Anda di halaman 1dari 154

Presented by: Dr. Adam Herman, M.

Med (OM), SpOk


IDKI Batam

Subpokok Bahasan
Istilah Umum pada Toksikologi
Prinsip-prinsip Toksikologi
Jalur masuk / pajanan ke dalam tubuh
Faktor-faktor yang berperan dalam keracunan
Fase Toksikologi
Biotransformasi Toksikan
Organ Sasaran
Nilai Ambang Batas
Pemeriksaan kesehatan khusus & biological monitoring
Keracunan solven organik, logam, gas
Pengendalian zat toksik di Industri

TOKSIKOLOGI
Mempelajari efek berbahaya dari bahan
kimia, fisik & biologi pada mahluk hidup

EFEK BERBAHAYA
Setiap perubahan dari keadaan normal organisme hidup
Tergantung pada konsentrasi zat aktif pd organ target untuk
waktu yg cukup lama

Toksikologi Industri
Mempelajari pengaruh pemajanan bahan yang dipakai di
industri mulai dari bahan baku, intermediet, hasil produksi
terhadap tenaga kerja
Subdisiplin Toksikologi
Toksikologi Industri /
Kerja
Toksikologi Lingkungan
Toksikologi Regulatori
Toksikologi Makanan
Toksikologi Klinis
Toksikologi Deskriptif
Toksikologi Forensik
Toksikologi Analitik
Toksikologi Mekanistik

Pajanan Kontak yg memberikan
kesempatan menda-
patkan dosis beracun.


Hazard Kemungkinan toksisitas
akan diekspresikan.
Istilah Toksikologi
Hazard dan Risiko
Suatu hazard ada jika suatu senyawa / keadaan mempunyai
kekuatan (yang melekat padanya) untuk menyebabkan efek
yang merugikan

Risiko adalah kemungkinan efek tsb di atas akan terjadi

Hazard adalah kekuatan yg
mampu menyebabkan bahaya;

Di lain pihak Risiko adalah
kemungkinan terjadinya bahaya


CONTOH HAZARD DAN RISIKO
Hazard Tempat
Kerja
Contoh Hazard Risiko
Material Pisau Luka sayat
Bahan Kimia Benzene Leukemia
Serabut Asbestos Mesotelioma
Sumber energi Listrik Syok, elektrokusi
Kondisi Lantai basah Slip, jatuh
Proses Welding Metal fume fever
Debu Penambangan
Batu keras
Silikosis
Bahan Toksik
Bahan Toksik : Bahan kimia yang menyebabkan
perubahan faal, struktur atau fungsi pada pejamu, yang
berbahaya bagi kesehatan.

Toksin : suatu racun alamiah
Xenobiotik : senyawa asing

Toksikan : bahan toksik yg dihasilkan dari aktivitas
manusia (hasil produksi atau sampingan). Mis. Dioxin yg
dihasilkan dari bahan kimia ber-klor adalah suatu
toksikan. Sedangkan Arsen bisa sebagai kontaminan
alamiah air tanah (toksin) atau hasil dari aktivitas industri
(toksikan).

Bahan Toksik vs. Hazardous
Bahan Toksik
Menunjukkan sifat dasar bahan tsb
Berkaitan dgn efek akut/kronik atau karsinogenitas nya

Bahan Hazardous
Berkaitan dengan masalah pajanan
Kemungkinan bahan toksik menyebabkan
efek berbahaya tergantung pada bagaimana
bahan tsb ditangani /dikonsumsi
-prosedur operasional
Klasifikasi Bahan Toksik
Efeknya pada organ target (hati, ginjal, sistem
hematopoetik dll)
Penggunaannya (solven, pestisida, aditif makanan dll)
Sumber bahan (toksin tanaman atau hewan)
Efeknya (kanker, mutasi, cedera hati, dll)
Keadaan fisik (gas, debu, cairan)
Kebutuhan pelabelan (eksplosif, flammable, oxidizer)
Struktur Kimia (amin aromatik, HK klor dll)
Potensi racun (ekstrim toksik, amat toksik, sedikit toksik)
Toksisitas...
Kemampuan suatu bahan untuk :
...merusak suatu sistem organ, seperti hati atau
ginjal atau ...
...mengganggu suatu proses biokimia, seperti
mekanisme pembentuk sel darah atau ...
...mengganggu suatu sistem enzim tubuh yang
berada jauh dari tempat kontak dengan bahan tsb.

Toksisitas tergantung berbagai faktor : dosis, durasi & jalur
pajanan, struktur & bentuk bahan kimia & faktor individual
pejamu

Toksisitas Selektif
Suatu bahan kimia menimbulkan cedera pada
satu jenis makhluk hidup tanpa
membahayakan bentuk kehidupan lainnya,
walaupun keduanya dapat hidup berdekatan.
Susseptibilitas Individual &
Sub-populasi Sensitif
Susseptibilitas Individual menerangkan adanya
perbedaan di antara individu. Beberapa orang lebih
berisiko menderita gangguan kesehatan tertentu
daripada yang lain.

Sub-populasi sensitif lebih berisiko sakit karena pajanan
daripada rata-rata orang sehat.
Biasanya orang amat muda, penderita sakit kronis, orang tua,
wanita hamil
Tergantung jenis kontaminan, faktor lain (mis. usia, BB, gaya
hidup, seks) dapat digunakan utk menerangkan populasi

Bagaimana Toksisitas Timbul
Sebelum toksisitas dapat timbul, suatu bahan harus
kontak terlebih dahulu dengan permukaan tubuh
seperti kulit, mata atau mukosa saluran cerna atau
pernafasan.

Mekanisme Kerja Timbulnya Toksisitas
Mempengaruhi aktivitas enzim
Membentuk konjugasi dengan suatu enzim
Mensintesis senyawa baru
Kombinasi langsung dengan suatu konstituen sel

PRINSIP TOKSIKOLOGI
Prinsip pertama toksikologi adalah semua senyawa
menimbulkan suatu efek, tetapi dosis yang menentukan apakah
efek yang terjadi merugikan atau menguntungkan

Semua bahan kimia dapat membunuh bila diberikan melalui
rute yg tidak sesuai & dlm jumlah yang tidak semestinya

Contoh : HCN & NaCN mempunyai derajat mematikan yang
berbeda
HCN berupa gas
NaCN berupa bubuk putih yg meskipun larut dlm air,
tidak melepaskan HCN, sampai bereaksi dgn HCl Lambung

Prinsip Dasar Toksikologi
Pajanan harus terjadi lebih dahulu agar suatu bahan
kimia dapat menyebabkan suatu risiko.

Besarnya risiko sebanding terhadap potensi bahan
kimia dan luasnya pajanan.

Dosis yang menentukan timbul tidaknya keracunan
(jumlah bahan kimia pada tempat target).
Konsep Pajanan
Respon toksik yang berbeda timbul dari perbedaan :

Konsentrasi pajanan

Jalur pajanan.

Frekuensi pajanan.

Lama pajanan (akut vs. kronik).
Kata-kata Kunci

Hazard = Toksisitas x pajanan

Risiko =Hazard X Pajanan
Dosis / Respon
Sensitivitas Individual
Jalur Pajanan Bahan Toksik
Ditentukan oleh sifat fisik dan kimia
Inhalasi (IH) : paling sering
Dermal (D) : terutama jika larut lemak
Ingestion/ tertelan (IG)

JALAN MASUK (tempat) pajanan merupakan
determinan penting dari DOSIS akhir jalan
masuk yang berbeda mengakibatkan kecepatan
absorpsi yang berbeda

Kecepatan absorpsi
IH > IG > D
- volatile>cairan>padat
Faktor yg mempengaruhi
KERACUNAN /RISIKO
A. TOKSIKAN
1. Konsentrasi / Dosis 4. Jalur / Route pajanan
2. Lama pajanan 5. Sifat Fisik, Sifat Kimia
3. Frekuensi 6. Toksisitas

B. PEJAMU
1. Efek lokal / sistemik 6. Aktivitas atau stress
2. Predisposisi genetik 7. Berat badan
3. Seks 8. Gizi
4. Usia 9. Status imunologi
5. Kerentanan individu 10. Status hormon, penyakit

C. LINGKUNGAN
1. Interaksi dengan bahan kimia lain
2. Suhu
3. Tekanan atmosfir
4. Kelembaban
A1. Dosis Toksikan
Dosis : jumlah aktual bahan kimia
yang masuk ke dalam tubuh.
Dosis yg diterima dapat karena pajanan
akut (singkat-biasanya < 24 jam) ) atau
kronik (jangka panjang-minggu sp
tahunan).

Dosis adalah jumlah yang
diabsorbsi.
A. DOSIS TOKSIKAN
Dosis merepresentasikan suatu nilai dari efek,
baik farmakologik atau toksik
Dosis tergantung pada :
Konsentrasi lingkungan
Sifat toksikan
Frekuensi pajanan
Lama / durasi pajanan
Jalur pajanan
Apa itu suatu Racun ?
What is a poison?
All substances are poisons; there
is none that is not a poison.
The right dose differentiates a
poison and a remedy.
- Paracelsus (1493-1541)

- Untuk terjadinya risiko, baik hazard
dan pajanan pada hazard harus ada
bersamaan

Standard Pajanan
No substance is a poison by itself, it is
the dose that makes a substance a
poison (Paracelsus 16
th
Century)

Hazard <=> Toksisitas

Hazard = Toksisitas x Pajanan
The sensitivity of the individual
differentiates a poison from a remedy.
The fundamental principle of toxicology
is the individuals response to a dose.

S. G. Gilbert (1997)
An Individual View
Kerentanan Individu
Efek Jumlah pada Respon
Efek Ukuran pada Respon
Apa yg dimaksud dgn Respon ?
Respon adalah Perubahan dari keadaan normal
dapat pada tingkat molekul, sel, organ atau
tingkat organisme gejala

Jenis respon tergantung pada dosis dan
organisme.

-Lokal vs. Sistemik
-Reversibel vs. Irreversibel
-Segera vs. Tertunda
Dosis-Respons
Dosis-response adalah hubungan antara dosis, atau
waktu pajanan (terhadap suatu bahan kimia atau bahan
toksik) dan suatu efek kesehatan (respons) pada
organisme yg terpajan.
Dosis-respons dapat ditentukan dengan mengukur
respon yang relatif terhadap suatu peningkatan dosis.
Hubungan Dosis-respon penting utk menentukan toksisitas suatu
bahan tertentu
Biasanya semakin besar dosis atau intens, semakin besar respon
atau efek.
Hal ini yg mendasari pernyataan dosis membuat racun

Kurva Dosis-Respon
Dengan meningkatnya dosis toksikan, begitu pula respons.
Hubungan Pajanan & Efek
Hubungan Pajanan & Respons
Hubungan Pajanan dan Efek atau Dose-Effect
Relationship : menggambarkan hubungan antara
dosis pajanan dan keparahan efek yang ditimbulkan
Bila intensitas pajanan semakin tinggi dan waktu pajanan
semakin panjang maka gangguan kesehatan atau masalah
kesehatan yang timbul akan semakin berat

Hubungan pajanan dan respons atau Dose-
Response Relationship : menggambarkan hubungan
antara dosis pajanan dan banyaknya pekerja yang
memberi respons sesuai efek yg diteliti
Bila intensitas pajanan semakin tinggi dan waktu pajanan
semakin panjang maka populasi pekerja yang mengalami
gangguan kesehatan atau masalah kesehatan yang timbul
akan semakin banyak
Hubungan Dosis-Respons:
Meningkatnya dosis toksikan diikuti
meningkatnya respons
2
3
4
0 1
DOSIS
RESPONS
0-1 NOAEL
2-3 Linear Range
4 Respon Maksimum
DOSIS MENENTUKAN RESPONS BIOLOGIS
Hubungan Dosis-respons : Pb
decreased erythrocyte delta-ALAD
activity
increased zinc protoporphyrin
anemia
CNS effects
decreased peripheral nerve
conductivity
Nervous paralysis, lead colics
Adapted from Elinder C-G et al., Biologisk monitoring av metaller
hos mnniska. Arbetsmiljfonden, Uppsala, 1991
Applikasi Dosis-Response
Menentukan dosis toksik
Menentukan dosis aman
Klasifikasi bahan toksik menurut toksisitasnya
Digunakan sebagai indeks toksisitas seperti
ekivalen toksik

Dosis-Efek

Gambar berikut mengilustrasikan
perubahan efek dengan semakin
meningkatnya dosis pada seorang
individu
Disini efek pajanan pada seorang
individu mulai pada dosis
ambang. Di bawah dosis ambang
tidak ada respon yang dapat
dideteksi.
Semakin dosis meningkat individu
tsb dapat mengalami berbagai
jenis efek yang berbeda
tergantung bahan kimianya.

2) Dengan meningkatnya dosis bahan kimia toksik efek
pada seorang individu menjadi lebih berat.
Dosis-EFEK
Karbon Monoksida
Tidak ada efek
Sakit kepala, mual dan pusing
Tidak sadar
Kematian

Formaldehid
Tidak ada efek
Iritasi ringan mata dan hidung
Iritasi mata dan hidung
bertambah
Lakrimasi (air mata)
Sulit bernafas, inflamasi
serius jalan nafas
Edema paru (cairan di dalam
paru)
Kematian

Di sini adalah contoh akibat dari efek dua bahan kimia umum dengan
semakin meningkatnya dosis:
Perlu diketahui bahwa ini adalah efek dosis-efek dari pajanan jangka-pendek.
Formaldehid, misalnya, juga menyebabkan kanker pada manusia yang terpajan
untuk periode jangka lama.

HUBUNGAN DOSIS-EFEK
Semakin tinggi dosis semakin berat efek atau
gangguan kesehatan
Hubungan dosis-efek : Hubungan antara dosis dgn
beratnya gangguan kesehatan

Tidak semua orang memberi reaksi yang sama terhadap
suatu paparan hubungan dosis efek untuk individu
berbeda untuk kelompok
Contoh : % hati yang rusak akibat minum alkohol
Hubungan Dosis-Efek untuk suatu Bahan
Kimia Tertentu
HUBUNGAN DOSIS-EFEK
Derajat gangguan kesehatan / efek
0 10 20 30 40 50 60 70
Sefalgia
ringan
Sefalgia,
vertigo
Mual,
pingsan
Tidak sadar
Kematian
O
O
O
O
80
O
Karboksihemoglobin dalam darah (%)
KEGUNAAN HUBUNGAN
DOSIS - EFEK
Membuat nilai ambang :
memberikan informasi mengenai efek / gangguan kesehatan
yang harus dicegah
Dpt digunakan untuk tujuan skrining karena jika nilai ambang
ditetapkan pada efek yang kurang berat maka efek yang lebih
berat dapat dicegah karena terjadi pada dosis yang lebih
tinggi.

Berguna untuk merencanakan penelitian epidemiologis
krn efek tertentu lebih mudah diukur

Membantu peneliti memilih efek / gangguan kesehatan
yang akan diteliti
Dosis Ambang
Dosis Ambang : suatu dosis atau tingkat pajanan di
bawah mana efek berbahaya tidak terlihat pada
suatu populasi.
Juga disebut sebagai No observed adverse effect
level (NOAEL) atau No effect level (NEL). Istilah ini
sering digunakan oleh toksikologis ketika membahas
hubungan antara pajanan dan dosis.
Utk karsinogen tidak ada kadar pajanan aman karena
setiap pajanan dapat menyebabkan kanker.

Ambang
Garis yang memisahkan antara kadar
pajanan tanpa-efek dan kadar pajanan
dengan efek

Untuk setiap bahan kimia terdapat
suatu ambang intoksikasi yang biasanya
berbeda untuk setiap bahan
A2 & A3. Durasi & Frekuensi
Pajanan Toksikan

Pajanan Akut vs Kronik
Akut Dosis tunggal dengan efek terjadi dalam waktu
singkat ( < 24 jam)

Subakut Dosis multipel diberikan sampai < 30 hari

Subkronik Dosis diberikan terus menerus selama 1-3 bulan

Kronik Dosis diberikan terus menerus > 3 bulan
Klasifikasi Bahan Toksik
Durasi Temporal
Toksisitas Akut -
Terjadi setelah pajanan singkat terhadap suatu bahan kimia.
Efek biasanya timbul cepat setelah pajanan tunggal atau multipel ;
Pajanan akut dapat pula menimbulkan delayed toxicity.
Cth. Inhalasi dosis letal HCN menyebabkan kematian kurang dari 1 menit

Toksisitas Kronik -
Timbul setelah pajanan berulang; banyak bahan kimia membutuhkan
waktu pajanan terus menerus beberapa bulan untuk menimbulkan
gangguan kesehatan
Sering efek kronis bahan kimia berbeda dari efek pajanan akut
Cth. Inhalasi chloroform untuk periode singkat menyebabkan anestesi;
inhalasi jangka panjang konsentrasi yang lebih rendah menyebabkan
kerusakan hati
Efek karsinogenik bahan kimia biasanya mempunyai periode laten yang
panjang ; tumor diamati bertahun-tahun (pada tikus) atau berpuluh tahun
(pada manusia) setelah pajanan.
Efek toksik bahan kimia menurut skala waktu &
tempat kerjanya
Pajanan Tempat Efek Bahan
Kimia
Akut Lokal
Sistemik
Edema paru
Kerusakan hati
Narkosis
Gas Klorin
CCl4
Halothane
Subkronik Lokal

Sistemik
Sensitisasi

Neurotoksisitas
Toluene
diisosianat
N-Hexane
Kronik Lokal

Sistemik
Bronkitis
Karsinoma Nasal
Ca kandung kemih
Kerusakan ginjal
SO2
Formaldehid
4-amino bifenil
Cadmium
Toksisitas Kronik
Contoh efek toksik kronik:
Cirrhosis pada pemakai alkohol yg minum alkohol bertahun-tahun;
Penyakit ginjal kronik pada pekerja yang terpajan timah hitam;
Bronkitis kronik pada perokok ;
Fibrosis paru pada penambang batubara (black lung disease);
Fibrosis paru dan kanker pada pekerja asbes (asbestosis);

Kelompok Lain dari Toksisitas
Mutagenesis: Mutasi genetik
Karsinogenesis: Pertumbuhan tidak terkendali
Teratogenesis: Kelainan kongenital

A4. Jalur Pajanan Toksikan
Absorpsi Kulit...
Kecepatan absorpsi bahan
toksik melalui kulit
bervariasi besar tergantung
bagian kulit tubuh yang
terlibat
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
ABSORPSI MELALUI KULIT


Sifat bahan kimia mis.
Kelarutan dalam air dan lemak,
Massa molekul,
Muatan ion
Temperatur dan kelembaban
Pembawa /Vehicle

Keadaan kulit :
Oklusi mis. Glove "pelindung"
Daerah Anatomi
Faktor Faal individual
ABSORPSI MELALUI PARU

Nasib partikel di dlm sal nafas
ditentukan oleh diameter
aerodinamik, ukuran dan massanya
Partikel > 10 u diendapkan di faring,
rg hidung dan dienyahkan dengan
diusap, dihembuskan & berbangkis
Partikel 1-5 u tersedimentasi di
bronkiolus ditangkap oleh silia di
mukosa atau ditelan oleh fagosit
Partikel < 1 u alveol
Partikel < 0.01 um terbuang ketika
menghembuskan nafas
Rute oral
Pada dasarnya semua darah vena
dari saluran cerna (esofagus, usus
halus & rektum) mengalir ke vena
porta lalu masuk ke hati
Semua bahan yang tertelan akan
masuk ke hati sebelum masuk ke
sirkulasi umum
Hal ini memungkinkan hati
mengaktivasi atau mendetoksifikasi
toksikan

Bahan toksik dapat diabsorbsi
melalui selaput mukosa mulut
masuk ke vena jugularis shg dapt
langsung masuk ke sirkulasi umum
Bypass hati
A5. Sifat / Bentuk Fisik & Kimia
Bahan Toksik
Partikel
Debu :
Inert (Ca carbonate, selulosa, semen portland, silikon)
Fibrogenik : silika, debu batubara
Serabut : Asbestos, wool mineral
Fume : Logam, polimer (produk dekomposisi politetrafluoroetilen)
Gas & Uap
Cairan
Merkuri
Padat
Plastik

A5. SIFAT FISIK DAN KIMIA
Mengetahui sifat fisik dan
kimia suatu bahan kimia
dapat membantu
mengenali hazard yang
berpotensi

Sifat fisik & kimia ini dapat
diketahui dari MSDS

MSDS harus tersedia di
tempat kerja di mana
bahan berbahaya sedang
digunakan
Autoignition Solubility
Specific Gravity Vapor Density
Vapour
Pressure
Boiling Point
Melting Point Flash Point
Explosive Limits
TITIK DIDIH (Boiling point)
= titik kondensasi
Temperatur dimana suatu
cairan berubah menjadi fasa
uap pada tekanan

Perubahan fase yang berlawanan
disebut titik kondensasi

Utk cairan dengan titik didih yang
tinggi, jalur masuknya terutama melalui
kontak (absorpsi kulit)
Utk cairan dengan titik didih rendah,
jalur masuk terutama melalui inhalasi
SOLDER
Pb/lead : Melting point : 327.46 C ; Boiling point : 1749 C
Sn/tin : Melting pointy : 231.93 C ; Boling point : 2602 C
A6. UKURAN TOKSISITAS
PARTS PER MILLION - ppm
PARTS PER BILLION - ppb
PARTS PER TRILLION - ppt
LETHAL DOSE - LD
50

LETHAL CONCENTRATION - LC
50
THRESHOLD LIMIT VALUE - TLV
IMMEDIATELY DANGEROUS TO
LIFE AND HEALTH - IDLH
Ukuran Toksisitas :
Dosis Letal Median

LD
50

Jumlah (dosis) suatu bahan kimia yang mampu
menimbulkan kematian pada 50% populasi hewan
percobaan yang dipajankan dengan salah satu
metode

mg/kg
Umumnya dinyatakan dengan milligram senyawa per
kilogram berat badan hewan

Ukuran Toksisitas :
Konsentrasi Letal Median

LC
50

Konsentrasi suatu bahan kimia di lingkungan
(umumnya udara atau air) yang menimbulkan
kematian pada 50% populasi hewan percobaan
yang terpajan dalam suatu waktu tertentu

mg/L
Biasanya dinyatakan dengan milligram senyawa per liter
udara atau air (atau ditulis ppm)

Tidak toksik : >15 g/kg (> quart)

Toksik ringan: 5-15 g/kg (pint to a quart)

Toksik sedang: 0.5-5 g/kg (fluid ounce to a pint)

Sangat toksik: 50-500 mg/kg (teaspoon to an ounce)

Amat snagat toksik : 5-50 mg/kg (7 drops to a teaspoon)

Super-toksik : <5 mg/kg (<7 drops)

From Occupational Toxicology, Michael S. Bisesi, Ph.D., R.S., C.I.H., 1992
Ukuran Toksisitas untuk LD
atau LC50?
Bahan Kimia LD
50 (mg/Kg)

Sucrose (table sugar) 29,700
Ethyl Alcohol (booze) 14,000
Sodium Chloride (table salt) 3,000
Vitamin A 2,000
Vanillin 1,580
Aspirin 1,000
Chloroform 800
2,4-D 375
Ammonia 350

LD
50

Kesimpulan
Jumlah suatu toksikan yang dibutuhkan untuk membunuh disebut Dosis Letal.
Suatu LD
50
adalah jumlah suatu toksikan (mis., dosis), per kilogram berat badan, yang diperlukan
untuk membunuh 50% suatu populasi binatang tertentu.
Nilai LD
50
bervariasi amat luas, seperti pada contoh ini...
LD
50
digunakan untuk menggolongkan bahan kimia menurut toksisitasnya seperti tabel di bawah ini
Rating LD50 Contoh Volum
Ekstrim toksik <1 mg/kg Toksin Botulinum <7 tetes
Amat toksik 1-50 mg/kg parathion 1 sendok teh1 ons
Sedikti toksik 500-5000 mg/kg morfin ons sampai 0,5 liter
Praktis tidak toksik 5000-15000 mg/kg etanol 0,5 liter sampai 1 liter
Relatif tidak berbahaya >15000 mg/kg air > 1 liter
Caffeine 192
Phenobarbital 162
DDT 113
Arsenic 48
Sodium Cyanide 6.4
Strychnine 2.5
Nicotine 1.0
Dioxin (TCDD) 0.001
Botulinum toxin 0.00001
Bahan Kimia LD50 (mg/Kg)



LD
50
-Suatu ukuran keracunan akut relatif yg paling sering dipakai
-Dosis bahan yg mampu membunuh separuh dari
populasi binatang percobaan yg terpajan


Contoh Uraian LD
50
Nikotin Sangat sangat beracun <= 1 mg/kg BB
Pb arsenat Sangat beracun 1 50 mg/kg BB
Hidrokinon Cukup beracun 50 500 mg/kg BB
Isopropanol Sedikit beracun 0,5 5 g/kg BB
Asam askorbat Praktis tidak beracun 5 15 g/kg BB
Propilen glikol Relatif tidak berbahaya >= 15 g/kg BB
Toksisitas Relatif
Kriteria Sifat Toksik berdasarkan LD
50
Semua bahan bersifat toksik pada derajat jumlah
tertentu
Gula mempunyai LD
50
30,000 mg/kg
Etanol mempunyai LD
50
13,700 mg/kg
Bahkan air mempunyai LD
50
sedikit lebih besar dari
80,000 mg/kg

Klasifikasi Bahan Toksik
Berdasarkan bentuk fisik
Berdasarkan struktur kimia
Berdasarkan medium
Mis. Oksida nitrogen di udara (dari gas buang kendaraan),
trihalometan di air (dari klorinasi), nitrosamin dalam makanan (dari
nitrit)
Berdasarkan organ targetnya
Mis. Hepatotoksin, nefrotoksik
Berdasarkan mekanisme kerjanya
Asfiksian sederhana (gas inert) dgn menggeser oksigen
Asfiksian kimia yg mengganggu penghantaran atau penggunaan
oksigen mis.CN menghbt sitokrom oksidase, CO bergabung dgn Hb
mbtk HbCO.
Iritan, korosif, sensitizer, karsinogen, toksik
Faktor yg mempengaruhi
KERACUNAN /RISIKO
A. TOKSIKAN
1. Konsentrasi / Dosis 4. Jalur / Route pajanan
2. Lama pajanan 5. Sifat Fisik, Sifat Kimia
3. Frekuensi 6. Toksisitas

B. PEJAMU
1. Efek lokal / sistemik 6. Aktivitas atau stress
2. Predisposisi genetik 7. Berat badan
3. Seks 8. Gizi
4. Usia 9. Status imunologi
5. Kerentanan individu 10. Status hormon, penyakit

C. LINGKUNGAN
1. Interaksi dengan bahan kimia lain
2. Suhu
3. Tekanan atmosfir
4. Kelembaban
B1. Efek Lokal / Sistemik Pejamu
Agen toksik harus mencapai organ spesifik utk
menimbulkan efek toksik
Organ di mana toksikan terkonsentrasi tinggi
tidak selalu organ dimana kerusakan terjadi
Efek toksik bahan kimia menurut skala waktu &
tempat kerjanya
Pajanan Tempat Efek Bahan
Kimia
Akut Lokal
Sistemik
Edema paru
Kerusakan hati
Narkosis
Gas Klorin
CCl4
Halothane
Subkronik Lokal

Sistemik
Sensitisasi

Neurotoksisitas
Toluene
diisosianat
Hexane
Kronik Lokal

Sistemik
Bronkitis
Karsinoma Nasal
Ca kandung kemih
Kerusakan ginjal
SO2
Formaldehid
4-amino bifenil
Cadmium
C. INTERAKSI BAHAN KIMIA
Efek Aditif : 2 + 3 = 5,
efek kombinasi dari dua atau lebih bahan kimia sama dengan jumlah efek dari
masing-masing zat kimia
Pengaruh kombinasi 2 pestisida organofosfat pada aktivitas inhibisi
kolinesterase;

Efek Sinergistik : 2 + 2 = 20,
efek kombinasi dari dua zat kimia yg jauh melebihi penjumlahan dari masing-
masing efek bahan kimia tsb
asbes + merokok kanker paru (Insidens kanker paru meningkat 6x lipat pada
pekerja kontak asbes, meningkat 11x lipat di antara perokok, dan 80x lipat di
antara pekerja kontak asbes yang juga perokok)
CCl4 + Etanol kerusakan hati lebih parah

INTERAKSI BAHAN KIMIA
Efek Potensiasi : 0 + 2 = 10,
suatu keadaan zat A tidak toksik thdp organ tertentu, ttp bila zat A +
zat B, maka menyebabkan zat B lbh toksik
mis isopropanol tdk toksik thdp hati, ttp bila pekerja terpapar CCl4 +
isopropanol, mk kerusakan hati yg tjdi jauh lbh parah drpd efek CCl4
sendiri

INTERAKSI BAHAN KIMIA
Efek Antagonisme : 4 + 6 = 8, 4 + 0 = 1
Antagonisme fungsional : 2 zat menblkan efek berlawanan pd fungsi
fisiologis
Kerja berlawanan antara perangsang & depresan SSP
diazepam + adrenalin

Antagonisme kimia : 2 zat menblkan efek toksik yg berkrg
Kelasi logam berat dengan Chelator dimerkapro

Antagonisme disposisional : mengubah absorpsi, distribusi, metabolisme
atau ekskresi (mis ipekak, charcoal, diuretik, metanol dgn etanol)

Antagonisme bersaing : bersaing mengikat reseptor yg sama
Oksigen & CO terhadap Hb,

Antagonisme non-kompetitif : efek toksik zat kimia dihambat oleh zat lain
yang tidak bekerja pada reseptor yang sama
Atropin mengurangi toksisitas penghambat ACE tidak dengan menghambat
reseptor pada ACE, tetapi dengan menghambat reseptor untuk Ach yg
tertumpuk


FASE TOKSIKOLOGI
ADME: Absorpsi, Distribusi,Metabolisme dan Ekskresi
Senyawa harus masuk ke tubuh lebih dulu dan
mencapai tempat targetnya dlm bentuk aktif agar
menyebabkan efek berbahaya
Fase Toksikologi
Fase Pajanan
Fase Toksikokinetik (ADME)
Absorbsi : jumlah toksikan yang masuk ke dalam tubuh
Distribusi : Organ/Jaringan/Sel yang dicapai
Metabolisme : Transformasi /metabolit bahan kimia
Ekskresi : Eliminasi / Persistensi
Fase Toksikodinamik
Proses Toksikokinetik (TK)
xenobiotik
ABSORPSI DISTRIBUSI METABOLISME EKSKRESI
BARRIER
MEMBRANE
EKSTERNAL
Kulit
Sal. Cerna
Paru-paru
Pools=
depot
sink
PLASMA DARAH
JARINGAN
FASE-1
degradasi
FASE-2
konjugasi
GINJAL
HATI
Paru-paru
Air liur
Keringat
ASI
Fase Absorpsi
Gerakan transmembran : Suatu toksikan melewati
membran sel melalui 4 mekanisme
Difusi sederhana lewat membran Hukum Fick
Filtrasi lewat pori-pori membran pori akuaus
Transport yg diperantarai karier / pembawa
Pencaplokan (pinositosis) oleh sel


Tempat absorpsi
Saluran cerna
Kulit
Paru-paru
LIPID BI-LAYER
Bola merah: komponen fosfat yg polar
Garis merah: ekor lipid atau asam lemak yg non-polar
Senyawa Larut
Lipid
Non-polar, hidrofobik,
organik mengandung
karbon
Diabsorbsi melalui kulit
Memasuki aliran darah
Melewati plasenta
(kadang) dan sawar
darah-otak
Efek sistemik (vs.
lokal)



Senyawa Polar, hidrofilik
Tidak diabsorbsi melalui
kulit
Dapat menimbulkan iritasi
atau rasa terbakar pada
kulit atau selaput lendir
Secara khas tidak masuk
sampai alveol / paru
bagian bawah
Senyawa Larut
Air
DISTRIBUSI
Zat kimia didistribusikan dari sirkulasi umum ke jaringan, biasanya
amat cepat
Kecepatan ditentukan oleh kecepatan aliran darah dan polaritas
(hidrophobisitas) bahan kimia
Terikat dgn protein atau bebas

Efek pada organ target tergantung pada :
Afinitas pada organ (Pb & tulang)
Perfusi tinggi (ginjal, hati, otak)
Penyimpanan dlm organ atau jaringan
Logam berat dlm hati dan ginjal
Logam berat dalam tulang
Seny Organoklorine dlm lemak (DDT, PCB)
Barrier
Otak dan plasenta

Biotransformasi & Ekskresi Toksikan
Senyawa larut air : mudah dieliminasi
Senyawa larut lemak sulit dieliminasi
Biotransformasi : proses di mana material secara
kimiawi diubah agar lebih mudah dieliminasi
(seperti pada senyawa larut lemak)
Biotransformasi dan ekskresi melalui hati
Filtrasi dan ekskresi melalui ginjal
Karena itu, hati dan ginjal berguna untuk
mengeliminasi toksikn dari tubuh, tetapi di lain pihak
menjadi organ target dari toksin karena sifatnya
BIOTRANSFORMASI
Proses di mana senyawa asal dimodifikasi oleh
organisme
Tujuan utama membuat senyawa kimia lebih
larut dlm air dan mudah diekskresi dengan
cara :
Mengurangi kelarutan dlm lemak mengurangi
jumlahnya di tempat target
Meningkatkan kecepatan ekskresi mengurangi
toksisitas

BIOTRANSFORMASI
Organ utama dlm biotransformasi
Hati (tinggi)
Paru, ginjal, usus (medium)
Lain-lain (rendah) : lambung, kulit

Jalur Biotransformasi
Fase I membuat toksikan lebih larut air
Fase II bergabung dgn bahan endogen yg larut
(konjugasi)

BIOTRANSFORMASI

Mekanisme Biotransformasi terbagi dalam 2 jenis
utama :
Reaksi Fase I : rx oksidasi, reduksi & hidrolisis
Reakse Fase II : konjugasi toksikan atau metabolitnya
dengan suatu metabolit endogen
Karena itu, biotransformasi adalah suatu proses
mengubah senyawa asal menjadi metabolit,
kemudian membentuk konjugat
Namun, mungkin yg terjadi hanya salah satu reaksi
saja.
METABOLISME
METABOLIT :
hasil konversi suatu senyawa yg umumnya diperantai oleh
reaksi enzimatik

BIOAKTIVASI (AKTIVASI) :
reaksi yang menghasilkan metabolit yang lebih toksik drpd
senyawa asalnya

DETOKSIKASI :
reaksi yang menghasilkan metabolit yang kurang toksik
drpd senyawa asalnya
Biotransformasi
Dapat secara drastis
mempengaruhi
kecepatan clearance
bahan kimia

Dapat terjadi pada suatu
waktu selama
perjalanan bahan kimia
dari absorpsi sampai
ekskresi
Toksikan Tanpa
Metabolisme
Dengan
Metabolisme
Etanol 4 minggu 10 ml/jam
Fenobarbital 5 bulan 8 jam
DDT Tidak
Terhingga
Bbrp hari sp
minggu

Organ Sasaran / Target
Umumnya toksikan hanya mempengaruhi satu atau beberapa
organ saja (organ sasaran)
Mekanisme yg mendasari umumnya adalah lebih pekanya
suatu organ, atau lebih tingginya kadar bahan kimia atau
metabolitnya di organ sasaran.
Organ sasaran : organ yg paling sensitif thdp pajanan yg tjdi
Benzene terutama toksik pada jaringan pembentuk darah
Pb mempunyai tiga target organ (sistem saraf pusat, ginjal dan sistem
pembentuk darah).
Kadar toksikan dalam organ sasaran tidak selalu yang paling
tinggi.
Mis. Organ sasaran metilmerkuri adalah SSP, tetapi kadar metilmerkuri
di hati & ginjal jauh lebih tinggi
Organ sasaran DDT adalah SSP, tetapi DDT terkumpul di jaringan lemak
Toksisitas Organ Target
Sistem Saraf Pusat Pb
Sistem Immune - isocyanates
Hati - etanol, asetaminofen
Jalan Nafas asap tembakau,
asbes, ozone
Mata Sinar UV (matahr)
Ginjal logam berat
Kulit sinar UV, emas, nikel
Sistem Reproduksi
dibromochloropropane
Efek Toksik Organ Spesifik
Bahan Kimia Spesies Organ Target
Benzene Manusia Sumsum Tulang
Heksaklorobutadien Tikus Kerusakan Tubulus
proksimal ginjal
Paraquat Manusia, tikus Paru
Tri-o-cresylfosfat Manusia Sistem Saraf
Cadmium Manusia Ginjal
1,2-dibromo3-
kloropana
Manusia, tikus Testis
Heksana Manusia, tikus Sistem saraf
Antrasiklin Manusia Jantung
EFEK TOKSIK SOLVENT N-HEXANE
EFEK TOKSIK & REAKSI ALERGI
TRICHLOROETHYLENE
EFEK TOKSIK BENZENE
Bagaimana Xenobiotik Menyebabkan
Toksisitas
Beberapa xenobiotik menyebabkan toksisitas dgn
mengganggu fungsi sel normal :

Mengikat dan merusak proteins (struktural, enzim)

Mengikat dan merusak DNA (mutasi)

Mengikat dan merusak lipid

Bereaksi dalam sel dengan oksigen untuk membentuk
radikal bebas yang merusak lipid, protein, dan DNA

Target Organ : Mekanisme kerja
Efek toksik dapat terjadi pada tingkat :
Molekul
Subseluler
Organ
Organisme

Pada tingkat molekul, Toksikan dapat
berinteraksi dengan :
Protein : Protein struktural, Enzim
Carrier, Koenzim. Co-factor
Lipid
DNA
Lain lain
Reseptor



Mekanisme Kerja Bahan Toksik
Mempengaruhi aktivitas enzim
Membentuk konjugasi dengan enzim
Kompetisi dengan suatu co-factor
Sintesis suatu senyawa baru
Kombinasi langsung dengan suatu konstituen
sel

NILAI AMBANG BATAS
(NAB)
Adalah standard faktor-faktor lingkungan kerja
yang dianjurkan di tempat kerja

agar tenaga kerja masih dapat menerimanya
tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan
kesehatan,

dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak
melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu
Nilai Ambang Batas
Kebanyakan nilai ambang batas pajanan
merupakan petunjuk, bukan batas absolut
antara kondisi aman dan kondisi
berberbahaya.

Pikirkan NAB seperti tanda batas kecepatan
yang dipasang di jalan sewaktu anda
berkendara.
Nilai Ambang Batas
Tidak ada jaminan bahwa jika pajanan terhadap
bahan berbahaya melebihi NAB, anda secara
otomatis mengalami suatu gangguan kesehatan.

Tetap juga, anda tidak dapat beranggapan bahwa jika
anda terpajan pada kadar di bawah NAB, anda tidak
akan menderita gangguan kesehatan.
KATEGORI NILAI AMBANG BATAS (NAB)
Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja No. SE 01/MEN/1997 tentang NILAI AMBANG
BATAS FAKTOR KIMIA DI UDARA LINGKUNGAN KERJA
1. NAB rata-rata selama jam kerja disingkat NAB
2. NAB batas pemaparan singkat, disingkat PSD
atau Pemajanan Singkat yang Diperkenankan
3. NAB tertinggi, disingkat KTD atau Kadar Tertinggi
yang Diperkenankan
104
Contoh Pajanan Rata-rata (TWA)
Anggap 4 sampel pajanan selama satu shift
8-jam

ppm TWA 32
) 1 3 3 1 (
) 100 1 ( ) 30 3 ( ) 20 3 ( ) 10 1 (

(rata-rata langsung = 40 ppm)


Sampel Waktu (T) Konsentrasi (C)
1 1 jam 10 ppm
2 3 jam 20 ppm
3 3 jam 30 ppm
4 1 jam 100 ppm
KATEGORI NILAI AMBANG BATAS
1. NAB rata-rata selama jam kerja (NAB)

-kadar bahan-bahan kimia rata-rata di lingkungan kerja
selama 8 jam per hari atau 40 jam per minggu

-di mana hampir semua tenaga kerja dapat terpajan
berulang-ulang, sehari-hari dalam melakukan
pekerjaannya,

-tanpa mengakibatkan gangguan kesehatan maupun
penyakit akibat kerja


Nilai Ambang Rata-rata
Pajanan rata-rata merupakan konsentrasi
rata-rata menurut waktu untuk waktu kerja
normal 8-jam atau 40 jam seminggu, di
mana hampir semua pekerja dapat terpajan
berulang kali, hari ke hari, tanpa gangguan
kesehatan.

Seperti terlihat pada gambar, pajanan rata-
rata memungkinkan penyimpangan di atas
nilai ambang batas pajanan asalkan
dikompensasi oleh penyimpangan pajanan
di bawah nilai ambang yang sepadan
selama minggu kerja.

TWA
KATEGORI NILAI AMBANG BATAS
2. NAB batas pemaparan singkat (PSD = pemajanan
singkat yang diperkenankan)

-kadar tertentu bahan-bahan kimia di udara lingkungan
kerja di mana hampir semua tenaga kerja dapat
terpajan secara terus menerus dalam waktu yang singkat
yaitu

-tidak lebih dari 15 menit dan tidak lebih dari 4 kali
pemajanan per hari kerja

-tanpa menderita/mengalami gangguan iritasi,
kerusakan atau perubahan jaringan yang kronis serta
efek narkosis
KATEGORI NILAI AMBANG BATAS
3. NAB Tertinggi (KTD = KAdar Tertinggi
yang Diperkenankan)

-kadar tertinggi bahan-bahan kimia di
udara lingkungan kerja setiap saat

-tidak boleh dilewati selama melakukan
pekerjaan
Subtitles & Transitions
FOR EXAMPLE
5 mg/M
3
,
Fraksi
Respirable


15 mg/M
3
,
Debu total
Particulates not
otherwise regulated
(PNOR)
1 ppm Klorine
50 ppm Karbon monoksida
1000 ppm Asetone
KTD NAB Rata2 Bahan
Contoh
Nilai Ambang Batas
Kontaminan Udara
OSHA
PEL, STEL, Ceiling
NIOSH
TWA, STEL, Ceiling
ACGIH
TWA, STEL, Ceiling

PERANAN PEMANTAUAN BIOLOGIS
Deteksi pajanan kulit, inhalasi & ingesti
Deteksi pajanan di luar pekerjaan
Evaluasi keefektifan APD
Evaluasi higiene pekerja, frekuensi kontak
(respirasi), variasi metabolisme
Pemantauan
Lingkungan Kerja
BIOLOGICAL
MONITORING
Survailans Medis
(Pemantauan
Kesehatan)
PENCEGAHAN
Monitoring
Lingkungan
Monitoring Biologi

Survailans
Kesehatan
Pajanan
Eksternal

Pajanan
Internal

Efek
Biokimia
Efek
Biologi
Penyakit

Bahan Kimia:

Di udara,
tanah,
air
Bahan
berbahaya,
Metabolit

Dalam darah,
urin, udara
nafas
Protein dlm urin,
Perubahan DNA
Perubahan Sel

Enzym,
Kadar Enzym
Risiko semakin meningkat
Keracunan !
CARA MENGEVALUASI PAJANAN
Mengukur
di luar tubuh
Mengukur di dalam tubuh
Pajanan bahan kimia
Melalui
udara
Melalui kulit/
saluran cerna
Darah Organ tubuh
Urine Tinja
Efek
Gangguan
kesehatan
Pemantauan
Biologik
Pengujian
lingkungan kerja

PEMANTAUAN BIOLOGIS
Pelengkap dari sampling udara
Menggunakan spesimen seperti udara ekspirasi,
darah, atau urin yang didapat dari pekerja
Biomarker atau determinan
Bahan kimia itu sendiri
Metabolit
Perubahan biokimia yang reversibel

ACGIH memberikan Biological Exposure Indices
(BEI) untuk 41 bahan kimia industri (2003)

Biological Exposure Limits
ACGIH Biological Exposure Indices (BEI) =
Indikator Pemajanan Biologik

Ukuran Pajanan Biologis

Pajanan ekivalen pada TLV / NAB

Limitasi mirip seperti TLV / NAB

Berguna jika pajanan kulit bermakna

Pemantauan Biologis
Contoh :
Tes Urine untuk :

Benzene Phenol, tt-muconic acid
Toluene Hippuric Acid, o-Cresol
Xylene Methyl Hippuric Acid
n-Hexane 2,5 hexanedione*


Bahan Kimia Determinan Media
Kadar Tanpa
Pajanan Waktu Pengambilan Sampel
LOGAM BERAT
Arsen Urine (ug/L) < 30 Akhir minggu kerja

Cadmium Urine (ug/g Cr) 0.02 - 4 Tidak penting
Darah (ug/L) 0.4 - 1 Tidak penting

Chromium Urine (ug/g Cr) < 5 Akhir shift, Akhir minggu kerja

Pb Darah (ug/dL) 2.0 - 9.0 Tidak penting, BEI 50 ug/dL
Urine (ug/g Cr) 10 - 65.0 Tidak penting
ZPP Darah (ug/dL) 16 - 35.0 Tidak penting

Merkuri Urine (ug/L) < 20 Sebelum shift akan datang


CS2 TTCA Urine (mg/g Cr) 0 Akhir shift

CO HbCO Darah (%) 0.4 - 0.7 Akhir shift

Sianida Tiosianat Urine (mg/24 jam) 0.11

Peranan Pemantauan Biologis
Menilai pajanan dari semua jalur
Inhalasi
Ingesti
Absorpsi kulit

Menilai manfaat :
APD
Pengendalian teknis
Faktor manusia
Peraturan
Apa itu Solvent / Pelarut ?
Solvent adalah bahan kimia cair yang digunakan
untuk melarutkan minyak, grease dan cat, atau
bahan dalam cat, glues, epoxy resin, mastik, tinta
dan pestisida.

Sering digunakan untuk bahan cleaning dan
degreasing bahan & alat dan pada pengecatan
semprot.

Contoh al. aseton, alkohol, turpentine, thinner cat,
minyak tanah, mineral spirits, toluene, xylene dan
methylene chloride.
Penggunaan Khas solvent
Spray painting toluene, xylene, mineral spirits
Cleaning logam atau plastik trichloroethylene, trichloroethane
Cleaning alat - acetone, MEK, toluene, xylene, mineral spirits
Produk Fiberglass - acetone
Printing presses berbagai solvent
Silk-screening berbagai solvent
Dry cleaning - perchloroethylene
Furniture refinishing - methylene chloride
Pembuatan plastik berbagai solvent
Elektronik glycol ether
Pajanan Uap Solvent
Aktivitas yang menimbulkan uap solvent dalam jumlah besar
Spraying & spray-painting

Penggunaan yang sering dari kain lap yang dicelup
solvent untuk membersihkan sebagian atau
permukaan yang luas

Pencelupan (Dipping) atau membersihkan
peralatan di kontainer terbuka yang besar

Tumpahan atau pelepasan
yang luas
SOLVENT ORGANIK
PRINSIP UMUM :

Pajanan Solvent ditentukan oleh konsentrasi di udara,
solubilitas, dan frekuensi pajanan.

Konsentrasi uap menjadi lebih tinggi di ruang tertutup
yang berventilasi buruk, dan pada solven dengan
tekanan uap yang tinggi.
Jika terhirup, solven larut lemak mudah masuk ke dalam
darah
Solvent juga dapat melalui kulit, walaupun bukan
merupakan jalur pajanan yang umum
Solvent sering de-fat atau mengiritasi kulit

Penyakit yg berkaitan dgn Solven
Saraf
SSP :Intoksikasi Akut, Ensefalopati
Toksik Kronik, Sakit kepala kimia
SS tepi : neuropati perifer

Hati : Hepatitis kimia
Ginjal : glomerulonefritis
Karsinogen, mutagen
Gangguan Reproduksi
Kulit : dermatitis kontak iritan,
dermatitis kontak alergi

Bill Bowerman mengalami
neuropati perifer akibat n-Hexane
dari glue yg digunakan untuk
membuat sepatu
Beberapa Solvent Berbahaya
Benzene kerusakan darah dan leukemia
N-hexane neuropati perifer (geli & semutan tangan &
kaki)
Methanol kebutaan
Carbon tetrachloride kerusakan hati & ginjal berat
Freon tertentu denyut jantung tidak teratur
Glycol eter tertentu kerusakan janin, hitung sperma berkurang,
kerusakan darah
Banyak bahan kimia ini sudah tidak digunakan lagi karena potensi gangguan
kesehatan yang tinggi. Tetapi kadang muncul dalam jumlah kecil pada produk
dari luar negeri atau sebagai kontaminan tidak sengaja.
Toksikan Logam Berat Utama
Logam berat adalah elemen kimia yang
mempunyai gravitas spesifik (ukuran densitas)
paling sedikit 5 kali air.
Merkuri
Timbal
Cadmium
Aluminum
Arsen
Nikel


Setiap Logam mempunyai Bentuk
yang beragam
Elemental

In-organik (mineral dan garam)

Organik (mis. Metil merkuri, tetra-etil lead)
Sindrom Logam Toksik
Sindrom khusus yang dikaitkan dengan setiap logam
tergantung pada jaringan dan organ di mana logam
dikonsentrasikan.

Distribusi tergantung pada bentuk kimia spesifik logam :
elemental, in-organik atau organik
Senyawa logam organik biasanya lipofilik sehingga dapat
menembus barier darah-otak lebih efisien dan
membuatnya lebih neurotoksik

Garam logam in-organik sering diekskresi melalui ginjal
sehingga membuatnya lebih nefrotoksik
Diagnosis Keracunan Logam
Kadar Urin ( tes khelasi )
Kadar darah (kebanyakan logam, pajanan mutakhir)
Pengukuran rambut( menelusuri riwayat pajanan
logam)
Biomarker
Pajanan, efek dan kerentanan
Gejala :
Neurologi/Psikiatri: Metil Hg dan logam Hg;
Kerusakan ginjal: Pb, kebanyakan logam;
Ruam kulit : Ni dan Cr dermatitis kontak
Perdarahan kapiler, kulit menghitam : As
Gas Berbahaya
Gas Combustible
Hazard ledakan
Harus dipertahankan di bawah LEL
Gas Toksik
Berbahaya bagi kesehatan manusia
Pajanan pekerja harus dibatasi
Gas yg menggantikan Oksigen
Hazard kesehatan manusia tidak langsung
Defisiensi oksigen pernafasan
Gas & Fume menimbulkan hazard pada
paru dengan 5 cara :
1. Menggeser/menggantikan oksigen dari udara inspirasi
menyebabkan (asfiksia sederhana)
2. Diabsorbsi ke dalam sirkulasi sistemik, mengganggu transport
& utilisasi oksigen (asfiksian kimia)
3. Menyebabkan toksisitas sistemik tanpa mempengaruhi
pelepasan oksigen di jaringan
4. Menyebabkan iritasi saluran nafas langsung. Tempat
terjadinya iritasi tergantung kelarutan material gas.
1. Senyawa yg paling larut air diabsorbsi pada konjungtiva dan selaput
lendir hidung & saluran nafas atas (mis. Amonia)
2. Senyawa yang kurang larut air menimbulkan efek pada saluran nafas
bawah (mis. Nitrogen oksida)
5. Menimbulkan respon alergi yang merusak paru secara
langsung atau mengganggu pertukaran gas
Toksikan Gas & Fume
Bahan Toksikan
Asfiksian He H2 CH4 N2
Karbon dioksida/CO2
Metan/CH4
Nitrogen/N2

Asfiksian Kimia
Karbon monoksida/CO
Sianida/HCN
Hidrogen sulfida

Toksikan Sistemik
Gas Arsin
Fosfin
Paraquat
Metal fume fever
Bahan Toksikan
Iritan Langsung Saluran Nafas
Klor/Cl2 kurang larut air
Amonia larut air
Nitrogen oksida tidak larut air
Sulfur dioksida/SO2 larut air
Hidrogen fluorida
Formaldehid
Ozone
Reaksi alergi paru
Isosianat
Garam Platinum
Fumes & Fluks Solder

PENGENDALIAN
BAHAN KIMIA BERBAHAYA
Penyediaan Lembar Data Keselamatan Bahan
(MSDS) dan Label

Penunjukan Petugas K3 Kimia dan Ahli K3
Kimia
Bagaimana mendapatkan informasi
mengenai bahan kimia berbahaya ?
Anda mendapatkan
informasi dengan dua
cara :

dari label produk,

dari lembar data
keselamatan bahan.
38
MATERIAL SAFETY DATA SHEET (MSDS)
LEMBAR DATA KESELAMATAN BAHAN
ADALAH DOKUMEN TENTANG SATU BAHAN
KIMIA YANG HARUS ADA PADA INDUSTRI
YANG MEMBUAT , MENYIMPAN, ATAU
MENGGUNAKANNYA, YANG MEMBERIKAN
INFORMASI TENTANG BAHAN KIMIA TSB.
MENURUT KEPUTUSAN MENAKER No.
187/Men/1999 MSDS HARUS BERISI TTG :
1. IDENTITAS BAHAN DAN PERUSAHAAN
2. KOMPOSISI BAHAN
3. IDENTIFIKASI BAHAYA
4. TINDAKAN P3K
5. TINDAKAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN
6. TINDAKAN THD TUMPAHAN DAN KEBOCORAN
7. PENYIMPANAN DAN PENANGANAN BAHAN
8. PENGENDALIAN PEMAJANAN DAN APD
9. SIFAT2 FISIKA DAN KIMIA
10. REAKTIFITAS DAN STABILITAS
11. INFORMASI TOKSIKOLOGI
12. INFORMASI EKOLOGI
13. PEMBUANGAN LIMBAH
14. PENGANGKUTAN
15. PERATURAN PERUNDANG2AN
16. INFORMASI LAIN YANG DIPERLUKAN
TAHAPAN PENGENDALIAN HAZARD KIMIA
1. Peniadaan 2. Substitusi
3. Engineering
4. Administrasi 5.ORGANISASI 6. APD
Pengendalian teknis : Otomatisasi, Isolasi Sumber Kontaminan , Segregasi (proses pemisahan
/ pemencilan), Ventilasi.

PENGENDALIAN
Sistem Labeling
Pemantauan Lingkungan Kerja
Pemantauan Biologis
Kebersihan Umum
Fasilitas Saniter & Higiene Perorangan
Pelatihan & Pendidikan
Rotasi Pekerjaan
APD
Program K3
Hazard/
Penyakit
Sumber Gangguan
Kesehatan
Program
Kesehatan
Bhn Kimia
Solvent

Cat, Thinner

Irritan, Efek
Multisistem

Survailans pajanan
bahan kimia
Pemantauan pajanan
(Biologic Monitoring)
Fisika
Suara Bising



Pekerjaan
Kayu


Gangguan
Pendengaran

Program Konservasi
Pendengaran
Yang mana yang menentukan
terjadinya risiko pada pajanan
terhadap toksikan ?
A. Respon pekerja
B. Sifat fisik toksikan
C. Dosis toksikan
D. Semua hal di atas
Istilah apa yang digunakan untuk
mengekspresikan toksisitas ?
A. LD50
B. LC50
C. PPM
D. A dan B
Nilai ambang batas
diekspresikan sebagai apa ?
A. Parts per million (PPM)
B. Milligrams per cubic
meter
C. Gram
D. A dan B
Yang mana dari berikut merupakan
jalur pajanan suatu toksikan ?
A. Absorpsi
B. Inhalasi
C. Ingesti
D. Injeksi
E. Semua hal di
atas
F. A,B dan C
Istilah yang digunakan untuk suatu
respon terhadap toksikan yang
tertunda atau akumulatif ?
A. Akut
B. Kronik
C. Lokal
D. Sistemik
Yang mana dari berikut merupakan
suatu neurotoksin.
A. Asbestos
B. Formaldehide
C. Merkuri
D. Karbon
Monoksida
Informasi hazard kesehatan yang
dikaitkan dengan pajanan kimia
dapat dijumpai pada .
A. MSDS
B. Label bahan
kimia
C. Kalender Dunia
D. A dan B
Pajanan berlebihan terhadap bahan
kimia dapat dicegah dengan :
A. Menggunakan fume
hoods
B. Memakai APD
C. Menggunakan bahan
non-toksik
D. Semua hal di atas
Pemantauan bahan kimia dapat
dilakukan oleh Kementerian
kesehatan :
A. Benar
B. Salah
Survailans Medis dapat dilakukan
oleh Departemen Personalia
Perusahaan :
A. Benar
B. Salah