Anda di halaman 1dari 13

Konflik organisasi (organizational conflict)

Adalah ketidak sesuaian antara dua atau lebih anggota atau


kelompok kelompok organisasi, biasanya timbul karena adanya
kenyataan berbeda bagi mereka tentang pembagian sumberdaya
yang terbatas, status, tujuan, nilai atau persepsi dan kegiatan
kegiatan.
Konflik biasanya timbul karena tiga masalah yaitu:
a. masalah komunikasi.
b. hubungan pribadi.
c. struktur organisasi.


Suatu konflik muncul dalam sebuah organisasi, penyebabnya selalu
diidentifikasikan sebagai komunikasi yang kurang baik. Disinilah manajer
dituntut untuk memenuhi sisi lain dari ketrampilan interpersonalnya, yaitu
kemampuan untuk menangani dan menyelesaikan konflik.



Intervensi (campur tangan) pihak ketiga
Arbitrase (arbitration) :
Pihak ketiga mendengarkan keluhan kedua pihak dan
berfungsi sebagai hakim yang mencari pemecahan
mengikat.

Penengahan (mediation) :
Menggunakan mediator yang diundang untuk
menengahi sengketa.

Konsultasi :
Untuk memperbaiki hubungan antar kedua pihak serta
mengembangkan kemampuan mereka sendiri untuk
menyelesaikan konflik.
Hal - hal yang Perlu Diperhati-kan Dalam Mengatasi Konflik :

1. Ciptakan sistem dan pelaksanaan komunikasi yang efektif.
2. Cegahlah konflik yang destruktif sebelum terjadi.
3. Tetapkan peraturan dan prosedur yang baku terutama yang
menyangkut hak karyawan.
4. Atasan mempunyai peranan penting dalam menyelesaikan konflik
yang muncul.
5. Ciptakanlah iklim dan suasana kerja yang harmonis.
6. Bentuklah team work dan kerja-sama yang baik antar kelompok /
unit kerja.
7. Semua pihak hendaknya sadar bahwa semua unit / eselon
merupakan mata rantai organisasi yang saling mendukung, jangan
ada yang merasa paling hebat.
8. Bina dan kembangkan rasa solidaritas, toleransi, dan saling
pengertian antar unit / departemen / eselon.
Konflik merupakan proses yang dinamis, bukannya kondisi statis. Pendekatan
yang baik untuk menggambarkan proses suatu konflik suatu konflik antara lain
sebagai berikut :
1. Antecedent Conditions or latent Conflict
Merupakan suatu kondisi yang berpotensi menyebabkan atau mengawali suatu terjadinya
konflik.Pada kondisi seperti ini dikatakan konflik bersifat laten, yaitu berpotensi untuk muncul,
tapi dalam kenyataannya tidak terjadi.

2. Perceived Conflict
Agar konflik dapat berlanjut, kedua belah pihak harus menyadari bahwa mereka dalam
keadaan terancam dalam batas-batas tertentu.

3. Felt Conflict
Persepsi berkaitan erat dengan perasaan. Karena itulah jika orang merasakan adanya
perselisihan baik secara aktual maupun potensial, ketegangan, frustasi, rasa marah, rasa
takut, maupun kegusaran akan bertambah.

4. Manifest Conflict
Reaksi yang mungkin muncul pada tahap ini; argumentasi, tindakan agresif, atau
bahkan munculnya niat baik yang menghasilkan penyelesaian masalah yang
konstruktif.
5. Conflict Resolution or Suppression
Conflict resolution atau hasil suatu konflik dapat muncul dalam berbagai cara. Kedua
belah pihak mungkin mencapai persetujuan yang mengakhiri konflik tersebut.

6. Conflict Alternatif
Ketika konflik terselesaikan, tetap ada perasaan yang tertinggal.

Menurut Ross (1993)
Manajemen konflik merupakan langkah-langkah yang diambil para pelaku
atau pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil
tertentu yang mungkin atau tidak mungkin menghasilkan suatu akhir berupa
penyelesaian konflik dan mungkin atau tidak mungkin menghasilkan
ketenangan, hal positif, kreatif, bermufakat, atau agresif.

Stephen P. Robbins-1974
Managing organizational conflict mengemukakan bahwa perbedaan
pandang antara pandangan lama tantang konflik yang disebutnya
pandangan tradisional dan pandangan baru tentang konflik yang disebutnya
pandangan interaksionis.

Minnery (1980)
Manajemen konflik merupakan proses, sama halnya dengan perencanaan
kota merupakan proses.
Manajemen Konflik dalam
Komunikasi
Asumsi setiap orang memiliki kecenderungan tertentu
dalam menangani konflik.Terdapat 5 kecenderungan :

Penolakan : konflik menyebabkan tidak nyaman
Kompetisi : konflik memunculkan pemenang
Kompromi : ada kompromi dan negosiasi dalam konflik
untuk meminimalisasi kerugian
Akomodasi : ada pengorbanan tujuan pribadi untuk
mempertahankan hubungan
Kolaborasi : mementingkan dukungan dan kesadaran
pihak lain untuk bekerja bersama-sama.
Konflik dapat dicegah atau
dikelola dengan :
Disiplin
Pertimbangan Pengalaman dalam
Tahapan Kehidupan
Komunikasi
Mendengarkan secara aktif
Fisher (2001) menggunakan istilah transformasi konflik secara lebih umum dalam
menggambarkan situasi secara keseluruhan.

Pencegahan Konflik, bertujuan untuk mencegah timbulnya konflik yang keras.

Penyelesaian Konflik, bertujuan untuk mengakhiri perilaku kekerasan melalui
persetujuan damai.

Pengelolaan Konflik, bertujuan untuk membatasi dan menghindari kekerasan
dengan mendorong perubahan perilaku positif bagi pihak
yang terlibat.

Resolusi Konflik, solusi ini menangani sebab-sebab konflik dan berusaha
membangun hubungan baru dan yang bisa tahan lama
diantara kelompok-kelompok yang bermusuhan.

Transformasi Konflik, mengatasi sumber konflik sosial dan politik yang lebih
luas dan berusaha mengubah kekuatan negatif dari
peperangan menjadi kekuatan sosial dan politik yang positif.
Metode pengelolaan konflik
Metode Stimulasi konflik
Metode pengurangan konflik
Metode penyelesaian konflik
Pada metode penyelesaian ini ada 3 cara yang dilakukan, yaitu :
a. Dominasi dan penekanan
Cara ini ada bermacam bentuk antara lain: Memaksa (Forcing),
Membujuk (Smoothing), Menghindari (Avoidence), Keinginan
Mayoritas (Majority Rule),
b. Kompromi
Bentuk-bentuk kompromis mencakup :
Separasi (Separation), Arbitrasi (Arbitration), Mengambil
keputusan berdasarkan faktor kebetulan (Settling by chance),
Menyogok (Bribing)
c. Penyelesaian secara integratif
Ada tiga macam tipe metode penyelesaian konflik secara integrative
yaitu metode (a) Consensus (concencus); (b) Konfrontasi
(Confrontation); dan (c) Penggunaan tujuan-tujuan superordinat
(Superordinate goals).
Strategi
Menghindar
Mengakomodasi
Kompetisi
Kompromi atau Negosiasi
Memecahkan Masalah atau Kolaborasi

Meminimalisir konflik dengan
komunikasi efektif
Ada lima macam gaya komunikasi yang
dapat memicu konflik :
a. Komunikasi Negatif
b. Komunikasi Blaming
c. Komunikasi Superior
d. Komunikasi Tidak Jujur
e. Komunikasi Selektif

Untuk menjelaskan berbagai alternatif penyelesaian konflik dipandang
dari sudut menang kalah masing-masing pihak, ada empat kuadran
manajemen konflik :
Kuadran Kalah-Kalah (Menghindari konflik)
Kuadran Menang-Kalah (Persaingan)
Kuadran Kalah-Menang (Mengakomodasi)
Kuadran Menang-Menang (Kolaborasi)

Anda mungkin juga menyukai