Anda di halaman 1dari 27

Herman Suryosardjono,M.

Si
Namrehasur@yahoo.com




Indonesia adalah Supermarket Bencana




Kurangnya pemahaman terhadap
karakteristik bahaya (hazards)
Sikap atau perilaku yang mengakibatkan
penurunan kualitas sumberdaya alam
(vulnerability)
Kurangnya informasi/peringatan dini (early
warning) yang menyebabkan
ketidaksiapan
Ketidakberdayaan/ketidakmampuan dalam
menghadapi ancaman bahaya


Perlu ditempuh sebuah kebijakan agar
bangsa Indonesia terlindungi dari
ancaman bencana
Hogwood dan Gunn dalam Solichin Abdul Wahab
(2008:19).10 Klp Kebijakan Publik
01.Kebijakan sebagai sebuah label atau merk bagi suatu
bidang tertentu.;
02.Kebijakan sebagai suatu pernyataan mengenai tujuan
umum atau keadaan tertentu yang dikehendaki;
03.Kebijakan sebagai usulan khusus;
04.Kebijakan sebagai keputusan keputusan pemerintah;
05.Kebijakan sebagai bentuk otorisasi atau pengesahan
formal;
06.Kebijakan sebagi program;
07.Kebijakan sebagai keluaran;
08.Kebijakan sebagai hasil akhir;
09.Kebijakan sebagai teori atau model;
10.Kebijakan sebagai proses;


Undang Undang Nomor 24 Tahun 2007
Tentang Penanggulangan Bencana
PP Nomor 21 Tahun 2008 Tentang
Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana
PP Nomor 22 Tahun 2008
PP Nomor 23 Tahun 2008
Dan Peraturan Peraturan lain yang terkait
baik yang diterbitkan dengan nama
Peraaturan
pemerintah,Permendagri,Peraturan Kepala
BNPB Dsb.
UU 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana
Urusan bersama, hak dan kewajiban seluruh stakeholder diatur
Pemerintah sebagai penanggungjawab PB dengan peran serta
aktif masyarakat dan lembaga usaha => Platform Nasional
Merubah paradigma respons menjadi Pengurangan Risiko
Bencana
Perlindungan masyarakat terhadap bencana dimulai sejak Pra
bencana, pada saat dan pasca bencana, secara terencana,
terpadu, terkoordinasi dan terpadu
Membangun masyarakat yang tangguh/tahan dalam menghadapi
bencana
Membangun sistem penanggulangan bencana yang handal
melalui Kelembagaan yang kuat, pendanaan yang memadai
Integrasi PB dalam Rencana Pembangunan (RKP/D, RPJM/D,
RPJP/D)
ARAHAN PRESIDEN RI
tentang Penanggulangan Bencana
Disampaikan pada tanggal 14 September Tahun 2007 di Kab Pesisir
Selatan, Sumbar pada saat gempa bumi Bengkulu dan Sumatera Barat
(7,9 SR, 12 Sept 2007)
1. Pemda Kabupaten/Kota menjadi penanggung jawab utama
penyelenggaraan penanggulangan bencana di wilayahnya.
2. Pemda Provinsi segera merapat ke daerah bencana untuk
memberikan dukungan dengan mengerahkan seluruh sumberdaya
yang ada di tingkat Provinsi jika diperlukan.
3. Pemerintah memberi bantuan sumberdaya yang secara ekstrim tidak
tertangani daerah.
4. Libatkan TNI dan POLRI.
5. Laksanakan penanganan secara dini
Penyelenggaraan PB Masa Lalu Sekarang
Penanggulangan
Bencana

Kelembagaan


Urusan PB
Responsif / Tanggap
Darurat

Ad Hoc / Bakornas /
Satkorlak/ Satlak

Pemerintah
3 Fase Pra,Saat dan
Pasca Bencana

Definitip / BNPB/BPBD
I/II


Urusan Bersama /
Semua Pihak/
Pemerintah-Masy
Dunia Usaha

Penyelenggaraan PB Masa Lalu Sekarang
Sektor PB

Perencanaan PB



Legislasi

Paradigma PB
Sektoral

Insidental / Tiap Ada
Kejadian Tangdar


PP / Kepres

Konvensonal / Manusia
Sebagai Korban
Bencana Pantas untk Di
Tolong
Integral

Perencanaan PB
menjadi bagian dr
Perencanaan
Pembangunan
Undang Undang

Pengurangan Risiko
Bencana
Prinsip Prinsip / Asas Asas
Sistem
Fase

Secara nasional, Visi Penanggulangan Bencana
Indonesia adalah: Ketangguhan bangsa dalam
menghadapi bencana.
Visi tersebut diwujudkan dalam 3 (tiga) Misi
Penanggulangan Bencana Indonesia yaitu:
Melindungi bangsa dari ancaman bencana melalui
pengurangan risiko;
Membangun sistem penanggulangan bencana yang
handal;
Menyelenggarakan Penanggulangan Bencana
secara terencana, terpadu, terkoordinasi dan
menyeluruh.

Penanggulangan berasaskan:
a. kemanusiaan;
b. keadilan;
c. kesamaan kedudukan dalam hukum dan
pemerintahan;
d. keseimbangan, keselarasan, dan
keserasian;
e. ketertiban dan kepastian hukum;
f. kebersamaan;
g. kelestarian lingkungan hidup; dan
h. ilmu pengetahuan dan teknologi.
a. cepat dan tepat;
b. prioritas;
c. koordinasi dan keterpaduan;
d. berdaya guna dan berhasil guna;
e. transparansi dan akuntabilitas;
f. kemitraan;
g. pemberdayaan;
h. nondiskriminatif; dan
i. nonproletisi.
Nasional :
Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang PENANGGULANGAN
BENCANA
Peraturan Pemerintah
Peraturan Presiden
Peraturan Menteri
Peraturan Kepala BNPB
dsb

Daerah :
Peraturan Daerah
Peraturan Gubernur
Peraturan Walikota
Peraturan Bupati
Qanun
dsb



FORMAL :
BNPB
BPBD Provinsi
o 33 BPBD sudah
terbentuk

BPBD Kabupaten/Kota
o 387 BPBD sudah
terbentuk
o 280 BPBD Perda
o 107 BPBD Pergub
BNPB
Unsur Pengarah Unsur Pelaksana
BPBD Provinsi
Unsur Pengarah Unsur Pelaksana
BPBD Kab./Kota
Unsur Pengarah Unsur Pelaksana
19 orang [10 unsur pemerintah dan 9 unsur profesional]
11 orang [6 unsur pemerintah dan 5 unsur profesional]
9 orang [5 unsur pemerintah dan 4 unsur profesional]
Perencanaan Penanggulangan Bencana
Rencana Penanggulangan Bencana (Disaster Management Plan)
o Tingkat Nasional RENCANA NASIONAL PENANGGULANGAN
BENCANA 2010-2014
o Tingkat Provinsi/Kab./Kota RENCANA PENANGGULANGAN
BENCANA

Rencana Tiap Jenis Bencana
o Rencana Mitigasi (Mitigation Plan)
o Rencana Kontinjensi (Contingency Plan)
o Rencana Operasi (Operation Plan)
o Rencana Pemulihan (Recovery Plan)

Pemaduan PB dalam Perencanaan Pembangunan (Nasional / Daerah)
Penanggulangan Bencana dalam RPJP (N/D), RPJM (N/D) dan RKP (N/D)

Dana DIPA (APBN/APBD)
untuk mendukung kegiatan rutin dan operasional
lembaga/departemen terutama untuk kegiatan pengurangan risiko
bencana
DAK untuk pemda Provinsi/Kab./Kota diwujudkan dalam mata
anggaran kebencanaan, disesuaikan dengan tingkat kerawanan dan
kemampuan daerah

Dana Contingency
untuk penanganan kesiapsiagaan

Dana Siap Pakai (on call)
untuk bantuan kemanusiaan (relief) pada saat terjadi bencana

Dana bantuan sosial yang berpola hibah

Dana yang bersumber dari masyarakat
Kapasitas adalah kemampuan
sumberdaya dalam menghadapi
ancaman atau bahaya
1. Kapasitas kelembagaan (ada
tidaknya BPBD, Platform Daerah PRB,
dan forum lainnya)
2. Kapasitas Sumberdaya
- Sumberdaya manusia (pelatihan
personil, relawan, masyarakat)
- prasarana (kantor, pusdalops, alat
transportasi, komunikasi)
3. Kapasitas IPTEK (penguasaan IPTEK,
pendidikan tinggi, IPTEK terapan)

4. Kapasitas Manajemen (prosedure
koordinasi, komando dan pelaksanaan
penanggulangan bencana)
3 Fase

1. Fase Pra Bencana

2. Fase Saat Bencana

3. Fase Pasca Bencana





Prabencana
Situasi Tidak Ada
Bencana
Situasi Terdapat Potensi
Bencana
Perencanaan
Pencegahan
Pengurangan Risiko
Pendidikan
Pelatihan
Penelitian
Penaatan Tata Ruang

Mitigasi
Peringatan Dini
Kesiapsiagaan
Prabencana
Saat Tanggap Darurat
Situasi Tidak Ada
Bencana
Situasi Terdapat Potensi
Bencana
Perencanaan
Pencegahan
Pengurangan Risiko
Pendidikan
Pelatihan
Penelitian
Penaatan Tata Ruang

Mitigasi
Peringatan Dini
Kesiapsiagaan
Kajian Cepat
Status Keadaan Darurat
Penyelamatan & Evakuasi
Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Perlindungan
Pemulihan
PENYELENGGA
-RAAN
PENANGGULA -
NGAN
BENCANA
Prabencana
Saat Tanggap
Darurat
Pascabencana
Situasi Tidak
Ada Bencana
Situasi Terdapat
Potensi Bencana
Perencanaan
Pencegahan
Pengurangan Risiko
Pendidikan
Pelatihan
Penelitian
Penaatan Tata Ruang

Mitigasi
Peringatan Dini
Kesiapsiagaan
Kajian Cepat
Status Keadaan Darurat
Penyelamatan & Evakuasi
Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Perlindungan
Pemulihan
Rehabilitasi
Rekonstruksi
Prasarana dan Sarana
Sosial
Ekonomi
Kesehatan
Kamtib
Lingkungan

Anda mungkin juga menyukai