Anda di halaman 1dari 30

REFERAT

MIASTENIA GRAVIS
Disusun Oleh:
Joshua Peterson anak Peter Legi
11.2012.252
Pembimbing :
dr. Hadi Kurniawan Sp. KFR
2.1 DEFINISI MIASTENIA
GRAVIS
Miastenia gravis adalah suatu gangguan
autoimun yg menyebabkan otot skelet menjadi
lemah & cepat lelah.
Pada penyakit ini IgG mengikat reseptor
asetilkolin pd membran pascasinaptik
persambungan neuromuskuler
(neuromuscular junction).
Jumlah reseptor asetilkolin yg menurun krn
terikat IgG ini menyebabkan amplitude
potensial lempeng ujung (end-plate)
berkurang, dg akibat tdk timbulnya potensial
aksi.

2.2 EPIDEMIOLOGI
Miastenia gravis lebih sering tampak pada
usia 20-50 tahun.
Wanita >> pria dengan rasio 6:4.
Pada wanita, penyakit ini tampak pada usia
yang lebih muda, yaitu sekitar 28 tahun,
sedangkan pada pria, penyakit ini sering
terjadi pada usia 42 tahun.

2.3 ANATOMI, FISIOLOGIS, DAN
BIOKIMIA NEUROMUSCULAR
J UNCTION
2.3.1 Anatomi Neuromuscular J unction
Ujung-ujung saraf membuat suatu sambungan
yang disebut neuromuscular junction atau
sambungan neuromuskular.
Bagian terminal dari saraf motorik melebar pd
bagian akhirnya yg disebut terminal bulb.
Membran presinaptik (membran saraf),
membran post sinaptik (membran otot), dan
celah sinaps merupakan bagian-bagian
pembentuk neuromuscular junction.

Gambar 1. Anatomi suatu Neuromuscular Junction
6


2.3.2 Fisiologi dan Biokimia Neuromuscular
J unction
Celah sinaps merupakan jarak antara
membran presinaptik dan membran post
sinaptik.
Terminal presinaptik mengandung vesikel
yang didalamnya berisi asetilkolin (ACh) yg
terdapat di bagian terminal motor end plate.

Bila impuls saraf tiba di neuromuscular
junction, asetilkolin dilepaskan dari terminal
masuk ke dlm celah sinaps. Asetilkolin yg
dilepaskan berdifusi sepanjang sinaps dan
berikatan dg reseptor asetilkolin (AChRs) pd
membran post sinaptik.


Proses pada neuromuscular
junction berlangsung dalam 6
tahap, yaitu:
1. Sintesis asetil kolin terjadi dalam sitosol terminal saraf dg menggunakan
enzim kolinasetiltransferase : Asetil-KoA + Kolin Asetilkolin + KoA
2. Asetilkolin kemudian disatukan ke dlm vesikel sinap dan disimpan.
3. Dalam keadaan istirahat vesikel akan dilepaskan shg menghasilkan
potensial end plate miniature yg kecil.kemudian akhir saraf mengalami
depolarisasi membuka saluran Ca
2+
yg memungkinkan aliran masuk Ca
2+

dari ruang sinaps ke terminal saraf.
4. Asetilkolin berdifusi dlm lipatan taut (junctional fold), jika terikat pd reseptor,
maka reseptor membuka saluran dalam reseptor shg aliran kation melintasi
membran. Masuknya ion Na
+
akan menimbulkan depolarisasi membran
otot shgterbentuk potensial end plate depolarisasi membran otot
potensial aksi kontraksi otot.
5. Kalau saluran tersebut menutup, asetilkolin akan terurai dan dihidrolisis
oleh enzim asetilkolinesterase yang mengkatalisasi reaksi berikut:
Asetilkolin + H
2
O Asetat + Kolin.
6. Kolin didaur ulang ke dalam terminal saraf melalui mekanisme transport
aktif di mana protein tersebut dapat digunakan kembali bagi sintesis
asetilkolin.

Gambar 2. Fisiologi Neuromuscular Junction

2.4 PATOFISIOLOGI
Pada miatenia gravis terdapat antibodi pada reseptor
nikotinik asetilkolin.
Miastenia gravis dikatakan sebagai penyakit terkait
sel B, dimana antibodi produk dari sel B justru
melawan reseptor asetilkolin. Abnormalitas pada
timus seperti hiperplasia timus atau thymoma,
biasanya muncul lebih awal pada pasien dengan
gejala miastenik.
6
Pada miastenia gravis, antibodi IgG secara langsung
melawan area imunogenik utama pada subunit alfa
yang merupakan binding site dari asetilkolin. Ikatan
antibodi reseptor asetilkolin pada reseptor asetilkolin
akan mengakibatkan terhalangnya transmisi
neuromuskular.
2.5 GEJALA KLINIS
Kelemahan pada otot ekstraokular atau ptosis.




Gambar 3. Penderita Miastenia Gravis yang mengalami kelemahan otot esktraokular
(ptosis).
Kelemahan otot penderita semakin lama akan
semakin memburuk.
2.6 KLASIFIKASI MIASTENIA
GRAVIS
1. Miastenia gravis dengan ptosis atau diplopia
ringan.
2. Miastenia gravis dengan ptosis, diplopia, dan
kelemahan otot-otot untuk untuk mengunyah,
menelan, dan berbicara. Otot-otot anggota tubuh
pun dapat ikut menjadi lemah. Pernapasan tidak
terganggu.
3. Miastenia Gravis yang berlangsung secara cepat
dengan kelemahan otot-otot okulobulbar.
Pernapasan tidak terganggu. Penderita dapat
meninggal dunia.

2.7 DIAGNOSIS MIASTENIA
GRAVIS
Anamnesis dan Pemeriksaan fisik :
Kelemahan pada otot wajah (a mask-like face )
Kelemahan otot bulbar
Kelemahan otot-otot palatum nasal twang to the voice &
regurgitasi makanan
Kesulitan dalam mengunyah &menelan makanan aspirasi cairan
batuk dan tersedak saat minum.
Kelemahan otot-otot rahang sulit untuk menutup mulutnya
Kelemahan otot-otot leher gangguan pada saat fleksi serta
ekstensi dari leher.
Pada ekstremitas atas: kelemahan fungsi ekstensi dari otot-otot
pergelangan tangan serta jari-jari tangan .
Pada ekstremitas bawah: kelemahan saat fleksi panggul, serta
dorsofleksi jari-jari kaki
Biasanya kelemahan otot-otot ekstraokular terjadi secara asimetris.
Kelemahan otot-otot pernapasan

Untuk memastikan diagnosis miastenia gravis,
dapat dilakukan beberapa tes antara lain:
5

Uji Tensilon (edrophonium chloride).
Uji Prostigmin (neostigmin).
Uji Kinin.

Pemeriksaan Penunjang untuk
Diagnosis Pasti

Pemeriksaan Laboratorium:
1. Anti-asetilkolin reseptor antibodi.
2. Antistriational antibodies.
3. Anti-muscle-specific kinase (MuSK)
antibodies.
4. Antistriated muscle (anti-SM) antibody.

Imaging:
1. Chest x-ray (foto roentgen thorak). Dapat
dilakukan dalam posisi anteroposterior dan
lateral. Pada roentgen thorak, thymoma dapat
diidentifikasi sebagai suatu massa pada bagian
anterior mediastinum.
2. MRI pada otak dan orbita



3. CT scan dada memperlihatkan suatu massa di
mediastinal anterior (thymoma) pada pasien
dengan miastenia gravis.


Pendekatan Elektrodiagnostik
Pendekatan elektrodiagnostik dapat
memperlihatkan defek pada transmisi
neuromuscular melalui 2 teknik:


1. Repetitive Nerve Stimulation (RNS)
2. Single-fiber Electromyography (SFEMG)
Repetitive nerve stimulation
2.7.3 Diagnosis Banding
Adanya ptosis atau strabismus dapat juga
disebabkan oleh lesi nervus III pada beberapa
penyakit selain miastenia gravis, antara lain :
Meningitis basalis (tuberkulosa atau luetika)
Infiltrasi karsinoma anaplastik dari nasofaring
Aneurisma di sirkulus arteriosus Willisii
Paralisis pasca difteri
Pseudoptosis pada trachoma
Apabila terdapat suatu diplopia yang transient
maka kemungkinan adanya suatu sklerosis
multipleks.

2.8 PENATALAKSANAAN
Terapi Jangka Pendek untuk Intervensi
Keadaan Akut:
Plasma Exchange (PE)
Intravenous Immunoglobulin (IVIG)

Intravenous Methylprednisolone (IVMp)

Pengobatan Farmakologi Jangka Panjang:
1. Kortikosteroid
2. Azathioprine
3. Cyclosporine
4. Cyclophosphamide (CPM)
5. Thymectomy (Surgical Care)

Pemeriksaan diagnostik
Latihan olah raga

Intensitas sedang, dapat ditolensir
Tidak memperbaiki disfungsi post synaptic end
plate
Baseline functional capacity( adapatasi)
Latihan konsisten
Hanya dilakukan pada pasien yang stabil dan
harus dimonitor

Hal yang perlu diperhatikan
The dollar per day
Best time of your day
Peak dose of pyridostigmine
Moderate intensity- 5 hal (Tekanan nadi,
sesak, gejala, kelelahan, pegal)
Jenis olahraga
Berjalan
Stationary ergometer
Weight training
Treadmill
Berenang
Clinical case studies
BAB III
KESIMPULAN
Miastenia gravis adalah suatu kelainan autoimun saraf perifer
berupa terbentuknya antibodi terhadap reseptor
pascasinaptik asetilkolin (Ach) nikotinik pada myoneural
junction. Penurunan jumlah reseptor Ach ini menyebabkan
penurunan kekuatan otot yang progresif dan terjadi
pemulihan setelah beristirahat.
Membran presinaptik (membran saraf), membran post
sinaptik (membran otot), dan celah sinaps merupakan
bagian-bagian pembentuk neuromuscular junction.
Mekanisme imunogenik memegang peranan yang sangat
penting dimana antibodi yang merupakan produk dari sel B
justru melawan reseptor asetilkolin.
Penatalaksanaan miastenia gravis dapat dilakukan dengan
obat-obatan, thymomectomy ataupun dengan imunomodulasi
dan imunosupresif terapi .