Anda di halaman 1dari 35

DEFINISI

Pengertian kematian mendadak sebenarnya


berasal dari kata sudden unexpected natural
death yang di dalamnya terkandung kriteria
penyebab yaitu natural (alamiah, wajar).
Mendadak disini diartikan sebagai kematian
yang datangnya tidak terduga dan tidak
diharapkan, dengan batasan waktu kurang
dari 48 jam sejak timbul gejala pertama.


Definisi kematian mendadak menurut
WHO yaitu kematian dalam waktu 24
jam sejak gejala timbul, namun pada
kasus-kasus forensik sebagian besar
kematian terjadi dalam hitungan menit
atau bahkan detik sejak gejala timbul.
Pada kematian mendadak, penyebab kematian
hampir selalu ditemukan pada sistem kardiovaskuler,
meskipun lesi tidak terdapat di jantung atau
pembuluh darah utama.
Cerebral hemmorrhage yang masif, perdarahan
subarachnoid, rupture kehamilan ektopik,
hemoptisis, hematemesis dan emboli pulmonal,
sebagai contoh, bersama dengan penyakit jantung
dan aneurisma aorta mempunyai kontribusi pada
sebagian besar penyebab kematian mendadak dan
unexpected akibat system vascular. Tanpa otopsi,
para dokter salah dalam menentukan sebab
kematian dari 25-50% kasus.
PREVALENSI
Kematian mendadak terjadi empat kali lebih sering pada
laki-laki dibandingkan pada perempuan.
Penyakit pada jantung dan pembuluh darah menduduki
urutan pertama dalam penyebab kematian mendadak dan
juga memiliki kecenderungan yang serupa yaitu lebih
sering menyerang laki-laki dibandingkan perempuan
dengan perbandingan 7:1 sebelum menopause dan
menjadi 1:1 setelah perempuan menopause.
Tahun 1997 -2003 di Jepang dilakukan penelitian pada
1446 kematian pada kecelakaan lalu lintas dan dari
autopsi pada korban kecelakaan lalu lintas di Dokkyo
University dikonfirmasikan bahwa 130 kasus dari 1446
kasus tadi penyebab kematiannya digolongkan dalam
kematian mendadak, bukan karena trauma akibat
kecelakaan lalu lintas.


ETIOLOGI
Secara garis besar penyebab kematian
mendadak dibagi atas: trauma, keracunan
dan penyakit.Insiden kematian mendadak
akibat trauma dan keracunan lebih kurang
sekitar 25-30%, sementara penyakit
merupakan penyebab tersering dari
terjadinya kematian mendadak dengan
persentase mencapai 60-70%.Kematian
mendadak akibat penyakit terbanyak
adalah akibat penyakit pada sistem jantung
dan pembuluh darah.

KERACUNAN
Racun ialah zat yang bekerja pada tubuh
secara kimiawi dan fisiologik yang dalam
dosis toksik akan menyebabkan gangguan
berupa sakit atau kematian.
Intoksikasi merupakan suatu keadaaan
dimana fungsi tubuh menjadi tidak normal
yang disebabakan oleh sesuatu jenis racun
atau bahan toksik lain.

Jenis jenis racun
Berdasarkan sumber racun dapat
digolongkan :
Racun yang berasal dari tumbuh tumbuhan
yaitu opium, kokain, kurare, aflatoksin
Racun yang berasal dari hewan seperti bisa
atau toksin ular, laba laba dan hewan laut
Racun yang berasal dari mineral seperti
arsen, timah hitam dan lain lain
Racun yang berasal dari sintetik seperti heroin

Berdasarakan tempat dimana racun berada, dapat
dibagi menjadi :
Racun yang terdapat di alam bebas, misalnya gas gas
yang terdapat di alam
Racun yang terdapat dirumah tangga, misalanya
detergen, insektisida, pembersih (cleaners)
Racun yang digunakan dalam pertanian, misalnya
insektisida, herbisida dan pestisida
Racun yang digunakan dalam industry dan laboratorium,
misalnya asap dan basa kuat, logam berat
Racun yang terdapat dalam makanan, misalnya sianida
dalam singkong, botulinium (racun ikan), bahan
pengawet, zat adiktif
Racun dalam bentuk obat, misalnya hipnotik, sedative

Cara kerja atau efek yang ditimbulkan
Lokal : pada tempat kontak akan timbul
beberapa reaksi, misalnya perangsangan,
peradangan atau korosif. Contoh korosif : asam
dan basa kuat
Sistemik : mempunyai afinitas terhadap salah
satu system, misalnya barbiturate, alcohol,
morfin, mempunyai afinitas kuat terhadap SSP.
Digitalis dan oksalat terhadap jantung. CO
terhadap darah.
Lokal dan sistemik : asam karbol menyebabkan
erosi lambung, sedangkan sebagian yang
diabsorpsi akan menimbulkan depresi SSP

Faktor yang mempengaruhi keracunan :
Cara masuk : mulai dari yang paling cepat
sampai paling lambat berturut-turut adalah
inhalasi, intravena, intramuskuler,
intraperitoneal, subkutan, peroral, kulit.
Umur : orang tua dan anak-anak lebih
rentan
Kondisi tubuh : lebih rentan pada orang
dengan daya tahan tubuh yang rendah
seperi pada orang dengan gizi kurang atau
buruk, orang dengan penyakit ginjal

Faktor yang mempengaruhi keracunan :
Kebiasaan : penting pada kasus keracunan
alcohol dan morfin sebab terjadi toleransi
Alergi : misal vitamin E, penicillin, streptomisin,
dan prokain
Faktor racun sendiri : yaitu takaran, konsentrasi,
bentuk dan kondisi fisik lambung, struktur kimia,
sinergisme dan adisi
Waktu pemberian : sebelum atau sesudah
makan. Pada racun peroral jika diberikan
sebelum makan absorpsi akan lebih baik dan
efek lebih cepat.

Kriteria Diagnosis
Adanya tanda dan gejala yang sesuai dengan racun
penyebab
Dengan analisis kimiawi dapat dibuktikan adanya
racun pada barang bukti jika sisanya masih ada
Dapat ditemukan racun atau sisa dalam tubuh/
cairan tubuh korban, jika racun menjalar secara
sistemik
Kelainan pada tubuh korban, makroskopik maupun
mikroskopik sesuai dengan racun penyebab
Riwayat penyakit, bahwa korban tersebut benar-
benar kontak dengan racun

Pemeriksaan toksikologik
Pemeriksaan toksikologik harus dilakukan pada :
Bila pada pemeriksaan setempat terdapat kecurigaan
terhadap keracunan.
Bila pada otopsi ditemukan kelainan yang lazim
ditemukan pada keracunan dengan zat tertentu,
misalnya lebam mayat yang tidak biasa (cherry red
pada CO, merah cerah pada sianida, kecoklatan pada
nitrit, nitrat, anilin, fenasitin dan kina); loka bekas
suntikan sepanjang vena, keluarnya buih dari mulut
dan hidung (keracunan morfin), bau amandel
(keracunan sianida), bau kutu busuk (keracunan
malation).
Bila pada otopsi tidak ditemukan penyebab kematian.

PENYAKIT
Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
Penyakit Jantung iskemik
Infark Miokard
Penyakit Katup Jantung
Miokarditis
Kardiomiopati

Penyakit Sistem Respirasi
Kematian biasanya melalui mekanisme
perdarahan, asfiksia, dan atau
pneumothoraks.Perdarahan dapat terjadi
pada tuberculosis paru, kanker paru,
bronkiektasis, abses, dan
sebagainya.Sedangkan asfiksia terjadi pada
pneumonia, spasme saluran nafas, asma,
penyakit paru obstruktif kronis, aspirasi
darah atau tersedak.

Penyakit Sistem Pencernaan
Kematian dapat cepat terjadi pada kasus
perdarahan akibat gastritis kronis atau ulkus
duodeni.Perdarahan fatal akibat tumor
jarang terjadi dan jika terjadi maka sering
akibat dari karsinoma atau
leiomyoma.Kematian mendadak dapat juga
disebabkan oleh varises esophagus yang
sering merupakan komplikasi dari sirosis
hepatis dimana mekanisme terjadinya
adalah akibat dari hipertensi portal.

Penyakit Sistem Hematopoietik
Limpa
Ruptur dari limpa dapat menyebabkan kolaps dan
mati mendadak dengan cepat.Limpa dapat ruptur
secara spontan atau karena trauma.Hal ini terjadi
jika limpa terlibat dalam penyakit yang cukup berat
yaitu infeksi mononukleosa, hemofilia, malaria dan
tifoid.
Darah
Kematian mendadak tak terduga dilaporkan oleh
kasus megaloblastik anemia. Infeksi ringan juga
dapat muncul sebagai pemicu terjadinya kematian
pada beberapa keadaan anemia.Hal tersebut juga
dapat terjadi pada pasien leukemia.

Penyakit Sistem Urogenital
Penyakit pada ginjal dan sistem urinaria
jarang menyebabkan mati mendadak.Ada
beberapa kondisi yaitu pada pasien dengan
uremia fase terminal atau dengan
koma/kejang dapat terjadi mati mendadak.

Penyakit Sistem Saraf Pusat
Kejadian mati mendadak yang berhubungan
dengan penyakit sistem saraf pusat
biasanya akibat perdarahan yang dapat
terjadi pada subarachnoid atau
intraserebral.

Perdarahan Sub Arakhnoid Spontan
(Non Trauma)
Perdarahan Intraserebral

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Berhadapan dengan kasus kematian
mendadak, autopsi harus dilakukandengan
amat teliti, pemeriksaan histopatologik
merupakan suatu keharusan.Sampel diambil
dari semua organ yang dianggap terlibat
dengan perjalananpenyakit hingga
menyebabkan kematian, juga kelainan pada
organ yang tampaksecara makroskopik,
walau mungkin kelainan tersebut tidak
berhubunganlangsung dengan penyebab
kematian.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Sebaiknya setiap jenis organ dimasukkan
pada wadahnya sendiri, menghindari bias
pembacaan mikroskopik. Eksisi sampel
organ haruslah mencakup daerah yang
normal dan daerah yang kita curigai secara
mikroskopikterjadi proses patologik.
Informasi mengenai temuan-temuan pada
autopsi perludisertakan dalam permintaan
pemeriksaan histopatologi, sehingga dokter
ahlipatologi dapat melakukan tugasnya
dengan maksimal.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada autopsi kasus yang diduga kematian
mendadak, hampir selalupemeriksaan
toksikologi harus dilakukan.Tanpa
pemeriksaan toksikologi,penegakan sebab
mati menjadi kurang tajam. Pengambilan
sampel untukpemeriksaan toksikologi
beragam sesuai dengan kecurigaan jenis
racun padakasus secara individual, namun
secara umum sampel untuk analisa
toksikologiyang dianggap rutin antara lain.

Darah
Tempat terbaik untuk memperoleh sampel darah
adalah dari venafemoral atau iliaca, atau dari
vena axilaris. Untuk analisa secara
umum,sekitar 15 ml darah dimasukkan ke
dalam tabung kosong agar pembekuandarah
dapat terjadi, bersama itu diambil pula 5-10 ml
darah dimasukkan kedalam tabung berisi
antikoagulan seperti EDTA atau potassium
oxalat atauheparin. Untuk pemeriksaan alkohol
dari darah diperlukan 5 ml darah
yangdimasukkan dalam tabung berisi sodium
fluorida untuk mengambat destruksialkohol oleh
mikro organisme.

Urin
20-30 ml urine dimasukkan ke dalam
kontainer kosong, kecuali bila
adapenundaan pemeriksaan, dapat
dimasukkan sodium azide.

Muntahan atau isi lambung
Muntahan dapat dimasukkan ke dalam
kantung plastik yang dapat ditutup rapat,
pada autopsi isi lambung dapat dimasukkan
ke dalam wadahyang sama dengan
membuka kurvatura minor dengan
gunting.Laboratorium tertentu juga akan
meminta sampel dinding lambungkarena
bubuk atau debris tablet dapat melekat pada
lipatan lambung dengankonsentrasi yang
tinggi.


Feces
Isi rektum umumnya tidak diperlukan untuk
analisa kecuali ada kecurigaan keracunan
logam berat, sampel sebanyak 20-30 gram
dapatdimasukkan ke dalam wadah yang
dapat tertutup rapat.

Liver dan organ lain
Hati dapat diperiksa secara utuh untuk analisa
toksikologi, bila hanya sebagian hati yang
diambil sebagai sampel (100 gr) maka berat
total hati harusdicantumkan dalam lembar
permintaan pemeriksaan.Pada penyalahgunaan
bahan pelarut seperti pada penghirup lem,
bahankimia peracun umumnya dapat ditemukan
dalam darah.Laboratorium dapat membantu bila
kita dapat memberikan sampel parusecara utuh
agar gas yang terperangkap dalam paru dapat
dianalisa.Padakeadaan ini paru dimasukkan ke
wadah kedap udara seperti kantung nilon
ataukantung polyvinyl klorida.

Potongan rambut dan kuku
Pada keracunan logam berat sebagian
rambut dapat dipotong ataudicabut beserta
akarnya.Potongan kuku dapan tapat
digunakan padapemeriksaan penunjang
karena logam berat mengendap pada kuku
dan dapatdianalisa dengan analisa aktivasi
neutron untuk melihat
hubunganpertumbuhan rambut dan paparan
racun. Paparan racun yang paling baru
akanterlihat paling dengan dengan akar atau
pangkal kuku.