Anda di halaman 1dari 51

HUKUM PIDANA

FAIZAL. FD. SH. M.Hum


MATERI PIDANA
PENGERTIAN HUKUM PIDANA
SIFAT HUKUM PIDANA
WUJUD HUKUM PIDANA
PENGGOLONGAN HUKUM PIDANA
Prof Moeljatno
Hukum Pidana adalah bagian dari keseluruhan hukum yg berlaku di
suatu negara, yg mengadakan dasar-dasar dan aturan untuk:
1. menentukan perbuatan-perbuatan mana yg tidak boleh
dilakukan, yg dilarang, dg disertai ancaman atau sanksi berupa
pidana tertentu bagi barangsiapa melanggar larangan tsb;
Criminal Act
2. menentukan kapan dan dalam hal-hal apa kepada mereka yg
telah melanggar larangan-larangan itu dapat dikenakan atau
dijatuhi pidana sebagaimana yg telah diancamkan ; Criminal
Liability/ Criminal Responsibility
3. menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat
dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar
larangan tsb. Criminal Procedure/ Hukum Acara Pidana

1 dan 2 = Substantive Criminal Law / Hukum Pidana Materiil
3 = Hukum Pidana Formil

Prof. Pompe
Hukum Pidana adalah semua aturan-aturan hukum yang menentukan
terhadap perbuatan-perbuatan apa yang seharusnya dijatuhi pidana,
dan apakah macamnya pidana itu.
Prof. Simons :
Hukum Pidana adalah kesemuanya perintah-perintah dan larangan-
larangan yang diadakan oleh negara dan yang diancam dengan suatu
nestapa (pidana) barangsiapa yang tidak mentaatinya, kesemuanya
aturan-aturan yg menentukan syarat-syarat bagi akibat hukum itu
dan kesemuanya aturan-aturan untuk mengadakan (menjatuhi) dan
menjalankan pidana tersebut.
Prof. Van Hamel
Hukum Pidana adalah semua dasar-dasar dan aturan-aturan yang
dianut oleh suatu negara dalam menyelenggarakan ketertiban hukum
(rechtsorde) yaitu dengan melarang apa yang bertentangan dengan
hukum dan mengenakan suatu nestapa kepada yang melanggar
larangan-larangan tersebut.





Bedanya hukum pidana dengan hukum perdata
PERBEDAAN
Pasal 176 KUH Pidana
Barang siapa dengan sengaja mengganggu pertemuan keagamaan
yang bersifat, umum dan diizinkan, atau upacara keagamaan yang
diizinkan atau upacara penguburan jenazah, dengan menimbulkan
kekacauan atau suara gaduh, diancam dengan pidana penjara paling
lama satu bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak seribu
delapan ratus rupiah.
Pasal 632 KUH Perdata
Pemilik yang menutup pekarangannya, kehilangan hak untuk
menggembalakan ternaknya di tempat pengembalaan bersama,
sebanding dengan luas pekarangan yang terlepas dari tanah
pengembalaan bersama akibat penutupan pekarangan itu.






Mengapa hukum pidana ada
Keberadaan hukum pidana

1. Ada hal-hal tertentu yang sulit diatur apabila negara tidak turut
campur tangan.

2. Hal-hal tertentu tersebut jika diserahkan kepada semua orang
penanganannya maka akan menimbulkan kekacauan.

3. Sanksi diharapkan dapat menjerakan, mencegah, dan/atau
memperbaiki seseorang yang akan atau telah melakukan
kejahatan.

4. Memberikan rasa keadilan bagi masyarakat







PENGERTIAN HUKUM PIDANA
Pidana (hukum materil) lebih tepat didefinisikan sebagai suatu
penderitaan yang sengaja dijatuhkan/diberikan oleh negara pada
seseorang atau beberapa orang sebagai akibat hukum (sanksi)
baginya atas perbuatannya yang telah melanggar larangan hukum
pidana. (strafbaar feit).
Secara obyektif (ius poenale) meliputi :
1. Perintah dan larangan
2. Ketentuan dan penetapan dengan cara apa atau alat apa, dapat
dilakukannya pelanggaran peraturan2 itu (sanksi)
3. Kaidah kaidah yang menetukan ruang lingkup berlakunya
peraturan dan wilayah suatu negara.
Secara subyektif (ius puniendi) yaitu : peraturan hukum yg
menetapkan tentang penyidikan lanjutan, tuntutan, penjatuhan dan
pelaksanaan pidana yg dilakukan oleh negara.

Pidana, pemidanaan dan tindak pidana
Pidana = hukuman/derita/nestapa karena melanggar delik
Pemidanaan = penghukuman (proses/tujuan/pedoman)
Tindak pidana = perbuatan melakukan atau tidak melakukan sesuatu
yang oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai
perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana. (strafbaar feit
/toerekeningsvatbaar)
BATAS BERLAKUNYA HUKUM PIDANA MENURUT WAKTU
(TIJDSGEBIED)
Dalam hal seseorang melakukan perbuatan (feit) pidana sedangkan
perbuatan tersebut belum diatur atau belum diberlakukan ketentuan
yang bersangkutan,maka hal itu tidak dapat dituntut dan sama sekali
tidak dapat dipidana. Asas hukum pidana berdasarkan batas
berlakunya menurut waktu yang terkandung dalam Pasal 1 KUHP,
yaitu : Asas Legalitas Pasal 1 KUHP
1. Suatu perbuatan tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan
kekuatan ketentuan- ketentuan perundang-undangan pidana yang
telah ada.
2. Bilamana ada perubahan dalam perundang-undangan sesudah
perbuatan dilakukan, maka terhadap terdakwa diterapkan
ketentuan yang paling menguntungkannya.
Asas Legalitas (nullum delictum nula poena sine praevia lege
poenali) terdapat dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. Asas ini
dirumuskan oleh Anselm von Feuerbach dalam teori : vom
psychologishen zwang (paksaan psikologis)
nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali
Yang mengandung tiga prinsip dasar :
1. Nulla poena sine lege (tiada pidana tanpa undang-undang/Asas
legaliatas le galitas / /Le x s cripta ) Tidak ada perbuatan yang
dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu
belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang.
2. Nulla poena sine crimine (tiada pidana tanpa perbuatan
pidana/asas larangan menggunakan analogi / lex certa) hal ini
untuk menentukan adanya perbuatan pidana yang dimaksud
harus diuraikan unsur unsurnya oleh undang undang secara
lengkap dan jelas.
3. Nullum crimine sine poena legali (tiada perbuatan pidan tanpa
undang undang yg terlebih dahulu asas non retroaktif) aturan
ini tidak berlaku surut. Secara eksplisit tersirat dalam ketentuan
KUHP dirumuskan dalam Pasal 1 ayat 1
Ilmu HUKUM PIDANA
Ilmu hukum pidana secara empiris :
1. Kriminologi : ilmu tentang kejahatan dan sifat jahat
pembuat kejahatan ; sebab dan akibatnya
2. Kriminalistik : ilmu penyelidikan dan penyidikan
(pengusutan)
3. Sosiologi hukum pidana : ilmu hukum pidana yg menjelaskan
kejahatan sebagai gejala masyarakat, yg menitikberatkan utk
mempelajari pelaksanaan hukum pidana dlm arti luas didlm
masyarakat.
4. Filsafat hukum pidana : ilmu yg menjelaskan tujuan
penjatuhan pidana dan teori teori sbb :
a. Teori perjanjian yg lahir dimasa Aufklaurung (pencerahan).
Tokohnya Grotius (Hugo de Groot) pernah menulis, bahwa
pidana itu suatu malum passionis propter actionis yaitu : suatu
Kwaad (suatu yg jahat & menimbulkan penderitaan) yg dialami
krn perbuatan yg buruk yg dilakukannya.
Sambungan slide 4
b. Teori teori absolut (mutlak) atau pembalasan yg memandang
pidana itu sebagai absoluta ab affectu futuro, dimana dasar
pemidanaan dan tujuan pidana saling berkaitan dan keduanya tak
terpisahkan. Yg sering disebut quia peccatum.
c. Teori teori relatif (nisbih) suatu kejahatan tidak mutlak harus
diikuti oleh pidana akan tetapi lebih melihat pada manfaatnya
karena pada hakekatnya hukum pidana dijatuhkan sebagai sarana
untuk memperbaiki (preventif).
d. Teori campuran (gabungan) hukum pidana tidak hanya
mengandung unsur preventif akan tetapi juga mengandung unsur
vergelding (membalas atas tindakan kejahatan) Tujuan Hukum
Pidana Untuk menakut-nakuti agar tindakan yang merugikan
orang lain tidak terulang lagi Untuk mendidik Untuk
membinasakan (van hammmel) Perbuatan yang dapat
dipidanakan Perbuatan itu bersifat melawan hukum Perbuatan itu
dapat dicela
Determinisme dan Indeterminisme
1. Dualisme istilah ini berkisar pada persoalan, apakah seorang
manusia pada hakikatnya adalah bebas dari pengaruh
(indeterminisme) atau justru selalu terpengaruh oleh kekuatan
dari luar (determinisme)
2. Kata determiner dalam bahasa Prancis berarti menentukan
3. Determinisme adalah bahwa kekuatan menentukan dari luar itu
adalah termasuk tabiat atau watak dari seorang dan alasan yg
mendorong orang itu untuk pada akhirnya mempunyai kehendak
tertentu itu, dan kekuatan2 ini didorong pula oleh keadaan dalam
masyarakat tempat orang itu hidup. Jadi kehendak melakukan
perbuatan pidana menurut determinisme dikarenakan kehendak
itu selalu ditentukan oleh kekuatan itu.
4. Sedangkan indeterminisme seseorang melakukan suatu
kejahatan, menurut faham indeterminisme dianggap mempunyai
kehendak untuk itu, mungkin tanpa dipengaruhi kekuatan2 luar
tersebut diatas.

Pengertian kesalahan dalam PIDANA
Dalam asas hukum pidana yaitu Geen straf zonder schuld, actus non
facit reum nisi mens sir rea, bahwa tidak dipidana jika tidak ada
kesalahan, maka pengertian tindak pidana itu terpisah dengan yang
dimaksud pertanggungjawaban tindak pidana. Tindak pidana
hanyalah menunjuk kepada dilarang dan diancamnya perbuatan itu
dengan suatu pidana, kemudian apakah orang yang melakukan
perbuatan itu juga dijatuhi pidana sebagaimana telah diancamkan
akan sangat tergantung pada soal apakah dalam melakukan
perbuatannya itu si pelaku juga mempunyai kesalahan.
Dalam kebanyakan rumusan tindak pidana, unsur kesengajaan atau
yang disebut dengan opzet merupakan salah satu unsur yang
terpenting. Dalam kaitannya dengan unsur kesengajaan ini, maka
apabila didalam suatu rumusan tindak pidana terdapat perbuatan
dengan sengaja atau biasa disebut dengan opzettelijk, maka unsur
dengan sengaja ini menguasai atau meliputi semua unsur lain yang
ditempatkan dibelakangnya dan harus dibuktikan.
Sambungan slide 4
Disamping unsur kesengajaan diatas ada pula yang disebut sebagai unsur
kelalaian atau kelapaan atau culpa yang dalam doktrin hukum pidana
disebut sebagai kealpaan yang tidak disadari atau onbewuste schuld dan
kealpaan disadari atau bewuste schuld. Dimana dalam unsur ini faktor
terpentingnya adalah pelaku dapat menduga terjadinya akibat dari
perbuatannya itu atau pelaku kurang berhati-hati. Wilayah culpa ini terletak
diantara sengaja dan kebetulan. Kelalaian ini dapat didefinisikan sebagai
apabila seseorang melakukan sesuatu perbuatan dan perbuatan itu
menimbulkan suatu akibat yang dilarang dan diancam dengan hukuman
oleh undang-undang, maka walaupun perbuatan itu tidak dilakukan dengan
sengaja namun pelaku dapat berbuat secara lain sehingga tidak
menimbulkan akibat yang dilarang oleh undang-undang, atau pelaku dapat
tidak melakukan perbuatan itu sama sekali.
Dalam culpa atau kelalaian ini, unsur terpentingnya adalah pelaku
mempunyai kesadaran atau pengetahuan yang mana pelaku
seharusnya dapat membayangkan akan adanya akibat yang
ditimbulkan dari perbuatannya, atau dengan kata lain bahwa pelaku
dapat menduga bahwa akibat dari perbuatannya itu akan menimbulkan
suatu akibat yang dapat dihukum dan dilarang oleh undang-undang.

Sifat HUKUM PIDANA
Bersifat publik maupun privat
Dapat dikatakan publik karena : negara secara aktif langsung terlibat, tanpa
diminta oleh pihak yang berurusan, Negara langsung ikut campur dalam hal
penegakannya. Dapat dikatakan privat karena : keterlibatan Negara baru
akan terjadi jika pihak-pihak melapor/mengadukan dr kasus yang mereka
hadapi (delik aduan pasal 284 KUHP)
Ultimum remidium/ tahap formulasi (upaya terakhir)
Jadi dalam penerapannya, hukum pidana adalah upaya paling akhir. karena
hukum pidana bersifat mengikat dan memiliki sanksi yang tegas. Dan
bertujuan untuk :
1. a.mencegah dilakukannya tindak pidana dan dalam implikasi
pengayoman negara dan masyarakat.
b. untuk membimbing agar terpidana insyaf dan menjadi anggota
masyarakat yg berbudi baik serta berguna
c. untuk menghilangkan noda noda yang diakibatkan oleh tindak
pidana
2. Pemidanaan tidak maksud untuk menderitakan dan tidak diperkenankan
merendahkan martabat manusia.





Tujuan hukum pidana
Ada dua macam :
1. Untuk menakut-nakuti setiap orang agar mereka tidak melakukan perbuatan
pidana (fungsi preventif)
2. Untuk mendidik orang yang telah melakukan perbuatan yang tergolong
perbuatan pidana agar mereka menjadi orang yang baik dan dapat diterima
kembali dalam masyarakat (fungsi represif).
Dalam literatur bahasa inggris tujuan pidana bisa disebutkan sebagai berikut:
1. Reformation berarti memperbaiki atau merehabitasi penjahat menjadi
orang baik dan berguna bagi masyrakat.
2. Restraint maksudnya mengasingkan pelanggaran dari masyarakat,
dengan tersingkirnya pelanggaran hukum dari masyrakat berarti
masyrakat itu akan menjadi lebih aman.
3. Restribution adalah pembalasan terhadap pelanggaran karena telah
melakukan kejahatan.
4. Deterrence, adalah menjera atau mencegah sehingga baik terdakwa
sebagai individual maupun orang lain yang potensial menjadi penjahat
akan jera atau takut untuk melakukan kejahatan, melihat pidana yang
dijatuhkan kepada terdakwa.



Asas2 Berlakunya Hukum Pidana
Asas Teritorialitas/ wilayah :
Ps 2 --> Ps 3 KUHP --> Ps 95 KUHP
Asas Nasionalitas Pasif/ perlindungan : Ps 4 :1,2 dan 4 --> Ps 8
KUHP , UU No. 4/1976 , Ps 3 UU No. 7/ drt/ 1955 Lihat Ps 16
UU 31/1999
Asas Personalitas/ Nasionalitas Aktif :
Ps 5 KUHP --> Ps 7 KUHP --> Ps 92 KUHP
Asas Universalitas :
Ps 4 :2 , Ps 4 sub 4 ,
melakukan kejahatan ttg mata uang, uang kertas negara atau
uang kertas Bank
Sanksi pidana
Sanksi pidana adalah hukuman yang dijatuhkan kepada orang yang
telah melakukan pelanggaran terhadap norma atau aturan hukum.
Jenis-jenis sanksi pidana (pasal 10 KUHP ) :
a. Pidana pokok : (hoofd straffen)
1. Pidana mati
2. Pidana penjara
3. Pidana kurungan
4. Pidana denda
5. Pidana tutupan
b. Pidana tambahan : (Bijkomende staffen)
1. Pencabutan hak-hak tertentu
2. Perampasan barang-barang tertentu
3. Pengumuman putusan hakim

pertanyaan
1. Apakah semua perbuatan dapat dipidana?
2. Bagaimana akibatnya bila terjadi perubahan undang-undang
terhadap perbuatan yang dilakukan terdakwa?
3. Apakah peraturan Indonesia berlaku mutlak bagi semua orang
yang ada di Indonesia?
4. Apakah peraturan Indonesia hanya dapat diberlakukan di
Indonesia?

UU No. 39/ 1999 ttg HAM
Ps 18 (2)
Setiap orang tidak boleh dituntut untuk dihukum atau dijatuhi
pidana, kecuali berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan
yang sudah ada sebelum tindak pidana itu dilakukan

Ps 18 (3)
Setiap ada perubahan dalam peraturan perundang-undangan maka
berlaku ketentuan yang paling menguntungkan bagi tersangka


Teori2 Tempus Delicti
1. Teori Perbuatan fisik (de leer van de lichamelijke daad)
2. Teori bekerjanya alat yg digunakan (de leer van het instrumen)
3. Teori Akibat (de leer van het gevolg)
4. Teori waktu yg jamak (de leer van de meervoudige tijd)



Teori2 Locus Delicti
1. Teori Perbuatan fisik (de leer van de lichamelijke daad)
2. Teori bekerjanya alat yg digunakan (de leer van het instrumen)
3. Teori Akibat (de leer van het gevolg)
4. Teori Tempat yg jamak (de leer van de meervoudige tijd)

Tindak Pidana
Pembagian Tindak Pidana (Jenis Delik)
Delik Kejahatan & Delik pelanggaran
Delik Materiil & Delik Formil
Delik Komisi & Delik Omisi
Delik Dolus & Delik Culpa
Delik Biasa & Delik Aduan

Pembagian delik menurut kepentingan yg dilindungi :
Lihat judul-judul bab pada Buku II dan Buku III KUHP

Jenis Delik
Kejahatan (misdrijf)
dlm. MvT : sebelum ada UU sudah dianggap tidak baik (recht-
delicten)
Hazewinkel-Suringa : tidak ada perbedaan kualitatif, hanya
perbedaan kuantitatif
a) Percobaan : dipidana
b) Membantu : dipidana
c) Daluwarsa : lebih panjang
d) Delik aduan : ada
e) Aturan ttg Gabungan berbeda

KUHP : Buku II
Sambungan slide 24
Pelanggaran (overtreding)

dlm MvT : baru dianggap tidak baik setelah ada UU (wet delicten)
Perbedaan dg kejahatan:

a) Percobaan : tidak dipidana
b) Membantu : tidak dipidana
c) Daluwarsa : lebih pendek
d) Delik aduan : tidak ada
e) Aturan ttg Gabungan berbeda

KUHP : Buku III
Sambungan slide 26
D. Materiil : Yang dirumuskan akibatnya --> Ps 338, Ps 187, dll

D. Komisi : melanggar larangan dg perbuatan aktif

D. Dolus : delik dilakukan dg sengaja, mis. Ps 338, Ps 351

D. Formil : yang dirumuskan bentuk perbuatannya --> Ps 362, Ps 263, dll

D. Omisi : melakukan delik dg perbuatan pasif

A. D. Omisi murni : melanggar perintah dg tidak berbuat, mis. Ps 164, Ps 224
KUHP
B. D. Omisi tak murni : melanggar larangan dg tidak berbuat, mis Ps 194 KUHP

D. Culpa : Delik dilakukan dg kealpaan, mis. Ps 359, Ps 360

D. Biasa : penuntutannya tidak memerlukan pengaduan, mis. Ps 340, Ps 285

D. Aduan : penuntutannya memerlukan pengaduan, mis. Ps 310, Ps 284




PENGADUAN
Alasan keberadaan delik aduan:
Dalam beberapa hal bagi orang yang bersangkutan lebih
menguntungkan untuk tidak menuntut perkara itu daripada
keuntungan bagi pemerintah jika dilakukan penuntutan.

Berdasarkan Pasal 72-75 KUHP

1. Siapa saja yang berhak melakukan pengaduan?
2. Apakah ada pembatasan waktu pengaduan?



DELIK ADUAN
1. Delik Aduan Absolut

Perbuatan pidana yang tidak dapat dituntut apabila tidak ada
pengaduan dari pihak korban atau yang dipermalukan karena
terjadinya tindak pidana tersebut. Pasal 284, 287, 293, 310, 311, 315,
317, 318, 320, 321, 322, 323, 332, 335 ayat (2), 369 KUHP

2. Delik Aduan Relatif

Pada prinsipnya bukanlah merupakan delik aduan, melainkan
laporan. Delik ini menjadi delik aduan karena dilakukan di dalam
lingkungan keluarga sendiri. Contoh: pencurian dalam keluarga


Pertanyaan
1. Apakah yang dimaksud dengan pengaduan dan apakah berbeda
dengan pelaporan ?
2. Siapa saja yang berhak melakukan pengaduan?
3. Apakah ada pembatasan waktu pengaduan?
Berdasarkan Pasal 72-75 KUHP

Tindak Pidana
Cara Merumuskan Tindak Pidana
Disebutkan unsur-unsurnya & disebut kualifikasinya --> mis, Ps
362 KUHP

disebutkan kualifikasinya tanpa disebut unsur-unsurnya --> mis.
Ps 184, Ps 297, Ps 351

disebutkan unsur-unsurnya, tidak disebut kualifikasinya --> mis.
Ps 106, Ps 167, Ps 209

Tindak Pidana Unsur-unsur (van Bemmelen)
Di dalam perumusan (bagian)
Dimuat dalam surat dakwaan
Semua syarat yg dimuat dalam rumusan delik merupakan bagian-
bagian, sebanyak itu pula, yg apabila dipenuhi membuat tingkah
laku menjadi tindakan yg melawan hukum
1. Tingkah laku yg dilarang
2. Bagian subyektif : kesalahan, maksud, tujuan, niat, rencana,
ketakutan
3. Bagian obyektif : secara melawan hukum, kausalitas, bagian2
lain yg menentukan dapat dikenakan pidana (syarat
tambahan; keadaan)
4. Bagian yg mempertinggi dapatnya dikenakan pidana

Di luar perumusan (unsur) : syarat dapat dipidana
1. Secara melawan hukum
2. Dapat dipersalahkan
3. Dapat dipertanggungjawabkan


Tindak pidana Unsur-unsur
Unsur2 dalam perumusan
A. Unsur Obyektif
- perbuatan (aktif/pasif)
- akibat
- melawan hukum
- syarat tambahan
- keadaan
B. Unsur Subyektif
- kesalahan :
(a) sengaja
(b) kealpaan
- keadaan


Sambungan slide 32
Unsur2 di luar perumusan
- secara melawan hukum
- dapat dipersalahkan
- dapat dipertanggungjawabkan
Contoh unsur2 dalam rumusan tindak pidana
Pasal 362 KUHP
barangsiapa
mengambil
barang
- yg sebagian/ seluruhnya kepunyaan orang lain
dengan maksud memiliki
secara melawan hukum




Dolus/ opzet/ sengaja
Apakah sengaja itu ?
Sengaja = willens (dikehendaki) en wetens (diketahui) (MvT- 1886)

Teori2 sengaja :

(a) teori kehendak (wils theorie)
opzet ada apabila perbuatan & akibat suatu delik dikehendaki si
pelaku
(b) teori bayangan (voorstellings-theorie)
opzet ada apabila si pelaku pada waktu mulai melakukan perbuatan,
ada bayangan yg terang bahwa akibat yg bersangkutanakan tercapai,
maka dari itu ia menyesuaikan perbuatannya dengan akibat itu

istilah2 dalam rumusan tindak pidana
Dengan sengaja : Ps 338 KUHP
Mengetahui bahwa : Ps 220 KUHP
tahu tentang : Ps 164 KUHP
dengan maksud : Ps 362, 378, 263 KUHP
niat : Ps 53 KUHP
dengan rencana lebih dahulu : Ps 340, 355 KUHP
- dengan rencana :
(a) saat pemikiran dg tenang ;
(b) berpikir dg tenang;
( c ) direnungkan lebih dahulu.
- ada tenggang waktu antara timbulnya niat dengan
pelaksanaan delik

Macam2 opzet/dolus
Sengaja sebagai maksud/ tujuan (opzet als oogmerk)

Sengaja sebagai kesadaran (keinsyafan) kepastian (opzet bij
zekerheidsbewustzijn)

Sengaja sebagai kesadaran (keinsyafan) kemungkinan (opzet bij
mogelijkheids-bewutzijn)

macam 2 opzet/dolus
Sengaja sebagai maksud/ tujuan :
- apabila pembuat menghendaki akibat perbuatannya;
- tidak dilakukan perbuatan itu jika pembuat tahu akibat
perbuatannya tidak terjadi (Vos)
Sengaja sebagai keinsyafan kepastian :
- pembuat yakin bahwa akibat yg dimaksudkannya tidak akan
tercapai tanpa terjadinya akibat yg tidak dimaksud
Sengaja sebagai keinsyafan kemungkinan:
- pembuat sadar bahwa mungkin akibat yg tidak dikehendaki
akan terjadi untuk mencapai akibat yg dimaksudnya
2 macam sengaja sbg keinsyafan kemungkinan (Hazewinkel-
Suringa) :
(a) sengaja dg kemungkinan sekali terjadi
(b) sengaja dg kemungkinan terjadi / sengaja bersyarat/ dolus
eventualis

Pengertian dolus eventualis
Teori inkauf nehmen : untuk mencapai apa yang dimaksud , resiko
akan timbulnya akibat atau keadaan disamping maksudnya itu pun
diterima
Prof. Moeljatno : teori apa boleh buat : kalau resiko yg diketahui
kemungkinan akan adanya itu sungguh-sungguh timbul (disamping
hal yg dimaksud), apa boleh buat, dia juga berani pikul resiko.


Istilah Culpa
Culpa (dalam arti luas) : berarti kesalahan pada umumnya
Culpa (dalam arti sempit) : bentuk kesalahan yg berupa
kealpaan

Istilah2 :
- culpa - schuld - nalatigheid - sembrono - teledor
istilah 2 yg digunakan dalam rumusan :
- kelalaian
- kealpaan
- kesalahan
- seharusnya diketahuinya
- sepatutnya diketahuinya

Culpa pengertian, jenis, syarat
KUHP : tidak ada definisi
MvT : kealpaan di satu pihak berlawanan benar2 dg
kesengajaan dan di fihak lain dengan hal yg kebetulan
Macam2 Culpa :
(a) culpa levis ; culpa lata
(b) culpa yg disadari (bewuste) : culpa yg tidak disadari (on
bewuste)
Syarat adanya kealpaan :
(b) van Hamel : 1) tidak menduga-duga sebagaimana
diharuskan hukum; 2) tidak berhati-hati sebagaimana
diharuskan hukum
( c) Simons : pada umumnya schuld (kealpaan) mempunyai 2
unsur : 1) tidak berhati-hati; 2) dapat diduganya akibat.

Pengertian Kausalitas
Hal sebab-akibat
Hubungan logis antara sebab dan akibat
Persoalan filsafat yang penting
Setiap peristiwa selalu memiliki penyebab sekaligus menjadi
sebab peristiwa lain
Sebab dan akibat membentuk rantai yang bermula di suatu
masa lalu
Yang menjadi fokus perhatian ahli hukum pidana (bukan
makna di atas), tetapi makna yang dapat dilekatkan pada
pengertian kausalitas agar mereka dapat menjawab persoalan
siapa yang dapat dimintai pertanggungjawaban atas suatu
akibat tertentu

Kapankah diperlukan ajaran Kausalitas
Delik Materiil : perbuatan yang menyebabkan konsekuensi-
konsekuensi tertentu, dimana perbuatan tersebut kadang tercakup
dan kadang tidak tercakup sebagai unsur dalam perumusan delik,
mis. Ps. 338, Ps 359, Ps 360

Delik Omisi tak murni/semu (delicta commissiva per
omissionem/ Oneigenlijke Omissiedelicten) : Pelaku tidak
melakukan kewajiban yang dibebankan padanya dan dengan itu
menciptakan suatu akibat yang sebenarnya tidak boleh ia ciptakan.
Ia sekaligus melanggar suatu larangan dan perintah; ia sesungguhnya
harus menjamin bahwa suatu akibat tertentu tidak timbul.

Delik yang terkualifikasi/dikwalifisir : tindak pidana yang karena
situasi dan kondisi khusus yang berkaitan dengan pelaksanaan
tindakan yang bersangkutan atau karena akibat-akibat khusus yang
dimunculkannya, diancam dengan sanksi pidana yang lebih berat
ketimbang sanksi yang diancamkan pada delik pokok tersebut.
(pengkualifikasian delik juga dapat dilakukan atas dasar akibat yang
muncul setelah delik tertentu dilakukan, mis. Ps 351 (1) Ps 351
(2)/ Ps 351 (3)

Ajaran Kausalitas
1. Conditio Sine Qua Non/ Ekuivalensi (Von Buri)
2. Teori-teori Individualisasi / Causa Proxima : Birkmeyer ,
Mulder
3. Teori-teori menggeneralisasi : teori Adekuat (Von Kries, Simons,
Pompe, Rumelink)
4. Teori Relevansi : Langemeyer

Ajaran Conditio Sine Qua Non
Semua faktor yaitu semua syarat, yang turut serta menyebabkan
suatu akibat dan yang tidak dapat dihilangkan dari rangkaian faktor-
faktor ybs. Harus dianggap causa (sebab) akibat itu.
Semua syarat nilainya sama (ekuivalensi)
Ada beberapa sebab
Syarat = sebab
Pembatasan Ajaran Von Buri
Pembatasan ajaran Von Buri oleh Van Hamel [dibatasi dg ajaran
kesalahan (dolus/culpa)]
Pengkesampingan semua sebab yang terletak di luar dolus atau
culpa; dalam banyak kejahatan dolus atau culpa merupakan unsur-
unsur perumusan delik.
Jika hal itu bukan merupakan unsur delik, maka solusinya harus
dicari dengan bantuan alasan atau dasar-dasar yang meniadakan
pidana.

Teori-teori Individualisasi / Causa Proxima
Birkmeyer :
Teori ini berpangkal dari teori Conditio Sine Qua Non . Di dalam
rangkaian syarat-syarat yang tidak dapat dihilangkan untuk
timbulnya akibat, lalu dicari syarat manakah yang dalam keadaan
tertentu itu, yang paling banyak membantu untuk terjadinya
akibat.
G.E Mulder :
Sebab adalah syarat yang paling dekat dan tidak dapat dilepaskan
dari akibat.
Teori-teori menggeneralisasi
Von Bar : teori ini tidak menyoal tindakan mana atau kejadian mana
yang in concreto memberikan pengaruh (fisik/psikis) paling
menentukan. Yang dipersoalkan adalah apakah satu syarat yang
secara umum dapat dipandang mengakibatkan terjadinya peristiwa
seperti yang bersangkutan mungkin ditemukan dalam rangkaian
kausalitas yang ada

Teori-teori menggeneralisasi
Von Kries (Teori Adequat Subjectif) : Sebab adalah keseluruhan
faktor positif & negatif yang tidak dapat dikesampingkan tanpa
sekaligus meniadakan akibat. Namun pembatasan demi
kepentingan penetapan pertanggungjawaban pidana tidak dicari
dalam nilai kualitatif/kuantitatif atau berat/ringannya faktor dalam
situasi konkret, tetapi dinilai dari makna semua itu secara umum,
kemungkinan dari faktor-faktor tersebut untuk memunculkan
akibat tertentu. Sebab = syarat-syarat yang dalam situasi dan
kondisi tertentu memiliki kecenderungan untuk memunculkan
akibat tertentu, biasanya memunculkan akibat itu, atau secara
objectif memperbesar kemungkinan munculnya akibat tersebut.
Apakah suatu tindakan memiliki kecenderungan memunculkan
akibat tertentu hanya dapat diselesaikan apabila kita memiliki 2
bentuk pengetahuan :
(a) hukum umum probabilitas dalam peristiwa yg terjadi /
pengetahuan Nomologis yg memadai
(b) situasi faktual yg melingkupi peristiwa yg terjadi/ pengetahuan
Ontologis/ pemahaman fakta (empirik)

Teori-teori menggeneralisasi
Rumelink (Teori Adequat Objectif) :
Faktor yang ditinjau dari sudut objektif , harus (perlu) ada untuk
terjadinya akibat. Ihwal probabilitas tidak berdasarkan pada apa
yang diketahui atau mungkin diketahui pada waktu melakukan
tindakannya, melainkan pada fakta yang objektif pada waktu itu ada,
entah diketahuinya atau tidak jadi pada apa yang kemudian
terbukti merupakan situasi dan kondisi yang melingkupi peristiwa
tersebut.
Simons :
Sebab adalah tiap-tiap kelakuan yang menurut garis-garis umum
pengalaman manusia dapat menimbulkan akibat
Pompe :
Sebab adalah hal yang mengandung kekuatan untuk dapat
menimbulkan akibat

Teori Relevansi
Langemeijer
Teori ini ingin menerapkan ajaran von Buri dengan memilih satu
atau lebih sebab dari sekian yang mungkin ada, yang dipilih sebab-
sebab yang relevan saja , yakni yang kiranya dimaksudkan sebagai
sebab oleh pembuat undang-undang.

Masih ada slide berikutnya dengan tema yang berbeda,
terima kasih
literatur
Prof. Dr. Mr. H.A. Zainal Abidin Farid, S.H. Hukum Pidana 1
Prof. Dr. D. Schaffmeister Hukum Pidana
Prof. Moeljatno. Asas Asas Hukum Pidana
Prof. Dr. J.E.Sahetapy, S.H.M.A.
Undang undang
Undang Undang Korupsi : 20 tahun 2001
Undang Undang Pencucian Uang : 15 tahun 2002
Undang Undang Narkotika : 35 tahun 2009
Undang Undang Pornografi : 44 tahun 2008
Undang Undang Human Traficking : 15 tahun 2003

Peraturan lainnya :
Perma/SEMA