Anda di halaman 1dari 144

Tutorial Presentation

Obstruksi saluran kemih


Tujuan pembelajaran
Klasifikasi obstruksi saluran kemih (LUTS
dan UUTS)
Etiologi dan patofisiologi kasus di skenario
Pemeriksaan kasus di skenario
Tatalaksana kasus di skenario
Komplikasi kasus di skenario
Klasifikasi obstruksi saluran kemih
pendahuluan
Obstruksi saluran kemih bisa terjadi karena
sumbatan pada saluran kemih bagian atas
(ureter, ginjal) maupun saluran kemih
bagian bawah (VU, urethra)
Istilah medis biasanya menyebutkan Lower
Urinary Tract Symptoms dan Upper Urinary
Tract Symptoms
LUTS
pendahuluan
Penyebab obstruksi saluran kemih bagian
bawah bisa kongenital atau didapat, dengan
durasi yang akut maupun kronis, dan sifat
sumbatannya bisa parsial ataupun total.
Pengertian Obstruksi Saluran Kemih Bawah
(OSKB) adalah ketidakmampuan kandung
kemih untuk mengeluarkan sebagian atau
seluruh isinya sehingga melampaui
kapasitas maksimal kandung kemih.
LUTS
Obstruksi saluran kemih bagian bawah
biasanya terjadi karena obstruksi pada
vesica urinaria maupun urethra
Etiologi LUTS
Etiologi obstruksi saluran kemih bagian
bawah (OSKB) dapat disebabkan oleh
kelainan congenital maupun kelainan yang
didapat
Kelainan kongenital LUTS
Stenosis meatus uretra eksternum
Stenosis uretral distal (pada wanita)
Gangguan Katup uretra posterior
Kerussakan radiks kolumna vertebralis
sacral setinggi 2-4, spina bifida, atau
meningomielokel.
Kelainan didapat LUTS
Striktura uretra
Pembesaran kelenjar prostate (jinak/ ganas)
Batu uretra
Stenosis leher kandung kemih
Disfungsi neurogenik
Obstipasi (biasanya pada anak dan usia lanjut)
Trauma uretra.
Infeksi (sering pada wanita)
Kelainan urethra (striktura)
Tekanan hidrostatik yang meningkat pada
bagian proksimal dari obstruksi akan
menimbulkan dilatasi dari uretra pada
bagian ini.
Dinding uretra menipis dan bisa
menimbulkan divertikel.
Lower Urinary Tract Symptoms
Macam batu saluran kemih
Batu saluran kemih (urolitiasis)
Kelainan vesica urinaria
Bila proses obstruksi berlangsung terus
maka otot kandung kemih tidak mampu
untuk melakukan kompensasi sehingga otot
detrusor akan mengalami kegagalan dalam
mengatasi obstruksi (terjadi retensi urin)
Retensi urin karena BPH
Stadium ca prostat
Gejala klinis LUTS
Adanya obstruksi saluran kemih bawah
akan memberikan sekumpulan gejala yang
populer diistilahkan sebagai LUTS (lower
urinary tract symptoms). Patofisiologi LUTS
didasarkan atas 2 kelompok gejala, yaitu :
Voiding symptom;
Storage symptom;
Voiding symptoms
yaitu gejala yang muncul sebagai akibat
kegagalan buli untuk mengeluarkan sebagian
atau seluruh isi kandung kemih, antara lain:
weakness of stream (pancaran kencing
melemah), abdominal straining (mengejan),
hesitancy (menunggu saat akan kencing),
intermittency (kencing terputus-putus), disuria
(nyeri saat kencing), incomplete emptying
(kencing tidak tuntas), terminal dribble (
kencing menetes).
Storage symptoms
yaitu gejala yang muncul sebagai akibat
gangguan pengisian kandung kemih, bias
karena iritasi atau karena perubahan
kapasitas kandung kemih, antara lain :
frekuensi, urgensi, nocturia, incontinensia
(paradoxal), nyeri suprasimfisis.
Level obstruksi - komplikasi
Level obstruksi bisa pada kandung kemih
maupun pada uretra atau keduanya.
Obstruksi saluran kemih bawah yang tidak
mendapat penanganan yang adekuat
akhirnya dapat menyebabkan kelainan pada
saluran kemih atas, dari yang ringan sampai
gagal ginjal.
UUTS
Obstruksi saluran kemih bagian atas
1. obstruksi mekanik
2. obstruksi fungsional
Obstruksi mekanik
a. kongenital
b. defek intrinsik didapat
c. defek ekstrinsik didapat
Obstruksi mekanik kongenital
obstruksi atau penyempitan ureteropelvic
junction, obstruksi atau penyempitan
ureterovesical junction, ureterocele,
retrocaval ureter
Defek intrinsik didapat pada obstruksi
mekanik
calculi, inflamasi, infeksi, trauma, sloughed
papila, tumor, bekuan darah, kristal asam
urat
Macam batu saluran kemih
Urolitiasis saluran kemih atas
Defek ekstrinsik didapat pada obstruksi
mekanik
uterus hamil, fibrosis retroperitoneal, aneuryma
aorta, leomyoma uteri, karsinoma uterus, prostat,
bladder, colon, rectum, limfoma, pelvic inflammatory
disease, endometriosis, accidental surgical ligation
Obstruksi fungsional
adynamic ureter, reflux vesicoureteral
Grades of reflux
Reflux risiko infeksi
BPH
pendahuluan
BPH (benign prostatic hyperplasia) adalah
suatu penyakit yang disebabkan oleh faktor
penuaan, dimana prostat mengalami
pembesaran memanjang keatas kedalam
kandung kemih dan menyumbat aliran urin
dengan cara menutupi orifisium uretra.
Pembesaran prostat
Teori patofisiologi BPH
Menurut Basuki (2000), hingga sekarang
belum diketahui secara pasti penyebab
prostat hiperplasi, tetapi beberapa
hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasi
prostat erat kaitannya dengan peningkatan
kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses
penuaan.
Retensi urin karena BPH
stroke
pendahuluan
Stroke

(stroke, cerebrovascular accident,
CVA) adalah suatu kondisi yang terjadi
ketika pasokan darah ke suatu bagian otak
tiba-tiba terganggu.
Dalam jaringan otak, kurangnya aliran
darah menyebabkan serangkaian reaksi
biokimia, yang dapat merusakkan atau
mematikan sel-sel saraf di otak
Hipertensi, gangguan tidur, dan inkontinensia
urin
hipertensi
Gangguan tidur
Inkontinensia urin
Peningkatan insidensi gangguan berkemih
pada lansia
Pemeriksaan kasus di skenario
diagnosis
Didasarkan atas:
1. Anamnesis
2. Pemeriksaan jasmani
3. Lab dan penunjang lainnya
anamnesis
Anamnesis atau wawancara perlu dilakukan
dengan cermat guna untuk mendapatkan data
tentang riwayat penyakit penderita secara
lengkap sehingga dapat menunjang dalam
mendiagnosis.
Untuk menentukan berat ringannya suatu BPH
berdasarkan gejala yang diperoleh dari
anamnesis, terdapat dua sistem skoring yaitu
skoring menurut Madsen-Iversen dan skoring
menurut International Prostate Scoring System
(IPS
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang
penting yang dapat
dilakukan pada pasien
dengan BPH yaitu colok
dubur atau digital rectal
examination disamping
pemeriksaan fisik pada regio
suprapubik untuk mencari
kemungkinan adanya
distensi buli-buli dan regio
costovertebra (CVA) untuk
mencari kemungkinan
adanya komplikasi ke ginjal
akibat BPH.
Rectal Toucher
Selain dengan wawancara atau kuesioner
dan mempelajari riwayat medis, diagnosis
BPH ditegakkan dengan perabaan melalui
anus (digital rectal examination/DRE).
Rectal toucher
Retensi urin
Tes darah
Tes darah dapat digunakan untuk
mengecek kadar antigen prostat spesifik
(PSA) pada pasien yang dicurigai memiliki
BPH.
Positif palsu tes PSA
Namun, tes PSA dapat memberikan hasil
yang palsu. Hasil positif palsu terjadi ketika
tingkat PSA tinggi dan ada kanker.
Hasil negatif palsu terjadi bila tingkat PSA
normal dan kanker prostat ada. Karena itu,
biopsi biasanya dilakukan untuk
mengkonfirmasi atau menyingkirkan
kemungkinan kanker ketika tingkat PSA
tinggi.
Tatalaksana kasus
pendahuluan
Terapi pada pasien BPH mempunyai tujuan
untuk mengembalikan kualitas hidup
pasien. Terapi yang ditawarkan tergantung
pada derajat keluhan, keadaan pasien,
maupun kondisi objektif kesehatan pasien
yang diakibatkan oleh penyakitnya
Terapi BPH
Watchfull waiting
Terapi medikamentosa
Terapi intervensi
Watchfull waiting
Biasanya dilakukan pada pasien dengan keluhan
ringan (skor IPSS < 7 atau skor Madsen Iversen 9)
yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.
Nasehat yang diberikan ialah jangan banyak minum
dan mengkonsumsi kopi atau alkohol setelah makan
malam, kurangi makanan atau minuman yang
menyebabkan iritasi pada buli-buli, batasi
penggunaan obat-obat dekongestan seperti
fenilpropanolamin dan jangan menahan kencing
terlalu lama.
Kemudian setiap 3 bulan pasien diminta untuk
datang kontrol dengan ditanya dan diperiksa tentang
perubahan keluhan.
Terapi medikamentosa
Tujuannya adalah untuk mengurangi resistensi
otot polos prostat atau mengurangi volume
prostat sebagai komponen statik. Jenis obat yang
digunakan yaitu:
(1) antagonis reseptor adrenergik- seperti
fenoksibenzamin, prazosin dan doksazosin,
(2) inhibitor 5- reduktase seperti finasteride dan
dutasteride,
(3) fitofarmaka yang berupa ekstrak tumbuh-
tumbuhan yang dapat memperbaiki gejala akibat
obstruksi prostat, seperti eviprostat.
kateter
Terapi intervensi
(1) teknik ablasi jaringan prostat atau
pembedahan,
(2) teknik instrumentasi alternatif (invasif
minimal)
Teknik ablasi jaringan prostat
seperti open prostatektomi, (Transurethral
Resection of the Prostate) TURP,
(Transurethral Incision of the Prostate) TUIP
dan elektrovaporisasi.
TURP
TURP
TUIP
Teknik instrumentasi alternatif
yaitu interstitial laser coagulation (ILC),
(Transurethral Needle Ablation of the
Prostate) TUNA, dilatasi balon, termoterapi,
(High Intensity Focused Ultrasound) HIFU,
dan stent uretra.
ILC - interstitial laser coagulation
Komplikasi kasus
pendahuluan
Level obstruksi bisa pada kandung kemih
maupun pada uretra atau keduanya.
Obstruksi saluran kemih bawah yang tidak
mendapat penanganan yang adekuat
akhirnya dapat menyebabkan kelainan pada
saluran kemih atas, dari yang ringan sampai
gagal ginjal.
komplikasi
1. retensi urine akut dan involusi kontraksi
kandung kemih
2. refluks kandung kemih, hidroureter dan
hidronefrosis
3. gross hematuria dan urinary tract
infection ( UTI )
Grades of reflux
Reflux risiko infeksi
referensi
1. Purnomo B Basuki. Hiperplasia Prostat. Dalam: Dasar-dasar Urologi Edisi Kedua. Jakarta : Sagung
Seto; 2008.p.69-85
2. Jr. Lawrence M Tierney, McPhee J Stephen, Papadakis A Maxine. Benign Prostatic Hyperplasia.
Dalam: LANGE Current Medical Diagnosis & Treatment Adult Ambulatory & Inpatient Management.
United States of America : The McGraw-Hill Companies; 2002.p.978-85
3. National Kidney and Urologid Diseases Information Clearinghouse (NKUDIC). Prostate Enlargment
: Benign Prostatic Hyperplasia [online]. 2006 Jun [cited 2009 Nov 22]; Available from:
http://kidney.niddk.nih.gov
4. Mansjoer Arif, Suprohaita, Wardhani Wahyu Ika, Setiowulan Wiwiek. Pembesaran Prostat Jinak.
Dalam: Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 2. Jakarta : Medica Aesculaplus Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2007.p.329-34
5. Benign Prostatic Hyperplasia [online]. 2009 Nov 22 [cited 2009 Nov 22]; Available from:
http://www.wikipedia.com
6. Sjamsuhidayat R, de Jong Wim. Hipertrofi Prostat. Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta :
EGC; 2005.p.782-6
7. Leveilee J Raymond,MD,FRCS(Glasg). Prostate Hyperplasia, Benign [online]. 2009 Jun 8 [cited 2009
Nov 22]; Available from: http://www.emedicine.com
8. McVary T Kevin,MD. Prostatic Hypertrophy. United States of America : Humana Press Inc; 2004
9. Pembesaran Prostat Jinak (BPH, Benign Prostatic Hyperplasia) [online]. 2009 [cited 2009 Nov 22];
Available from: http://www.medicastore.com