Anda di halaman 1dari 12

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

DENGAN SYOK KARDIOGENIK



by: FERA ARYANI, SKM


PENGERTIAN
Syok kardiogenik merupakan akibat dari
kegagalan jantung untuk memompa darah
secara efektif ke seluruh tubuh
disebabkan oleh tidak adekuatnya perfusi
jaringan akibat dari kerusakan fungsi ventrikel
Syok dapat dapat dibagi dalam tiga tahap yang
semakin lama semakin berat., yaitu :

1. Tahap I, syok berkompensasi (non-progresif),
ditandai dengan respons kompensatorik, dapat
menstabilkan sirkulasi, mencegah kemunduran lebih
lanjut.
2. Tahap II, tahap progresif, di tandai dengan
manifestasi sistemis dari hipoperfusi dan
kemunduran fungsi organ.
3. Tahap III, refrakter (irreversible), ditandai dengan
kerusakan sel yang hebat tidak dapat lagi dihindari,
yang pada akhirnya menuju kematian.
ETIOLOGI
Syok kardiogenik bisa disebabkan oleh
iskemia ventrikular primary, masalah
struktural dan disritmia. Penyebab paling
utama adalah infark miokard akut yang
menyebabkn kehilangan 40% atau lebih
fungsi miokardium


Faktor predisposisi :

1 . Umur yang relatif lebih tua
pada syok kardiogenik : umumnya lebih dari 60
tahun
2. Telah terjadi payah jantung sebelumnya
3. Adanya infark lama dan baru
4. Lokasi pada dinding anterior lebih
sering menimbulkan syok
5. IMA yang meluas secara progresif
6. Komplikasi mekanik IMA : septum sobek,
insufisiensi mitral, disenergi ventrikel
7. Gangguan irama dan nyeri hebat
8. Faktor ekstramiokardial : obat-obatan penyebab
hipotensi atau hipovolemia



MANIFESTASI KLINIS
Timbulnya kardiogenik syok dlm hubungannya dg
IMA dapat dikategorikan dalam :
1.Timbulnya tiba-tiba dalam waktu 4 6 jam setelah
infark akibat gangguan miokard masih
atau ruptur dinding bebas ventrikel kiri
2.Timbulnya secara perlahan dalam beberapa hari se
bagai akibat infark berulang
3. Timbul tiba-tiba 2 hingga 10 hari setelah infark
miokard disertai timbulnya bising mitral sistolik,
ruptur septum atau disosiasi elektromekanik.
Episode ini dapat disertai atau tanpa nyeri dada,
tetapi sering disertai dengan sesaknafas akut.

PENGKAJIAN
1. Pengkajian primer
Airway : penilaian akan kepatenan jalan napas,
meliputi pemeriksaan mengenai adanya obstruksi
jalan napas, adanya benda asing. Pada klien yang
dapat berbicara dapat dianggap jalan napas bersih.
Dilakukan pula pengkajian adanya suara napas
tambahan seperti snoring.
Breathing : frekuensi napas, apakah ada penggunaan
otot bantu pernapasan, retraksi dinding dada,
adanya sesak napas. Palpasi pengembangan paru,
auskultasi suara napas, kaji adanya suara napas
tambahan seperti ronchi, wheezing, dan kaji adanya
trauma pada dada.

Circulation : dilakukan pengkajian tentang volume
darah dan cardiac output serta adanya perdarahan.
Pengkajian juga meliputi status hemodinamik, warna
kulit, nadi
Disability : nilai tingkat kesadaran, serta ukuran dan
reaksi pupil.
2. Pengkajian sekunder
meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Anamnesis dapat menggunakan format AMPLE
(alergi, medikasi, past illness, last meal, dan
environment). Pemeriksaan fisik dimulai dari kepala
hingga kaki dan dapat pula ditambahkan
pemeriksaan diagnostik yang lebih spesifik seperti
foto thoraks,dll.



DIAGNOSA KEPERAWATAN / PRIORITAS MASALAH
1.Pola nafas tidak efektif b/d gg pertukaran gas ditandai
dg sesak nafas, peningkatan frekuensi pernafasan,
batuk.
2.Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b/d gg aliran
darah sekunder akibat gg vaskuler ditandai dg nyeri,
cardiac out put menurun, sianosis, edema (vena).
3.Gg rasa nyaman nyeri b/d trauma jaringan dan
spasme reflek otot sekunder akibat gg viseral
jantung ditandai dg nyeri dada, dispnea, gelisah,
meringis.
4.Intoleransi aktifitas b/d ketidakseimbangan supley O2
dan kebutuhan (penurunan / terbatasnya curah
jantung) ditandai dg kelelahan, kelemahan, pucat.

INTERVENSI
Evaluasi frekwensi pernafasan dan kedalaman.
Catat upaya pernafasan, contoh adannya dispnea,
penggunaan obat bantu nafas, pelebaran nasal
Auskultasi bunyi nafas. Catat area yang menurun
atau tidak adannya bunyi nafas dan adannya bunyi
nafas tambahan, contoh krekels atau ronki
Kalaborasi dengan berikan tambahan oksigen
dengan kanula atau masker sesuai indikasi
Pantau data laboratorium,contoh : GBA, BUN,
creatinin, dan elektrolit


Pantau atau catat karekteristik nyeri, catat
laporan verbal, petunjuk non verbal dan repon
hemodinamik ( contoh: meringis, menangis,
gelisah, berkeringat, mengcengkram dada,
napas cepat, TD/frekwensi jantung berubah)
Bantu melakukan teknik relaksasi, misalnya
napas dalam perlahan, perilaku diskraksi,
visualisasi, bimbingan imajinasi
Berikan obat sesuai indikasi, contoh:
analgesik, misalnya morfin, meperidin
(demerol)
Periksa tanda vital sebelum dan segera setelah
aktivitas, khususnya bila pasien menggunakan
vasolidator, diuretik
Catat respon kardio pulmonal terhadap
aktivitas, catat takikardi, disritmia, dispnea,
berkeringat, pucat
Kaji presipitator atau penyebab kelemahan,
contoh pengobatan, nyeri, obat
Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan
diri sesuai indikasi, selingi periode aktivitas
dengan periode istirahat