Anda di halaman 1dari 38

LEADERSHIP

Laksmi Karunia Tanuwijaya


Managers are people who do things right,
while leaders are people who do the right
things (Bennis, 1985).
Leading is establishing direction and
influencing others to follow that direction
willingly
An individuals motivations stem from
energizing forces :
within the individual(needs, attitudes, interests,
and perceptions) and
within the organization(rewards, tasks,
coworkers, supervisors, communication, and
feedback).
Leadership-Motivation
History of motivational theories
Abraham Maslow pada tahun 1954
Menurut teori hierarki kebutuhan Maslow, seseorang
termotivasi oleh keinginannya memenuhi kebutuhan
khususnya.
Maslow mengatakan bahwa hanya suatu ketidakpuasan yang
menimbulkan tingkah laku yang termotivasi. Ketika sebuah
kebutuhan sudah terpuaskan, tidak lagi menjadi motivator
utama. Kebutuhan yang lebih tinggi tidak dapat menjadi
tekanan untuk memotivasi sampai kebutuhan yang lebih dasar
sudah terpenuhi. Pada akhirnya seseorang akan menaiki
tingkatan hierarki kepuasan tersebut.


Kebutuhan manusia disusun dalam tingkatan
hierarki :
kebutuhan psikologis dan biologis (makanan, tempat
berlindung, sex, istirahat, udara, air, dan pakaian)
kebutuhan akan rasa aman (perlindungan dari
kejahatan, keamanan, kebebasan dari rasa takut, dan
hukum)
kebutuhan sosial (rasa cinta dan pertemanan),
kebutuhan akan penghargaan (status, penghargaan,
dan pengakuan)
kebutuhan akan aktualisasi diri (perkembangan diri dan
realisasi potensi).
Teori motivasi kedua yang didasarkan pada
kebutuhan diprakarsai oleh McClelland pada
tahun 1961.
Teori penghargaan motivasi menganggap sebuah
organisasi menawarkan kesempatan pada individu
untuk memuaskan tiga kebutuhan, yaitu : kebutuhan
akan kekuatan, kebutuhan akan penghargaan, dan
kebutuhan akan hubungan.
Bergantung pada kebutuhan khusus masing masing
individu, mereka akan termotivasi oleh tugas yang
menyediakan kesempatan untuk mencapai
kebutuhannya.

Maslow dan Mc Clelland mendasarkan teori
mereka pada perbedaan antar manusia.
Sebagai perbandingan, teori organisasi untuk
motivasi menekankan unsur tugas dengan
sedikit perhatian pada perbedaan tiap
individu.
Teori dual-factor atau teori motivation-hygiene milik
Herzberg pada tahun 1959
Faktor faktor seperti penghargaan, pengakuan, tanggung
jawab, kesempatan untuk kenaikan pangkat, dan pekerjaan
itu sendiri adalah motivator
Faktor faktor seperti kebijakan perusahaan, pengawasan,
gaji, kondisi pekerjaan, dan hubungan interpersonal sebagai
faktor hygiene.
Faktor hygiene tidak memotivasi tetapi dengan
mudah mencegah ketidakpuasan dan bertindak
sebagai sebuah persyaratan untuk memotivasi oleh
motivator.

Operant conditioning theory (E. L. Thorndike
and B. F. Skinner)
Second theory of motivation based on
organizational factors
people will perform in order to receive rewards and
avoid punishment

Expectancy theory
combines interaction of the two : individual
factors and organizational factors
people make decisions about their behavior on the
expectation that the choice they make is more likely
to lead to a needed or desired outcome.
The relationship between behavior and outcome
is affected in complex ways by individual and
organizational factors.
Motivation concept is poorly understood and
practice
Myths of motivation
Myths of motivation

1. Memungkinkan bagi seorang manager untuk memotivasi pekerja.
Tidak selalu. Motivasi harus datang dari dalam. Seorang manager hanya dapat
menciptakan lingkungan sehingga para pekerja memotivasi diri mereka sendiri.
2. Uang adalah motivator yang baik.
Tidak selalu. Tingkat kepuasan terendah contohnya adalah uang, jaminan
pekerjaan, dan fasilitas yang memuaskan dapat membantu para pekerja yang
kuramg termotivasi, tetapi tidak membuat mereka menjadi lebih termotivasi.
3. Ketakutan adalah motivator yang baik.
Ketakutan adalah motivator jangka pendek yang baik tetapi apabila terlalu sering
akan menjadi de-motivator untuk jangka panjang.
4. Apa yang memotivasi saya sebagai manager akan memotivasi staf
saya juga.
Orang yang berbeda akan termotivasi oleh hal yang berbeda dan hal tersebut dapat
berubah seiring dengan berjalannya waktu. Manager harus mengetahui apa yang
memotivasi tiap pekerjanya.
Basic principles to remember when
attempting to create an environment
conducive to self-motivation:
1. Work to align the goals of the organization
with the goals of employees.
Allow employees to identify their own goals.
2. Work to understand what really motivates
each employee.
This can be done by asking them, listening to them,
and observing them.

3. Recognize that supporting employee
motivation is an ongoing process to sustain
a motivational environment in ever-changing
organizations.
4. Support employee motivation with
organizational systems such as policies and
procedures to help ensure clear understanding
and equitable treatment
Leadership vs Management
Leadership is the activity of influencing other
peoples behavior toward the achievement of
desired objectives.
Management is the function of running an
organization by effectively and efficiently
integrating and coordinating resources in
order to achieve desired objectives.
Effective Leadership
(1) The capacity to engage people and draw them
to a compelling vision of what is possible;
(2) The ability to communicate their vision in a way
that allows people to make it their own and give
it personal meaning;
(3) Trust, total reliability, and integrity, as well as
the performance of actions that are congruent
with their vision;
(4) The possession of high regard for self and others
Effective Leadership Empowers
People by
1. Making them feel significant,
2. Focusing on their developing competence
rather than their failures,
3. Creating a shared sense of community,
4. Making work exciting and worthy of
dedicated commitment.
As a leader, the foodservice manager must
empower employees by clearly
communicating the organizations mission,
accepting the responsibility for leading the
group, and earning employees trust.
The Traditional Leadership
Role
Early theories of leadership :
scientific management, in which a leaders role
was to motivate employees with rewards of
money, and
human relations theory, in which a leader
improved productivity by showing an interest in
the employee as an individual.
Early theories of leadership include scientific
management, in which a leaders role was to
motivate employees with rewards of money,
and human relations theory, in which a leader
improved productivity by showing an interest
in the employee as an individual.
Newer Approaches to Leadership
Situational management theory holds that
effectiveness as a leader depends on the
characteristics of the leader and the
subordinates as well as the situational
variables involved.






Interpretation of the situational leadership
model.
Source: Bolman, Lee G., and Deal, Terrence E. Reframing
Organizations: Artistry, Choice, and Leadership, p. 418.
Copyright 1991 by Jossey-Bass, Inc., Publishers. Used with
permission.
The contingency theory of leadership holds
that there is no one best style of leadership
but that style must be adjusted to fit the
situation.
Leaders acquire power from their ability to
reward and punish, position in the
organization, expertise, and personal
characteristics.

Types of power
1. Kekuatan paksaan-Coercive power:
Bawahan percaya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk menghukum
mereka dan hukuman tersebut tidak menyenangkan, seperti pengurangan
upah, penurunan jabatan atau diberhentikan, atau persetujuan untuk
melakukan tugas yang tidak menyenangkan.
2. Kekuatan hadiah- Reward power :
Bawahan percaya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk memberi mereka
hadiah dan hadiah tersebut menyenangkan, seperti kenaikan upah, kenaikan
jabatan, atau persetujuan untuk melakukan tugas penting.
3. Kekuatan yang sah- Legitimate power :
Bawahan percaya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk memberi
perintah karena posisinya di dalam organisasi.
4. Kekuatan ahli- Expert power :
Bawahan percaya bahwa pemimpin memiliki keahlian atau pengetahuan yang
dapat membantu mereka
5. Kekuatan karisma- Referent or charismatic power :
Bawahan percaya bahwa pemimpin memiliki karisma atau karakter personal
yang menimbulkan kekaguman dan respek yang membuat mereka mengikuti
pimpinan tersebut.
Communication
Communication, or the constant
development of understanding among
people, is central to leadership effectiveness.
Effective communication
Komunikasi yang efektif artinya terjadi
kesuksesan mentransfer informasi, pengertian,
dan pemahaman dari pengirim kepada
penerima. Tidak diperlukan terjadinya
persetujuan, namun harus timbul rasa saling
pengertian yang satu sama lain untuk
mempertimbangkan kesuksesan.
Types of communication include oral, written,
visual aids, body language, facial expressions,
gestures, and actions.
The effectiveness of communication can be
improved by using multiple forms of
communication.
Barriers to effective communication can be
overcome by being aware of their existence
and employing some of the suggested
techniques and improving communication.



In this era of constant change, an
understanding of change management is
critical to leadership effectiveness. A good
leader systematically faces the challenges
presented by the ever-changing conditions in
the foodservice industry.
Persons in foodservice management
positions should accept as a personal
philosophy that their human resources are
their greatest assets and that to improve
their value is not only a material advantage
but a moral obligation as well.
Terima Kasih