Anda di halaman 1dari 23

Tympanometric

Pembimbing:
Dr. Erna M Marbun, Sp.THT

Mitha Stefany
112012176

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT
RUMAH SAKIT HUSADA
PERIODE 19 MEI 2014 21 JUNI 2014

Abstrak
Timpanometri memberikan informasi kuanitatif mengenai keberadaan cairan pada
telinga bagian tengah, mobilitas system pada telinga tengah, dan volume pada liang
telinga
Penggunaan timpanometri dilakukan pada bayi diatas 7 bulan
Penulusuran timpanogram diklasifikasikan menjadi 3 tipe:
a. tipe A (normal)
b. tipe B (datar, abnormal)
c. tipe C ( menunjukkan adanya tekanan negative yang signifikan pada telinga
tengah )
Otitis Media dengan efusi (OME)
Terdapatnya cairan pada telinga tengah tanpa adanya tanda-tanda ataupun gejala dari infeksi
Otititis Media Akut (OMA)
Terdapat efusi pada telinga tengah, onset mendadak, serta terdapat tanda-tanda dan gejala dari
peradangan akut dari telinga tengah, nyeri pada telinga tengah, anak menjadi gelisah, demam.
OMA merupakan penyakit yang sering terjadi pad aanak-anak dan merupakan
indikasi diberikannya antibiotik
Dalam menentukan definisi untuk OMA dan OME diperlukan deteksi keberadaan
efusi pada telinga tengah.
Timpanometer merupakan suatu alat yang dapat menyediakan informasi secara
kuantitatif pada fungsi struktur dan adanya cairan pada telinga tengah
Tampilan grafik / data tersebut adalah timpanogram
Penggunaan pneumoatik otoskopik dapat digunakan bersamaan
Gunakan pneumoatik otoskopik terlebih dahulu sebelum melakukan timpanometri
Karena dapat membantu melihat apakah ada serumen yang menyumbat liang
telinga, apakah ada perforasi pada membrane timpani, serta karakteristik dari
membrane timpani.
Pneumoatik otoskopik menghasilkan data secara kualitatif
Mobilitas, warna pada membrane timpani
Timpanometri menghasilkan data kuantitatif
Misalnya angka atau grafik yang dihasilkan dari tekanan negative atau positif,
serta penyerapan energy pada telinga tengah.
Pedoman dari AAP/AAFP/ AHRQ memerlukan timpanometri, pneumatic otoskopik ,
timpanosentesis, visualisasi cairan di liang telinga luar untuk membuktikan adanya
efusi di telinga tengah untuk mendiagnosa OMA.
Pedoman lainnya menyarankan timpanometri untuk mengevaluasi fungsi telinga
tengah pada bayi yang diduga memiliki gangguan pendengaran
Dalam prakteknya, penggunaan timpanometri dan pneumatic otoskopik dalam
mendiagnosa OME masih kurang

Tingkat Keberhasilan
Tingkat keberhasilan untuk melakukan tympanometry (yaitu , kemampuan untuk
mendapatkan tympanogram tracing yang berguna secara klinis ) adalah antara 74
dan 94 persen
Dalam sebuah penelitian kecil di Turki, mengkonfirmasi efusi telinga tengah oleh
myringotomy merupakan Gold Standard
tympanometry memiliki nilai prediksi positif dan spesifisitas 96 dan 92 persen
Penggunaan Timpanometri
Probe diletakkan pada telinga tengah bagian luar
Stimulus suara mentransmisikan energy akustik ke liang telinga
Pompa vakum akan memperlihatkan tekana positif dan negative ke dalam liang
telinga
Sebuah mikrofon akan dapat mendeteksi kembali energy suara tersebut

Interpretasi Hasil
Gambar Kurva 1 adalah gambaran telinga normal
Memiliki gambaran ketinggian maksimum yang normal
dan lebar kurva yang normal dan lebar kurva yang
normal
Volume liang telinga normal
Kurva ini disebut sebagai tipe A

Gambar 2A, merupakan kurva datar, disebut sebagai tipe B
Volume liang telinga normal
Penyebab paling sering dari pola kurva ini adalah
penurunan mobilitas membrane timpani sampai ke efusi
pada telinga tengah (OME)
Penyebab lainnya adalah peningkatan kekakuaan dari
gendang telinga (jaringan parut), timpanosklerosis,
kolesteatoma, atau tumor pad atelinga tengah
Gambar 2B menggambarkan tipe kurva yang sangat
datar dengan volume yang rendah dari liang telinga
Menunjukkan adanya oklusi parsial dari liang telinga
karena serumen atau penempatan probe yang tidak
tepat
Gambar 2C menggambarkan tipe B dengan pengukuran
volume yang tinggi
Pada keadaan perforasi dari membrane timpani, energy
akustik akan diserap oleh udara yang ada di telinga tengah
lalu akan menghasilkan volume yang terditeksi lebih tinggi
dari normal

Gambar 2D secara kualitatif mirip dengan yang
sebelumnya namun timpanogram terlalu lebar
Kurva tersebut hampir mendekati normal atau OME yang
akan berlangsung atau akan sembuh, dan timpanosklerosis
Gambar 2E, tipe C
Menunjukkan terdapat tekanan negative pada telinga
tengah yang berhubungan dengan retraksi dari
membrane timpani
Infeksi saluran pernapasan atas dapat mengganggu fungsi
ventilasi dari tuba eustachius
Tekanan negative pada telinga tengah menyebabkan isi
cairan dari nasofaring masuk ke telinga tengah sehingga
terjadi OMA
Kurva tipe C dibedakan menjadi 2 yaitu kurva C1 (tekanan
negative) dan C2 ( tekanan negative yang sangat tinggi)

Gambar 2F menunjukkan tekanan positif yang sangat
tinggi secara konsisten dengan membrane timpani yang
menonjol
Timpanometer dapat menganalisa data dan memberikan pesan apabila terjadi suatu
kesalahan
BLOCKED : volume saluran telinga sangat rendah
(ujung probe tidak masuk dengan benar, liang telinga yang tersumbat karena serumen)
OPEN : volume saluran telinga sangat tinggi
(segel probe yang tidak adekuat, perforasi membrane timpani)
LEAK : perangkat tidak mampu menghasilkan tekanan yang diinginkan liang telinga
Komentar Akhir
Timpanometer merupakan alat diagnostic terjangkau
OMA dan OME membutuhkan bukti kehadiran adanya efusi pada telinga tengah
Timpanometri dapat membantu mendiagnosa OME dan OME (kurva datar, tipe B
dengan volume liang telinga yang normal) tapi masih sulit membedakan keduanya
OMA juga dapat menghasilkan tekanan positif pada telinga tengah (Gambar 2F),
volume saluran telinga yang tinggi , perforasi membrane timpani (Gambar 2C)
Pemeriksaan Fisik termasuk pneumatic otoskopik dan timpanometri mungkin
merupakan metode yang ideal untuk membuktikan adanya efusi di telinga tengah
pada OMA dan OME
Timpanometri juga dapat memberikan informasi yang berguna mengetahui tekanan
negative atau positif pad atelinga tengah , dimana tidak bisa dilakukan jika dengan
pneumatic otoskopik

Referensi
Onusko E. Tympanometry. Am Fam Physician. 2004 November 1; 7(9):
1713-1720
THANK YOU