Anda di halaman 1dari 47

Lebar efektif bendung : B

e
= B-2.(n.K
p
+ K
a
).H
1

Bentuk mercu PELIMPAH
BENDUNG TETAP
1. Mercu bulat
koefisien debit yang jauh lebih tinggi (44%) dibandingkan dengan
ambang lebar karena lengkung streamline dan tekanan negatif pada
mercu.
Untuk menghindari kavitasi yg dapat menimbulkan kerusakan
mengurangi tinggi muka air hulu selama banjir
Bendung dengan mercu bulat
Tekanan pada mercu bendung bulat sebagai
fungsi perbandingan H
1
/r
jari-jari mercu bendung pasangan batu = 0,3 -0,7 kali H
1maks

dan mercu bendung beton
dari 0,1 sampai 0,7 kali H.
1maks
Persamaan tinggi energi-debit untuk bendung ambang pendek dengan pengontrol segi
empat

5 , 1
1
. . .
3
2
.
3
2
H b g C Q
d
=
Harga-harga koefisien C
0

untuk bendung ambang bulat sebagai fungsi
perbandingan H
1
/r
Q = debit, m
3
/dt
C
d
= koefisien debit (C
d

= C
0
C
1
C
2
)
g = percepatan gravitasi, m/dt
2
( 9,8)
b = panjang mercu, m
H
1

= tinggi energi di atas mercu, m.
C
0
= fungsi H
1
/r
C
1

= fungsi p/H
1
C
2

= fungsi p/H
1
dan kemiringan
muka hulu bendung
C
0

maks = 1,49 jika H
1
/r > 5,0
C
0
valid : apabila mercu bendung cukup tinggi di atas
rata-rata alur pengarah (p/H
1
sekitar 1,5)
Koefisien C
1

sebagai fungsi perbandingan
P/H
1
Harga koefisien koreksi C
2
MEERCU BULAT = harga faktor koreksi untuk bentuk-bentuk
mercu tipe Ogee
Koefisien C
2
bendung mercu tipe Ogee dengan muka hulu
melengkung (menurut USBR, 1960)
Faktor pengurangan aliran tenggelam
sebagai fungsi H
2
/H
1
Faktor pengurangan aliran tenggelam mengurangi debit dalam keadaan tenggelam
2. Mercu Ogee

berbentuk tirai luapan bawah dari bendung
ambang tajam aerasi tidak akan
memberikan tekanan subatmosfer pada
permukaan mercu sewaktu bendung
mengalirkan debit rencana
Untuk debit yang lebih rendah, air akan
memberikan tekanan ke bawah pada
mercu.
Y/h
d
= (I/k) . (X/h
d
)
n
atau Xn=KH
d
n-1
Y
X dan Y : koordinat-koordinat permukaan
hilir;
h
d
: tinggi energy rencana diatas mercu;
K dan n : parameter yang tergantung pada
kecepatan aliran dan kemiringan hilir
Kemiringan
permukaan hilir
k N
Vertikal
1 - 0.33
1 - 0.67
1 - 1
2.000
1.936
1.939
1.873
1.850
1.836
1.810
1.776
Harga k dan n
Bentuk-bentuk bendung mercu Ogee
(U.S.Army Corps of Engineers, Waterways Experimental Stasion)
Q = debit, m
3
/dt
C
d

= koefisien debit
(C
d

= C
0
C
1
C
2
)
G = percepatan
gravitasi, m/dt
2
( 9,8)
b = lebar mercu, m
H
1

= tinggi enegi di atas
ambang, m.
5 , 1
1
H B C Q
e d
=
Bila ketinggian bendung h/Hd > 1,33 (efek
kecepatan masuk diabaikan) He/Hd = 1
C=Cd=2,2 (dalam MKS).Pakai Grafik
h/Hd<1,33 kecepatan masuk tidak dapat
diabaikan. (pd bendung dengan ketinggian
rendah)


Faktor koreksi untuk selain tinggi energi rencana
pada bendung mercu Ogee
(menurut Ven Te Chow, 1959, berdasarkan data USBR dan WES)
Koefisien debit efektif C
e

= C
0
C
1
C
2
.
C
0
= konstanta (= 1,30), C
1

= fungsi p/h
d

dan H
1
/h
d

C
2
= faktor koreksi untuk permukaan hulu
Harga-harga C
1
berlaku
untuk bendung mercu
Ogee dengan permukaan
hulu vertikal.
Apabila permukaan
bendung bagian hulu
miring, koefisien koreksi
tanpa dimensi C
2

harus
dipakai (fungsi :
kemiringan permukaan
bendung maupun
perbandingan p/H
1

)
Harga koefisien koreksi C
2
MEERCU BULAT = harga faktor koreksi untuk bentuk-bentuk
mercu tipe Ogee
Koefisien C
2
bendung mercu tipe Ogee dengan muka hulu
melengkung (menurut USBR, 1960)
Faktor pengurangan aliran tenggelam :
fungsi p
2
/H
1

dan H
2
/H
1
(Disadur dari US Army Corps of Engineers Waterways Experimental Station)


Kecepatan datang (approach velocity)
Jika rumus-rumus debit di atas dipakai
kedalaman air h
1
, bukan tinggi energi H
1
, maka
dapat dimasukkan sebuah koefisien kecepatan
datang C
v
ke persamaan debit tersebut
Harga-harga C
v

sebagai fungsi perbandingan luas

1
0,5
C
d
A
*
/A
1
untuk bagian pengontrol segi empat

(dari Bos, 1977)

1

= koefisiensi pembagian/distribusi kecepatan dalam alur pengarah (approach
channel). Keperluan praktis = 1,04
A
1

= luas dalam alur pengarah
A
*
= luas semu potongan melintang aliran di atas mercu bendung jika
kedalaman aliran akan sama dengan h
1
Potongan hulu dan tampak depan pengontrol
luas semu potongan melintang aliran di atas mercu bendung
STABILITAS BENDUNG
Gaya-gaya yang bekerja pada bangunan
BENDUNG
tekanan air statis, dalam dan luar (P)
tekanan air dinamik (Pd)
tekanan lumpur (sediment pressure) Pe
Gaya inertia karena gempa (I)
berat bangunan (W)
reaksi pondasi / uplift / gaya angkat (U)

TINGGI DAM KEADAAN BIASA
(TERMASUK GEMPA)
PADA WAKTU BANJIR
(KEADAAN AIR TINGGI)
H < 15 m - W, P
H 15 m W, P, Pe, U, I, Pd W, P, Pe, U
1. Gaya Hidrostatis ke atas
mendapat tekanan air pada dasarnya dan dalam tubuh bangunan itu
menyebabkan berkurangnya berat efektif bangunan di atasnya.
Tekanan hidrostatik : fungsi kedalaman di bawah permukaan air.
Tekanan air dinamik jarang diperhitungkan untuk stabilitas bangunan
bendung dengan tinggi energi rendah

W
u
= c.
w
[h
2
+ , (h
1
-h
2
)]A

c = proposan luas di mana tekanan hidrostatis bekerja ( c = 1
untuk semua tipe pondasi)

w
= berat jenis air (kg/m
3
) = 1000 kg/m
3
= 1 T/m
3
h
2
= kedalaman air hilir (m)
h
1
= kedalaman air hulu (m)
, = proporsi tekanan, diberikan pada tabel
A = luas dasar (m
2
)
W
u
= gaya tekanan ke atas resultante (Ton)
Harga-harga ,
Tipe Pondasi Batuan Proporsi Tekanan
Berlapis horisontal 1,00
Sedang, pejal (massive) 0,67
Baik, pejal 0,50
Gaya tekan ke atas untuk bangunan pada permukaan tanah dasar
(subgrade) lebih rumit dihitung dengan membuat jaringan aliran
(flownet).
Dapat dengan program atau secara manual (dengan asumsi-asumsi
oleh Lane (teori angka rembesan/weighted creep theory)
Jaringan aliran :
1. plot dengan tangan
2. analog listrik atau
3. menggunakan metode numeris (numerical method) pada komputer
(plaxis)

CONTOH
DENGAN
ANALOG LISTRIK
teori angka rembesan Lane, diandaikan bahwa bidang
horisontal memiliki daya tahan terhadap aliran (rembesan) 3
kali lebih lemah dibandingkan dengan bidang vertikal.
Ini dapat dipakai untuk menghitung gaya tekan ke atas di
bawah bendung dengan cara membagi beda tinggi energi
pada bendung sesuai dengan panjang relatif di sepanjang
pondasi.

gaya angkat pada titik x
di sepanjang dasar
bendung :
P
x

= H
x
[Lx/L] H
P
x
= gaya angkat pada x,
kg/m
2

L = panjang total bidang
kontak bendung dan tanah
bawah, m
L
x

= jarak sepanjang bidang
kontak dari hulu sampai x,
m
H = beda tinggi energi, m
H
x
= tinggi energi di hulu
bendung, m
2. Tekanan lumpur
Tekanan lumpur yang bekerja terhadap muka hulu bendung atau terhadap
pintu :

P
s
= gaya yang terletak pada 2/3 kedalaman dari atas lumpur yang bekerja
secara horisontal

s
= berat lumpur, kN
h = dalamnya lumpur, m
| = sudut gesekan dalam derajat.

Beberapa andaian/asumsi :

s
= berat volume kering tanah 16 kN/m
3
( 1.600 kgf/m
3
)
= berat volume butir = 2,65
menghasilkan
s
= 10 kN/m
3
( 1.000 kgf/m
3
)
Sudut gesekan dalam, yang bisa diandaikan 30
o
untuk kebanyakan hal
Ps = 1,67.h
2

|
|
.
|

\
|
+

=
|
|
sin 1
sin 1
2
.
2
h
P
s
s


1
'

=
s s
3. Gaya Gempa
a
d
= n (a
c
xz)
m
E = a
d
/ g
Dimana:
a
d
= percepatan gempa rencana (cm/dt
2
)
n,m = koefisien untuk masing-masing jenis tanah
a
c
= percepatan kejut dasar (cm/dt
2
)
z = faktor yang tergantung dari letak geografis (dapat dilihat pada
Peta Zona Seismik untuk Perencanaan Bangunan Air Tahan Gempa)
E = koefisien gempa
g = percepatan gravitasi = 9,81 m/dt
2
.

Besar Gaya Gempa dan Momen akibat gaya gempa :
He = E x G
Dimana:
He = gaya gempa
G = berat bangunan (Ton)
Momen : M = He x Jarak (m)

Gaya gempa


4. Berat bangunan
Berat bangunan bergantung kepada bahan yang dipakai untuk
membuat bangunan itu.
Berat volume beton tumbuk bergantung berat volume agregat &
ukuran maksimum kerikil yang digunakan. Untuk agregat max 150
mm & berat jenis 2,65, berat jenis betonnya > 24 kN/m
3
.

Berbagai berat jenis :
a) pasangan batu 22 kN/m
3
( 2.200 kgf/m
3
)
b) beton tumbuk 23 kN/m
3
( 2.300 kgf/m
3
)
c) beton bertulang 24 kN/m
3
( 2.400 kgf/m
3
)

Rumus G = V *
Dimana :
V = Volume (m
3
)
= berat jenis bahan, beton = 2,4 T/m
3


TEKANAN AIR & BEBAN MATI SELAMA TERJADI DEBIT RENDAH
T

TEKANAN AIR & BEBAN MATI SELAMA TERJADI DEBIT RENCANA (Q
100
)
5. Gaya Reaksi Pondasi
Tekanan Vertikal Fondasi (P) :


(W) = keseluruhan gaya
vertikal, termasuk tekanan ke
atas, (tidak termasuk reaksi
pondasi.)
A = luas dasar, m
2

e = eksentrisitas pembebanan,
atau jarak dari pusat gravitasi
dasar (base) sampai titik potong
resultante dengan dasar
I = momen kelembaban
(moment of inertia) dasar di
sekitar pusat gravitasi
m = jarak dari titik pusat luas
dasar sampai ke titik di mana
tekanan dikehendaki

Untuk dasar segi empat dengan panjang dan lebar 1,0 m, I =
3
/12
dan A = 1, rumus tadi menjadi


tekanan vertikal pondasi pada ujung bangunan


m = m =



Bila harga e lebih besar dari 1/6, maka akan dihasilkan tekanan
negatif pada ujung bangunan

Biasanya tarikan tidak diizinkan, yang memerlukan irisan yang
mempunyai dasar segi empat sehingga resultante untuk semua
kondisi pembebanan jatuh pada daerah inti
( )
)
`

+
E
= m
B
e
A
W
P
2
12
1
( )
)
`

+
E
=
B
e
B
W
P
6
1 '
Kebutuhan Stabilitas bangunan gravitasi
1. Gelincir (sliding)
a. sepanjang sendi horisontal atau hampir horisontal di atas
pondasi
b. sepanjang pondasi
c. sepanjang kampuh horisontal atau hampir horisontal
dalam pondasi.
2. Guling (overturning)
a. di dalam bendung
b. pada dasar (base), atau
c. pada bidang di bawah dasar.
3. Erosi bawah tanah (piping)


1. Stabilitas terhadap gelincir



Tangen (sudut antara garis vertikal dan resultante semua
gaya, termasuk gaya angkat, yang bekerja pada bendung di
atas semua bidang horisontal), harus lebih kecil dari koefisien
gesekan yang diizinkan pada bidang tersebut
(H) = keseluruhan gaya horizontal yang bekerja pada
bangunan diizinkan pada bidang tersebut. (kN)
(V-U) = keseluruhan gaya vertikal (V), dikurangi gaya tekan
ke atas yang bekerja pada bangunan (kN)
= sudut resultante semua gaya, terhadap garis vertikal (
o
)
f = koefisien gesekan
S = faktor keamanan
Untuk bangunan-bangunan kecil : faktor keamanan (S) untuk
kondisi pembebanan normal = 2,0 dan untuk kondisi
pembebanan ekstrem [1. Tak ada aliran di atas mercu selama
gempa, 2. Banjir rencana maksimum] = 1,25
Koefisien Gesekan

2. Stabilitas Terhadap Guling

resultante semua gaya yang bekerja pada bagian bangunan di
atas bidang horisontal, termasuk gaya angkat, harus
memotong bidang ini pada teras .
Harga-harga tegangan ijin
a. untuk beton = 4,0 N/mm
2
(40 kgf/cm
2
)
b. pasangan batu = 1,5 - 3,0 N/mm
2
(15 - 30 kgf/cm
2
)
Tiap bagian bangunan diandaikan berdiri sendiri dan tidak
mungkin ada distribusi gaya-gaya melalui momen lentur
(bending moment). Oleh sebab itu, tebal lantai kolam olak
dihitung :
d
x

= tebal lantai pada titik x, m
P
x

= gaya angkat pada titik x, kg/m
2

W
x

= kedalaman air pada titik x, m
= berat jenis bahan, kg/m
3

S = faktor keamanan (= 1,5 untuk kondisi normal, 1,25 untuk
kondisi ekstrem)

3. Stabilitas terhadap erosi bawah tanah (piping)

metode empiris :
1.Metode Bligh
2.Metode Lane
3.Metode Koshia
4. metode angka rembesan Lane (weighted creep ratio method) :
membandingkan panjang jalur rembesan di bawah bangunan di
sepanjang bidang kontak bangunan/pondasi dengan beda tinggi
muka air antara kedua sisi bangunan
dianjurkan untuk mencek bangunan-bangunan utama untuk
mengetahui adanya erosi bawah tanah.
Di sepanjang jalur perkolasi ini, kemiringan yang lebih curam dari
45
o
dianggap vertikal dan yang kurang dari 45
o
dianggap
horisontal. Jalur vertikal dianggap memiliki daya tahan terhadap
aliran 3 kali lebih kuat daripada jalur horisontal.
C
L
= Angka rembesan Lane
L
v

= jumlah panjang vertikal, m
L
H

= jumlah panjang horisontal, m
H = beda tinggi muka air, m
Harga-harga minimum angka Rembesan Lane (C
L
)
Pasir sangat halus atau lanau 8,5
Pasir halus 7,0
Pasir sedang 6,0
Pasir kasar 5,0
Kerikil halus 4,0
Kerikil sedang 3,5
Kerikil kasar termasuk berangkal 3,0
Bongkah dengan sedikit berangkal dan
kerikil 2,5
Lempung lunak 3,0
Lempung sedang 2,0
Lempung keras 1,8
Lempung sangat keras 1,6
Angka-angka rembesan pada Tabel di atas sebaiknya dipakai:
a. 100% jika tidak dipakai pembuang, tidak dibuat jaringan aliran dan tidak
dilakukan penyelidikan dengan model;
b. 80% kalau ada pembuangan air, tapi tidak ada penyelidikan maupun
jaringan aliran;
c. 70% bila semua bagian tercakup
Pengecekan Keamanan terhadap rekah bagian
hilir bangunan:
mengandaikan bahwa volume tanah di
bawah air dapat diambil 1 (
w

=
s

= 1).
Berat jenis bahan lindung di bawah air
adalah 1.
Maka harga keamanan S sekurang-
kurangnya 2.

S = faktor keamanan
s = kedalaman tanah, m
a = tebal lapisan pelindung, m
h
s
= tekanan air pada kedalaman s, kg/m


Perlindungan terhadap erosi bawah
tanah

lantai hulu
dinding halang
filter pembuang
konstruksi pelengkap

Lantai hulu akan memperpanjang jalur rembesan. Karena gaya tekan ke atas
di bawah lantai diimbangi oleh tekanan air di atasnya, maka lantai dapat
dibuat tipis. Lantai kedap air, demikian pula sambungannya dengan tubuh
bendung (dengan foil plastik atau lempung kedap air di bawah lantai dan
sekat karet yang menghubungkan lantai dan tubuh bendung).
dibuat dari beton bertulang dengan tebal 0,10 m, atau pasangan batu setebal
0,20 0,25 cm. sekat air dari karet yang tidak akan rusak akibat adanya
penurunan tidak merata
Lantai hulu
bisa berupa dinding beton bertulang atau pasangan batu, inti
tanah kedap air atau pudel atau dengan pelat pancang baja
atau kayu.
Agar gaya tekan ke atas pada bangunan dapat sebanyak
mungkin dikurangi, maka tempat terbaik untuk dinding halang
adalah di ujung hulu bangunan, yaitu di pangkal (awal) lantai
hulu atau di bawah bagian depan tubuh bendung.
Dinding halang (Cut-off)
Alur pembuang dibuat untuk mengurangi gaya angkat di
bawah kolam olak bendung pelimpah karena di tempat-
tempat ini tidak cukup tersedia berat pengimbang dari tubuh
bendung
Untuk mencegah hilangnya bahan padat melalui pembuang
ini, konstruksi sebaiknya dibuat dengan filter yang dipasang
terbalik dari kerikil atau pasir bergradasi baik atau bahan filter
sintetis.
Alur pembuang/filter di bawah peredam energi
Jika bagian-bagian bendung mempunyai kedalaman pondasi
yang berbeda-beda, maka ada bahaya penurunan tidak
merata yang mengakibatkan retak-retak dan terjadinya jalur-
jalur pintasan erosi bawah tanah.
membuat sambungan yang bagus antara bangunan dan tanah
bawah
Konstruksi pelengkap
Hal-hal yang dipertimbangkan untuk perencanaan
Elevasi muka air bendung (KASUS IRIGASI) :
elevasi sawah yang akan diairi
kedalaman air di sawah
kehilangan tinggi energi di saluran dan boks tersier
kehilangan tinggi energi di bangunan sadap tersier
variasi muka air untuk eksploitasi di jaringan primer
panjang dan kemiringan saluran primer
kehilangan tinggi energi pada bangunan-bangunan di jaringan primer
sipon, pengatur, flum, dan sebagainya
kehilangan tinggi energi di bangunan utama
TUGAS
Dibuat berkelompok (2 orang: dgn Nim belakang masing2 = A & B)
q = 10,AB m3/det/m (Untuk total penjumlahan NIM belakangnya < 10)
q = 20,AB m3/det/m (Untuk total penjumlahan NIM belakangnya >10)
Lebar bendungnya 12,A m
Tinggi mercu bendung ke lantai dasar kolam olak = 7 meter.
Selisih antara lantai hulu dan puncak bendungnya 5 meter.
Daya dukung tanah N = 35 (Untuk total penjumlahan NIM belakangnya < 10) dan N = 25 (Untuk total
penjumlahan NIM belakangnya > 10)
Sudut geser tanah 25 (Untuk total penjumlahan NIM belakangnya < 10) dan 30 (Untuk total penjumlahan
NIM belakangnya > 10).
Kondisi tanah dasar : LEMPUNG (Untuk total penjumlahan NIM belakangnya < 10) dan KERIKIL (Untuk
total penjumlahan NIM belakangnya > 10)
BUAT SKETSA DARI BENDUNG TERSEBUT
CEK STABILITAS DARI BENDUNG TERSEBUT ( GESER, GULING, DAYA DUKUNG, REMBESAN) JIKA TIDAK STABIL
REDESIGN
TUGAS BERSIFAT MENAMBAH NILAI (JADI TIDAK WAJIB) : DI EMAIL KE priyonugroho@gmail.com
10 pengirim email pertama : nilai MAKSIMAL (NILAI SAYA ). (ASAL BENAR)
PENGIRIM BERIKUT MENYESUAIKAN NILAINYA.
TOLONG TITLE SUBJECT DR EMAIL DIBERI ASAL KELASNYA

JUDUL EMAIL :

TUGAS BA_(KELAS)_(NAMA)_(NIM)