Anda di halaman 1dari 160

Jelaskan anatomi KGB leher, thyroid

dan anatomi jaringan leher ?


Galuh Ajeng Laaswati
2010730041
Anatomi Leher :

Kelenjar limfe (kelenjar getah bening)
Kelenjar
thyroid

6
Kelenjar limfa leher
Sistem aliran limfa leher penting untuk
dipelajari
Hampir semua radang atau keganasan kepala
leher manifestasi pada kelenjar limfa leher
75 kelenjar limfa terdapat pada tiap sisi leher




Kuliah FK Universitas Muhammadiah 3
Maret 2010
7
Kelenjar limfa leher
Di bagi atas beberapa area :
Rangkaian jugularis interna
Superior, medial dan inferior
Spinalis accesorius
Sub mental dan sub mandibula
Servikalis superfisial
Retrofaring
Para trakea
Skaleneus anterior
Contoh : jugularis interna superior menerima aliran limfa
dari palatum mole, tonsil, posterior lidah, sinus piriformis
dasar lidah, sinus piriformis, dan laring supraglotik
Kuliah FK Universitas Muhammadiah 3
Maret 2010
8
Kelenjar limfa leher
Pembagian area Sloan Caterine Memorial Center
I. Submental & submandibula
II. 1/3 atas, kelenjar limfa jugularis superior, kelenjar
digastrik dan kelenjar servikal posterior superior
III. Kelenjar limfa antara bifurkasio karotis dan
persilangan m omohioid dengan m
sternokleidomastoid dan batas posterior m
sternokleidomastoid
IV. Kelenjar di daerah jugularis inferior dan
supraklavikula
V. Segitiga posterior servikal
Kuliah FK Universitas Muhammadiah 3
Maret 2010
9
ALIRAN KGB LEHER
Kuliah FK Universitas Muhammadiah 3
Maret 2010
10
paratrakea
Kuliah FK Universitas Muhammadiah 3
Maret 2010
EMBRIOLOGIS KELENJAR THYROID
Minggu ke 5
Asal : arcus branchialis iv.
Minggu ke 7
Menempati posisi di depan trachea
Mulai berfungsi pada pada akhir bulan ke 3.
Abberant thyroid tissue :
Di mana saja.
Paling sering : pangkal lidah
Terletak di leher bagian depan
2 lobus : kiri dan kanan
Isthmus menghubungi ke 2 lobus
Sebesar ibu jari tangan
Berat : 20 25 gram
Sintesa hormon thyroxin
Fungsi : metabolisme dan pertumbuhan

Merupakan kelenjar endokrin
Kel. Thyroid :
Lobus kiri
Lobus kanan
Lobus pyramidalis
Ukuran : 5 cm
Isthmus
Kapsul thyroid :
True ( kapsula propria )
False ( bagian luar fascia pretra-chealis )
Berbentuk u
Isthmus terfiksir pada
cincin trachea 2, 3 dan 4
Bagian caudal cartilago cricoidea.
( Ligamentum Berry)
Lobus pyramidalis :
Fiksasi : Tepi caudal os hyoid
Levator gland. thyroidea.
Facies :
Anterolateral
Medial
Posterolateral
Kelenjar thyroid berfungsi :
Sintesa hormon thyroid
Menyimpan
Sekresi
Fungsi hormon thyroid :
Pertumbuhan
Metabolisme
Sel follikuler :
Konsentrasi yodida
Sintesa thyro-globulin
Sekresi T
4
dan T
3
Yodida TGI sel follikuler oksidasi
kombinasi MIT dan DIT T
3
dan T
4
simpan
di kolloid lepas ke dalam darah
T
4
Diproduksi secara primer
T
3
Kebanyakan perubahan dari T
4
menjadi T
3
di
hati diikat protein plasma
TBG ( Tiroxin Binding Globulin )
TBPA ( Tiroxin Binding Pre Albumin )
PRODUKSI DAN REGULASI
HORMON TIROID
Hipotalamus


Pituitary ant


Tiroid

T R H
T S H
T
3
dan T
4
Sekresi T
3
dan T
4
Mekanisme umpan balik
Hipotalamus
Hipofise
Hormon tiroid :
Tinggi TSH
Rendah TSH
PRODUKSI DAN REGULASI
HORMON TIROID
Sel parafollikuler :
Sintesa
Simpan
Sekresi
Kalsitonin : hambat resorbsi tulang
PRODUKSI DAN REGULASI
HORMON TIROID
Kalsitonin
T
4
meningkat :
Wanita hamil
KB
T
4
menurun :
Steroid anabolik / androgen
Penyakit hati
Salisilat dan sulfonamid
PRODUKSI DAN REGULASI
HORMON TIROID
Kelainan thyroid dapat disebabkan oleh :
Kelainan bawaan
Kekurangan yodium
Infeksi
Trauma
Neoplasma
Pembesaran kelenjar tiroid
Struma diffusa toxic ( Basedow = Graves Disease )
Struma nodosa toxic ( Plummer Disease )
Struma endemik :
Uninodosa = Soliter
Multinodosa
Tiroiditis
Neoplasma :
Jinak = adenoma
Ganas = karsinoma
Pembesaran kelenjar gondok baik pada 1 maupun ke 2
lobus akibat berbagai sebab dengan atau tanpa
gangguan produksi hormon
Bisa terjadi pada :
Masa puber / akil baliq
Masa kehamilan
Uninoduler
Multinoduler
Diffusa
Toxic
Non toxic
Produksi hormon : bisa
Normal ( Goiter endemik )
Kurang ( Hypothyroidism )
Berlebihan ( hyperthyroidism )
Multinodosa atau uni nodosa
Disebabkan :
Defisiensi yodium
Defek bawaan
T
3
dan T
4
: normal
Struma nodosa non toxic
Goiter endemik
Produksi hormon : normal
Defisiensi yodium
Lebih sering pada daerah pegunungan
Endemik : 10 % populasi
Struma non
toxic
Graves Disease = Basedow (90 %)
Otoimmun
1,5 2 % Wanita AS
Wanita : Laki-laki = 10 : 1
Struma hashimoto
Tumor thyroid
Struma toxic
HYPERTHYROIDISM
Graves disease
Toxic multinodular goiter
Toxic Adenoma
Thyroiditis
Tanda Tanda Toxic
Kulit : hangat, halus dan tipis
Denyut jantung meningkat
Nafsu makan meningkat tapi berat badan menurun
Buang air besar banyak kali / hari
Gelisah, emosi labil dan tremor
Otot lemah
Menstruasi : sering anovulatory
Penyulit Hipertiroidi
Krisis hipertiroidi
Demam dan tanda-tanda hipertiroidi /tirotoksikosis
sistem kardiovaskuler ; sistem gastro intestinal ; sistem SSP
Bisa koma
Didahului stress fisik, pembedahan, infeksi atau trauma
HYPOTHYROIDISM
Defisiensi hormon thyroid
Penyebab :
Thyroid agenesis
Post thyroidektomi
Post radioiodine therapy
Autoimmune thyroid disease
Gambaran klinik :
Apati dan lesu
Tidak tahan dingin
Bicara lemah
Konstipasi
Depresi
Psikosis
HYPOTHYROIDISM
KRETINISM
Kekurangan hormon thyroid
Kekurangan yodium yang hebat sejak bayi
Terjadi gangguan perkembangan fisik dan mental
Kulit kering dan kasar
Jarak ke 2 mata lebar
Hidung lebar
Lidah besar dan menonjol keluar
Terapi hypothyroidism :
Berikan hormon thyroid
HYPOTHYROIDISM
THYROIDITIS
Peradangan pada thyroid dengan kerusakan
jaringan thyroid
Thyroiditis :
Akut
Sub akut
Kronik
Penyebab Thyroiditis :
Infeksi :
Viral Thyroiditis (De Quervains Thyroiditis)
Radiasi
Idiopathic : Riedels Thyroiditis
Autoimmune :
Hashimotos Thyroiditis
THYROIDITIS
NEOPLASMA THYROID
Neoplasma :
Jinak = adenoma
Ganas = karsinoma
Diagnosis pasti : PA
KANKER THYROID
2 4 kasus / 100.000 ( Belanda )
Indonesia ?
Wanita lebih banyak.
Etiologi pasti ?
80 % jenis papiller.
FAKTOR RISIKO Ca.TIROID
Riwayat radiasi
Riwayat keluarga
Nodul soliter :
Anak-anak
Laki-laki dewasa
Nodul tiroid tumbuh relatif cepat dan tidak sakit
FAKTOR RISIKO
Struma pada anak-anak
Struma pada laki-laki
Struma pada wanita > 45
Pernah radiasi di leher
Umur < 25 th : 50 % ganas
Umur < 15 th : 75 % ganas
KANKER THYROID
Gambaran klinik :
Tumbuh cepat
Konsistensi keras
Permukaan berbenjol-benjol
Melekat dengan jaringan sekitar
Ulkus di atas tumor
Suara parau
GAMBARAN KLINIK
Nodul ganas :
Batas tidak tegas
Konsistensi keras
Permukaan tidak rata
Terletak di isthmus
Ada pembesaran kelenjar regional
Gejala invasi lokal tumor
Suara serak
Gangguan menelan
Sesak
Nodul keras dan terfiksir
Pembesaran kel.Getah bening
KLASIFIKASI Ca. TIROID
Epithelial
Non epithelial
KLASIFIKASI Ca. TIROID
Epithelial :
1. Adenokarsinoma papiller
2. Adenokarsinoma follikuler
3. Undifferentiated karsinoma /anaplastik :
Small cell ca.
Giant cell ca.
Spindle cell ca.
4. Karsinoma meduller
5. Squamous cell ca.
Non epithelial :
1. Limphoma
2. Sarcoma
3. Metastatic tumor
4. Malignant teratoma
5. Unclassified tumor
KLASIFIKASI Ca. TIROID
Well differentiated
Type papillare
Type folliculare
Type medullare
Undifferentiated
Type anaplastik
KLASIFIKASI Ca. TIROID
KARSINOMA TIROID PAPILIFERUM
Tumbuh secara lambat
Differensiasi baik
Uniform
Metastasis secara limfogen
Metastasis : paru-paru dan tulang
Infiltrasi trachea atau oesophagus
KARSINOMA TIROID FOLLIKULER
Bersifat lebih ganas
Differensiasi baik
Metastasis secara hematogen
Jarang ke kelenjar
Invasi pembuluh darah
KARSINOMA TIROID MEDULLER
Sel c / para follikuler
Amiloid
Kalsitonin
Karsinoma solidum (keras)
Bersama gangguan hormonal lain
Familier
Metastasis ke kelenjar regional

KARSINOMA ANAPLASTIK
Tumbuh cepat
Fatal :
Penekanan
Invasi
Obstruksi
Banyak mitosis
Metastasis jauh
MULTIPLE ENDOCRINE NEOPLASIA
( MEN )
Klasifikasi MEN
MEN type I = Wermer syndrome
MEN type II = Sipple syndrome
MEN type III = Mucosal neuroma syndrome
Klasifikasi lain :
MEN type I
MEN type II a = type II
MEN type II b = type III
MEN type I
Terdiri dari tumor atau hyperplasia pada :
Tiroid
Paratiroid
Pancreatic islet cells
Pituitary
Korteks adrenal
MULTIPLE ENDOCRINE NEOPLASIA
( MEN )
MEN type IIa
Phaeochorocytoma
Medullary thyroid carcinoma ( MTC )
Hyperplasia paratiroid
Glioma
Glioblastoma
Meningioma
MULTIPLE ENDOCRINE NEOPLASIA
( MEN )
MEN type IIb
MTC
Phaeochromocytoma
Neuroma pada :
Conjunctiva
Labial
Mucosa buccal
Lidah
Larynx
Saluran cerna
MULTIPLE ENDOCRINE NEOPLASIA
( MEN )
PENANGANAN MALIGNITAS
Diagnosis
Staging
Status penampilan
Rencana terapi
Pelaksanaan terapi
Evaluasi / follow - up
DIAGNOSIS Ca.TIROID
Anamnesis ( faktor risiko )
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang
FNAB
Frozen section
USG thyroid
Scanning thyroid
Laboratorium
PEMERIKSAAN PENUNJANG
FNAB :
Core Needle
Jarum halus
Akurasi : tinggi ( 88 95% )
Frozen section = Potong Beku = VC
Untuk tentukan ganas atau jinak
Menentukan jenis tindakan
Sulit bedakan :
Adenoma follikulare
Ca. follikulare
Adenoma follikulare isthmolobektomi
PEMERIKSAAN PENUNJANG
USG tiroid :
Nodul solid / kistik
Nodul jinak / ganas ?
Guiding untuk fnab
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Scanning tiroid :
Up-take I
131
Aktifitas thyroid
Bentuk
Besar
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Scanning tiroid :
Nodul soliter
Multiple nodul
Struma retro sternal
Occult neoplasma
Fungsi tiroid
Ektopik
Metastasis
PEMERIKSAAN PENUNJANG
SCANNING TIROID
Gambaran scanning :
Cold nodule
Hot nodule
Warm nodule
Normal
Tc 99m :
Lebih baik
Lebih teliti
Efek karsinogenik < kecil
LABORATORIUM
Tidak ada yang spesifik kecuali untuk ca.
Tiroid jenis meduller
Kalsitonin :
Diagnosis
Follow-up
Tiroglobulin : follow - up
KANKER THYROID
Penatalaksanaan
Total thyroidektomi
Radical neck dissection
Radiasi interna / externa
KOMPLIKASI OPERASI
Durante operasi
Perdarahan
Krisis tiroid
Cedera nervus, trachea dan oesophagus
Paratiroid terangkat
Pasca operasi :
Hematom
Tracheomalacia
Hipokalsemia
Suara parau / hilang
Tersedak
KOMPLIKASI OPERASI
Prognosis
Paling Baik : Type Papillare
Paling Jelek : Type Anaplastik
EMBRIOLOGIS PAYUDARA
Merupakan kelenjar subkutis
Tumbuh sejak minggu ke 6
Merupakan penebalan ektodermal
Terletak di garis susu
ANATOMI
Terletak antara Iga 2 - Iga 6
Dari tepi sternum - linea axillaris media
Diameter : 10 - 20 cm
Tebal : 5 - 7 cm
Terdiri dari 15 - 20 lobi
Ada 20 40 lobuli.
Ditopang oleh Lig. Cooper.
Mendapat darah dari a. mammaria
interna dan a. thoracalis lateralis
ANATOMI
FISIOLOGI
Dipengaruhi oleh hormon
Ada 3 macam perubahan payudara
Perubahan I
Masa Anak Puber
Perubahan II
Masa Fertilitas
Perubahan III
Masa klimakterum Menopause
KELAINAN PAYUDARA
Bisa disebabkan oleh :
Kelainan Pertumbuhan
Anomali
Infeksi
Neoplasma
Hormonal
KELAINAN PERTUMBUHAN
Makromastia
= hypertropi payudara
Ginekomastia
= hypertropi payudara laki-laki
ANOMALI PAYUDARA
Amastia
Sangat jarang
Mamma Aksesoris
Terletak di garis susu
Umumnya di ketiak
Mamma Aberan
INFEKSI PAYUDARA
Mastitis Puerperalis Akut
Infeksi payudara pada minggu pertama laktasi
Disebabkan Stafilokokus
Mastitis Tuberkulosa
Galaktokel
Fistel Paraareola
NEOPLASMA PAYUDARA
Neoplasma Jinak
Neoplasma Ganas
KLASIFIKASI
Kriteria
Dupont, Pages dan Rogers
1. Non Proliferative
2. Proliferative lesions without atypia
3. Atypical Hyperplasia
Kriteria
Dupont, Pages dan Rogers
1. Non Proliferative
Cysts
Papillary apocrine change
Epithelial-related calcification
Mild Hyperplasia of the usual type
KLASIFIKASI
Kriteria
Dupont, Pages dan Rogers
2. Proliferative Lesions without Atypia
Moderate or Florid ductal hyperplasia of the
usual type
Intraductal Papilloma
Sclerosing adenosis
Fibroadenoma
3. Atypical Hyperplasia
Atypical ductal hyperplasia
Atypical lobular hyperplasia
NEOPLASMA JINAK PAYUDARA
Kelainan Fibrokistik
Fibroadenoma
Tumor Phyllodes
Papiloma Intraduktal
Adenosis Sklerosis
Nekrosis lemak
FIBROCYSTIC CHANGES
Umumnya ditemukan pada umur 20 40 tahun
Diduga akibat gangguan keseimbangan hormon
Perubahan morfologik yang dominan adalah :
Cyst formation and Fibrosis
Epithelial hyperplasia
Sclerosing adenosis
FIBROCYSTIC CHANGES
SCLEROSING ADENOSIS
Gambaran histologik yang khas : Fibrosis
intralobular dan pro-liferasi acini dan duktus
kecil
Risiko Ca Mamma meningkat 1,5 2 x

FIBROADENOMA MAMMA
Bentuk bulat atau lobulated
Konsistensi seperti karet
Mobil dan tidak nyeri
Umumnya soliter
10 15 % multiple
Mamma kiri > kanan
Paling sering pada kwadran lateral atas
INTRADUCTAL PAPILLOMA
Terjadi pada duktus subareola
Paling sering menyebabkan serous atau
serosanguinous nipple discharge
10 % multiple
Soliter papilloma bukan lesi pra-kanker
Terapi terpilih adalah : microdochectomy
TUMOR PHYLLODES
Pertama kali dipaparkan oleh : Johannes Muller (1838)
Dahulu disebut Cystosarcoma phyllodes
WHO : Tumor Phyllodes
Merupakan tumor Fibroepitelial
0,3 0,5% dari semua Neoplasma payudara
Sering residif lokal
Tidak metastasis ke kelenjar regional
Gambaran klinik
Bentuk bulat atau lonjong
Batas tegas, mobil
Konsistensi ada bagian yang kistik dan padat
seperti karet
Tidak melekat pada kulit dan otot pectoralis
Kulit tegang dan mengkilat
TUMOR PHYLLODES
ATYPICAL HYPERPLASIA
Risiko Kanker Payudara meningkat jadi
5x
KANKER PAYUDARA
Insidens tinggi di negara maju
Penyebab kematian ke 2
Mencemaskan penderita dan keluarga
Sering ditemukan sendiri
Fase preklinik
Fase klinik
INSIDENS
Bervariasi
Tinggi : AS dan Eropa Utara
Rendah : Asia
Sangat jarang : < 20 th
Jarang : < 30 th
Tinggi pada :
Umur 45 49 th. ( Indonesia)
Umur > 50 th ( Negara maju )
Laki laki : 1%
Herediter : 5%
INSIDENS
Indonesia
No. 1 Kanker Serviks
No. 2 Kanker Payudara
Sul-Sel dan negara maju :
No. 1 Kanker Payudara
No. 2 Kanker Serviks
INSIDENS
Penyebab kanker payudara
Yang pasti ???
Hormon
Genetik
Diet
Radiasi
FAKTOR RISIKO
Haid pertama dini ( < 12 th )
Menopause lambat
Tidak pernah hamil
Riwayat keluarga ( + )
Tidak kawin
Melahirkan anak I > 35 th
Faktor risiko tinggi
Tidak menyusui anak
Pernah operasi payudara sebelahnya
Ada keluarga yang menderita
Pernah radiasi daerah dada
Pernah terapi hormon yang lama
Gejala dan Tanda
Terjadi perubahan bentuk payudara
Ada benjolan dengan luka yang sukar sembuh
Retraksi papilla mamma
Nipple discharge
Kulit payudara berubah warna
Peau dorange
Dimpling
Ada pembesaran kelenjar regional
Luka lecet di areola yang tidak sembuh setelah diterapi 2 minggu
PEMERIKSAAN PAYUDARA
Inspeksi
Palpasi
Posisi Duduk dan baring
Periksa dengan Jari-jari
Periksa seluruh payudara
Inspeksi :
Bentuk payudara
Simetris
Kelainan di areola
Retraksi papilla
Peau dorange
Dimpling
Warna kulit
PEMERIKSAAN PAYUDARA
Palpasi :
Lokalisasi Tumor
Ukuran Tumor
Konsistensi Tumor
Permukaan Tumor
Perlekatan dengan jaringan sekitar
Suhu raba
Pembesaran kel. limfe regional
PEMERIKSAAN PAYUDARA
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
Rutin
Kimiawi
Tumor Marker
Foto Thorax
Bone Survey
USG
Mammografi
FNA
Tru Cut Needle Aspiration
Frozen Section
Biopsi Insisi
Biopsi Eksisi
PEMERIKSAAN PENUNJANG
DIAGNOSIS DINI
Pemeriksaan Payudara sendiri (SADARI)
Pemeriksaan Payudara
BAJAH (Biopsi Jarum Halus)
Biopsi
Setiap bulan, rutin
Setelah menstruasi
Awal 20-an
Kenal payudara sendiri
Sensitifitas : 20 30%
Penyuluhan
PENATALAKSANAAN
1. Diagnosis
2. Stadium
3. Status penampilan
4. Rencana terapi
5. Pelaksanaan
6. Prognosis
Follow-up
Rekonstruksi / Rehabilitasi
DIAGNOSIS
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang
DIAGNOSIS PASTI
Standar Baku Emas


Pemeriksaan Histopatologis
STAGING
Berfungsi untuk :
Menentukan stadium
Menentukan jenis tindakan /terapi
Evaluasi hasil terapi
Menentukan Prognosis
Membandingkan hasil suatu terapi dengan jenis
terapi lain
SISTEM TNM
T = Tumor
N = Node ( kelenjar )
M = Metastasis jauh
cTNM
pTNM
sTNM
rTNM
aTNM
SISTEM TNM
T
x
= tumor primer tidak bisa diketahui
T
o
= tumor primer tidak teraba
T
is
= carcinoma insitu
T
1
= < 2 cm
T
2
= >2 - < 5 cm
T
3
= > 5 cm
T
4
= tumor melekat pada kulit atau otot pectoralis
SISTEM TNM
N = kelenjar limfe regional
N
x
= N tidak dapat ditentukan
N
o
= Tidak ada metastasis ke kelenjar limfe regional
N
1
= Metastasis ke kel. limfe aksila ipsilateral dan mobil
N
2
= Metastasis ke kel.limfe aksila ipsilateral dan
terfiksir satu dengan lainnya
N3 = Metastasis ke kel.limfe infraclavicular ipsilateral
atau pada kel.limfe mammaria interna ipsilateral +aksila
atau metastasis ke kel. supraclavicular + mammaria int dan
aksila
SISTEM TNM
M = Metastasis jauh
M
x
= Metastasis jauh belum dapat dibuktikan
M
o
= Tidak ada metastsaia jauh
M
1
= Ada metastasis jauh ( termasuk metastasis ke
kel. supraclavicular ipsilateral )
SISTEM TNM
STADIUM
STADIUM T N M
0
T
is
N
0
M
0
I
T
1
N
0
M
0
IIa
T
0
N
1
M
0
T
1
N
1
M
0
T
2
N
0
M
0
IIb
T
2
N
1
M
0
T
3
N
0
M
0
STADIUM
STADIUM T N M
IIIa
T
0
N
2
M
0
T
1
N
2
M
0
T
2
N
2
M
0
T
3
N
1
M
0
T
3
N
2
M
0
IIIb
T
4
N
0
M
0
T
4
N
1
M
0
T
4
N
2
M
0
STADIUM
STADIUM T N M
IIIc
Any T N
3
M
0
IV
Any T

Any N

M
1
STAGING
S
T
A
G
E
I
IIA
IIB
IIIA
IIIB
IV
Stadium
Dini
Stadium
Lanjut
STATUS PENAMPILAN
KARNOFSKY : 0 100
W H O : 0 4
RENCANA TERAPI
Operasi
Kemoterapi
Radioterapi
Hormonal Terapi
Immunoterapi
PENANGANAN
KANKER PAYUDARA
Terapi Kuratif
Terapi Paliatif
Terapi Kuratif
Terapi operatif
Terapi Adjuvant
Kemoterapi
Radioterapi
Terapi Hormonal
PENANGANAN
KANKER PAYUDARA
Terapi Paliatif
Terapi operatif
Kemoterapi
Radioterapi
Hormonal terapi
PENANGANAN
KANKER PAYUDARA
Terapi Operatif ( Kuratif )
BCT
Radical Mastectomy
Modified Radical Mastectomy
Terapi operatif ( Paliatif )
Simple Mastectomy
PENANGANAN
KANKER PAYUDARA
Hormonal Terapi :
Bilateral Ovarektomi
Adrenalektomi
Hypophisektomi
Anti Oestrogen
PENANGANAN
KANKER PAYUDARA
STADIUM DINI : ( KURATIF )
B C T
M R M
Adjuvant terapi :
Kemoterapi
Radioterapi
Hormonal terapi
STADIUM LANJUT ( PALIATIF )
Utama : Hormonal Terapi
Tambahan :
Radioterapi / Kemoterapi
Operasi
EVALUASI RESPONS PENGOBATAN
Remisi komplit
Remisi sebagian
Perbaikan
Tidak ada perbaikan
Progresif
PROGNOSIS
KETAHANAN HIDUP
5 tahun 10 tahun
S
T
A
G
E
I 85% 70%
II 66% 50%
III 41% ?
IV 10% ?
S
T
A
G
E
I 95%
II 80%
Haid Zuckerman
FOLLOW-UP
3 bulan, 6 bulan
1, 3, 5 tahun
Sampai 20 tahun
Soft Tissue Sarcoma bisa ditemukan dimana saja di dalam tubuh
Berasal dari jaringan mesenchym extra-skeletal, terletak antara
epidermis dan jaringan parenchym organ
Tumor yang berasal dari sistem lymphoid dan jaringan spesifik
organ tidak termasuk Soft Tissue Tumor
Ada lebih dari 50 jenis
Soft Tissue Sarcoma sangat jarang
Hanya 1 % pada orang dewasa dan 715% pada
anak-anak
Lokasi yang paling sering :
Ekstremitas ( 59% )
Tubuh ( 19% )
Retroperitoneum ( 13% )
Kepala leher ( 9% )
Yang pasti ??
Faktor Risiko :
Trauma
Zat Kimia ( Herbicide )
Radiasi
Chronic Lymphedeme
Genetik
Yang paling sering :
Malignant Fibrous Histiocytoma
Liposarcoma
Synovial Sarcoma
Fibrosarcoma
Sarkoma Payudara
Tumor Desmoids
Dermatofibrosarcoma protuberans
Bisa berasal dari :
Intracompartmental
Extracompartmental
Intermuskuler
Subcutaneous
= Reactive Zone terdiri dari
Sel-sel tumor yang terkompresi
Zone fibrovaskuler dari jaringan ikat reaktif
Tebal tipisnya tergantung pada type histologis dan
grading tumor
High grade tumor mempunyai zone reaktif yang
tidak jelas
Umumnya berupa massa asymptomatik
Tidak spesifik
Tumbuh lambat
Tidak nyeri
Metastasis secara :
Hematogen ( paling sering )
Limfogen ( sangat jarang = 13% )
Sarcoma Ekstremitas:
Stad. dini metastasis ke paru-paru
Stad. Lanjut metastasis ke tulang
Sarkoma abdomen dan pelvis metastasis ke hepar
dan paru-paru

Low grade : jarang metastasis ( < 15 % )
High Grade : lebih sering metastasis ( > 50 % )
Sarcoma yang sering metastasis secara
limfogen adalah :
Epitheloid sarcoma
Embryonal Rhabdomyosarcoma
Angiosarcoma
Biopsi
Core Needle Aspiration
FNA
USG
CT Scan
Tumor < 3 cm : biopsi eksisi
Tumor > 3 cm : biopsi insisi
Insisi kulit harus longitudinal
Harus dilakukan hemostasis yang baik
Tumor Primer ( T )
T
x
= Tumor tidak bisa diukur
T
o
= Tidak ada tumor
T
1
= 5 cm
T
1a
= Tumor diatas fascia superficialis
T
1b
= Tumor invasi atau terletak di bawah fascia
superficialis
T
2
= > 5 cm
T
2a
= Tumor diatas fascia superficialis
T
2b
= Tumor invasi atau terletak di bawah fascia
superficialis
Kelenjar Limfe Regional ( N )
N
x
= Kel.limfe regional tidak bisa diperiksa
N
o
= Tidak ada metastasis ke kel.limfe regional
N
1
= Ada metastasis ke kelenjar limfe regional
Metastasis Jauh ( M )
M
x
= Metastasis jauh tidak bisa diketahui
M
o
= Tidak ada metastasis jauh
M
1
= Metastasis jauh
Histopathologic Grade
G
x
= Grade tidak bisa diketahui
G
1
= Differensiasi Baik
G
2
= Differensiasi Sedang
G
3
= Differensiasi Jelek
G
4
= Undifferentiated
Stage G T N M
Ia G 1-2 T 1a-1b N
0
M
0
Ib G 1-2 T 2a N
0
M
0
IIa G 1-2 T 2b N
0
M
0
IIb G 3-4 T 1a-1b N
0
M
0
IIc G 3-4 T 2a N
0
M
0
III G 3-4 T 2b N
0
M
0
IV Any G Any T N
1
M
0
Any G Any T N
0
M
1
STAGE GROUPING
Operatif
Radioterapi
Kemoterapi
Terapi kombinasi
Operatif
Reseksi luas
Reseksi Compartemen
Limb-sparing Surgery
Amputasi
Jenis operasi tergantung :
Lokasi Tumor
Ukuran Tumor
Dalamnya invasi tumor
Apakah sudah melibatkan stuktur vital
disekitarnya
Status penampilan pasien
Radioterapi
Brachiterapi
External Radioterapi
Tujuan utama adalah : local control
Dalam 2 tahun pertama
Kontrol setiap 3 bulan
Foto thorax setiap 6 bulan
Dalam 2 5 tahun
Kontrol setiap 6 bulan
Setelah 5 tahun
Kontrol dan Foto thorax setiap tahun