Anda di halaman 1dari 34

Nurul Hikmah

Fahry Ashar K
Ridhia Hafiyani
Arthalia PY
Fifi Alami F
DEFINISI
adalah dua alat yang digabungkan menjadi
satu, yang berfungsi untuk memisahkan
beberapa senyawa atau campuran
senyawa berdasarkan kepolarannya
(prinsip kerja kromatografi), dimana setelah
campuran senyawa tersebut terpisah,
maka senyawa yang murni akan
diidentifikasi berat molekulnya. Data yang
didapatkan adalah berat molekul ditambah
beberapa muatan dan berat molekul
pelarut.
PRINSIP ALAT
dengan bantuan
pompa fasa gerak
cair dialirkan melalui
kolom ke detector.
Cuplikan dimasukkan
ke dalam aliran fasa
gerak dengan cara
penyuntikan. Di
dalam kolom terjadi
pemisahan
komponen-
komponen
campuran. Karena
perbedaan kekuatan
interaksi antara
solute-solut terhadap
fasa diam.
Senyawa dipisahkan atas dasar interaksi
relatif dengan lapisan kimia partikel-partikel
(fase diam) dan elusi pelarut dalam kolom
(fase gerak). Elusi komponen dari kolom
kemudian dilanjutkan menuju spektrometer
massa melalui interface khusus.

Dua macam interface yang paling umum
digunakan pada HPLC / MS :
ionisasi elektrospray
antarmuka ionisasi kimia tekanan
atmosfer.

PEMBACAAN

PREPARASI
PREPARASI SAMPEL
Sampel harus dalam bentuk larutan.
Untuk skala analisis sampel dalam L,
konsentrasi sampel yang diinjeksikan tidak
boleh terlalu pekat karena dapat
menyumbat kolom. Konsentrasi maksimal
adalah sekitar 40 ppm.
PREPARASI FASA GERAK

Fasa gerak (eluen) yang digunakan harus
dalam kualitas p.a ataupun grade HPLC.
Untuk air, digunakan akuabidest.
Sebelum digunakan, eluen harus disaring
dengan millipore kemudian diawagaskan
(didigest) dengan sonikator sekitar 30 menit
untuk menghilangkan udara terlarut.
Eluen harus dimasukkan ke dalam tabung
eluen sebelum alat dinyalakan, untuk
menghindari adanya gelembung pada selang
penghubung.
Tabung eluen yang sudah diisi harus diberi
label sesuai dengan eluen yang digunakan.

PENYALAAN ALAT
Sebelum alat dinyalakan, pastikan dalam slang
penghubung antara tabung eluen dengan pompa
tidak terdapat gelembung udara. Jika terdapat
gelembung, buka penutup pompa kemudian
buka katup slang di ujung pompa dan sedot
secepatnya gelembung tersebut dari slang
dengan alat penyedot gelembung yang tersedia
kemudian tutup katup dan tutup pompa kembali
seperti semula.
Hubungkan kabel alat ke sumber listrik (saklar).
Nyalakan tombol paling bawah alat HPLC
(tombol detektor).
Nyalakan tombol tengah HPLC (kolom)
Nyalakan tombol paling atas dari HPLC (pompa)
Nyalakan tombol power CPU kemudian tombol
power pada monitor.

KELEBIHAN
dapat dilaksanakan pada suhu kamar
cepat dan mudah melaksanakannya
ideal untuk molekul besar dan ion
daya pisahnya baik
dapat menganalisis senyawa yang tidak
mudah menguap dan termolabil
OPTIMASI BIODEGRADABILITAS DAN UJI
TOKSISITAS HASIL DEGRADASI SURFAKTAN LINEAR
ALKILBENZENA SULFONAT (LAS) SEBAGAI BAHAN
DETERJEN PEMBERSIH
Budiawan1*), Yuni Fatisa 1, dan Neera Khairani 2

1. Departemen Kimia, FMIPA, Universitas Indonesia, Depok, 16424,
Indonesia
2. Pusat Kajian Risiko dan Keselamatan Lingkungan, FMIPA, Universitas
Indonesia, Depok 16424, Indonesia
*)E-mail: drbud@ui.ac.id

MAKARA, SAINS, VOL. 13, NO. 2, NOVEMBER 2009: 125-133

Abstrak
Linear alkilbenzena sulfonat (LAS) adalah surfaktan dalam deterjen yang bersifat
toksik terhadap organisme aquatik. Hasil penelitian memperlihatkan, pada
konsentrasi LAS dalam medium yang digunakan (20 ppm), waktu adaptasi dan
pertumbuhan bakteri Acinetobacter sp telah menunjukkan kemampuan biodegradasi
yang lebih baik dari ketiga jenis bakteri lainnya (Pseudomonas putida, Pseudomonas
fluorescence, Bacillaria spp), sehingga bakteri tersebut digunakan untuk penelitian
lebih lanjut terhadap biodegradasi LAS. Berdasarkan waktu paruh untuk biodegradasi
LAS dalam kultur Acinetobacter sp dan kultur campuran yaitu masing-masing
52,32% dan 46,82% tercapai pada hari ke-4, maka LAS dapat dikategorikan
sebagai senyawa yang mudah terdegradasi. Uji toksisitas dilakukan berdasarkan
reduksi tetrazolium dye dengan bakteri Rhizobium meliloti yang mengakibatkan
peningkatan intensitas warna. LAS sebagai senyawa induk bersifat lebih toksik
dibandingkan produk intermediat hasil degradasinya dengan nilai IC50 = 34,35 ppm,
sedangkan IC50 produk intermediatnya yaitu bahan Ac dan bahan Cm masing-
masing adalah 446,19 ppm dan 111,28 ppm. Identifikasi produk intermediat
menggunakan analisis IR dan LC-MS menunjukkan bahwa dalam produk tersebut
masih terdapat gugus-gugus fungsi benzena, asam benzoat, hidroksil, dan karbon
alifatik dengan berat molekul yang masih besar. Proses biodegradasi LAS hingga
tercapai waktu paruh (DT50) hanya terjadi reaksi pada rantai karbon alifatik, belum
sampai pada tahap pembukaan cincin aromatik.

Kata Kunci : biodegradation, linear alkylbenzene sulfonate (LAS), Rhizobium meliloti,
tetrazolium dye
Pendahuluan
Jumlah dan jenis polutan dewasa ini semakin meningkat seiring
meningkatnya produksi dan penggunaan bahan kimia dalam industri dan
rumah tangga.
Salah satu penanggulangan terhadap bahaya penyebaran limbah adalah
dengan mengurangi, menghilangkan atau merubah senyawa aktif
berbahaya menjadi senyawa yang tidak berbahaya, diantaranya adalah
melalui proses biodegradasi.
Penggunaan mikroorganisme secara langsung dalam proses perlakuan
air limbah adalah usaha yang sangat sederhana dan ekonomis dalam
pemanfaatan kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan spesifik dan
mendegradasi senyawa berbahaya .
Deterjen merupakan senyawa kimia yang banyak digunakan
dalam rumah tangga maupun industri.
Linear Alkilbenzena Sulfonat (LAS) (Gambar 1) adalah
surfaktan anionik yang digunakan secara luas untuk
menggantikan golongan Alkil Benzena Sulfonat (ABS)
sebagai bahan pembersih (detergen).
LAS bersifat mudah dibiodegradasi hingga 95-99,9% dalam
sistim pengolahan limbah cair dengan lumpur aktif yang
berfungsi dengan baik.
Metodologi
Bahan-bahan :
Linear alkilbenzena sulfonat (LAS)
Nitro Blue Tetrazolium dye
C40H30Cl2N10O6 (2,2-Di-p-nitrofenil-
5,5-difenil-3,3-[3,3-dimetoksi- 4,4-difenil-
en]-tetrazolium klorida)
etanol teknis 70%
agar batang
aquabidest
Na2HPO4
KH2PO4
NaCl
NH4Cl



glukosa
MgSO4.7H2O
CaCl2
Mannitol
yeast
agar
sampel air dari waduk Setia Budi Jakarta
Pusat
Bakteri Pseudomonas putida,
Pseudomonas fluorescence, Bacillaria
spp, Acinetobacter sp
bakteri Rhizobium meliloti.

Alat- alat :
sentrifugasi
Autoklaf
spektrometer UV-Vis
mikroskop
jarum ose
pH meter
HPLC-MS (High Performance Liquid ChromatographyMass
Spectrometer)
Spektrofotometer Infra Merah (IR)
peralatan gelas lainnya
Prosedur kerja
Uji pendahuluan (Kultivasi Mikrooorganisme)

Labu erlenmeyer yang telah berisi medium MSM + LAS (konsentrasi 10, 20, dan 30 ppm) dan
larutan blanko, masing-masing ditambahkan bakteri Pseudomonas putida, Pseudomonas
fluorescence, Bacilus subtilis, dan Acinetobacter.
Semua larutan diinkubasi pada suhu kamar dengan laju pengocokan 200 rpm.
Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan bakteri dengan mengukur nilai optikal
densitasnya menggunakan spektroskopi sinar tampak pada panjang gelombang 600 nm.
Pengujian Kemampuan Isolat Untuk
Perlakuan Biodegradasi
Larutan artifisial yang mengandung konsentrasi LAS dengan pertumbuhan bakteri
yang paling optimum dari hasil uji pendahuluan.
Dari data yang diperoleh dari uji pendahuluan tersebut didapat hasil optimal
menggunakan bakteri Acinetobacter sp dan campuran mikroorganisme dengan
konsentrasi LAS 20 ppm.
Campuran mikrooorganisme digunakan dalam uji ini untuk membandingkan
optimasi biodegradasinya dengan optimasi biodegradasi bakteri tunggal.
Penentuan Biomassa Bakteri
Pertumbuhan bakteri diamati dengan mengukur optikal densitas
menggunakan spektrofotometer sinar tampak pada panjang
gelombang, =600 nm.
Biomassa dan sampel dipisahkan dari supernatannya dengan
cara sentrifugasi selama 10 menit pada kecepatan 16.000 rpm.
Analisis kadar LAS dan Produk Intermediat




Identifikasi Senyawa Intermediat Hasil
Degradasi LAS

Hasil degradasi untuk mengetahui perubahan konsentrasi
substrat selama waktu inkubasi dan produk degradasi,
dilakukan secara analisis dengan HPLC.
Identifikasi produk intermediat hasil degradasi LAS
dilakukan dengan HPLC-MS dan Spektrometer IR.
FAHRY TOLONG MASUKIN!!

Uji Pendahuluan Bakteri Pendegradasi
LAS
Adanya kenaikan turbiditas mengindikasikan
bahwa bakteri tersebut mampu memanfaatkan
substrat sebagai makanannya untuk
digunakan pada proses
perkembangbiakannya. Hasil pertumbuhan
bakteri yang mampu mendegradasi LAS pada
media
Kurva Optikal Densitas Bakteri pada
Konsentrasi LAS 10 ppm
pertumbuhan bakteri
sangat lambat,
disebabkan LAS yang
digunakan sebagai
substrat untuk
pertumbuhan bakteri
kurang mencukupi
untuk jumlah bakteri
yang ada dalam media
Kurva Optikal Densitas Bakteri pada
Konsentrasi LAS 20 ppm
pertumbuhan bakteri lebih
tinggi atau lebih optimal
dibandingkan dalam media
yang mengandung LAS 10
ppm, yang berarti bahwa
konsentrasi LAS 20 ppm
dapat dimanfaatkan oleh
bakteri-bakteri yang ada
dalam media sebagai
substrat atau mencukupi
untuk pertumbuhannya.
Kurva Optikal Densitas Bakteri pada
Konsentrasi LAS 30 ppm
pertumbuhan bakteri
mulai mengalami
penurunan kembali,
karena LAS yang
terdapat dalam medium
merupakan senyawa
racun, sehingga dalam
konsentrasi tinggi akan
semakin menghambat
proses adaptasi atau
pertumbuhan bakteri.

Pengukuran Pertumbuhan (Turbiditas)
Bakteri pada Konsentrasi LAS 20 ppm


kultur Acinetobacter
menunjukkan
pertumbuhan yang lebih
baik dibandingkan kultur
campuran dari keempat
jenis bakteri
Grafik Persentase Penurunan Konsentrasi
LAS
mulai hari kedua,
konsentrasi substrat dalam
kultur bakteri Acinetobacter
sudah menurun hingga
28,93%, sedangkan kultur
campuran 20,43%.
Penurunan konsentrasi
LAS terus berlangsung
hingga hari ke-10, yaitu
92,42% untuk kultur bakteri
Acinetobacter dan 95,28%
untuk kultur campuran.
Uji Toksisitas
nilai IC50 bahan Ac =
1427,83 l, atau
446,19 ppm.
Nilai IC50 bahan Cm =
356,89 l atau 111,28
ppm.
produk degradasi LAS
dengan kultur
campuran bersifat
lebih toksik daripada
produk degradasi LAS
menggunakan kultur
Acinetobacter.
Nilai IC50 dari LAS
adalah 34,35 ppm. Data
ini sesuai dengan
penelitian sebelumnya
yang menyatakan bahwa
LAS dengan konsentrasi
yang tinggi (>20-30 ppm)
dapat menghambat
proses degradasi
mikrobial.
Identifikasi Produk Intermediet Hasil Degradasi
LAS Analisis Spektrum Infra Merah
No Serapan (cm-1) Keterangan
1 2965,17 3331 Asam karboksilat (COOH)
2 2840,48 Gugus Alifatik
3 1452,34 dan 1654,41 Gugus C-C Aril
4 1020,75 SO3
5 702,57 Benzena tersubtitusi

No Serapan (cm-1) Keterangan
1 2950,80 3157,84 Asam Karboksilat
2 3566,46 Gugus hidroksil (OH)
3 2838,42 Gugus alifatik
4 1452,27 dan 1653,96 Gugus C-C aril
5 1021,86 SO3
6 687,36 Benzena tersubtitusi
Analisis Kromatografi Cair-Spektrometer
Massa (LC-MS)
Senyawa LAS
Analisis LC untuk LAS menghasilkan
waktu retensi (Rt) pada 3,8 menit.
fragmen ion m/z
[M+H
2
]
+
350,9995
[M+( CH
2
)
n
+H
2
]
+
432,9805; 514,9411
[M-(CH
2
)
n
+ H
2
]
+
269,0211; 187,0407
Bahan Ac


m/z (Fragmen ion
[M+H]
+
)

senyawa
372,8306
turunan asam benzoat
(C16H23O5SNa)
207,0078 C8H9O3SNa
187
turunan benzil alkohol
(C7H6O4S)
155

protokatekuat (C7H6O4)

Bahan Cm

m/z
(Fragmen ion [M+H]
+
)


senyawa
372,8106
turunan asam benzoat
(C16H23O5SNa)
206,8335 C8H9O3SNa
KESIMPULAN
Berdasarkan persentase penurunan
jumlah LAS pada DT50 dalam uji
kemampuan ulang biodegradasi, maka
kultur Acinetobacter, menunjukkan
persentase penurunan yang lebih besar
dibandingkan kultur campuran dalam
medium.