Anda di halaman 1dari 57

Primary Care of Psychiatric

Interview
Dr Pembimbing :
Dr.Desmiarti , SpKJ
Presentan :
Muhammad Helmi bin Haron
Izza Ayudia Hakim



JENIS-JENIS PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan tidak langsung (indirect
examination)
Autoanamesis
Aloanamnesis
2. Pemeriksaan langsung (direct examination)
Pemeriksaan Fisik (status internus dan
neurologis)
Pemeriksaan Khusus Psikik
- penampilan umum
- bidang emosi, afek
- bidang pikiran
- bidang motorik
3. Pemeriksaan tambahan atau penunjang
Riwayat Psikiatrik


Adalah catatan tentang riwayat penyakit,
gangguan jiwa, dan riwayat hidup pasien yang
diperlukan untuk memahami siapa pasien, dari
mana pasien berasal dan perkiraan akan kearah
mana pasien selanjutnya pada masa mendatang.
Anamnesis Psikiatri

I. Data Pribadi
II. Keluhan Utama
III. Riwayat Gangguan Sekarang
a. Awitan
b. Faktor Presipitasi
IV. Penyakit atau Gangguan Sebelumnya
a. Psikiatrik
b. Medik
c. Penggunaan Zat
Anamnesis Psikiatri
V. Riwayat Hidup
a. Prenatal dan Perinatal
b. Masa kanak awal (sampai 3 tahun)
c. Masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
d. Masa Remaja
e. Masa Dewasa
i. Riwayat pekerjaan, perkawinan/berpasangan/pacaran
ii. Riwayat pendidikan
iii. Riwayat militer
iv. Riwayat agama/kehidupan beragama
v. Aktivitas sosial dan situasi kehidupan sekarang
vi. Riwayat pelanggaran hukum
f. Riwayat Psikoseksual
g. Riwayat Keluarga
h. Impian, Fantasi dan Nilai-nilai

Prinsip Wawancara Psikiatrik:

Bina Rapport
o Salam
o Identitas
o Suasana tenang dan nyaman

Tanyakan keluhan utama
Onsetnya
Gejala-gejala lain DD/ D/
o Psikotik, Mood (depresi, manik, bipolar, cemas)

Cara mengatasi gejala-gejala
Faktor organik (penyakit fisik akut / kronis, obat,
penyalahgunaan) singkirkan faktor organik


PENDEKATAN WAWANCARA
Secara eklektik (rinci dan selektif)
Holistik (memandang manusia sbg satu
kesatuan yg utuh yg tak dpt dipisahkan
yaitu dr segi organo-biologis, psiko-
edukatif dan sosio-kultural)
Tidak hanya mencari riwayat penyakit,
tapi juga memperhatikan perasaan pasien
dan membina hubungan baik dg pasien
TUJUAN WAWANCARA

Mengumpulkan data tentang riwayat
masalah pd pasien
Memeriksa keadaan mental pasien
Menegakkan diagnosis
Merencanakan terapi
WAWANCARA PSIKIATRIK
Membutuhkan keterampilan khusus krn PS
seringkali malu mengemukakan masalah
emosionalnya
PS tidak terbuka mengatakan gejala yg dia
rasakan
Perlu menjaga kerahasiaan PS
Jangan lakukan wawancara di depan umum
Bl perlu membicarakan kasus, lakukan dg
anonim


Nancy Andreasen & Donald Black mengajukan 11
teknik umum yang dapat dipergunakan pada
kebanyakan situasi wawancara psikiatrik, yaitu :
1. Bangunlah rapport (hubungan dokter
pemeriksa pasien yang baik) sedini
mungkin.
2. Tentukanlah keluhan utama pasien.
3. Manfaatkanlah keluhan utama untuk
menegakkan diagnosis banding
sementara.
4. Ajukan pertanyaan yang terarah untuk
menyingkirkan atau memasukkan
berbagai kemungkinan diagnosis.

5. Telusuri dengan tekun setiap jawaban
pasien yang masih samar-samar atau
tak jelas sampai diperoleh jawaban yang
akurat.
6. Ciptakanlah suasana yang membuat
pasien dapat berbicara dengan cukup
bebas untuk mengobservasi bagaimana
koherensi (adanya hubungan yang baik)
dari ide satu terhadap ide yang
laindalam pikiran pasien.

7. Gunakanlah teknik wawancara
terbuka dan/atau tertutup dengan
mempertimbangkan kondisi & respon
pasien.



8. Beranikan diri untuk mendiskusikan
topik-topik yang sulit atau memalukan,
baik menurut anda ataupun pasien.
9. Tanyakanlah tentang kemungkinan
adanya pikiran bunuh diri.
10. Pada akhir wawancara, berikan
kesempatan kepada pasien untuk
mengajukan pertanyaan atau komentar
tentang isi & proses wawancara.
11. Sebelum berpisah dengan pasien,
sampaikanlah kesimpulan sementara dari
wawancara awal yang telah berlangsung
dengan menyatakan rasa keperayaan &
harapan.

BINA HUBUNGAN DOKTER/PERAWAT -
PASIEN
Beri salam sambil tersenyum
Perkenalkan diri
Duduk berhadapan, ada kontak mata
Lingkungan nyaman, tidak bising dan tidak banyak
intervensi (bunyi tel, orang lalu lalang dll)
Sesuaikan tingkat komunikasi dg keadaan PS
Hargai PS & perhatikan perasaannya
Bila ingin bertanya kepada keluarga PS, minta izin
terlebih dulu kepada PS

PASIEN YG MEMERLUKAN
PERHATIAN
Tak ditemukan kelainan fisik
Ps yg datang berulangkali
Ps dg keluhan berganti-ganti
Ps dg keluhan beraneka
Ps yg emosional
Ps yg jelas menunjukkan ggn jiwa atau
perilaku

WAWANCARA

Bantu PS agar merasa cukup nyaman
memberikan informasi
Perhatikan komunikasi PS, baik verbal
maupun nonverbal
Pada awal wawancara biarkan PS
mengemukakan keluhannya, yang
membawa dia mencari pertolongan
KOMUNIKASI NONVERBAL
1. Ekspresi wajah: tatapan mata, kerut dahi,
alis, hidung dan kesesuaian antara sorot
mata dan ekspresi wajah
2. Suara: nada, intonasi, jeda kata, cara
bicara
3. Sikap tubuh: cara bersikap, gerakan
tubuh, tangan, kaki
4. Reaksi fisiologis: wajah merah/pucat,
berkeringat, napas tersengal, pupil mata
melebar
5. Penampilan: cara berpakaian, sikap dlm
duduk dan berdiri

PROSES WAWANCARA
1. Perkenalan dan memberi salam
Sebaiknya terapislah yg terlebih dulu
memberi salam dan memperkenalkan diri.
Pakailah bahasa yg mudah dimengerti oleh
PS, temponya sesuaikan dg keadaan PS,
jangan terburu-buru.
2.Bina hubungan slg mempercayai
Terapis tidak secara spontan dipercaya oleh
PS, tapi perlu dibina melalui sikap & perilaku
terapis yg berempati dan mengerti perasaan
mereka.

PROSES WAWANCARA
3.Menjadi pendengar yang efektif
Seringkali orang mulai merasa lebih baik,
apabila mereka diberi kesempatan utk bica-
ra dan yakin bahwa mereka didengarkan.

Masalah depresi, kecemasan, ketakutan
yang tak dapat diatasi, sakit dan nyeri yang
tak ditemukan ggn fisiknya, dan berbagai
gejala lainnya, dapat disebabkan oleh pera-
saan yg ditekan dan tidak diekspresikan.
CARA MENJADI PENDENGAR
YANG EFEKTIF
Duduk berhadapan ke arah PS
Membuat kontak mata
Rileks dan sikap terbuka, hangat & empatik
Memberi perhatian sepenuhnya
Suara lembut
Tidak memotong pembicaraan
Tidak menghakimi
Tidak memberi penilaian
Menganggukkan kepala dan mengatakan
Ya, saya mengerti
MENDENGARKAN: TINGKATAN

Memperhatikan perkataan PS
Memperhatikan nada suara
Mengamati gerak tubuh saat bicara
Memperhatikan keheningan dan apa yg
tidak dikatakan oleh PS
Memperhatikan makna dr kata-kata PS
Memperhatikan perasaan PS

KESALAHAN YG SRG DILAKUKAN
Mendengar sambil menulis atau kerja lain
Pandangan menerawang
Cenderung memperhatikan penampilan
Tidak sabar, menyela/interupsi
Berargumentasi
Banyak bicara atau menasihati
Berbasa-basi
Terlalu cepat menyimpulkan
TEKNIK WAWANCARA
Gunakan pertanyaan terbuka dan
pertanyaan spesifik
a. Pertanyaan terbuka memberi
kesempatan kepada PS untuk bebas
menjawabnya dg bahasanya sendiri
misalnya: Bagaimana keadaan di rumah
bapak/ibu?
b. Pertanyaan spesifik yaitu pertanyaan
tertutup dg jawaban ya atau tidak.
Misalnya: Apakah bapak/ibu berpikir
untuk bunuh diri? atau Pernahkah
bapak/ibu berobat untuk keluhan ini?
TEKNIK WAWANCARA
Tunjukkan pd PS bhw anda mendengarkan mereka
a. Perhatian secara nonverbal biarkan PS
menceritakan hal yg mereka anggap penting.
Lakukan kontak mata, anggukkan kepala untuk
menunjukkan bahwa anda tertarik
b. Fasilitasi komentar spt Bisa anda cerita lebih
lanjut ttg itu akan menolong PS memusatkan
pada ceritanya
c. Menyimpulkan misalnya: Jadi anda mengalami
sedih sejak 3 minggu ini, sulit tidur dan berat
badan menurun. Hal ini membuat PS merasa
anda mendengarkan dan dia dpt mengoreksi
kesalahan
d. Klarifikasi untuk menyimpulkan dan menghu-
bungkan satu sama lain. Misalnya jadi anda
merasa sedih dan susah tidur stlh anak DO dari
sekolah?


TEKNIK WAWANCARA
Riwayat penyakit sekarang
1. Onset, deviasi dan perubahan gejala dari
waktu ke waktu
2. Stres pemicu khususnya ttg kehilangan,
kematian, PHK atau kehilangan uang/harta
3. Persepsi PS ttg dirinya atau persepsi orang
lain ttg PS (pasangan, O.T.)
4. Gangguan dan pengobatan sebelumnya
5. Kemampuan adaptasi sosial (pekerjaan,
sekolah dll), Keuntungan sekunder yg
diperoleh PS (dari pekerjaan, sekolah,
rumah)

TEKNIK WAWANCARA
Riwayat pribadi
a. Perkembangan
b. Informasi ttg perkembangan usia dini
(riwayat kehamilan, kelahiran). Informasi
didpt dr keluarga
c. Temperamen waktu kecil, kejadian penting
dlm keluarga (kematian, perpisahan,
perceraian) yg dpt mempengaruhi
berkembangnya temperamen ini
d. Riwayat sekolah, teman, stabilitas
keluarga, penelantaran atau penganiayaan,
hubungan PS dg O.T., saudara kandung dan
teman merupakan barometer penting
Masa Kanak
Awal (0-3
tahun)
Kualitas interaksi ibu-anak selama pemberian makan dan Toilet training
Ggn dini pola tidur & tanda kebutuhan tidak terpenuhi
Hubungan sosial dengan ahli keluarga dan maasyarakat
Sikap anak waktu kecil seperti pemalu,gelisah,overaktif,menarik diri,suka
belajar,terbuka,atletik dan bersahabat ?
Adakah anak suka bermain sendiri atau tidak main sama sekali?
Masa Kanak
Menegah (3-11
tahun)
Hukuman yang diberikan di rumah?
Orang yang menerapkan disiplin di rumah
Pengalaman pertama persekolahan?
Adaptasi sosial PS sewaktu bersekolah seperti
kepimpinan,partisipasi,kerjasama dengan kelompok atau gang
Pola perilaku asertif,impulsif,agresif,pasif,ansietas atau asosial
Riwayat perkembangan intelektual,motorik serta ggn belajar dan
bagaimana pasien mengatasinya?
Masa Pubertas
Hingga Remaja
Perkembangan dari kehidupan persekolahan PS?
Masalah emosional atau fisik PS yang pertama kali?
Apakah PS bersikap interaktif atau merasa terasing di sekolah?
Bagaimana PS menilai fisiknya?
Ada percobaan bunuh diri?
Hubungan dengan keluarga?
Masalah ekonomi?
Riwayat
Pekerjaan
Pernikahan
dan
hubungan
Riwayat
Militer
Riwayat
Pendidikan
Agama
Aktivitas
Sosial
Situasi
kehidupan
terkini
Riwayat
Hukum
Riwayat
seksual
Fantasi dan
Mimpi
Masa Dewasa
TEKNIK WAWANCARA
Riwayat sosial
a. Apakah PS pendiam dan tidak berkawan
atau mudah dan banyak kawan
b. Apakah ada perubahan kepribadian yg
dirasakan oleh PS atau diamati oleh
keluarga atau teman
c. Status perkawinan dan taraf fungsi seksual
sekarang
d. Riwayat pekerjaan (sudah berapa kali
pindah dan alasan pindah), masalah
alkohol atau perilaku anti sosial
e. Riwayat berhubungan dg aparat (masalah
disiplin atau tindak kekerasan)

TEKNIK WAWANCARA
Riwayat keluarga
a. Riwayat masalah penyakit pada anggota
keluarga (ggn jiwa, problem
NAPZA,alkohol, usaha bunuh diri dll)
b. Riwayat penyakit genetik, sikap keluarga
thd ggn jiwa dan pengobatannya
c. Riwayat jenis obat yg berhasil baik untuk
terapi ggn yg sama. Kemungkinan obat yg
sama juga akan bereaksi baik thd PS
sekarang



TEKNIK WAWANCARA
Riwayat Psikiatrik
Perlu dicatat dlm riwayat penyakit
sekarang.
Masalah kesehatan jiwa sebelumnya
Riwayat pengobatan: nama dokter dan
tempatnya, jenis obat, dosis dan hasil
terapi

TEKNIK WAWANCARA
Riwayat penggunaan atau
penyalahgunaan zat
Secara hati-hati tanyakan juga
penggunaan:
- Narkotika
- Psikotropika
- Alkohol
- Nikotin
dan dampaknya thd PS termasuk aspek
legal
PEMERIKSAAN STATUS
MENTALIS
PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
Bagian dari pemeriksaan
status klinis yang
menggambarkan jumlah total
observasi pemeriksa dan
kesan tentang pasien
psikiatrik saat wawancara.
GARIS BESAR PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
I. Gambaran umum
a.Penampilan
b.Perilaku dan aktivitas psikomotor
c.Sikap terhadap pemeriksa
II. Mood dan Afek
a.Mood
b.Afek
c.Kesesuaian
III. Bicara
IV. Gangguan persepsi
...lanjutan
V. Pikiran
a. Proses atau bentuk pikiran
b. Isi pikiran
VII. Sensorium dan Kognotif
a. Kesiagaan dan tingkat kecerdasan
b. Orientasi
c. Daya ingat
d. Konsentrasi dan perhatian
e. Kapasitas untuk membaca dan
menulis
f. Kemampuan visuospasial
g. Pikiran abstrak
h. Sumber informasi dan kecerdasan

...lanjutan
VII. Pengendalian impuls
VIII. Pertimbangan dan tilikan
IX. Reliabilitas

I. GAMBARAN UMUM
a. PENAMPILAN kesan fisik pasien
secara keseluruhan.
Contoh : jenis tubuh, postur,
ketegangan, pakaian, dandanan, rambut,
kuku.
Istilah yg digunakan untuk
menggambarkan penampilan tampak
sehat, sakit, seimbang, kelihatan tua,
kelihatan muda, kusut, seperti anak-
anak, dan kacau.
Tanda kecemsan : tangan yang lembab,
keringat pada dahi, postur tegang,
mata lebar.
b. Perilaku dan aktivitas psikomotor
Contoh : menerisma, tiks, gerakan
isyarat, kedutan, perilaku stereotipik,
echopraxia, hiperaktivitas, agitasi,
melawan, fleksibilitas, rigiditas, cara
berjalan, dan ketangkasan, kegelisahan,
meremas-remas tangan dan melangkah.
c. Sikap terhadap pemeriksa
Contoh : bekerjasama, bersahabat,
penuh perhatian, tertarik, datar,
menggoda, bertahan, merendahkan,
kebingungan, apatis, bermusuhan,
bermain-main, menyenangkan,
mengelak atau berlindung.
II. Mood dan Afek
a. Mood emosi yang meresap dan
terus-menerus yang mewarnai persepsi
seseorang akan dunia.
Contoh : depresi, kecewa, mudah
marah, cemas, marah meluap-luap,
euforik, kosong, bersalah, terpesona,
sia-sia, merendahkan diri-sendiri,
ketakutan dan membingungkan.
b. Ekspresi Afektif respon emosional
pasien yang tampak yang disimpulkan
pemeriksa dari wajah pasien termasuk
jumlah dan macam perilaku ekspresif.
Afek digambarkan : dalam rentang
normal, terbatas, tumpul dan datar.


c. Kesesuaian
Kesesuaian respon emosional pasien dapat
dipertimbangkan dalam konteks masalah subyektif yang
didiskusikan pasien.
Apabila ekspresi emosi serasi dengan isi pikiran, budaya
dan keadaan/ suasana pada waktu pemeriksaan.
III. BICARA

Menggambarkan karakteristik fisik dari
berbicara baik kuantitas, kecepatan
produksi bicara dan kualitasnya.
Contoh : senang berbicara, suka mengomel,
fasih, pendiam, tidak spontan atau berespon
normal terhadap pewawancara.

Bicara mungkin cepat atau lambat,
tertekan, ragu-ragu, emosional, dramatik,
monoton, keras, berbisik, dll.
IV. Gangguan persepsi

Halusinasi dan ilusi apakah pasien
mendengar suara atau melihat
bayangan?, apa yang dilihat atau
didengar?, dalam keadan bagimana
keadaan itu terjadi?

Depersonalisasi dan derealisasi : perasaan
terlepas dari diri sendiri dan lingkungan.

V. Pikiran
Contoh gangguan pikiran :
a. proses berpikir atau bentuk pikiran
o pengendoran asosiasi atau keluar dari jalur
o flight of ideas
o pikiran berpacu
o tangensialitas
o sirkumstansialitas
o inkoherensi
o neologisme
o asosiasi bunyi
o permainan kata
o penghambatan pikiran
o pikiran samara-samar.


b. Isi pikiran
Waham
Gagasan bunuh diri dan membunuh
Paranoid
Preokupasi
Gagasan menyangkut diri sendiri
Obsesi dan konvulsi
Kemiskinan isi.
VI. Sensorium dan kognisi
Mencari petunjuk fungsi organ organik,
intelegensia pasien, kapasitas untuk
berpikir abstrak, tingkat tilikan dan
pertimbangan.


a. Kewaspadaan dan tingkat kesadaran
Gangguan kesadaran biasanya
menyatakan gangguan otak organik.

Tingkat kesadaran pasien : berkabut,
somnolen, stupor, koma, letargi,
melupakan identitas lama seringkali
disertai perjalanan dan mengembara
kelingkungan baru.

b. Orientasi
Waktu : perhatikan apakah pasien
mampu mengidentifikasikan hari,
waktu, lamanya pasientelah berada di
rumah sakit. Apakah perilakunya
sesuai dengan orientasi waktu.

Tempat : perhatikan apakah pasien
tahu dimana ia berada.

Orang : perhatikan apakah pasien
tahu siapa pemeriksa dan peranan
orang-orang yang berhubungan
dengannya disekitarnya.
c. Daya ingat

Fungsi daya ingat (memory) biasanya dibagi
menjadi empat bidang :

Daya ingat jauh (remote memory) data
masa anak-anak, peristiwa penting yang
diketahui telah terjadi saat pasien masih muda
atau bebas dari penyakit, masalah pribadi.
Daya ingat masa lalu yang belum lama (recent
past memory) dalam beberapa bulan yang
lalu.
Daya ingat yang baru saja (recent memory)
beberapa hari yang lalu, apa yang pasien
lakukan kemarin, hari sebelumnya, apa yang
pasien makan untuk sarapan, makan siang dan
makan malam.
Penyimpanan dan daya ingat segera
(immediate retention reccal) pengukuran
rentang angka, kemampuan untuk mengulang
tiga kata segera dan 3-5 menit kemudian.
d. Konsentrasi dan perhatian
Konsentrasi pasien dapat terganggu karena
berbagai alasan.
Misalnya : gangguan kognitif, kecemasan, depresi
dan stimulasi in ternal.
Perhatian dinilai dengan kemampuan berhitung
atau meminta pasien mengeja kata secara
mundur.
e. Kemampuan membaca dan menulis
Pasien diminta untuk bereaksi terhadap suatu
kalimat dan selanjutnya melakukan apa yang
diperintahkan kalimat tersebut.
Pasien juga diminta untuk menulis kalimat
sederhana tapi lengkap.
f. Kemampuan visuospasial
Pasien diminta mencontoh suatu gambar
seperti jam atau segilima yang
berpotongan.

g. Berpikir abstrak
Kemampuan pasien untuk berhadapan
dengan konsep.

h. Sumber informasi dan intelegensia
Intelegensia berhubungan dengan
perbendaharaan kata dan sumber
pengetahuan umum.
VII. Pengendalian Impuls
Pemeriksaan pengendalian impuls penting
dalam memastikan kesadaran pasien
tentang perilaku yang sesuai secara sosial
dan suatu pengukuran tentang
kemungkinan bahaya pasien bagi dirinya
sendiri atau orang lain, misalnya : impuls
seksual, agresif dan lainnya.
VIII. Pertimbangan dan tilikan
Pertimbangan (judgement) menilai
aspek kemampuan pasien dalam
pertimbangan sosial.
Apakah pasien mengerti kemungkinan
akibat dari perilakunya?
Dapatkah pasien memperkirakan apa yang
akan dilakukannya didalam situasi
khayalan?
Tilikan derajat kesadaran dan
pengertian pasien mengenai gangguan
kesehatan jiwa yang dialami.
Tingkat tilikan
1. Penyangkalan penyakit sama sekali.
2. Kesadaran sedikit bhw mereka sakit & membutuhkan
bantuan, tp dlm wkt yg bersamaan menyangkal
penyakitnya.
3. Terdapat kesadaran bhw mereka sakit tp melemparkan
kesalahan pd org lain, pd faktor eksternal/ faktor
organik.
4. Sadar bahwa penyakitnya disebabkan oleh sesuatu yg
tdk diketahui pd diri sendiri.
5. Tilikan intelektual : menerima bahwa pasien sakit &
gejala/ kegagalan dlm penyesuaian sosialnya disebabkan
oleh perasan irasional atau gangguan tertentu dlm diri
pasien sendiri tanpa menetapkan pengetahuan tsb untuk
pengalaman dimasa dpn.
6. Tilikan emosional yang sesungguhnya : kesadaran
emosional tentang motif & perasaan di dalam diri pasien
& orang yg penting dlm kehidupan.
IX. Realibilitas
Perkiraan kesan dokter psikiatri
pada kebenaran atau kejujuran
pasien.