Anda di halaman 1dari 32

INHALASI

Kelompok 1
Ati Nurcahya
Tri Endah Ratna Sari
Via Banyu Lesmana
Nina

Biofarmasetika adalah ilmu yang mempelajari tentang
hubungan antara sifat fisikokimia formulasi dengan
bioavailabilitas obat.
Biofarmasetika adalah pengkajian faktor-faktor
fisiologis dan farmasetik yang mempengaruhi
pelepasan obat dan absorbansi dari bentuk sediaan.
Sifat-sifat fisika kimia dari obat dan bahan-bahan
penambah menetapkan laju pelepasan obat dari
bentuk sediaan dan transport berikutnya melewati
membran-membran biologis, sedangkan fisiologis dan
kenyataan biokimia menentukan nasib obat dalam
tubuh
B.
Bioavailabilitas obat ialah jumlah relatif obat
atau zat aktif suatu produk obat yang
diabsorpsi, serta kecepatan obat tersebut
masuk ke dalm peredaran sistemik.
Efek terapetik suatu obat sangat bergantung
pada kadar obat dalam darah/plasma; dengan
demikian bioavailabilitas obat dari bentuk
sediaannya akan mempengaruhi respon
penderita terhadap obat
C. ANATOMI dan Fisiologi paru :
Paru-paru terletak di dalam rongga dada
bagian atas, di bagian samping dibatasi oleh
otot dan rusuk dan di bagian bawah dibatasi
oleh diafragma yang berotot kuat.
Paru-paru ada dua bagian yaitu paru-paru
kanan (pulmo dekster) yang terdiri atas 3
lobus dan paru-paru kiri (pulmo sinister)
yang terdiri atas 2 lobus.
Paru-paru tersusun oleh bronkiolus, alveolus,
jaringan elastik, dan pembuluh darah.
Bronkiolus tidak mempunyai tulang
rawan,tetapi ronga bronkus masih bersilia
dan dibagian ujungnya mempunyai epitelium
berbentuk kubus bersilia.
Setiap bronkiolus terminalis bercabang-
cabang lagi menjadi bronkiolus respirasi,
kemudian menjadi duktus alveolaris.
Pada dinding duktus alveolaris mangandung
gelembung-gelembung yang disebut
alveolus.

D. Sistem Pernafasan
Pernafasan atau ekspirasi adalah menghirup udara dari
luar yang mengandung O2 (oksigen) kedalam tubuh
serta menghembuskan udara yang banyak
mengandung CO2 (karbon dioksida) sebagai sisa dari
oksidasi keluar tubuh.
Proses Kimiawi Respirasi Pada Tubuh Manusia :
Pembuangan CO2 dari paru-paru : H + HCO3 ---> H2CO3 -->
H2 + CO2
Pengikatan oksigen oleh hemoglobin : Hb + O2 ---> HbO2
Pemisahan oksigen dari hemoglobin ke cairan sel : HbO2 ->
Hb + O2
Pengangkutan karbondioksida di dalam tubuh : CO2 + H2O
---> H2 + CO2

Organ-Organ Pernafasan Pada Manusia
Hidung
Faring
Laring/pangkal batang tenggorokan / kotak
suara
Trakea
Bronkus
Bronkeolus
Alveolus
Paru-paru
Fungsi Pernafasan
Mengambil oksigen kemudian dibawa oleh
darah keseluruh tubuh (sel-selnya) untuk
mengadakan pembakaran.
Mengeluarkan karbon dioksida yang terjadi
sebagai sisa pembakaran, kemudian dibawa
oleh darah ke paru-paru untuk dibuang
(karena tidak berguna lagi oleh tubuh).
dan melembabkan udara
Mekanisme Kerja Sistem Pernapasan
Inspirasi (menarik napas)
Inspirasi adalah proses yang aktif, proses ini terjadi bila
tekanan intra pulmonal (intra alveol) lebih rendah dari tekanan
udara luar. Pada tekanan biasa, tekanan ini berkisar antara -1 mmHg
sampai dengan -3 mmHg. Pada inspirasi dalam tekanan intra alveoli
dapat mencapai -30 mmHg. Menurunnya tekanan intra pulmonal
pada waktu inspirasi disebabkan oleh mengembangnya rongga
toraks akibat kontraksi otot-otot inspirasi.
Ekspirasi (menghembus napas)
Ekspirasi adalah proses yang pasif, proses ini berlangsung bila
tekanan intra pulmonal lebih tinggi dari pada tekanan udara luar
sehingga udara bergerak keluar paru. Meningkatnya tekanan di
dalam rongga paru terjadi bila volume rongga paru mengecil akibat
proses penguncupan yang disebabkan oleh daya elastis jaringan
paru.

E.
Inhalasi adalah sediaan obat atau larutan atau
suspensi terdiri atas satu atau lebih bahan obat
yang diberikan melalui saluran napas hidung atau
mulut untuk memperoleh efek lokal atau
sistemik.
Inhalan terdiri atas satu atau kombinasi beberapa
obat, yang karena bertekanan uap tinggi, dapat
terbawa oleh aliran udara ke dalam saluran
hidung dan memberikan efek. Wadah obat yang
diberikan secara inhalasi disebut inhaler.

Aerosol adalah bentuk sediaan yang mengandung satu atau lebih
zat aktif dalam wadah kemas tekan, berisi propelan yang dapat
memancarkan isinya, berupa kabut hingga habis, dapat di gunakan
untuk obat dalam atau obat luar dengan menggunakan propelan
yang cocok.
Aerosol di dunia farmasi adalah bentuk sediaan yang diberi
tekanan, mengandung satu atau lebih bahan aktif yang bila
diaktifkan memancarkan butiran-butiran cairan atau bahan-bahan
padat dalam media gas.
Menurut FI IV, aerosol farmasetik adalah sediaan yang dikemas di
bawah tekanan, mengandung zat aktif terapetik yang dilepas pada
saat sistem katup yang sesuai ditekan.
Ukuran partikel bahan aktif berkisar antara 10 sampai 50 m,
Keuntungan bentuk sediaan ini
adalah :
Onset yang cepat dalam memberikan aksinya
Tidak melalui mekanisme first-past effect
Menghindari terjadinya degradasi pada saluran
gastrointestinal
Dosis yang rendah yang meminimalkan reaksi
sampingan/lanjutan
Rute alternative bila bahan aktif berinteraksi secara
kimia atau fisika dengan obat lain yang diberikan
bersamaan.
Pilihan alternative bila terjadi penghambatan
farmakokinetik pada pemberian oral atau parenteral.
Mudah dibawa (baik untuk penanganan pada saat
kondisi pernafasan akut misalnya pada pasien ashma)
Tersegel baik dan meminimalkan oksidasi terhadap
bahan terapeutik dan kontaminasi mikroba.
Efektif untuk penanganan gangguan pernafasan.

Kelengkapan / komponen Aerosol
Wadah
Wadah aerosol dapat digunakan bahan-bahan berikut
ini :
Kaleng timah berlapis baja
Aluminium
Kaca
Plastik
Propelan ( Pendorong)
Konsentrat ( Zat Aktif)
Katup / Valve
Penyemprot/ Aktuator
Cara kerja aerosol
Aerosol bekerja dengan dasar sebagai berikut :
Jika suatu gas yang dicairkan berada dalam wadah yang tertutup, maka
sebagian dari gas tersebut akan menjadi uap dan sebagian lagi akan
tetap cair. Dalam keadaan keseimbangan, fase uap naik, fase cair turun,.
Komponen zat aktif dari obat dilarutkan / didispersikan dalam fase cair
dari gas tersebut.
Fase uap gas memberikan tekanan pada dinding dan permukaan fase
cair.
Jika pada fase cair dimasukkan tabung yang pangkalnya melekat pada
katup dan hanya ujungnya yang masuk ke fase cair, maka karena tekanan
uap tersebut, fase cair akan naik melalui tabung ke lubang katup.
Jika tombol pembuka (akuator) ditekan, katup terbuka, fase cair
didorong keluar selama akuator ditekan.
Fase gas yang berkurang akan terisi kembali oleh fase cair yang
menguap.
Fase cair yang keluar bersama zat aktif, karena titik didihnya terlampaui,
akan menguap diudara menyebabkan terjadinya bentuk semprotan
(spray).


Sistem dua fase : Sistem aerosol yang paling sederhana, terdiri dari fase cair
yang mengandung propelan cair dan cairan pekat produk, serta fase gas.
Space spray (Aerosol ruang) terdiri dari 2% hingga 20% bahan aktif dan
80% hingga 98% propelan. Ukuran partikel yang dihasilkan kurang dari 1
hingga 50 m.
Surface Coating spray (Aerosol pelapis permukaan) merupakan produk
konsentrat yang terdiri dari 20% hingga 75% bahan aktif dan 25% hingga
80% propelan. Ukuran partikel yang dihasilkan berkisar antara 50 hingga 200
m.

Sistem tiga fase : Sistem yang terdiri dari lapisan air-cairan propelan yang tidak
bercampur, lapisan pekat produk yang sangat berair, serta gas.
Sistem dua lapisan, pada system ini propelan cair, propelan gas dan
larutan bahan aktif akan membentuk tiga fase. Propelan cair dan air,
tidak bercampur, propelan cair akan terpisah sebagai lapisan yang tidak
bercampur.
Sistem foam/busa, terdiri dari sistem tiga fase dimana propelan cair tidak lebih
dari 10% bobotnya, yang diemulsifikasikan dengan propelan.
Sistem gas bertekanan. (psia, pound per inci persegi) : Digunakan untuk
produk padat, spray kering atau foam. Produk ini menggunakan gas
inert seperti nitrogen, karbon dioksida, atau nitrogen oksida sebagai
propelan.

Aerosol (MDI)
3 tipe bentuk sediaan untuk saluran
pernafasan, yaitu : metered-dose
Inhaler (MDIs), dry-powder Inhaler dan
nebulizers.
MDIs adalah sistem yang paling umum
digunakan selama lebih dari 50 tahun.
Volume produk biasanya 25-100 m,
yang dikemas dalam wadah kaleng kecil
(canister).
Keuntungan
Mudah dibawa (baik untuk penanganan pada
saat kondisi pernafasan akut misalnya pada
pasien atshma)
Lebih murah
Tersegel baik dan meminimalkan oksidasi
terhadap bahan terapeutik dan kontaminasi
mikroba.
Efektif untuk penanganan gangguan
pernafasan.
Kerugian :
MDI biasanya mengandung bahan obat
terdispersi dan masalah yang sering
timbul berkaitan dengan stabilitas
fisiknya.
Seringnya obat menjadi kurang efektif.
Efikasi klinik biasanya tergantung pada
kemampuan pasien menggunakan MDI
dengan baik dan benar.
Gambar : Aerosol (MDI)
Gambar : Cara Penggunaan Aerosol
(MDI)
Dry Powder Inhalers (DPI)
Bentuk sediaan untuk saluran
pernafasan dimana serbuk yang
mengandung bahan terapeutik di
hisap/hirup kedalam saluran
pernafasan. Aliran serbuk aktif saat
dihirup oleh pasien dan penggunaan
propelan tidak dibutuhkan.
Gambar : DPI
NEBULIZER
Nebulisasi meliputi penggunaan energi
(gas atau ultrasonik sistem) pada larutan
bahan terapeutik dan menghasilkan
tetesan-tetesan larutan , yang kemudian
akan dihirup oleh pasien melalui masker.
Nebulizer umumnya digunakan untuk
penanganan kondisi akut atau pasien
kesulitan untuk menggunakan bentuk
sediaan saluran pernafasan lainnya.
Tahap Perjalanan Aerosol
1. Transit/penghirupan
a. Ukuran Partikel
Penyebaranannya tergantung ukuran partikel
Partikel dengan koefisien difusi dan gravitasi rendah dapat menembus
bag paru lebih dalam
Tergantung juga pada mekanisme difusi udara inspirasi dan ekspresi
b. Pernafasan dan Laju aliran udara
Perjalanan nafas normal 12-15 daur/menit, volume inspirasi dan
ekspirasi 500 ml
laju inspirasi partikel ukuran besar ikut ke daerah transisi
laju inspirasi, waktu tinggal partikel, retensi aerosol
c. Aliran gas (Laminer atau Turbulen)
Aliran laminer (HK Poisseuille) : Jika ukuran tabung tetap maka laju
pengaliran berbading lurus dengan kekentalan

d. Kelembapan
Paru bagian dalam (kandungan air 44g/m3)
Aerosol kejenuhannya 34g/m3
Pertumbuhan partikel sebagai fungsi dari kelembaban
Perubahan ukuran partikel tergantung kelarutan
e. Suhu
Partikel bergerak suhu ke suhu
Gerakan berbanding lurus dengan perubahan suhu dan
diameter partikel
f. Tekanan
Selama inspirasi tek paru turun 60-100 mmHg dibawah
tek atmosfer
Pemakaian tek positif pada aerosol perbedaan tek
hingga 4-22 mmHg


2. Penangkapan/depo
Cara Penahanan :
a. Tumbukan karena kelembaban
Terjadi pada permukaan hidung, pharyng
dan trakea-bronkus
Tumbukan tidak tejadi dialveoli
b. Pengendapan karena gravitasi
Akhir bronkus ( laju pengaliran rendah)
Lebih besar jika debit inspirasi dan ekspirasi = 0
c. Difusi (gerakan brown)
Timbul akibat tumbukan molekul gas dan
partikel yang tersuspensi dalam udara
Pada bronchiolus terminalis dan alveoli
Ukuran partikel sub mikron (0,002- 0,5 m)

Faktor yang mempengaruhi
penahan /depo:
Anatomi dan fisiologi saluran nafas
Hambatan dan laju aliran udara berkurang
Kecepatan aliran udara besar pada daerah konduksi,
penahanan oleh tumbukan karena kelembaban
Semakin ke dalam kecepatan alir udara semakin kecil
atau = 0, maka penahanan terjadi karena gravitasi atau
gerak brown
Faktor Fisika Kimia
Muatan partikel : Partikel yang bersifat bipolar
meneingkatkan terjadinya koagulasi sehingga
meningkatkan depo (belum terbukti)
Bobot jenis

3. Penahanan dan pembersihan
a. Partikel tertahan dipermukaan tempat depo
b. Aktivitas tergantung laju pelarutan dan difusi
c. Pembersihan dilakukan oleh mukosilia (100 jam)
d. Tergantung sistem aerosol :
Larut dlm cairan biologis (penyerapan oleh mukosa
sal nafas)
Tidak larut cairan biologis (partikel tersimpan dalam
sal nafas bag bawah)
4. Penyerapan
a. Hidung
Luas penyerapan 80 cm2, penyerapan terkecil dari
seluruh sal pernafasan bag atas
Zat yang diserap cepat (sulfur anorganik, amoniak)
Zat yang diserap lambat (histamin, nikotin, efedrin dll)

b. Mulut
Luas permukaan penyerapan mulut dan pharing 75 cm2
Sebagian dapat tertelan (masuk sal cerna)
Sebagian terserap melalui bukal
Diserap dengan baik (nitrogliserin, tetosteron, alkaloid)
Sedikit terserap (barbiturat, protein (insulin) dan heparin)
c. Trakea
Air / normal salin tidak terserap ditrakea
Bahan larut lemak tidak terserap (barbital, tiopental, striknin)
Aerosol suksinilkolin efek lebih lambat tapi lebih lama dibandingkan
dengan iv
Penisilin dengan penetesan menghasilkan kadar dalam darah 2x lebih
lama dari im
d. Penyerapan di Bronkus
Penelitian sulit (pemisahan daerah yang diteliti sulit dan adanya
percabangan)
Otot polos bronkus sangat peka terhadap senyawa iritan (aktivitas lokal)
Reseptor pada pembuluh darah (vasokontriksi dan dekongesti mukosa
bronkus)
Reseptor pada otot bronkus (relaksasi otot bronkus)


e. Penyerapan di Alveoler
Permukaan luas dan penuh kapiler (pertimbangkan
efek sistemik)
Mekanisme perlintasan tidak dapat ditetapkan
dengan pasti
f. Penyerapan di Saluran Cerna
Untuk partikel yang terhenti dipermukaan
hidung/mulut
Senyawa antara lain (isoprotenolol atau
kromoglikat)
Jumlah total penyerapan sulit diramalkan

F.
Beberapa keistimewaan aerosol farmasi yang dianggap
menguntungkan lebih dari bentuk sediaan lain adalah sebagai
berikut :
Sebagian obat dapat dengan mudah diambil dari wadah tanpa
sisanya menjadi tercemar atau terpapar.
Berdasarkan pada wadah aerosol yang kedap udara, maka zat obat
terlindung dari pengaruh yang tidak diinginkan akibat O2 dan
kelembapan udara.
Pengobatan topikal dapat diberikan secara merata, melapisi kulit
tanpa menyentuh daerah yang diobati.
Dengan formula yang tepat dan pengontrolan katup, bentuk fisik
dan ukuran partikel produk yang dipancarkan dapat diatur yang
mungkin mempunyai andil dalam efektivitas obat; contohnya, kabut
halus yang terkendali dari aerosol inhalasi.
Penggunaan aerosol merupakan proses yang bersih, sedikit tidak
memerlukan pencucian oleh pemakainya.

Predisposisi/tahapan
Penghirupan dan perpindahan zat aktif
setelah terjadi penghirupan dan zat
aktif terjadi penangkapan depo, yang
terjadi dengan adanya tumbukan dan
pengendapansehingga partikel
tersebut tertahan di penumpukan depo
terjadi absorbsi zat aktif
menimbulkan efek terapi
Faktor yang mempengaruhi Aerosol