Anda di halaman 1dari 39

HERNIA

Disusun oleh
INDAH K. WARDANI PUTERI
1102010129

Pembimbing :
Dr. Trimayu Suhendar, Sp.B
PENDAHULUAN
Hernia yang merupakan kasus bedah yang banyak
terjadi disamping apendisitis akut dan sering
menimbulkan masalah-masalah penyerta
Populasi hernia ditemukan sekitar 10% yang
menimbulkan masalah kesehatan dan pada umumnya
pada pria. Hernia inguinalis lateralis merupakan hernia
yang paling sering ditemukan yaitu sekitar 50%,
sedangkan hernia ingunal medialis 25% dan hernia
femoralis sekitar 15%. Berdasarkan data yang
dikemukakan oleh Simarmata (2003) bahwa insidensi
hernia inguinalis diperkirakan diderita oleh 15%
populasi dewasa, 5-8 % pada rentang usia 25-40 tahun,
dan mencapai 45 % pada usia 75 tahun.


Presipitasi terjadinya hernia dikarenakan oleh
kenaikan tekanan intra abdomen, seperti : kerja
berat, batuk kronis, dan konstipasi. Kondisi ini
diperparah dengan krisis ekonomi Indonesia,
yang berakibat pada tingginya jumlah penduduk
miskin Indonesia hingga mencapai 35,7%,
dimana sebagian besar merupakan pekerja
berat. Hal ini memperbesar kerentanan
penduduk miskin menderita hernia
DEFINISI HERNIA
penonjolan (protrusi) isi suatu rongga melalui
defek atau bagian lemah dari dinding rongga
bersangkutan. Definisi yang banyak
dianut menyatakan hernia ialah penonjolan dari
suatu struktur / bentuk, viscus atau organ dari
tempat yang seharusnya; protrusi atau
penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau
bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan.
Hernia terdiri atas cincin, kantong, dan isi
hernia.

ETIOLOGI HERNIA
peningkatan tekanan intrakavitas
melemahnya dinding abdomen.


KLASIFIKASI HERNIA
1. Berdasarkan kejadiannya, hernia dibagi atas
A. Hernia bawaan atau kongenital
B. Hernia dapatan atau akuisita
B.1. Hernia primer
B.2. Hernia Sekunder
2. Berdasarkan sifatnya, hernia dibagi atas :
A. Hernia reponibel
B. Hernia Ireponibel
C. Hernia obstruksi
D. Hernia Strangulata



Berdasarkan isinya
1) Hernia adiposa
Adalah hernia yang isinya terdiri dari jaringan
lemak.
2) Hernia litter
Adalah hernia inkarserata atau strangulata yang
sebagian dinding ususnya saja yang terjepit di
dalam cincin hernia.
3) Slinding hernia
Adalah hernia yang isi hernianya menjadi sebagian
dari dinding kantong hernia.(Sjamsuhidajat,
2004).

Berdasarkan Arah Herniasi


A. Hernia Eksterna
Termasuk di dalamnya antara lain :
Hernia Inguinalis Medialis dan Lateralis
Hernia Femoralis
Hernia Umbilicalis
Hernia Epigastrica
Hernia Lumbalis
Hernia Obturatoria
Hernia Semilunaris
Hernia Perinealis

B. Hernia Interna
sebagai penonjolan organ intra abdominal melalui fossa atau
lubang yang ada di dalam rongga abdomen

Berdasarkan Letaknya :
1. Hernia Inguinalis
prolaps sebagian usus ke dalam anulus inguinalis di
atas kantong skrotum, disebabkan oleh kelemahan
atau kegagalan menutup yang bersifat kongenital.
Tekanan intra abdomen yang meninggi secara kronik
seperti batuk kronik, hipertrofi prostat, konstipasi dan
asites sering disertai hernia inguinalis. Hernia juga
mudah terjadi pada individu yang kelebihan berat
badan, sering mengangkat benda berat, atau
mengedan

Hernia inguinalis dibagi menjadi 2, yaitu :
Hernia inguinalis indirek
Disebut juga hernia inguinalis lateralis, karena keluar
dari rongga peritoneum melalui locus minoris
resistence anulus inguinalis internus yang terletak
lateral dari pembuluh epigastrika inferior, kemudian
hernia masuk ke dalam kanalis inguinalis dan, jika
cukup panjang, menonjol keluar dari anulus inguinalis
eksternus. Disebut indirek karena keluar melalui dua
pintu dan saluran, yaitu anulus dan kanalis inguinalis;
berbeda dengan hernia medialis yang langsung
menonjol melalui segitiga Hasselbach dan disebut
sebagai hernia direk.

Ada dua macam hernia inguinalis indirek, yaitu
yang kongenitalis dan akuisita (didapat).
Perbedaannya secara anatomis terletak pada
apakah prosesus vaginalis telah atau belum
menutup. Pada yang kongenitalis processus
vaginalis belum menutup sehingga isi abdomen
(usus) dapat mengisi sampai pada cavum scroti.
Pada yang akuisita (didapat) kantong hernia tidak
berhubungan dengan cavum scroti karena
processus vaginalis telah menutup.
Hernia inguinalis direk (medialis)
Disebut juga hernia inguinalis medialis, menonjol
langsung ke depan melalui segitiga Hasselbach, daerah
yang dibatasi oleh ligamentum inguinale di bagian
inferior, pembuluh epigastrika inferior di bagian lateral
dan tepi otot rektus di bagian medial. asar segitiga
hasselbach dibentuk oleh fasia transversal yang diperkuat
oleh serat aponeurosis m.transversus abdominis yang
kadang-kadang tidak sempurna sehingga daerah ini
potensial untuk menjadi lemah. Hernia medialis, karena
tidak keluar melalui kanalis inguinalis dan tidak ke
skrotum, umumnya tidak disertai strangulasi karena
cincin hernia longgar. Hernia ini melewati dinding
abdomen di area kelemahan otot, tidak melalui kanal
seperti pada hernia inguinalis dan femoralis indirek.
.
Indirek Direk
Usia pasien Usia berapapun, terutama muda Lebih tua
Penyebab Dapat kongenital Didapat
Bilateral 20 % 50 %
Penonjolan saat batuk Oblik Lurus
Muncul saat berdiri
Tidak segera mencapai ukuran
terbesarnya
Mencapai ukuran terbesar dengan
segera
Reduksi saat berbaring Dapat tidak tereduksi segera Tereduksi segera
Penurunan ke skrotum Sering Jarang
Oklusi cincin internus Terkontrol Tidak terkontrol
Leher kantong Sempit Lebar
Strangulasi Tidak jarang Tidak biasa
Hubungan dengan pembuluh darah
epigastric inferior
Lateral Medial
Hernia Femoralis
Hernia femoralis umumnya dijumpai pada perempuan
tua, kejadian pada perempuan kira-kira 4 kali lelaki.
Pintu masuk hernia femoralis adalah anulus femoralis.
Selanjutnya, isi hernia masuk ke dalam kanalis
femoralis yang berbentuk corong sejajar dengan v.
Femoralis sepanjang kurang lebih 2 cm dan keluar
pada fosa ovalis di lipat paha.


Hernia Umbilikalis
Merupakan hernia kongenital pada umbilikus yang
hanya tertutup peritoneum dan kulit. Hernia ini
terdapat pada kira-kira 20 % bayi dan angka ini
lebih tinggi lagi pada bayi prematur.
Hernia umbilikalis terjadi lebih sering pada wanita.
Hernia umbilikalis pada orang dewasa merupakan
lanjutan hernia umbilikalis pada anak. Peninggian
tekanan karena kehamilan, obesitas, atau asites
merupakan faktor predisposisi. Asites selalu
mengeksaserbasi masalah ini. Strangulasi kolon dan
omentum umum terjadi.

Hernia Epigastrik
Hernia epigastrika atau hernia alba adalah
hernia yang keluar melalui defek di linea alba
antara umbilikus dan processus xiphoideus. Isi
hernia terdiri atas penonjolan jaringan lemak
preperitoneal dengan atau tanpa kantong
peritoneum. Hernia ini biasanya kecil dan
kebanyakan terjadi pada bagian paling lebar dari
linea alba antara processus xiphoideus dan
umbilicus. Hernia ini kebanyakan terjadi pada
pekerja manual usia pertengahan.

Hernia Lumbalis
Hernia ini dapat terjadi secara kongenital, didapat
primer maupun didapat sekunder dari insisi bedah.
Hernia didapat melalui insisi pada pendekatan
lumbal menuju ginjal adalah hal yang tidak jarang
terjadi; bagaimanapun juga, dengan penurunan
bedah ginjal terbuka, hal ini menjadi berkurang.
Hernia lumbalis yang terjadi melalui titik anatomis
yang lemah pada regio lumbalis (segitiga lumbal
superior dan inferior) adalah jarang.

Hernia Obturatoria
Hernia obturatoria ialah hernia melalui foramen obturatorium. Kanalis
obturatorium merupakan saluran yang berjalan miring ke kaudal yang
dibatasi di kranial dan lateral oleh sulkus obturatorius os pubis, di kaudal
oleh tepi bebas membran obturatoria, m.obturatorius internus dan
eksternus. Di dalam kanalis obturatorius berjalan saraf, arteri, dan vena
obturatoria. Pada kondisi ini, herniasi terjadi sepanjang kanalis
obturatorium, yang membawa Nervus obturatorium dan pembuluh darah
keluar dari pelvis. Ini paling sering terjadi pada perempuan tua yang frail.
Hernia bermula sebagai sumbat pre-peritonium dan secara bertahap
memebesar, membawa serta sakus peritonium bersamanya. Loop
usus dapat masuk ke dalam sakus peritoneum bersamanya.
Hernia obturatoria dapat berlangsung dalam empat tahap. Mula-mula
tonjolan lemak retroperitoneal masuk ke dalam kanalis obturatorius (tahap
1), disusul oleh tonjolan peritoneum parietale (tahap 2). Kantong hernia ini
mungkin dibatasi oleh lekuk usus (tahap 3) yang dapat mengalami
inkarserasi parsial atau total.

Hernia Semilunaris/ Spieghel
Hernia spigelian adalah hernia ventralis yang
terjadi sepanjang bagian subumbilikal dari garis
semilunaris Spieghel dan melalui fasia Spieghel.
Hernia Spieghel yang muncul melalui tempat
lemah di antara tepi lateral m. rektus abdominis
dengan linea semisirkularis.
Hernia Perinealis
Hernia perinealis merupakan tonjolan hernia
pada perineum melalui defek dasar panggul
yang dapat terjadi secara primer pada
perempuan multipara, atau sekunder setelah
operasi melalui perineum seperti prostatektomi
atau reseksi rektum secara abdominoperineal.
DIAGNOSIS HERNIA
Hernia Inguinalis
Pada hernia reponibel keluhan satu-satunya adalah adanya benjolan di
lipat paha yang muncul pada waktu bediri, batuk, bersin, atau mengedan,
dan menghilang setelah berbaring. Keluhan nyeri jarang dijumpai, kalau
ada biasanya dirasakan di darah epigastrium atau paraumbilikal berupa
nyeri viseral karena regangan pada mesenterium sewaktu satu segmen usus
halus masuk ke dalam kantong hernia. Perhatikan tanda yang berkaitan
dengan adanya komplikasi :
Ireponibel : benjolan yang iredusibel, tanpa rasa nyeri.
Obstruksi : hernia tegang, lunak, dan iredusibel. Mungkin ada distensi
abdomen, dan gejala lain dari obstruksi usus.
Strangulasi : tanda-tanda dari hernia obstruksi, tetapi ketegangan
semakin nyata. Kulit diatasnya dapat hangat, inflamasi, dan
berindurasi. Strangulasi menimbulkan nyeri hebat dalam hernia yang
diikuti dengan cepat oleh nyeri tekan, obstruksi, dan tanda atau gejala
sepsis. Reduksi dari hernia strangulasi adalah kontraindikasi jika ada sepsis
atau isi dari sakus yang diperkirakan mengalami gangrenosa.

Pemeriksaan Fisik
Pada inspeksi saat pasien mengedan, dapat dilihat
hernia inguinalis lateralis muncul sebagai
penonjolan di regio inguinalis yang berbentuk
lonjong sedangkan hernia inguinalis medial
berbentuk tonjolan bulat. Pada hernia labialis
tampak benjolan pada labium mayus yang jelas pada
waktu berdiri dan mengedan, dan hilang pada waktu
berbaring. Hernia yang telah terjadi incarserata atau
strangulasi maka disekitar hernia akan terlihat
eritema dan udema.
Auskultasi pada hernia ditentukan oleh isi dari
hernia, jika isi dari hernia adalah usus maka akan
terdengar peristaltik usus. Sedangkan jika isi hernia
omentum tidak akan terdengar apa-apa.

Untuk membedakan hernia inguinalis lateralis dan
medialis dapat digunakan 3 cara:
1. Finger test
Dari skrotum maka jari telunjuk ke arah lateral dari
tuberkulum pubicum, mengikuti fasikulus spermatikus
sampai ke anulus inguinalis internus. Dapat dicoba
mendorong isi hernia dengan menonjolkan kulit skrotum
melalui anulus eksternus sehingga dapat ditentukan
apakah isi hernia dapat direposisi atau tidak. Pada
keadaan normal jari tidak bisa masuk. Dalam hal hernia
dapat direposisi, pada waktu jari masih berada dalam
anulus eksternus, pasien diminta mengedan. Bila hernia
menyentuh ujung jari berarti hernia inguinalis lateralis,
dan bila hernia menyentuh samping ujung jari berarti
hernia inguinalis medialis.


Siemen test
Dilakukan dengan meletakkan 3 jari di tengah-
tengah SIAS dengan tuberculum pubicum dan
palpasi dilakukan di garis tengah, sedang untuk
bagian medialis dilakukan dengan jari telunjuk
melalui skrotum. Kemudian pasien diminta
mengejan dan dilihat benjolan timbal di annulus
inguinalis lateralis atau annulus inguinalis
medialis dan annulus inguinalis femoralis.


Tumb test
Sama seperti siemen test, hanya saja yang
diletakkan di annulus inguinalis lateralis,
annulus inguinalis medialis, dan annulus
inguinalis femoralis adalah ibu jari. Pada anak
kecil pada saat palpasi dari corda maka akan
teraba corda yang menebal, saat mengejan, yang
mudah dilakukan dengan menggelitik anak.
Maka akan teraba seperti benang sutra yang
dikumpulkan (silk sign).


Tumb test
Sama seperti siemen test, hanya saja yang diletakkan di annulus inguinalis lateralis, annulus inguinalis medialis, dan annulus inguinalis femoralis adalah ibu jari. Pada anak kecil pada saat palpasi dari corda maka akan teraba corda yang menebal, saat mengejan, yang mudah dilakukan dengan menggelitik anak. Maka akan teraba seperti benang sutra yang dikumpulkan (silk sign).

Hernia Femoralis

Keluhan biasanya berupa benjolan di lipat paha
(dibawah ligamentum inguinal) yang muncul terutama
pada waktu melakukan kegiatan yang menaikkan
tekanan intraabdomen seperti mengangkat barang atau
batuk. Benjolan ini hilang pada waktu berbaring.
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik ditemukan benjolan lunak di
lipat paha di bawah ligamentum inguinale di medial v.
Femoralis dan lateral tuberkulum pubikum. Tidak
jarang yang lebih jelas adalah tanda sumbatan usus,
sedangkan benjolan di lipat paha tidak ditemukan,
karena kecilnya, atau karena penderita gemuk.


DIAGNOSA BANDING
Jaringan
Benjolan
Kulit Kista sebasea atau epidermoid
Lemak Lipoma
Fasia Fibroma
Otot Tumor yang mengalami hernia melalui pembungkusnya
Arteri Aneurisma
Vena Varikosa
Limfe Pembesaran KGB
Gonad Ektopik testis / ovarium
PENATALAKSANAAN HERNIA
Hernia Inguinalis
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan
melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau
penunjang utnuk mempertahankan isi hernia yang telah
direposisi.
Tangan kiri memegang isi hernia membentuk corong
sedangkan tangan kanan mendorongnya ke arah cincin
hernia dengan sedikit tekanan perlahan yang tetap
sampai terjadi reposisi.
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya
pengobatan rasional hernia inguinalis. Indikasi operasi
sudah ada begitu diagnosa ditegakkan. Prinsip dasar
operasi hernia terdiri atas herniotomi dan hernioplastik.

Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong
hernia sampai ke lehernya, kantong dibuka dan isi
hernia dibebaskan kalau ada perlekatan,
kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit ikat
setinggi mungkin lalu dipotong.
Pada hernioplastik dilakukan tindakan
memperkecil anulus inguinalis internus dan
memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.
Hernioplastik lebih penting dalam mencegah
terjadinya residif dibandingkan dengan
herniotomi
Metode Bassini merupakan teknik herniorafi yang
pertama dipublikasi tahun 1887. Setelah diseksi
kanalis inguinalis, dilakukan rekonstruksi dasar
lipat paha dengan cara mengaproksimasi muskulus
obliqus internus, muskulus transversus abdominis,
dan fasia transversalis dengan traktus iliopubik dan
ligamentum inguinale. Teknik dapat diterapkan,
baik pada hernia direk maupun indirek.

Hernia Femoralis dan umbilikus
Operasi terdiri atas herniotomi disusul dengan
hernioplastik dengan tujuan menjepit anulus femoralis
Hernia Umbilikus
Bila cincin hernia kurang dari 2 cm, umumnya regresi
spontan akan terjadi sebelum bayi berumur 6 bulan,
kadang cincin baru tertutup setelah satu tahun. Usaha
untuk mempercepat penutupan dapat dikerjakan dengan
mendekatkan tepi kiri dan kanan, kemudian
memancangnya dengan pita perekat (plester) untuk 2-3
minggu. Dapat pula digunakan uang logam yang
dipancangkan di umbilikus untuk mencegah penonjolan
isi rongga perut.
Bila sampai usia satu setengah tahun hernia masih
menonjol, umumnya diperlukan koreksi operasi

Hernia Epigastrica
Pasien dengan hernia yang simptomatis ditawarkan
untuk diperbaiki. Lemak yang mengalami hernia
dieksisi. Jika terdapat kantung, isinya direduksi dan
sakusnya di eksisi. Defek dari fasianya ditutup
dengan jahitan. Terapi bedah merupakan reposisi isi
hernia dan penutupan defek di linea alba.

Hernia Lumbalis
Hernia primer ditangani dengan penutupan
langsung dari defek yang ada. Hernia insisional
yang besar membutuhkan mesh buatan.

Hernia Obturatoria
pendekatan transperitoneal dan preperitoneal. Jika
ditemukan saat laparatomi, usus halusnya di reduksi,
sakusnya withdrawn dan defeknya ditutup. Jika
diagnosis dibuat secara klinis, prosedur elektif dengan
pendekatan retropubis, pre-peritonium dapat
dilakukan.
Hernia Semilunaris/Spigelian
Perbaikan hernia yaitu dengan mengeksisi sakus dan
menutup defeknya. Hernia spigelian kecil dapat ditutup
secara sederhana, tetapi hernia spigelian besar dalam
otot, membutuhkan suatu prostesis. Pengelolaan terdiri
atas herniotomi dan hernioplastik dengan menutup
defek pada m.transversus abdominis dan m. abdominis
internus abdominis.


Komplikasi
Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami
oleh isi hernia. Isi hernia dapat tertahan dalam kantong,
pada hernia ireponibel ini dapat terjadi kalau isi hernia
terlalu besar, misalnya terdiri atas omentum, organ
ekstraperitonial. Disini tidak timbul gejala klinis kecuali
berupa benjolan. Dapat pula terjadi isi hernia tercekik oleh
cincin hernia sehingga terjadi hernia strangulata yang
menimbulkan gejala obstruksi usus yang sederhana.
Sumbatan dapat terjadi total atau parsial. Bila cincin hernia
sempit, kurang elastis, atau lebih kaku, lebih sering terjadi
jepitan parsial. Jarang terjadi inkarserasi retrograd, yaitu
dua segmen usus terperangkap di dalam kantong hernia dan
satu segmen lainnya berada dalam rongga peritonium,
seperti huruf W.