Anda di halaman 1dari 32

VANDA S AT I VA J UL I ANT I 030. 09.

26 1
STRIKTUR URETRA
P E M B I M B I N G :
D R . A . R . H E R D A P R A T A M A , S P . U
PENDAHULUAN
Striktur uretra masih merupakan masalah yang sering ditemukan pada bagian
dunia tertentu. Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria dari pada wanita,
karena uretra pada wanita lebih pendek dan jarang terkena infeksi.
Pada abad ke-21 ini diperkirakan di Inggris 16.000 pria dirawat di rumah sakit
karena striktur uretra dan lebih dari 12.000 memerlukan operasi dengan biaya 10
juta euro. Estimasi prevalensi di Inggris sendiri adalah 10/100.000 pada masa
dewasa awal dan meningkat 20/100.000 pada umur 55 sedangkan pada umur 65
tahun menjadi 40/100.000. Angka ini meningkat terus untuk pasien usia tua sampai
100/100.000. Hal yang sama juga dilaporkan di Amerika Serikat.
Salah satu penyebab striktur uretra adalah pemasangan kateter dalam waktu
yang cukup lama. Pola penyakit striktur uretra yang ditemukan di Rumah Sakit
Hasan Sadikin Bandung menyebutkan sebagian besar pasien (82%) masuk dengan
retensi urin. Penyebab utama terjadinya striktur adalah manipulasi uretra (44%) dan
trauma (33%). Salah satu manipulasi uretra adalah pemasangan kateter Folley.
ANATOMI - PRIA
Uretra Posterior
Panjang 3-6 cm (1-2
inchi)
terdiri atas uretra pars
prostatika, yakni
bagian uretra yang
dilingkupi oleh kelenjar
prostat, dan uretra pars
membranasea
Uretra Anterior
bagian uretra yang
dibungkus oleh korpus
spongiosum penis
Uretra anterior memiliki
panjang 18-25 cm (9-10
inchi)
terdiri atas pars bulbosa,
pars pendularis, fossa
navikularis, dan meatus
uretra eksterna

ANATOMI - WANITA
Panjang uretra kurang lebih 3-
5 cm dengan diameter 8 mm
Uretra berada di bawah
simfisis pubis dan bermuara di
sebelah anterior vagina
Ostium uretra externum
berada di dalam vestibulum
vagina
Pada ujung kaudal uretra
melingkari musculus sphincter
urethrae dan beberapa
serabut otot ini melingkari
uretra sekaligus vagina
terdiri dari:
1. Pars pelvikal
2. Pars membranacae
3. Pars vagina


Penyempitan lumen uretra karena fibrosis
pada dindingnya terdiri dari kolagen dan
fibroblas
Bila fibrosis meluas ke sekeliling corpus
spongiosum spongiofibrosis
DEFINISI
ETIOLOGI
Kongenital
Kelainan pada
pertemuan urethra
membranacea dg
bulbus urethra
Striktur ini biasanya sering
terjadi di fossa navikularis
dan pars membranasea
Misalnya kongenital
meatus stenosis, klep
uretra posterior
Didapat / Akuisita
Kelainan disebabkan infeksi dan
trauma dimana lapisan
uroepitelial hilang
Trauma
Fraktur tulang pelvis yang mengenai
uretra pars membranasea
trauma tumpul pada selangkangan
(straddle injuries) yang mengenai
uretra pars bulbosa
trauma langsung pada penis
instrumentasi transuretra yang
kurang hati-hati (iatrogenik) seperti
pemasangan kateter yang kasar,
fiksasi kateter yang salah
Infeksi oleh kuman gonokokus


Penyebab lain
tindakan-tindakan bedah seperti bedah rekonstruksi uretra
terhadap hipospadia, epispadia, dan bedah urologi seperti
operasi prostat, operasi dengan alat endoskopi, ekstraksi
batu yg menyebabkan rusaknya mukosa
pada perempuan, karena trauma saat hub. intim,
melahirkan atau saat repair vagina

Letak Uretra Penyebab
Pars membranasea

Pars bulbosa

Meatus
Trauma panggul, kateterisasi
salah Jalan.

Trauma/ cedera selangkangan,
uretritis.

Balanitis, instrumentasi kasar.
PATOFISIOLOGI

Trauma/ infeksi pada
uretra
Hambat aliran urin
Proses radang Jaringan sikatriks
Striktur uretra
hilangnya elastisitas
dan memperkecil
lumen uretra
DERAJAT PENYEMPITAN URETRA


DIAGNOSIS

Anamnesis
Penderita datang dg keluhan pancaran air kencing yang
kecil, menetes atau berhenti sama sekali.

Riw. adanya trauma, infeksi sal kencing atau kateterisasi/
op prostat perlu di tanyakan.

Gejala klinis yang sering ditimbulkan oleh striktur
antara lain disuria, kesulitan berkemih, pancaran
kemih yang menurun, frekuensi kemih yang
abnormal, rasa tidak nyaman, hematuria, nyeri
pelvis atau bagian bawah perut, pengosongan
kantung kemih yang tidak puas
DIAGNOSIS

Pemeriksaan fisik
Indurasi dari area striktur kadang dapat di raba.
Terabanya massa sepanjang uretra dengan konsistensi lunak
abses periuretra
Buli-buli dapat teraba bila terdapat retensi urin kronik
DIAGNOSIS
Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
Pada urinalisa akan ditemukan adanya lekosit dan
bakteri bila infeksi. Dilanjutkan dengan kultur urin
dan periksa fungsi ginjal

Uroflometri
Kecepatan pancaran urin pria normal : 20 ml/ detik
Bila kecepatan pancaran < 10 ml/ detik striktur

Pemeriksaan radiologi
Foto uretrografi letak penyempitan dan besarnya
penyempitan uretra
Foto bipolar sisto-uretrografi panjang striktura
USG bisa untuk evaluasi striktura

Instrumentasi
Uteroskopi melihat penyumbatan uretra secara langsung
Dilakukan percobaan dengan memasukkan kateter Foley
ukuran 24 ch, apabila ada hambatan dicoba dengan
kateter dengan ukuran yang lebih kecil sampai dapat
masuk ke buli-buli Apabila dengan kateter ukuran kecil
dapat masuk menandakan adanya penyempitan lumen
uretra.




DIAGNOSIS BANDING
Striktur urethra mempunyai kesamaan gejala
obstruksi dengan hiperplasia prostat, tumor ganas
prostat atau kontraktur leher vesica urinaria setelah
op prostat, karsinoma uretra

U/ menegakkan diagnosis dilakukan pemeriksaan :
colok dubur, urethroskopi, atau biopsi pada
keganasan

KOMPLIKASI
Prostatitis kronik
Sistitis
Infeksi saluran kemih kronik
Divertikel
Fistula urethrocutaneus
Abses periurethral
Karsinoma urethral
Batu saluran kemih
TERAPI
Jika pasien datang karena retensi urin
secepatnya dilakukan sistostomi suprapubik
Dilatasi
tidak menyembuhkan namun mematahkan jar. parut striktur dan
melebarkan lumen sementara, saat penyembuhan jar. parut akan
terbentuk kembali.
umumnya digunakan u/ retensi urin kronik dengan gejala berat,
dilakukan secara bertahap mulai dari uk. 22 F sampai ukuran
terkecil
Komplikasi : nyeri, perdarahan, infeksi, false route, timbul striktur
baru hingga memperberat striktur lama


TERAPI
Uretrotomi interna
Memotong jaringan sikatriks uretra dengan pisau Otis atau
dengan pisau Sachse
Otis bila belum terjadi striktur uretra total
Sachse bila striktura yang lebih berat
Striktur 2 cm dan tidak ada fistel
Uretrotomi eksterna
Tindakan operasi terbuka berupa pemotongan jaringan
fibrosis, kemudian dilakukan anastomosis di antara jaringan
uretra yang masih sehat
Urethroplasty
striktur uretra > 2 cm atau dengan fistel uretro-kutan atau
penderita residif striktur pasca Uretrotomi Sachse





TERAPI
Terapi komplikasi
Infeksi saluran kemih antibiotik spesifik
Abses periuretra drainase dan pemberian antibiotik
Fistula uretra bedah rekonstruksi

PROGNOSIS
Striktur uretra kerapkali kambuh pemeriksaan
teratur oleh dokter
Bila diobservasi selama 1 tahun tidak menunjukkan
tanda-tanda kekambuhan sembuh

PENCEGAHAN
Menghindari terjadinya trauma pada uretra dan
pelvis
Tindakan transuretra dengan hati-hati, seperti pada
pemasangan kateter
Menghindari kontak langsung dengan penderita
yang terinfeksi penyakit menular seksual seperti
gonorrhea, dengan jalan setia pada satu pasangan
dan memakai kondom
Pengobatan dini striktur uretra dapat menghindari
komplikasi
STRIKTUR URETRA PADA WANITA
Etiologi : radang kronis
Biasanya diderita wanita usia diatas 40 tahun
dengan sindroma sistitis berulang yaitu disuria,
frekuensi dan urgensi.
Diagnosis : dengan bougie aboule, tanda khas
dari pemeriksaan bougie aboule adalah pada
waktu dilepas terdapat flik/hambatan.
Terapi : dengan dilatasi, bila gagal dengan otis
uretrotomi.