Anda di halaman 1dari 24

MEMBRAN

MIKROFILTRASI
ANNISA SEPTIANI
3335100533
ALETHEA ROYAN
3335111877
KARAKTERISTIK
FOULING DAN
POLARISASI
KONSENTRASI PADA
PROSES PEMURNIAN
DAN PEMEKATAN
KARAGINAN
DENGAN MEMBRAN
MIKROFILTRASI
BAB 1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
1. Meningkatkan nilai tambah ekonomi
2. Dapat menghemat energi dan bahan
kimia dengan penggunaan membran.
Rumusan Masalah
Munculnya fouling dan polarisasi
konsentrasi yang dapat menurunkan kinerja
fluks membran.



Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh fouling dan
polarisasi konsentrasi pada proses pemurnian dan
pengkonsentrasian karaginan dengan proses
mikrofiltrasi.
Ruang Lingkup
Bahan Kappaphycuss alvarezii, larutan NaOH,
larutan HCl, Sodium hipoklorit dan aquades, satu unit
membran cross-flow filtrasi, membran yang digunakan
adalah mikrofiltrasi 0,1 mikron dengan bahan
polisulfon serta jenis modul membran adalah tubular.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Membran Mikrofiltrasi
Miktofiltrasi diaplikasikan dalam proses
pemisahan unsur-unsur partikulat dari
larutannya. Membran ini dapat menahan
koloid, mikroorganisme, dan padatan
tersuspensi.
Mikrofiltrasi adalah proses membran
dengan menggunakan tekanan sebagai
gaya dorong.
Aplikasi industri membran mikrofiltrasi
Membran Asimetrik, porous
Ketebalan 10 - 200 m, polimer
Pori 0,05 10 m
Driving force Tekanan, (<2 bar, 3 bar max)
Pemisahan Sieving
Material Polimer, keramik
Aplikasi Analitis, sterilisasi, klarifikasi,
pre-treatment, plasmapheresis, MBR.
Aliran Cross-Flow Membran
Pendekatan model tahanan seri dalam
memprediksi fluks adalah lapisan partikel
pada permukaan membran merupakan
penghalang laju aliran permeat. Hal ini
dapat dinyatakan dengan Persamaan
berikut (Cheryan, 1998) :

Adanya peristiwa fouling dan polarisasi konsentrasi
menyebabkan tahanan membran bertambah,
sehingga tahanan total membran (Rt) merupakan
penggabungan dari tahanan membran internal
(Rm), tahanan membran akibat fouling (Rf) dan
tahanan membran akibat polarisasi konsentrasi
(Rp), seperti yang dinyatakan dalam Persamaan
(Cheryan, 1998).

Tahanan membran internal (Rm) dapat ditentukan
dengan menggunakan air murni sebagai umpan,
sedangkan nilai Rf muncul akibat interaksi dari sifat
membran dan partikel terlarut. Rf tidak dipengaruhi
oleh parameter operasi dan biasanya Rf disatukan
dengan nilai Rm menjadi Rm seperti pada
Persamaan (Cheryan, 1998).

Rp merupakan fungsi dari permeabilitas dan
ketebalan gel yang merupakan fungsi dari
tekanan, sehingga nilai tahanan membran
akibat polarisasi konsentrasi dapat
dinyatakan dengan Persamaan berikut :

adalah indeks tahanan polarisasi
konsentrasi, yang merupakan variabel yang
mempengaruhi transfer massa seperti
viskositas, shear rate/laju alir dan suhu.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1.1 Tahapan Ekstrak Rumput Laut dari Bahan Baku Kappaphycuss
alvarezii
Merendam Kappaphycuss alvarezii dengan
aquades selama 2 jam
Menyaringnya dengan
kertas saring
Merendam Kappaphycuss alvarezii dengan HCl
1% PH 5-6 selama 15 menit
Mencucinya dengan air






Merendam Kappaphycuss alvarezii
dengan NaOH 0.1% pada PH 9-10
selama 24 jam




h
ATC (Alkali
Treated
Cottonii)
Mencucinya dengan air dan mengeringkan
dibawah sinar matahari



h
Mengekstraknya dengan dengan perbandingan
rumput laut kering : aquadest 1 gr : 60 ml pada
suhu 75
0
C 85
0
C PH 8-9 selama 3 jam.



h
Produk berupa ekstrak rumput laut Semi
Refined Carrageenan dan Refined
Carrageenan




Tangki Umpan



h
Filtrat hasil
Ekstrak
Rumput Laut
Memanaskan
hingga suhu 55
0
C

h
Mencuci membran dengan
larutan Sodium hipoklorit 200
ppm



h
Membran mikrofiltrasi
untuk menguji kembali
fluks membran
NaOH 0.1%
3.1.2 Tahapan Pemurnian Ekstrak Rumput Laut
Mengambil permeat pada
waktu tertentu



h
Mengulangi langkah-langkah tersebut
dengan variasi tekanan membran,
temperatur umpan dan laju alir umpan




3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat yang Digunakan
Alat yang digunakan
sebagai berikut:
Gelas kimia 100 ml sebanyak 5
buah
Gelas ukur 10 ml
Gelas ukur 50 ml
Ekstraktor
Membran mikrofiltrasi
Pemanas listrik
Pompa
Termometer
Pressure Gauge
Flowmeter
Wadah permeat
Valve

3.2.2 Bahan yang
Digunakan
Bahan-bahan yang
digunakan adalah sebagai
berikut:
Kappaphycuss alvarezii
Sodium hipoklorit
NaOH 0.1%
HCl 1%
Aquades

Gambar Alat
Keterangan:
1. Tangki Umpan
2. Pemanas
3. Pengaduk
4. Termometer
5. Pompa
6. Flowmeter
7. Pressure gauge
8. Membran mikrofiltrasi
9. Wadah permeat
10. Valve
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Tahanan Membran Internal

4.2 Tahanan Fouling
Komponen
Tahanan
Membran
Laju Alir Umpan (m s-1)
2,97 3,47 3,97
Rm
(kPa m2 h l-1)

0,0551

0,0551

0,0551
Rm =Rm + Rf
(kPa m2 h l-1)

0,1863

0,2292

0,2309
Rf
(kPa m2 h l-1)

0,1312

0,1741

0,1758

(s m-1)

0,0067

0,0061

0,0058
4.3 Indeks Tahanan Polarisasi
Konsentrasi ()

4.4 Pengaruh Tekanan
Transmembran terhadap Nilai
Tahanan Polarisasi

4.5 Perubahan Nilai Komponen
Tahanan Membran Menurut Fungsi
Tekanan Transmembran

4.6 Prediksi Fluks dengan
Model Tahanan Seri

BAB V KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan
bahwa:
Besarnya fluks pada proses mikrofiltrasi di- tentukan oleh
tahanan membran internal (Rm), tahanan fouling (Rf) dan
tahanan polarisasi (Rp).
Rf mencapai 2-3 kali lebih tinggi dibandingkan Rm dan selama
mikrofiltrasi kedua jenis tahanan tersebut tidak mengalami
perubahan yang signifikan.
Tahanan polarisasi konsentrasi (Rp) besarnya tergantung
pada perkalian indeks tahanan polarisasi () dan tekanan
transmembran (P).
Pada tekanan transmembran rendah (kurang dari 40 kPa)
tahanan didominasi oleh Rm dan Rf, sedangkan di atas nilai
tersebut tahanan membran didominasi oleh Rp.
Model tahanan seri dapat menjelaskan perilaku fluks baik
pada daerah yang dikendalikan oleh tekanan maupun pada
daerah yang dikendalikan oleh transfer massa.

Anda mungkin juga menyukai