Anda di halaman 1dari 32

Rekonsiliasi Fiskal

Pajak Penghasilan Badan


oleh
Arie Widodo

SUKSES ?
FAKTOR KUNCI KEBERHASILAN PENGISIAN SPT PPH BADAN
1
PERATURAN
PPH BADAN
(UU No.
36/2008 dan
peraturan
pelaksanaan)
2
SPT PPH
BADAN dan
PROGRAM
eSPT
2
3
EKUALISASI
Perhitungan PPh Badan
WAJIB PAJAK
BADAN
Laporan Laba / Rugi
Penghasilan xxx
Biaya (xxx)
Laba xxx
Koreksi Fiskal xxx
Laba Fiskal xxx
Kompensasi kerugian (xxx)
Penghasilan Kena Pajak xxx
Pajak Terutang xxx
Pajak dibayar dimuka (xxx)
Pajak yang harus/(lebih)dibayar xxx
Pasal 6
Pasal 22, 23,
24, 25
Pasal 4
Pasal 9, 4(2),
4(3)
Pasal 17
Pasal 29, 28A
Pasal 6
3
PPH TERUTANG
o Mekanisme Perhitungan PPh Terutang
o Cara Menghitung PPh Terutang
o Contoh
4
Tarif PPh
Pasal 17 Ayat (1) Huruf b UU PPh 2008

Besaran tarif : 28% (tahun 2009), 25% (tahun 2010 dst)
bagi WP badan dalam negeri dan BUT
PPh terutang : tarif x penghasilan kena pajak
5
Contoh:
Jumlah peredaran bruto dalam tahun pajak 2010 Rp 54.000.000.000,00. Jumlah
Penghasilan Kena Pajak dalam tahun pajak 2010 Rp 4.000.000.000,00

Pajak Penghasilan yang terutang
= 25% x Rp 4.000.000.000,00 = Rp 1.000.000.000,00
Tarif PPh
WPDN Perseroan Terbuka
Pasal 17 Ayat (2b) UU PPh 2008 & PP 81/2007
Besaran tarif: 5% lebih rendah daripada tarif umumnya
Tarif ini diterapkan bagi Wajib Pajak badan dalam negeri yang berbentuk perseroan
terbuka yang jumlah kepemilikan saham publiknya 40% (empat puluh persen)
atau lebih dari keseluruhan saham yang disetor dan saham tersebut dimiliki paling
sedikit oleh 300 (tiga ratus) Pihak.
Masing-masing Pihak tersebut hanya boleh memiliki saham kurang dari 5% (lima
persen) dari keseluruhan saham yang disetor. Ketentuan kepemilikan saham tersebut
harus dipenuhi oleh Wajib Pajak dalam waktu paling singkat 6 (enam) bulan dalam
jangka waktu 1 (satu) tahun pajak.
Ilustrasi
Jumlah PKP dalam tahun pajak 2010 Rp 1, 25 Miliar
PPh yang terutang = (25% - 5%) x Rp1,25 Miliar = Rp 250 Juta
6
7
Contoh

PT. XYZ Tbk. yang disetor, saham yang dimiliki publik sebesar
45%. Saham yang dimiliki publik tersebut dimiliki oleh 325
pihak. Diantara 325 pihak, terdapat 1 pihak yang persentase
kepemilikannya sebesar 7%, sisanya 324 pihak hanya memiliki
persentase kepemilikan kurang dari 5%. Kondisi tersebut terjadi
selama 200 (dua ratus) hari kalender dalam 1 (satu) tahun
pajak. PT. XYZ Tbk, tidak memenuhi ketentuan jumlah
kepemilikan saham publik 40% (hanya 38%) sehingga tidak
dapat memperoleh fasilitas penurunan tarif.



Tarif PPh
WPDN Perseroan Terbuka
8
Tarif PPh
WPDN Perseroan Terbuka
Contoh 2 :

PT. Y Tbk. yang disetor, saham yang dimiliki publik sebesar 60%.
Saham yang dimiliki publik tersebut dimiliki oleh 400 pihak.
Diantara 400 pihak, terdapat 1 pihak yang persentase
kepemilikannya sebesar 7%, sisanya 399 pihak hanya memiliki
persentase kepemilikan kurang dari 5%. Kondisi tersebut terjadi
selama 234 (dua ratus tiga puluh empat) hari dalam 1 (satu)
tahun pajak.

PT. Y Tbk. tetap memenuhi ketentuan persentase kepemilikan
kurang dari 5%, sehingga tetap memperoleh fasilitas penurunan
tarif.



Tarif PPh WPDN Tertentu
Pasal 31 E UU PPh 2008, SE-66/PJ/2010

WP badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp 50
Miliar
fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif umum yang
dikenakan atas PKP dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp 4,8
Miliar
Bukan Pilihan dan tidak perlu menyampaikan permohonan
Ketentuan Perhitungan (1)
peredaran bruto sampai dengan Rp 4,8 Miliar


9

PPh terutang = 50% X 25% X seluruh PKP


Ilustrasi :

Peredaran bruto PT DOREMI dalam tahun pajak 2010 sebesar Rp 4,5 Miliar
dengan PKP sebesar Rp 500 Juta

PPh terutang =

50% x 25% x Rp 500 Juta = Rp 62,5Juta



10
Tarif PPh WPDN Tertentu
Tarif PPh WPDN Tertentu


Ketentuan Perhitungan (2)
peredaran bruto lebih dari Rp 4,8 Miliar s.d. Rp 50 Miliar

PPh Terutang =


11
(50% x 25%) x
PKP dari bagian
peredaran bruto yang
memperoleh fasilitas
25% x PKP
dari bagian peredaran
bruto yang tidak
memperoleh fasilitas

PKP dari bagian bruto yang memperoleh fasilitas:
Rp 4,8 Miliar x PKP
Peredaran Bruto
Tarif PPh WPDN Tertentu

Ilustrasi :
Peredaran bruto PT DOREMI tahun pajak 2010 sebesar Rp 30 Miliar
dengan PKP sebesar Rp 3 Miliar

PKP dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas :
(Rp 4,8 Miliar : Rp 30 Miliar) x Rp 3 Miliar = Rp 480 Juta
PKP dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh fasilitas:
Rp 3 Miliar Rp 480Juta = Rp 2,52 Miliar

PPh terutang:
(50%x 25% x Rp 480 Juta) + (25% x Rp 2,52 Miliar)
Rp 60 Juta + Rp 630 Juta
Rp 690 Juta


12
REKONSILIASI FISKAL
o Latar Belakang
o Koreksi Fiskal
o Benchmarking
o Ekualisasi
13
Sekilas Rekonsiliasi Fiskal
14
Penghasilan &
Biaya
Komersial
penyesuaian
REKONSILIASI
FISKAL
Penghasilan &
Biaya Fiskal
SPT TAHUNAN
PPh BADAN
Rekonsiliasi Fiskal Yang Efektif
15
1 Pahami struktur penghasilan & biaya fiskal
2
Pengelompokkan penghasilan & biaya
sesuai format SPT Tahunan PPh Badan
3 Pahami dan lengkapi dukungan ekualisasi
4
Data hasil rekonsiliasi fiskal mendukung
respon konfirmasi data KPP (isu
benchmarking & penelitian AR)
KOREKSI FISKAL
Perbedaan antara laba (rugi) komersial dengan fiskal
Wajib pajak tidak perlu membuat pembukuan ganda, melainkan cukup
pada waktu mengisi SPT Tahunan PPh terlebih dahulu harus dilakukan
koreksi-koreksi fiskal.
Koreksi fiskal dilakukan baik terhadap penghasilan maupun terhadap
biaya-biaya (pengurang penghasilan bruto).
16
Latar Belakang :
Koreksi Fiskal dapat dibedakan menjadi koreksi fiskal positif
dan koreksi fiskal negatif
Koreksi Fiskal Positif
koreksi fiskal yang mengakibatkan laba fiskal menjadi meningkat, akibat dari
berkurangnya biaya dan meningkatnya penghasilan.
Contoh : Koreksi biaya penelitian di luar negeri
Koreksi Fiskal negatif
koreksi fiskal yang mengakibatkan laba fiskal menjadi menurun, akibat dari
bertambahnya biaya dan menurunnya penghasilan
Contoh : Koreksi penghasilan yang bersifat final

17
KOREKSI FISKAL
Format 1
Laba Komersial XXXXX
Beda Tetap : XXXXX
- Sumbangan XXXXX
- Natura XXXXX
- Penghasilan Bunga Deposito (XXXXX)
Beda Waktu : XXXXX
- Penyusutan XXXXX
- Penyisihan piutang tak tertagih XXXXX
Laba Fiskal XXXXX
Kompensasi Kerugian (XXXXX)
Penghasilan Kena Pajak XXXXX
PPh Terutang XXXXX
Kredit Pajak (XXXXX)
PPh Kurang/(Lebih) Bayar XXXXX
18
Format 2
Deskripsi Komersial Koreksi Fiskal Fiskal
Penghasilan XXXXXXX XXXXXXX
HPP (XXXXXXX) (XXXXXXX)
Laba Bruto XXXXXXX XXXXXXX
Biaya Operasional
- Biaya Adm (XXXXXXX) (XXXXXXX)
- Biaya Penjualan (XXXXXXX) (XXXXXXX)
Laba Operasional XXXXXXX XXXXXXX
Penghasilan Lain XXXXXXX XXXXXXX
Biaya Lain-lain (XXXXXXX) (XXXXXXX)
Laba Bersih XXXXXXX XXXXXXX
Kompensasi Kerugian (XXXXXXX)
Penghasilan Kena Pajak XXXXXXX
19
Keterkaitan Terkini Rekonsiliasi Fiskal
20
SPT
Tahunan
PPh Badan
SPT Masa PPh &
PPN
Benchmarking
Data Pihak Ke-3
Penelitian
KEWAJARAN
Benchmarking
SE-96/PJ/2009, SE-11/PJ/2010 & SE-68/PJ/2010
21
disusun menurut kelompok
usaha
rasio-rasio yang berkaitan
dengan tingkat laba dan input-
input perusahaan
ada keterkaitan antar rasio
benchmark
fokus pada penilaian
kewajaran kinerja keuangan &
pemenuhan kewajiban
perpajakan
Karakteristik
alat bantu dalam membina wajib pajak
alat bantu menilai kepatuhan perpajakan
tidak dapat digunakan secara langsung
sebagai dasar penerbitan surat ketetapan
pajak
kinerja keuangan yang lebih rendah
daripada benchmark, tidak selalu berarti
tidak melaksanakan kewajiban
perpajakannya dengan benar.
Penggunaan
Pengaturan Benchmarking
22
Penetapan rasio benchmark menggunakan data perpajakan tahun 2005 s.d. 2007
Rasio-rasio yang diatur :
Gross Profit Margin (GPM) rasio antara laba kotor terhadap penjualan
Operating Profit Margin (OPM) rasio antara laba bersih dari operasi terhadap
penjualan
Pretax Profit Margin (PPM) rasio antara laba bersih sebelum dikenakan pajak
penghasilan terhadap penjualan
Corporate Tax to Turn Over Ratio (CTTOR) rasio antara pajak penghasilan
terutang terhadap penjualan

Pengaturan Benchmarking
23

Rasio-rasio yang diatur :
Net Profit Margin (NPM) rasio antara laba bersih setelah pajak penghasilan
terhadap penjualan
Dividend Payout Ratio (DPR) rasio antara jumlah dividen tunai yang
dibayarkan terhadap laba bersih setelah pajak
Rasio PPN Masukan rasio antara jumlah PPN Masukan yang dikreditkan
dalam satu tahun pajak terhadap Penjualan, tidak termasuk pajak masukan
yang dikreditkan dari transaksi antar cabang

Pengaturan Benchmarking
24

Rasio-rasio yang diatur :
Rasio biaya gaji terhadap penjualan
Rasio biaya bunga terhadap penjualan
Rasio biaya sewa terhadap penjualan
Rasio biaya penyusutan terhadap penjualan
Rasio "input antara" lainnya terhadap penjualan
Rasio penghasilan luar usaha terhadap penjualan
Rasio biaya luar usaha terhadap penjualan

Ekualisasi
Omzet PPh Badan vs PPN
Penyebab selisih

Omzet PPh Badan bukan objek PPN
DPP PPN tidak termasuk omzet PPh Badan :
Penyerahan antar cabang, pusat-cabang
Pemakaian sendiri/pemberian cuma-cuma
Pengalihan/penjualan aktiva (Pasal 16D UU PPN)
Beda waktu penerbitan Faktur Pajak
Selisih kurs pencatatan pada pembukuan & penerbitan Faktur Pajak
Beda waktu pengakuan Nota Retur

25
Kertas Kerja Ekualisasi 1
@ ORTax Team 2010
26
Omzet cfm. SPT Tahunan PPh Badan xxxxxxxx
Penyerahan (lokal & ekspor) cfm. SPT Masa PPN
Januari xxxxxxxx
xxxxxxxx
Desember xxxxxxxx
Total penyerahan xxxxxxxx
Selisih xxxxxxxx
Bukan objek PPN xxxxxxxx
Penyerahan antar cabang,pemakaian sendiri, pemberian cuma-
cuma, pengalihan aktiva
(xxxxxxx)
Penjualan tahun lalu; FP tahun ini (xxxxxxx)
Penjualan tahun ini; FP tahun berikutnya xxxxxxxx
Selisih kurs xxxxxxxx
Pengembalian tahun lalu; NR tahun ini xxxxxxxx
Pengembalian tahun ini; NR tahun berikutnya (xxxxxxxx)
Total xxxxxxxx
Ekualisasi Biaya Gaji vs PPh Pasal 21
Penyebab selisih

Bukan objek PPh Pasal 21: JHT, natura/kenikmatan
Selisih kurs pencatatan pada pembukuan & pemotongan PPh Pasal 21


27
Kertas Kerja Ekualisasi 2
28
Biaya gaji dll cfm. SPT Tahunan PPh Badan xxxxxxxx
Penghasilan bruto cfm. SPT Masa PPh Pasal 21/26
Januari xxxxxxxx
xxxxxxxx
Desember xxxxxxxx
Total penghasilan bruto xxxxxxxx
Selisih xxxxxxxx
Natura, kenikmatan xxxxxxxx
JHT xxxxxxxx
Selisih kurs xxxxxxxx
Total xxxxxxxx
Ekualisasi Biaya Jasa, Sewa & Bunga vs PPh Pasal
23/26 & 4 Ayat (2)/15
Penyebab selisih

Biaya jasa, sewa, bunga & royalti ; dividen bukan objek PPh Pasal 23/26 &
4 Ayat (2):
pembelian material, pembayaran gaji pegawai outsourcing, ketentuan Tax
Treaty
Selisih kurs pencatatan pada pembukuan & pemotongan PPh Pasal 23/26 &
4 Ayat (2)

29
Kertas Kerja Ekualisasi 3
30
Biaya imbalan jasa, sewa, bunga,& royalti ; dividen cfm. SPT Tahunan
PPh Badan
xxxxxxxx
Penghasilan bruto cfm. SPT Masa PPh Pasal 23/26; 4 Ayat (2); 15
Januari xxxxxxxx
xxxxxxxx
Desember xxxxxxxx
Total penghasilan bruto xxxxxxxx
Selisih xxxxxxxx
Pembelian material xxxxxxxx
Pembayaran gaji pegawai outsourcing xxxxxxxx
Bukan objek cfm. Tax Treaty xxxxxxxx
Selisih kurs xxxxxxxx
Total xxxxxxxx
Ekualisasi PPh Pasal 26 & PPN JLN
Penyebab selisih

Objek PPN tetapi bukan objek PPh Pasal 26 cfm. Tax Treaty:
penyerahan jasa tidak melalui BUT
Objek PPh Pasal 26 tetapi bukan objek PPN:
bunga dan dividen
Selisih kurs pemotongan PPh dan penyetoran PPN


31
Kertas Kerja Ekualisasi 4
32
DPP PPN JLN cfm. SPT Masa PPN xxxxxxxx
Penghasilan bruto cfm. SPT Masa PPh Pasal 26
Januari xxxxxxxx
xxxxxxxx
Desember xxxxxxxx
Total penghasilan bruto xxxxxxxx
Selisih xxxxxxxx
Penyerahan jasa tidak melalui BUT xxxxxxxx
Bukan objek PPN JLN (bunga, dividen) xxxxxxxx
Selisih kurs xxxxxxxx
Total xxxxxxxx