali (+) Palpasi: Nyeri tekan pada perut kanan atas (+), teraba hepar 3 jari di bawah arcus costae dengan permukaan tidak rata/ berbenjol-benjol, konsistensi keras pada regio hipokondriaka dextra

+
Pemeriksaan Gran # Lymph % Gran % HGB Hasil 7,1 x 103 14,6 75,9 7,9 uL % % g/dl Satuan Nilai Normal 2,0-7,0 20,0-40,0 50,0-70,0 11,0-16,0 Interpretasi

HCT
MCV MCH MCHC RDW-CV PLT MPV PCT

27,3
63,0 18,2 28,9 18,6 790 x 103 6,0 0,474

%
Fl pg g/dl % Ul Fl mg/dl

37,0-54,0
80-100 27,0-34,0 32,0-36,0 11,0-16,0 100-300 6,5-12,0 0,108-0,282

Daftar masalah 1. Nyeri perut kanan atas sejak 15 hari SMRS, rasanya seperti ditusuktusuk, nyeri bertambah jika bergerak, perut kanan atas terasa keras, nyeri tekan (+), Hepatomegali (+) liver span 17cm, teraba

Problem Gangguan LFT Hepatomegali Ascites

Assesment Hepatoma

Planning dx AFP USG abdomen Biopsi liver

Planning tx Inf PZ 20 tpm Inj cefotaxim 3 x 1 Vial Inj ranitin 2 x 1 amp Inj Ketorolac 2 x1 amp Spironolacton tab 25 mg I-I-0

Planning Mx Klinis LFT RFT

ukuran 3 jari
dibawah arcus costa, permukaan tidak rata / berbenjolbenjol,konsistensi keras, perut membesar, shifting dullness (+) ALP : 612 GamaGT : 160

2. Lemas (+), konjungtiva anemis (+/+) Hb : 7.9 MCV : 63 MCHC : 28,9 MCH : 18.2 PLT : 790

Anemia hipokromik mikrositer

Anemia penyakit kronis Anemia def. Fe

Hb serial Serum iron TIBC Hapusan darah tepi

Tranf. PRC II

Klinis

Kolf/ hari s/d Hb Darah lengkap > 10 Sulfas ferrous 2 x 1 tab Inj Ca Gluconas 1 x 1 amp

Monitorinng

Terapi

Tanggal 22 September 2013 S: Nyeri perut kanan atas O: Kesadaran: CM, E4V5M6 Vital Sign: TD: 110/60 Nadi: 80x/menit RR: 20x/menit Suhu: 36,3C Konjugtiva anemis (+/+) Hb: 7.9 Infus PZ 20 tpm Transfusi PRC I kolf/hari sampai Hb 10 Injeksi Cefotaxim 3 x 1 Injeksi Ranitidin 2 x 1 Injeksi ketorolac 2 x 1 BC 3 x 1 tab SF 2 x 1 tab

Tanggal 23 September 2013 S: Nyeri perut kanan atas O: Kesadaran: CM, E4V5M6 Vital Sign: TD: 110/60 Nadi: 80x/menit RR: 20x/menit Suhu: 36,3C Konjugtiva anemis (+/+) Infus PZ 20 tpm Transfusi PRC I kolf/hari sampai Hb 10 Injeksi Cefotaxim 3 x 1 Injeksi Ranitidin 2 x 1 Injeksi ketorolac 2 x 1 BC 3 x 1 tab SF 2 x 1 tab

Tanggal 24 September 2013 S: Nyeri perut kanan atas O: Kesadaran: CM, E4V5M6 Vital Sign: TD: 110/60 Nadi: 80x/menit RR: 20x/menit Suhu: 36,3C Konjugtiva anemis (+/+) Tanggal 25 September 2013 S: Nyeri perut kanan atas O: Kesadaran: CM, E4V5M6 Vital Sign: TD: 110/60 Nadi: 80x/menit

Infus PZ 20 tpm Transfusi PRC I kolf/hari sampai Hb 10 Injeksi Cefotaxim 3 x 1 Injeksi Ranitidin 2 x 1 Injeksi ketorolac 2 x 1 BC 3 x 1 tab SF 2 x 1 tab

Infus PZ 20 tpm Transfusi PRC I kolf/hari sampai Hb 10 Injeksi Cefotaxim 3 x 1 Injeksi Ranitidin 2 x 1 Injeksi ketorolac 2 x 1

RR: 20x/menit
Suhu: 36,3C Konjugtiva anemis (+/+) Hb: 8.4 Tanggal 26 September 2013 S: Nyeri perut kanan atas O: Kesadaran: CM, E4V5M6 Vital Sign: TD: 110/60 Nadi: 80x/menit RR: 20x/menit Suhu: 36,3C Konjugtiva anemis (+/+)

BC 3 x 1 tab SF 2 x 1 tab

Infus PZ 20 tpm Transfusi PRC I kolf/hari sampai Hb 10 Injeksi Cefotaxim 3 x 1 Injeksi Ranitidin 2 x 1 Injeksi ketorolac 2 x 1 BC 3 x 1 tab SF 2 x 1 tab

Pasien datang dengan keluhan kencing darah

HEMATURI

.
MAKROSKOP IS hematuria yang secara kasat mata dapat dilihat sebagai urine yang berwarna merah, mungkin tampak pada awal miksi atau pada akhirnya yang berasal dari daerah posterior uretra atau leher kandung kemih. (Wim de Jong, dkk, 2004) MIKROSKOPI S

hematuria yang secara kasat mata tidak dapat dilihat sebagai urine yang berwarna merah tetapi pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan lebih dari 2 sel darah merah per lapangan pandang. (Mellisa C Stoppler, 2010).

+
di dalam sistem urogenitalia

Etiologi hematuri
Infeksi antara lain pielonefritis, glomerulonefritis, ureteritis, sistitis, dan uretritis Tumor jinak atau tumor ganas yaitu: tumor ginjal (tumor Wilms), tumor grawitz, tumor pielum, tumor ureter, tumor buli-buli, tumor prostat, dan hiperplasia prostat jinak. Kelainan bawaan sistem urogenitalia, antara lain : kista ginjal Trauma yang mencederai sistem urogenitalia. Batu saluran kemih. (Mellisa C Stoppler, 2010)

di luar sistem urogenitalia

Kelainan pembekuan darah (Diathesis Hemorhagic), SLE, Penggunaan antikoagulan, atau proses emboli pada fibrilasi atrium jantung maupun endokarditis. (Wim de Jong, dkk, 2004)

+
Dalam kasus ini didapatkan

Hasil USG (polycystic kidney/kista ginjal)

Manifestasi klinis : nyeri yang tumpul daerah lumbar, hematuri (gross hematuria), penyulit (ISK), pembesaran ginjal (penurunan fungsi ginjal)

+
Didapatkan juga

Hasil Urin lengkap : bakteri yang positif (+), leukosit : 12-15/lp dalam pemeriksaan UL hal ini menandakan bahwa telah terjadi infeksi atau peradangan pada saluran kemih

dalam pemeriksaan UL hal ini menandakan bahwa telah terjadi infeksi atau peradangan pada saluran kemih

* TINJAUAN PUSTAKA

* DEFINISI POLIKISTIK GINJAL


*

Polikistik ginjal merupakan bentuk lain dari kista ginjal. Penyakit kista pada ginjal merupakan sekelompok heterogen penyakit yang terdiri atas penyakit herediter dan didapat (Robins,2007).
Polikisitik berasal dari dua kata poly yang berarti banyak dan Cystic yang berarti rongga tertutup abnormal, dilapisi epitel yang mengandung cairan atau bahan semisolid, jadi polikistik (polycystic) ginjal adalah banyaknya kistik (cytstic) pada ginjal (Dorland,2002).

+ * Klasifikasi

Penyakit ginjal polikistik resesif autosomal (Autosomal Resesif Polycystic Kidney/ARPKD) dan Penyakit ginjal polikistik dominan autosomal(Autosomal Dominant Polycytstic Kidney/ADPKD)

+ * Epidemiologi
*

(ARPKD) merupakan penyakit genetik yang jarang terjadi dengan perbandingan 1 : 6000 hingga 1 : 40.000 (ADPKD) memiliki angka prevalensi sekitar 1 : 500 dan lebih sering terjadi pada orang Kausia dari pada penduduk Afro-Amerika

* Patofisiologi

ARPKD (Autosomal Resesif Polycystic Kidney Disease)

Umumnya tampak pada orang yang homozigot untuk alel yang mengalami mutasi

mutasi disuatu gen yang belum teridentifikasi pada kromosom 6p

1. Hanya pada homozigot (aa), sedangkan pada heterozigot (Aa)secarafenotipe hanya pembawa yang normal. 2. Laki-laki dan perempuan memiliki kemungkinan yang sama untuk terkena. 3. Pola pewarisan horizontal tampak pada silsilah yang muncul pada saudara kandung tetapi tidak pada orang tua. 4. Penyakit umumnya memiliki awitan dini

Dengan karakteristik

* Patofisiologi

ADPKD (Autosomal Dominan Polycystic Kidney Disease)

heterozigot (Aa) maupun homozigot (aa)

PKD-1 (gen defektif) yang terletak pada lengan pendek kromosom 16. PKD-2 (gen defektif) yang terletak pada kromosom 4

1. Laki-laki dan perempuan memiliki kemungkinan yang sama untuk terkena. 2. Pola pewarisan vertikal tampak pada silsilah yang maksundya muncul pada setiap generasi 3. Usia awitan penyakit sering lambat

Dengan karakteristik

* Manifestasi Klinis

nyeri hematuri hipertensi Infeksi saluran kemih Pembesaran ginjal

* Pemeriksaan Fisik
Inspeksi

: terlihat pembesaran atau adanya massa pada pinggang baik bilateral atau unilateral. : Saat melakukan palpasi bimanual maka akan teraba ginjal denganpermukaan yang tidak rata.

Palpasi

Nyeri

ketok ginjal : Terdapat rasa nyeri ketika dilakukan nyeri ketok ginjal pada sudutkostovetebralis.

* Pemeriksaan penunjang
USG Ginjal

MRI
CT (Computed Tomography) Biopsi Ginjal

* Penatalaksanaan
Pengobatanya

pada penyakit ginjal polikistik resesif autosomal (ARPKD) dan penyakit ginjal polikistik dominan autosomal (ADPKD) adalah bersifat suportif yang mencakup manajemen hipertensi yang cermat (Nelson,2000)
dan trasplantasi ginjal.

dialysis

* Prognosis

Prognosis kurang baik pada ARPKD, anak-anak dengan perbesaran ginjal yang berat dapat meninggal pada masa neonatus karena insufisensi paru atau ginjal.
ADPKD) cenderung relative stabil dan berkembang sangat lambat. Sekitar 50% akan menjadi gagal ginjal stadium akhir atau uremia pada usia 60 tahun dan 25% pada usia 50 tahun (price dan Wilson,2005).

* Daftar Pustaka

1. Djumhana A., Syam A.F., 2009. Ileus Paralitik. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Internal Publishing pp. 307-8. 2. Djumhana A., 2008., Ileus Paralitik. Bandung: Sub Bagian Gastroentero-hepatologi Fakultas Kedokteran UNPAD pp. 1-4. 3. de Jong W., 2004. Penyulit Bedah. Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC pp. 300. 4. Rodrigo C., Gamakaranege C.S.S.S.K., Epa D.S., Gnanathasan A., Rajapakse S., 2011. Hypothyroidism Causing Paralytic Ileus and Acute Kidney Injury-Case Report. Thyroid Research Journals. 4:7. 5. Carlson T.L., Plackett T.P., Gagliano R.A., Smith R.R., 2012. Methamphetamine-Induced Paralytic Ileus. Hawaii Journal of Medicine and Public Health. 71:2. 6. BPOM RI, 2008. Informatorium Obat Nasional Indonesia 2008. Jakarta: Sagung Seto pp. 40. 7. Luzny J., Valihrachova S., Novak J., Zapletal T., Donek E., Arogunmati O., 2010. Ileus SatesConditions Connecting Psychiatrists and Surgeons. Biomed Pap Med Fac Univ Palacky Olomouc. 154(3):261-4.

+ * TERIMA KASIH
MATURNUWUN

Anda mungkin juga menyukai