Anda di halaman 1dari 37

TERAPI

MODALITAS dalam
KEPERAWATAN
JIWA
Pengertian
Adalah terapi utama dalam keperawatan jiwa. Terapi ini
diberikan dalam upaya mengubah klien dari perilaku
maladaptif menjadi adaptif

Jenis jenis Terapi Modalitas :
1. Psikodrama
2. Terapi perilaku
3. Terapi keluarga
4. Terapi lingkunagan
5. Terapi Aktivitas Kelompok
6. Terapi Rehabilitasi
Peran Perawat Dalam Terapi
Modalitas
1. Sebagai Pelaksana
a. Memberi askep langsung kepada klien mengenai kegiatan
yang dilakukan di ruangan, seperti kegiatan sehari-hari.
b. Memimpin klien membersihkan ruangan seperti
menyapu halaman dan ruangan
c. Mengajarkan cara berpakaian, mandi sesuai jadwal
d. Kegiatan yang diberikan sesuai kondisi dan kemampuan
klien.
e. Memberi pengetahuan kepada klien agar dapat
memperbaiki, mempertahankan dan meningkatkan
kemampuan, baik minat maupun hobinya.

2. Sebagai Pengelola :

a. Mengelompokkan klien sesuai dengan
kondisinya, misal: Isolasi sosial, HDR,
Hallusinasi, Waham, dan Perilaku Kekerasan.
b. Menentukan tujuan dari setiap kegiatan sesuai
masalah dan latar belakang klien
c. Memilih kegiatan yang sesuai.

1. Terapi Aktivitas Kelompok
Pendahuluan
Secara alamiah individu selalu dalam kelompok, sebagai
contoh: individu dalam satu keluarga
Penggunaan kelompok dalam praktik keperawatan jiwa
memberikan dampak positif dalam upaya pencegahan,
pengobatan atau terapi serta pemulihan kesehatan jiwa
Perawat sebagai pemimpin kelompok, dapat
menggunakan keunikan untuk mendorong anggota
kelompok agar dapat mengungkapkan masalahnya, dan
mendapatkan bantuan penyelesaian masalah dari
kelompok.
Pengertian Kelompok
Kelompok adalah kumpulan individu yang mempunyai
hubungan satu dengan yang lain, saling ketergantungan
serta mempunyai norma yang sama. (Stuart & Sundeen,
1999 hal 10)
Sedangkan kelompok terapeutik memberikan
kesempatan untuk saling bertukar (shering) pikiran.
Setiap kelompok mempunyai struktur dan identitas
tersendiri.
Kekuatan kelompok memberikan konstribusi pd
anggota dan pimpinan kelompok, untuk saling bertukar
pengalaman dan memberikan penjelasan
1. T U M :
Meningkatkan kemampuan uji realitas, melalui
komunikasi dan umpan balik dengan arang lain
Melakukan sosialisasi
Meningkatkan kesadaran terhadap hubungan,
reaksi emosi dengan tindakan defensif
Membangkitkan motivasi untuk kemajuan
kognitif dan afektif

1. Meningkatkan identifikasi diri
2. Menyalurkan emosi secara konstruktif
3. Meningkatkan keterampilan hubungan
interpersonal atau sosial
1. Model Focal Conflict
Menurut Whitakers dan Liebermen`s, terapi kelompok
berfokus pada kelompok dari pada individu.
Prinsipnya : terapi kelompok dikembangkan berdasarkan
konflik yang tidak disadari. Pengalaman kelompok secara
berkesinambungan muncul, kemudian konfontir konflik
untuk menyelesaikan masalah.
Tugas terapis membantu anggota kelompok memahami
konflik dan mencapai penyelesaian.
Leader memfasilitasi untuk mengekpresikan perasaan dan
mendiskusikannya untuk penyelesaian masalah.
2. Model Komunikasi
Medel komunikasi menggunakan prinsip teori komunikasi dan
komunikasi terapeutik
Leader berperan memfasilitasi komunikasi efektif, masalah
individu atau kelompok dapat diidentifikasi dan diselesaikan
Leader mengajarkan pada kelompok bahwa :
- Perlu berkomunikasi dalam kelompok
- Anggota harus bertanggung jawab terhadap apa yang
diucapkan
- Komunikasi berada pada semua level, nonverbal, terbuka dan
tertutup
- Pesan yang disampaikan dapat dipahami orang lain, padat
membantu yang lain dengan komunikasi yang efektif.
Model ini bertujuan meningkatkan keterampilan
interpersonal dan sosial anggota kelompok
Teori komunikasi membantu anggota kelompok
merealisasikan bagaimana mereka bekomunikasi
secara nonverbal dan mengajarkan pada mereka
bagaimana berkomunikasi lebih efektif.
Leader perlu menjelaskan secara singkat prinsip-
prinsip komunikasi dan bagaimana
menggunakan di dalam kelompok serta
menganalisa proses komunikasi tersebut.
3. Model Interpersonal
Sulivan mengemukakan bahwa semua tingkah laku, pikiran
dan perasaan digambarkan melalui hubungan interpersonal
Contoh: Interaksi dalam kelompok dapat dipandang sebagai
sebab akibat, dimana perasaan dan tingkah laku satu anggota
merupakan akibat dari tingkah laku anggota lainnya.
Pada teori ini terapist bekerja dengan individu dan kelompok
Amggota kelompok belajar dari interaksi antara anggota dan
terapist
Melalui proses ini kesalahan persepsi dapat dikoreksi dan
perilaku sosial yang efektif dapat dipelajari
Perasaan cemas dan kesepian merupakan sasaran untuk
mengidentifikasi dan merubah perilaku.
4. Model Psikodrama
Dengan model ini memotivasi anggota
kelompok untuk berakting sesuai dengan
peristiwa yang baru terjadi atau peristiwa yang
lalu.
Anggota memainkan peran sesuai dengan
peristiwa yang pernah dialami, contoh: klien
memerankan ayahnya yang dominan atau keras
Psikodrama ini dilakukan secara spontan dan
memberikan kesempatan pada anggota untuk
berekting diluar situasi spesifik yang pernah
terjadi
1. TAK Orientasi Realita
Terapi ini dapat membantu klien yang
disorientasi.
Proses :
Mengorientasikan klien pada dirinya sendiri
Mengorientasikan klien pada orang lain yang
dekat pada lingkungannya
Mengorientasikan klien pada lingkungan,
waktu, tempat dan kejadian
Contoh aktivitas : Permainan Simulasi
2. TAK Sosialisasi
Membantu klien berhubungan dengan orang lain

Proses :
Bercerita tentang diri sendiri pada kelompok
Memotivasi klien untuk bertanya, menyapa dan diskusi
Contoh aktivitas:
Permainan bernyanyi, yang diawali dengan perkenalan
dan diakhiri dengan diskusi tentang perasaan.
3. TAK Perseptual Stimulasi
Biasanya digunakan pada klien yang mengalami
gangguan persepsi dan berhubungan dengan
nilai nilai dan pengalaman klien.
Proses:
Merangsang atau menstimulasi klien melalui
kegiatan yang disukai.
Mendiskusikan aktivitas yang telah dilakukan
Contoh: Membaca artikel, buku, majalah
dilanjutkan dengan diskusi.dll.
Aktivitas yang dilakukan untuk menstimulasi
sensori klien, digunakan pada klien yang
mengalami kemunduran sensoris.
Proses :
Klien diberi stimulasi secara teratur
Perubahan perilaku klien di observasi, hasil
obeservasi digunakan untuk menstimulasi klien
mempertahankan perilaku adaptif.
Contoh: Terapi musik
Aktivitas yang dilakukan untuk menyalurkan energi
klien secara konstruktif, digunakan pada klien yang
menunjukkan perilaku agresif, risiko amuk, hipoaktif.
Proses :
Klien dimotivasi untuk menggerakkan badan/olah
raga
Setelah gerak badan diberi kesempatan untuk
mengekspresikan perasaan terhadap aktifitas yang
dilakukan.
Contoh: senam, sepak bola, volly, basket, tenis meja
dll
Fase I: Orientasi
Pada fase ini beberapa hal yang muncul
Kecemasan klien mningkat karena berada dalam
kelompok baru, penetapan norma dan peran
Pada saat orientasi muncul konflik yang menuju
pada kebersaan.
Leader perlu berperan membantu anggota
sebagai katalisator.
Sering terjadi konflik tanpa disadari.
Fase II.Kerja:
Pada fase ini situasi yang terjadi :

Kelompok sudah merupakan satu tim
Semua perasaan positif dan negatif dapat
diekspresikan
Hubungan saling percaya telah terbina
Semua anggota bekerja sama mencapai tujuan
Proses pengambilan keputusan dan umpan balik
terjadi
Fase III. Terminasi
Proses ini merupakan tindakan mengakhiri kegiatan
kelompok untuk sementara atau menetap
Beberapa hal yang terjadi pada akhir terapi
kelompok:
- istirahat diganti yang baru
- tidak sukses (drop out)
- sukses: tujuan tercapai
Aktivitas kelompok sukses apabila terlihat respons
klien sedih dan kehilangan.
Oleh karena itu perlu diberi waktu untuk persiapan
terminasi
1. Lingkungan Fisik
Warna yang mencolok, bising dan cahaya yang
redup atau tajam akan mempengaruhi kosentrasi
anggota kelompok melakukan TAK.
Dalam menata lingkungan, perawat perlu
memperhatikan teritorial, jarak antara anggota
kelompok dan latar belakang budaya, karena
budaya yang berbeda menyebabkan timbulnya
salah persepsi.
2. Kepemimpinan
Kemampuan leader akan mempengaruhi hubungan antar
anggota untuk mencapai tujuan
3. Pengambilan keputusan perlu mempertimbangkan
keputusan anggota kelompok
4. Rasa percaya antar anggota kelompok memungkinkan
mereka untuk bekerja sama mencapai tujuan
5. Kohesi (rasa kebersamaan), saling percaya, saling perhatian,
saling menerima, ada norma kelompok dan kerja sama antar
anggota kelompok untuk mencapai tujuan.
6. Kebersamaan dan pengaruh masing-masing anggota
kelompok menetukan tujuan kelompok.
1. LEADER (Pimpinan Kelompok)
Menyusun perencanaan pelaksanaan TAK
Mengarahkan kelompok dalam mencapai tujuan
Memfasilitasi setiap anggota kelompok untuk
mengekspresikan perasaan, mengajukan pendapat
dan umpan balik.
Sebagai role model
Memotivasi anggota untuk mengemukakan pendapat
dan memberikan umpan balik.
2. Co Leader (Membantu Pimpinan Kelompok)
Membantu leader dalam mengorganisir anggota
kelompok

3. Fasilitator
Membantu leader memfasilitasi anggota untuk berperan
aktif dan memotivasi anggota
4. Oberver
Mengobservasi setiap respon klien
Mencatat semua proses yang terjadi dan perubahan
perilaku klien
Memberikan umpan balik pada kelompok.
Perawat dapat bertugas sebagai leader, co leader
fasilitator dan observer

Jumlah anggota kelompok berkisar antara 7 10
orang.

Lama aktivitas: 45 60 menit

Sebelum memulai T A K perlu menyusun
perencanaan pelaksanaan terapi aktivitas
kelompok sebagai pedoman pelaksanaan
1. Mengidentifikasi Jenis T A K
Setiap jenis TAK di indikasikan untuk kondisi
klien yang spesifik
Perawat harus menetapkan jenis TAK sesuai
kondisi klien
Kondisi klien adalah sesuai masalah
keperawatan klien yang ditemukan
Perawat lebih dahulu melaksanakan asuhan
keperawatan secara individual sehingga sudah
teridentifikasi masalah keperawatan dan
kebutuhan.
2. Mengidentifikasi Klien
Identifikasi masalah klien disesuaikan indikasi
TAK
Pertimbangkan kondisi fisik dan kemampuan
toleransi klien untuk mengikuti TAK
Biasanya kriteria klien adalah masalah
keperawatan sesuai jenis TAK
Sehat secara fisik
Dapat mengikuti arahan atau saran
Tidak sedang agitasi (membahayakan diri
sendiri, orang lain dan lingkungan)
3. Menetapkan Tujuan
Tujuan TAK merupakan bagian dari tujuan askep
Merupakan bagian dari tujuan khusus rencana askep
Sifat TAK menguatkan kemampuan atau
perubahan perilaku yang telah dirancang di NCP
Berlaku untuk seluruh klien yang menjadi peserta
TAK
4. Menentukan Personil
Dalam TAK perawat membagi peran tertentu yang
unik meliputi sebagai ketua kelompok atau leader,
co leader, fasilitator dan observer.
5. Penentuan Landasan Teori
Landasan teori adalah konsep dan teori yang
digunakan dalam pelaksanaan TAK
Masing- masing perawat harus membekali diri
dengan konsep dan teori sebgai jastifikasi
diselenggarakannya TAK

6. Penetapan Kriteria Anggota Kelompok
Menetapkan kriteria anggota kelompok perlu di
pertimbangkan masalah keperawatan yang dilami
klien, harus sesuai dengan indikasi.
7. Penetapan Struktur Kelompok
Tentukan tempat TAK beserta setting tempat,
waktu, metode yang akan digunakan, besarnya
anggota kelompok.
Tempat TAK harus dipilih yang cukup aman
dan nyaman sehingga proses TAK berjalan
lancar.
8. Penetapan Perilaku Yang Diharapkan
Perilaku yang diharapkan harus ditetapkan dari
awal, sebagai tolok ukur pencapaian tujuan
TAK
Uraian perilaku menjadi kriteria evaluasi
keberhasilan.
9. Penentuan Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang di pakai harus sesuai dengan
tujuan TAK, dan memperhitungkan faktor efisiensi
dan keterbatasan sumber daya yang ada.

Alat dan bahan yang sederhana kalau dipergunakan
dengan kreativitas yang tinggi bisa mengasilkan
sesuatu yang sangat baik
Proposal Terapi Aktivitas
Kelompok
A. Topik
B. Tujuan:
A. Tujuan Umum
B. Tujuan khusus
a...
b..
c. Dst
C. Landasan teori (memberikan jastifikasi bahwa TAK yang
dibutuhkan pada kondisi klien yang akan dilibatkan






D. Klien
D. Kriteria klien
E. Proses seleksi
E. Pengorganisasian
1. Waktu (hari, tanggal, jam dan tempat)
2. Team terapis: leader, coleader,
fasilitator dan observer
3. Metode dan media

F. Proses Pelaksanaan
1. Fase Orientasi
a. Salam terapeutik
b. Validasi evaluasi
c. Pelaksanaan, tujuan, aturan main dan waktu

2. Fase Kerja
Langkah langkah kegiatan TAK


3. Fase Terminasi
a. Evaluasi respon subjektif klien
b. Evaluasi respon objektif klien
c. Tindak lanjut (apa yang dapat dilakukan klien
setelah TAK)
d. Kontrak yang akan datang

NOT: Buatkan Strategi Pelaksanaan Terapi
Aktivitas Kelompok ( SP)

INT 2013