Anda di halaman 1dari 32

HEPATITIS B

Adeline Nurul Hasanah


1102009006
Pembimbing : dr. Nugroho Budi Santoso, Sp.PD
LATAR BELAKANG
Penyakit hepatitis B adalah salah satu penyakit menular yang berbahaya di
dunia. Penyakit ini disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB) yang
menyerang hati dan menyebabkan peradangan hati akut atau menahun.
Tingkat prevalensi hepatitis B di Indonesia sangat bervariasi berkisar dari
2,5 % di Banjarmasin sampai 25,6 % di Kupang, sehingga termasuk dalam
kelompok negara dengan endemisitas sedang sampai tinggi.
ANATOMI HEPAR
Ket :
1. Ligamentum coronarium
2. Lobus hepatis dextra
3. Vesica biliaris
4. Diagfragma (ligamentum
trianguler sinistrum)
5. Lobus hepatis sinistra
6. Ligamentum falciforme

Ket :
1. Appendix fibrosa hepatis
2. Lobus caudatus
3. Lobus hepatis sinistra
4. Arteri hepatika propia
5. Ligamentum teres hepatis
6. Lobus quadrates
7. Vesica biliaris
8. Lobus hepatis dextra
9. Vena porta hepatis
10. Vena cava inferior
Hati disuplai oleh dua pembuluh darah yaitu:
1. Vena porta hepatika yang berasal dari lambung dan usus, yang kaya
akan nutrien seperti asam amino, monosakarida, vitamin yang larut
dalam air, dan mineral.
2. Arteri hepatika, cabang dari arteri kuliaka yang kaya akan oksigen.
Persyarafan hepar
Dilakukan oleh system Simpatis dan Parasimpatis melalui flexus hepaticus,
sebagian besar melalui flexus coeliaci, yang juga menerima cabang-cabang
dari nervus vagus kanan dan kiri serta dari nervus phrenicus kanan.


HISTOLOGI HEPAR
Terdiri dari lobulus-lobulus yang
bentuknya
hexagonal/polygonal, dibatasi
jaringan interlobular.
Pada manusia tidak jelas
jaringan interlobularnya.
Tiga dimensi, lobulus seperti
prisma hexagonal/polygonal
disebut lobulus klasik, panjang
1-2 mm
Sel-sel hati/hepatocyte berbentuk
polygonal, tersusun berderet radier,
membentuk lempengan yang saling
berhubungan, dipisahkan oleh
sinusoid yang juga saling
berhubungan.
Pada sudut-sudut lobulus terdapat
canal portal, berbentuk segitiga,
disebut segitiga kiernan, berisikan:
- Arteriol, cabang arteri hepatica
- Venula, cabang vena porta
- Ductus biliaris (saluran empedu)
- Pembuluh lymph
FISIOLOGI HEPAR
Fungsi sistem vaskuler hepar
Fungsi penyimpanan hati
Fungsi pembersih darah sistem makrofag hepatik
Fungsi metabolik hati (karbohidrat, lemak, dan protein)
Berbagai fungsi metabolik hati yang lain (Penyimpanan vitamin,
Koagulasi darah, Penyimpanan besi, Ekskresi obat-obatan, hormon,
dan zat lain)
Ekskresi bilirubin



-

















KONSEP PENYAKIT

DEFINISI

Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh
virus hepatitis B, suatu anggota famili hepadnavirus yang dapat
menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang dapat
berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati.
ETIOLOGI
Hepatitis B adalah suatu penyakit yang disebabkan
oleh virus Hepatitis B (VHB), suatu Virus DNA
bercangkang ganda yang memiliki ukuran 42 nm,
anggota famili Hepadnavirus dengan masa inkubasi
26-160 hari dengan rata-rata 70-80 hari.
EPIDEMIOLOGI DAN
CARA TRANSMISI
Sebanyak 1-5% dewasa, 90% neonatus, dan 50% bayi akan berkembang menjadi
hepatitis kronik dan viremia yang persisten
Infeksi persisten dihubungkan dengan hepatitis kronik, sirosis dan kanker hati
Distribusi diseluruh dunia: Prevalensi karier di USA <1% di Asia 5-15%
HBV ditemukan di darah, semen, sekret servikovaginal, saliva, cairan tubuh lain
CARA TRANSMISI
1. Vertikal
2. Horizontal (melalui kulit, dan selaput lendir : mulut, hidung, mata dan kelamin)

PATOFISIOLOGI
VHB melekat di reseptor spesifik (membran sel hepar)
Penetrasi ke dalam sitoplasma sel hepar, lalu VHB melepaskan mantelnya
melepaskan nukleokapsid, lalu menembus dinding sel hati
Di dalam inti asam nukleat VHB akan keluar dari nukleokapsid
Menempel pada DNA hospes dan berintegrasi
DNA VHB memerintahkan hati untuk membentuk protein virus baru
Virus dilepaskan ke peredaran darah......
*Kronik : Karena respon imunologik penderita terhadap infeksi.
GEJALA KLINIS
AKUT
1) Masa Inkubasi
2) Fase Prodormal
3) Fase Ikterus
4) Fase Penyembuhan
KRONIK
1) Fase imunotoleransi
2) Fase imunoaktif
3) Residual
CARRIER
Penderita infeksi VHB kronis dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu:
1) Pengidap HbsAg positif dengan HbeAg positif
Pada penderita ini sering terjadi kenaikan ALT (eksaserbasi) dan kemudian penurunan ALT
kembali (resolusi). Siklus ini terjadi berulang-ulang sampai terbentuknya anti Hbe. Sekitar
80% kasus pengidap ini berhasil serokonversi anti Hbe positif, 10% gagal serokonversi
namun ALT dapat normal dalam 1-2 tahun, dan 10% tetap berlanjut menjadi hepatitis B
kronik aktif.
2) Pengidap HbsAg positif dengan anti Hbe positif
Prognosis pada pengidap ini umumnya baik bila dapat dicapai keadaan VHB DNA yang
selalu normal. Pada penderita dengan VHB DNA yang dapat dideteksi diperlukan
perhatian khusus oleh karena mereka berisiko menderita kanker hati.
3) Pengidap hepatitis B yang belum terdiagnosa dengan jelas
Kemajuan pemeriksaan yang sangat sensitif dapat mendeteksi adanya HBV DNA pada
penderita dengan HbsAg negatif, namun anti HBc positif.

PEMERIKSAAN
Menurut WHO (1994) untuk mendeteksi virus hepatitis digolongkan dengan tiga (3) cara
yaitu: Cara Radioimmunoassay (RIA), Enzim Linked Imunonusorbent Assay (ELISA), imunofluorensi
mempunyai sensitifitas yang tinggi. Untuk meningkatkan spesifisitas digunakan antibodi monoklonal
dan untuk mendeteksi DNA dalam serum digunakan probe DNA dengan tekhnik hibridasi.
Pemeriksaan laboratorium yang paling sering digunakan adalah metode Elisa. Metode
Elisa digunakan untuk mengetahui adanya kerusakan pada hati melalui pemeriksaan enzimatik yaitu
pemeriksaan SGPT dan SGOT (Serum Glutamic Pirivuc Transaminase dan Serum Glutamic Oksalat
Transaminase). Pemeriksaan SGPT lebih spesifik untuk mengetahui kelainan hati karena jumlah SGPT
dalam hati lebih banyak daripada SGOT.
Kejadian hepatitis akut ditandai dengan peningkatan SGPT dan SGOT 10-20 kali dari
normal, dengan SGPT lebih tinggi dari SGOT. SGPT dan SGOT normal adalah < 42 U/L dan 41
U/L. Pada hepatitis kronis kadar SGPT meningkat 5-10 kali dari normal.

Berikut ini adalah berbagai macam pertanda serologik infeksi VHB
yaitu:



HBsAg (Hepatitis
B Surface Antigen)
Anti-HBs Anti-HBc
HBeAg
Anti HBe
DNA VHB
Hepatitis Akut
Level ALT dan AST yang meningkat (1000-2000 IU/ml). Nilai yang lebih tinggi
ditemukan pada pasien hepatitis dengan ikterik. Biasanya ALT lebih tinggi daripada
AST.
Terdapat peningkatan level Alkaline Phosphatase, tetapi biasanya tidak lebih dari 3
kali batas atas normal.
Level albumin dapat mengalami sedikit penurunan, dan level serum iron dapat
mengalami peningkatan. Pada periode preicteric sering ditemukan leukopenia,
limfositosis, dan peningkatan LED.
Beberapa penanda serologi adalah didapatkannya HbsAg dan HbeAg pada
permulaan yang diikuti dengan HBc Ab (IgM).
Pada pasien yang membaik ditemukan serokonvensi HbsAb dan HbeAb serta IgG
HbcAb. Pasien dengan HbsAg yang menetap lebih dari 6 bulan berkembang
menjadi hepatitis kronik.


Hepatitis Kronik Inaktif
Level AST dan ALT normal, dan penanda infectivitas (HbeAg dan HBV
DNA) negatif.
Pada serum dapat ditemukan HbsAG, IgG HbcAb, dan HbeAb.
Hepatitis Kronik Aktif
Ditemukan peningkatan aminotransferase ( 5 kali batas atas normal).
Level ALT > AST. Peningkatan yang tinggi level ALT didapatkan pada
saat terjadi eksaserbasi atau reaktivitas penyakit yang biasanya disertai
gangguan fungsi hati (penurunan level albumin, peningkatan level
bilirubin dan peningkatan PT). Ditemukan level HBV DNA yang
tinggi. Pada serum ditemukan HbsAg dan HbcAb (IgM/IgG).
AST > ALT.

DIAGNOSIS BANDING
Hepatitis Alkoholik Abses Hepar Amoeba
Hepatitis autoimun Hepatitis non B
PENATALAKSANAAN
Hepatitis Virus Akut
Hepatitis B Kronik
- Kelompok imunomodulasi
1) Interferon
2) PEG interferon
- Kelompok terapi antivirus
1) Lamivudin
2) Adenovir dipivoksil
3) Entecavir

Terapi imunomodulator
1) Interferon (IFN) alfa
Untuk menurunkan replikasi virus. Efek antivirus kemungkinan sekali
akibat interferon mengikat pada reseptor khusus di permukaan sel yang kemudian
reaksinya menghambat atau mengganggu proses uncoatin, RNA transcription, protein
synthesis dan assembly virus.
Efek samping: Gejala seperti flu, Tanda-tanda supresi sumsum tulang,
Depresi, Rambut rontok, Berat badan turun, Gangguan fungsi tiroid.
Dosis IFN dengan HBeAg positif adalah 5-10 MU 3x seminggu selama
16-24 minggu. Dengan HBeAg negatif sebaiknya diberikan selama 12 bulan.
Kontra indikasi adalah sirosis dekompensata, depresi atau riwayat
depresi di waktu yang lalu, dan adanya penyakit jantung berat.





2) PEG Interferon

Penambahan polietilen glikol (PEG) menimbulkan senyawa
IFN dengan umur paruh yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
IFN biasa. Dari hasil penelitian Lau et al dapat disimpulkan bahwa
berdasarkan hasil kombinasi (serokonversi HBeAg, normalisasi ALT,
penurunan HBV DNA dan supresi HBsAg), penginterferon
memberikan hasil lebih baik dibandingkan lamivudin.

Terapi antivirus
1) Lamivudin
Untuk menghambat produksi VHB baru dan mencegah terjadinya
infeksi hepatosit sehat yang belum terinfeksi, tetapi tidak mempengaruhi sel-sel
yang telah terinfeksi.
Dosis 100mg/hari, lamivudin akan menurunkan konsentrasi DNA
VHB sebesar 95% atau lebih dalam waktu 1 minggu. Strategi pengobatan yang
tepat adalah pengobatan jangka panjang.
Efek samping : Sakit kepala, fatigue, insomnia, mual, muntah, diare,
nyeri abdominal, gangguan respirasi, nyeri otot, neuropati, mialgia.
Keuntungan dan kerugian lamivudin:
- Keuntungan: Keamanan, toleransi pasien serta harga yang relatif murah.
- Kerugian: Sering timbul kekebalan.



2) Adefovir Dipivoksil
Adefovir merupakan analog asiklik dari deoxyadenosine
monophosphate (dAMP). Cara kerjanya adalah dengan menghambat
amplifikasi dari cccDNA virus. Dosis yang direkomendasikan untuk dewasa
adalah 10 mg/ hari oral paling tidak selama satu tahun.
Keuntungan dan kerugian adefovir:
Keuntungan: Jarang terjadi kekebalan.
Kerugian: Toksisitas terhadap ginjal yang sering dijumpai pada dosis 30mg
atau lebih, harga yang lebih mahal dan masih kurangnya data mengenai
keamanan dan khasiat dalam jangka yang sangat panjang.

3) Entecavir
Mekanisme aksi entecavir merupakan analog inhibitor guanosin yang
berkompetisi dengan substrat natural deoxyguanosine triphosphate yang secara
efektif menghambat aktivitas polimerase virus hepatitis sehingga mengurangi
sintesis DNA virus.
Dosis untuk terapi hepatitis B kronik adalah 0,5 mg per hari, sedangkan
pada penderita yang resisten terhadap lamivudin menggunakan dosis 1 mg per hari
diberikan pada perut kosong (2 jam sebelum atau setelah makan).
Efek samping: >10% peningkatan alanin aminotransferase
(ALT/SGPT), pusing, fatigue, hiperglikemia, peningkatan lipase, diare, dispepsia,
peningkatan AST, Peningkatan bilirubin, hematuria, glikosuria, peningkatan
kreatinin, pusing, hipoalbuminemia, insomnia, mual, somnolen, trombositopenia,
muntah.


Keuntungan dan kerugian entacavir:
Keuntungan: Jarang terjadi kekebalan, dapat digunakan pada pasien
yang kebal pada lamivudin.
Kerugian: Harga yang lebih mahal dan masih kurangnya data
mengenai keamanan dan khasiat dalam jangka yang sangat panjang.

Berdasarkan penelitian didapatkan bahwa entecavir lebih
efektif dari pada lamivudin, entecavir dapat digunakan pada pasien
yang resisten lamivudin, dan keuntungan lainnya adalah efek samping
pada entecavir lebih sedikit dibandingkan lamivudin.

KOMPLIKASI
Nekrosis hati
akut/subakut
hepatitis kronik Sirosis
Gagal Hati
Karsinoma
Hepatoseluler
PROGNOSIS
Sangat bervariasi; pada sebagian kasus, penyakit
berjalan ringan dengan perbaikan biokimia terjadi secara
spontan dalam 1-3 tahun. Pada sebagian kasus lainnya,
hepatitis kronik persisten dan kronik aktif berubah menjadi
keadaan yang lebih serius, bahkan berlanjut menjadi sirosis.
Secara keseluruhan, walaupun terdapat kelainan biokimia,
pasien tetap asimptomatik dan jarang terjadi kegagalan hati.
PENCEGAHAN
Imunoprofilaksis vaksin hepatitis B sebelum paparan
Vaksin rekombinan ragi, efektifitas sebesar 85-95% dalam mencegah infeksi HBV. Efek
samping utama: Nyeri sementara pada tempat suntikan (10-25%), dan demam ringan dan singkat
pada <3%. Dosis dan jadwal vaksinasi HBV. Pemberian IM (deltoid) dosis dewasa untuk dewasa,
untuk bayi, anak sampai umur 19 tahun dengan dosis anak (1/2 dosis dewasa), diulang pada 1 dan 6
bulan kemudian.
Indikasi : Imunisasi universal untuk bayi baru lahir, Vaksinasi catch up untuk anak
sampai umur 19 tahun (bila belum di vaksinasi). Grup risiko tinggi (Pasangan dan anggota keluarga
yang kontak dengan karier hepatitis B, Pekerja kesehatan dan pekerja yang terpapar darah, IVDU,
Homoseksual dan biseksual pria, Individu dengan banyak pasangan seksual, Resipien transfusi
darah, Pasien hemodialisis, Sesama narapidana, dan Individu dengan penyakit hati yang sudah ada
(misal hepatitis C kronik).


Imunoprofilaksis pasca paparan dengan vaksin hepatitis B dan
imunoglobulin hepatitis B (HBIG)
Kontak seksual dengan individu yang terinfeksi hepatitis akut:
Dosis 0,04-0,07 mL/kg HBIG sesegera mungkin setelah paparan,
vaksin HBV pertama diberikan pada saat atau hari yang sama pada deltoid sisi
lain, vaksin kedua dan ketiga diberikan 1 dan 6 bulan kemudian.
Neonatus dari ibu yang diketahui mengidap HBsAg positif:
Setengah mili liter HBIG diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir
di bagian anterolateran otot paha atas, vaksin HBV dengan dosis 5-10 ug,
diberikan dalam waktu 12 jam pada sisi lain, diulang pada 1 dan 6 bulan,
efektifitas perlindungan melampaui 95%.

TERIMA KASIH