Anda di halaman 1dari 14

L/O/G/O

Y o u r C o m p a n y s l o g a n i n h e r e
www.themegallery.com
alergi pada kulit atau daerah mukokutan yang
terjadi akibat pemberian obat dengan cara
sistemik (melalui mulut, hidung, rektum, vagina,
suntikan atau infus).

Trimethoprim-
sulphamethoxazole
Furosemide
Tetracycline
Diclofenac sodium
Ciprofloxacin
Ibuprofen
Metronidazole
Norfloxacin
Aspirin
Menurut Fayez (2011)
Patogenesis dan patofisiologi yang mendasari terjadinya FDE
sampai saat ini masih kurang jelas
Reaksi eritema, lepuh dan rasa gatal diduga disebabkan oleh
peningkatan kadar histamin
Sel limfosit T (T4 dan T8) merupakan sel yang paling banyak
dijumpai pada sel infiltrat. Begitu pula dengan peningkatan sel
mast sebesar 5 10% serta ditemukannya HLA-DR pada
limfosit T (limfosit aktif) di dermis menunjukkan keadaan yang
sama pada lesi hipersensitivitas tipe lambat.

www.themegallery.com
www.themegallery.com
Lesi berkembang dalam
waktu 30 menit-8jam
Terjadi berulang d lokasi
kulit yang sama
Berakhir spontan dalam 7-
10 hari setelah pemakaian
obat dihentikan
Patch
Eritematosa
demam

gatal/terbakar
Wajah,
ekstremitas,
kelamin
Lesi berulang
Gambaran
Klinis
www.themegallery.com
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis dan gambaran
klinis yang khas. Pada anamnesis perlu ditanyakan
riwayat perjalanan penyakit yang rinci, termasuk pola
gejala klinis, jenis obat, dosis, waktu dan lama pajanan
serta riwayat alergi obat sebelumnya
www.themegallery.com
www.themegallery.com
1
2
3
5
4
4. Herpes
Simplex
5.
Dermatitis
Kontak
Alergi
1. Fixed
Drug
Eruption
2. Eritema
Multiforme
3. Toxic
Epidermal
Necrolysis
www.themegallery.com
Eritema Multiforme TEN
Dermatitis Kontak
Alergi
Herpes Simplex
www.themegallery.com
Pemeriksaan
Penunjang
Histopatologi pada FDE degenerasi
hidropik pada lapisan sel basal. Dijumpai
civatte bodies pada epidermis
Patch tes tidak dianjurkan melakukan tes
selama erupsi masih aktif, dilakukan
sekurang-kurangnya 6 minggu setelah
erupsi mereda
Tes provokasi oral Dosis yang diberikan
sebanyak 10% dari dosis standar dan
pasien dengan lesi yang luas (SJS, TEN)
tidak boleh menjalani tes ini
Non-Medikamentosa
Penghentian penggunaan obat yang diduga sebagai pencetus
Medikamentosa
Sistemik : diberikan antihistamin yang bersifat sedatif jika
terdapat rasa gatal.
Topikal : sesuai keadaan kelainan kulit, jika kering dapat
diberikan krim kortikosteroid, misalnya krim hidrokortison
1% atau 2 %. Jika lesi basah dapat dikompres dengan
larutan NaCl 0,9 dilakukan 2-3 kali sehari selama 15-30
menit pada 2-3 hari pertama saja.

www.themegallery.com
Jika obat pencetus telah diketahui sebaiknya pasien diberikan
kartu catatan jenis obat serta golongannya dan ingatkan pasien
untuk menunjukkannya setiap kali pasien berobat agar dapat
dicegah kemungkinan terjadi pajan ulang FDE.

www.themegallery.com
Shear NH, Knowles SR. Cutaneous reaction drug. In: Goldsmith LA,
Kats IS, Gilchrest BA, Leffel DJ, Wolff K editors. Fitzpatricks
Dermatology in General Medicine.7
th
ed. New York: Mc Graw-Hill Book
CO;2008.p.359-360
Shiohara, Tetsuo. 2009. Fixed drug eruption: pathogenesis and
diagnostic tests. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 9:316321
Fayez R, Obaidat N, Al-Qaqaa A, Al-Rawashdeh B, Ma'aita M, Al-Azab
N. 2011. Drugs Causing Fixed Drug Eruption: A Clinical Study. Journal
Of The Royal Medical Services . 18(3): 16-20
Docrat, ME. 2005. Skin Focus: Fixed Drug Eruption. Current Allergy &
Clinical Immunology. 18(1): 24
Hamzah, Mochtar. 2007. Erupsi Obat Alergik. In: Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin. Edisi ke-5. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia

www.themegallery.com
L/O/G/O
Y o u r B u s i n e s s C o m p a n y s l o g a n i n h e r e
www.themegallery.com