Anda di halaman 1dari 37

6/25/2014 LAB.

PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK.
BIOLOGI
1
HIPERSENSITIVITAS
Dr. HERNAYANTI, MSi.
6/25/2014 LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK.
BIOLOGI
2
Hipersensitivitas ?
reaksi imunologis yang bersifat
patologis, terjadi akibat respon
imun yang berlebihan sehingga
menimbulkan kerusakan jaringan
tubuh.
berdasarkan kecepatan dan
mekanisme imun yang terjadi,
reaksi hipersensitivitas menurut
GELL dan COOMBS, dibagi
menjadi 4 tipe :
6/25/2014 LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK.
BIOLOGI
3
I. Reaksi Hipersensitivitas tipe I/
reaksi cepat (reaksi anafilaksis, ana =
jauh dari; filaksis = perlindungan)
Disebut juga reaksi alergi atau reaksi
cepat karena timbul segera setelah
tubuh terpajan oleh antigen (alergen)
dan waktunya adalah 10-15 menit.
Pada reaksi ini, allergen yang masuk
ke dalam tubuh akan menimbulkan
respon imun dengan dibentuknya IgE.
urutan kejadiannya adalah sebagai
berikut
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI
4
1. Fase sensitasi :waktu yang dibutuhkan
untuk pembentukan IgE, sampai diikatnya
IgE oleh reseptor spesifik (Fc -R), pada
permukaan sel mast dan basofil
2. Fase aktivasi
yaitu waktu yang terjadi akibat pajanan ulang
dengan Ag yang spesifik. Sel mast melepas
isinya yang berupa granul yang dapat
menimbulkan infeksi.
3. Fase efektor
yaitu waktu terjadinya respon yang kompleks
(anafilaksis) sebagai efek dari mediator
(contoh : histamin) yang dilepas oleh sel
mast.
6/25/2014 LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK.
BIOLOGI
5
Urutan pelepasan mediator
memerlukan energi dan terjadi
sebagai berikut :
Influks kalsium ke dalam mast cell
Fosfodiesterase dalam sitoplasma diaktifkan
kadar c AMP menurun
Granul yang penuh berisikan mediator
bergerak ke permukaan sel
Terjadi eksositosis dan isi granul dilepas ke
luar
Penyakit yang dapat timbul segera sesudah
tubuh terpajan dengan alergen adalah asma
bronchial, rinitis, urtikaria dan dermatitis
atopi.
LAB. PARASITOLOGI-ENTOMOLOGI,
FAK. BIOLOGI 6
6/25/2014
Gambar 1 . Pengikatan alergen oleh IgE
LAB. PARASITOLOGI-ENTOMOLOGI,
FAK. BIOLOGI 7
6/25/2014
Mediator yang dilepaskan dalam Reaksi
Hipersensitivitas tipe I
Histamin : vasodilatasi, permeabilitas
vaskuler, proteolisis, sekresi
mukus, bronchokonstriksi
Triptase : kinin,vasodilatasi, permeabilitas
vaskuler, edema
ECF-A : attraktan untuk eosinofil dan
neutrofil
ECF-A : Eosinofil chemotactic factor for anaphylaxis
LAB. PARASITOLOGI-ENTOMOLOGI,
FAK. BIOLOGI 8
6/25/2014
Leukotrin B4 : attraktan untuk basofil
Leukotrin C4, D4 : seperti histamin tetapi
1000x lebih poten
Prostalglandin D2 dan PAF : agregasi
trombosit dan
agen
pelepas
histamin dan
mikrotrombi

Mediator yang dilepaskan dalam Reaksi
Hipersensitivitas tipe I cont.
PAF : Platelet Activating Factor
LAB. PARASITOLOGI-ENTOMOLOGI,
FAK. BIOLOGI 9
6/25/2014
Pelepasan Mediator pada Hipersensitivitas tipe I
LAB. PARASITOLOGI-ENTOMOLOGI,
FAK. BIOLOGI 10
6/25/2014
Gambar 2. Efek klinis pada Hipersensitivitas tipe I
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI
11
II. Reaksi Hipersensitivitas tipe II
(reaksi sitotoksik)
Reaksi ini melibatkan peran IgG dan IgM
Pembentukan Ab ditujukan kepada Ag yang terdapat
pada permukaan sel atau jaringan tertentu atau yang
merupakan komponen membrane sel
Antibodi dapat mengaktifkan sel yang memiliki
reseptor Fc-R, sel NK yang berfungsi sebagai sel
efektor melalui mekanisme Antibody Dependent
Cellular Cytotoxicity (ADCC). Ikatan Ag-Ab dapat
pula mengaktifkan komplemen melalui reseptor C3b
sehingga memudahkan proses fagositosis atau
menimbulkan lisis.
6/25/2014 LAB. PARASITOLOGI-ENTOMOLOGI, FAK.
BIOLOGI
12
Urutan kejadian :
1. Proses sitolisis oleh sel efektor
kontak antara sel efektor dengan sel
sasaran
Kontak ini terjadi melalui molekul
yang terikat oleh Ag pada
permukaan sel sasaran, kemudian
berinteraksi dengan reseptor Fc
yang terdapat pada permukaan
makrofag, neutrofil, eosinofil dan sel
NK.
Dengan demikian, fragmen Fc
merupakan jembatan antara sel
efektor dengan sel sasaran (opsonic
adherence)
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 13
2. Proses sitolitik oleh komplemen
Terjadi karena C1q merupakan reseptor Fc
yang larut dan pengikatannya pada
kompleks Ag-Ab yang terdapat pada
permukaan sel akan merangsang aktivasi
C3.
Selanjutnya terjadi aktiviasi komplemen
melalui jalur klasik, yaitu aktivasi C5b-9
diikuti lisis sel sasaran secara langsung
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 14
AKTIVASI KOMPLEMEN PADA HIPERSENSITIVITAS TIPE II
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI
15
3. Proses sitolisis oleh sel efektor dengan
bantuan komplemen (immuno
adherence)
Sel sasaran yang dilapisi komplemen dapat
dirusak oleh sel efektor karena sel efektor
memiliki reseptor untuk C3b dan C3d (jalur
alternatif/properdin).
Pengikatan C3b dan C3d melalui reseptor
C3 pada permukaan sel efektor akan
meningkatkan proses sitolisis oleh sel
efektor.
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 16
6/25/2014 LAB. PARASITOLOGI-ENTOMOLOGI, FAK.
BIOLOGI
17
Kerja sama komplemen dengan sel K
pada proses ADCC
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 18
Beberapa contoh reaksi hipersensitivitas
tipe II
Kerusakan pada eritrosit seperti yang terlihat pada reaksi
transfusi, anemia hemolitik akibat obat.
HDN (haemolytic Disease of the Newborn) akibat
ketidaksesuaian factor rhesus, kerusakan jaringan pada
penolakan jaringan transplantasi akibat interaksi dengan
Ab yang telah ada sebelumnya pada resipien.
Pada sistim golongan darah ABO, pada golongan darah A,
eritrositnya terdiri atas antibodi kelas IgM, yang dapat
menimbulkan aglutinasi, aktivasi komplemen dan hemolisis
intravaskuler terhadap eritrosit golongan B atau terjadi
reaksi silang antara eritrosit golongan A dan golongan B.
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 19
Beberapa contoh reaksi hipersensitivitas
tipe II
Pada HDN anti-D IgG yang berasal dari plasenta ibu
menembus plasenta, masuk ke dalam sirkulasi darah
janin dan melapisi permukaan eritrosit janin. Ini
terjadi apabila seorang ibu Rh- mengandung janin
Rh+. Pada kehamilan pertama belum terjadi
sensitasi limfosit. Tetapi pada kehamilan kedua dan
berikutnya, limfosit ibu akan membentuk anti-D IgG
yang dapat menembus plasenta, kemudian
mengadakan interaksi dengan factor Rh pada
permukaan eritrosit janin. Sel yang ditutupi IgG
tersebut mudah dirusak, akibat interaksi dengan
reseptor Fc pada fagosit. Akhirnya terjadi kerusakan
eritrosit janin dan bayi lahir kuning.
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 20
REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE III
(reaksi kompleks imun)
Reaksi ini juga melibatkan peran IgG dan IgM,
perbedaannya adalah antibodi ditujukan kepada
antigen yang terlarut dalam serum.
Di dalam jaringan atau sirkulasi darah
ditemukan kompleks Ag-Ab yang dapat
mengaktifkan komplemen. Selanjutnya
komplemen yang diaktifkan akan melepaskan
MCF (Macrophage Chemotactic Factor) berupa
C3a dan C5a. Makrofag ditarik ke tempat
tersebut dan melepas berbagai mediator, antara
lain enzim-enzim yang dapat merusak jaringan
sekitarnya.

6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 21
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 22
Pengelompokan antigen pembentuk
kompleks imun berdasarkan penyebabnya
1. Antigen yang berasal dari infeksi kuman
yang pathogen
a. Antigen parasit : misalnya malaria
b. Antigen virus : terutama infeksi virus yang
kronik sehingga timbul kompleks antivirus-virus
c. Antigen bakteri : pada infeksi post-
streptococcus. Ag protein M dilepaskan sehingga
akan terbentuk antibodi terhadapnya dan timbul
kompleks imun.
Ketiga jenis antigen ini akan menimbulkan infeksi
persisten. Kompleks imun akan diendapkan pada
organ yang terinfeksi dan pada ginjal.

6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 23
2. AUTO ANTIGEN
Adalah antigen dari jaringan sendiri. Contoh : pada
penyakit Lupus Erithematosus (LE) terbentuk
kompleks anti nuclear dengan antigen nuclear dan
membentuk kompleks imun yang mengendap pada
ginjal, sendi dan pembuluh darah
3. Faktor ekstrinsik
Ag yang berasal dari lingkungan dapat berupa spora
jamur yang ada pada jerami, debu silica, debu
asbes yang berasal dari aktivitas industri dan
lainnya. Apabila Ag terhirup terus menerus akan
menimbulkan kompleks imun yang mengendap
pada alveoli paru-paru dan dapat menimbulkan
gangguan napas.

Pengelompokan antigen pembentuk
kompleks imun berdasarkan penyebabnya
cont.
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 24
Bentuk Reaksi Tipe III
1. Reaksi Arthus (bentuk lokal)
Ditemukan oleh Arthus yang menyuntikkan serum
kuda ke dalam kelinci secara intradermal berulang
kali. Ternyata terjadi reaksi yang makin menghebat
pada suntikan. Setelah 2-4 jam, terjadi eritema
dan edema ringan serta reaksi tersebut menghilang
keesokan harinya. Tetapi pada suntikan ke 5 dan
ke 6, menimbulkan edema yang lebih besar dan
akhirnya terjadi perdarahan dan nekrosis yang sulit
sembuh. Dijumpai pada penderita asma akibat
kerja.
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 25
2. Reaksi serum sickness (bentuk sistemik)

Ditemukan pertama kali oleh Pirquet dan
Schick sebagai konsekuensi imunisasi pasif
pada pengobatan infeksi difteri dan tetanus
dengan antiserum asal kuda. Setelah 1-2
minggu pemberian serum kuda, akan timbul
panas, gatal, bengkak-bengkak dan rasa sakit
pada seluruh badan, pada persendian serta
kelenjar limfe (getah bening). Hal ini dapat
terjadi pada penderita penyakit
glomerulonefritis, akibat adanya Ag yang
berlebihan terbentuk kompleks yang larut dan
beredar dalam sirkulasi serta terperangkap di
berbagai jaringan di seluruh tubuh, termasuk
ginjal dan menimbulkan reaksi inflamasi.

6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 26
Mekanisme kerusakan pada hipersensitivitas
tipe III terbentuknya kompleks imun
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI
27
REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE IV
Reaksi tipe IV tidak melibatkan antibodi, tetapi sel T
sehingga yang terjadi adalah respon imun seluler yang
menyimpang. Bentuk hipersensitivitas tipe IV dinamakan
sebagai delayed type hypersensitivity (DTH).
Diketemukan pada beberapa reaksi terhadap bakteri,
virus, fungi dan lain-lain. Contoh :
1. Reaksi tuberkulin, sebagai akibat suntikan intradermal
tuberkulin pada seseorang yang pernah mengadakan
respon imun seluler terhadap M. tuberculosis.
2. Reaksi Granuloma
6/25/2014 LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI
28
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 29
1.REAKSI TUBERKULIN
Reaksi tuberkulin terjadi 20 jam setelah terpajan
dengan Ag, terjadi dari infiltrasi sel mononuklir
(50% limfosit, sisanya monosit). Setelah 48 jam
timbul infiltrasi, monosit dalam jumlah besar di
sekitar pembuluh darah dan merusak hubungan
serat-serat kolagen kulit. Reaksi tuberkulin
merupakan respons imun seluler yang terbatas.
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 30
2. Reaksi Granuloma
Reaksi ini terjadi sebagai usaha tubuh untuk membatasi
antigen yang persisten dalam tubuh, akibat sensitasi oleh
Ag M. tuberculosis dan M. leprae.
Selain itu, dapat juga dari rangsangan bahan non
antigenik seperti bedak dan sarkodiosis.
Dalam hal ini, makrofag tidak dapat memusnahkan benda
anorganik.
Granuloma merupakan agregat fagosit mononuklier yang
dilapisi limfosit dan sel plasma.
Fagosit berupa monosit yang baru dikerahkan serta
sedikit dari makrofag yang sudah ada dalam jaringan.
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 31
2. Reaksi Granuloma cont.
Sel lain adalah sel epiteloid yang berasal dari
makrofag dan sel-sel datia (sel raksasa)
LANGHANS (bukan Langerhans) yang
mempunyai nucleus tersebar di daerah perifer
(diduga merupakan differensiasi terminal sel
monosit makrofag) serta dikelilingi limfosit.
Ditemukan pula adanya fibroblast. Pada
penyakit tuberculosis, dibagian sentral
ditemukan nekrosis dengan hilangnya struktur
jaringan.

6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 32
RESPON INFLAMASI PADA HIPERSENSITIVITAS
TIPE IV
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 33
Gambar Reaksi Granuloma
(sel datia)
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 34
Mekanisme kerusakan pada
hipersensitivitas tipe IV
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 35
Perbedaan antara reaksi tuberkulin
dan granuloma
Tuberkulin Granuloma
Waktu
reaksi
48 jam 4 minggu
Khemis Bengkak, panas, indurasi Indurasi
Histologi PMN, limfosit, monosit,
makrofag, menurun
Epiteloid, granuloma,
sel datia, makrofag,
fibrosis, nekrosis
Antigen Dermal,
tuberkulin/micobacterium,
Leishmania
Ag/kompleks Ag-Ab
dalam makrofag yang
persisten
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 36
Perbandingan tipe
hipersensitivitas I-IV
Tipe I Tipe II Tipe III Tipe IV
Karakteristik anafilaksis sitotoksik Kplk. imun Tipe lambat
Antigen eksogen Perm. sel Larut Jar.& organ
Antibodi IgE IgG, IgM IgG, IgM Tidak ada
Wkt. respons 15-30
menit
Menit-jam 3-8 jam 48-72 jam
Penampakan R. alergi
melebar
Lisis &
nekrosis
Eritema,
edema,
nekrosis
Eritema &
indurasi
6/25/2014
LAB. PARASITOLOGI-
ENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI 37
Lanjutan tabel Perbandingan tipe
hipersensitivitas I-IV
Histologi Basofil
&
eosinofil
Antibodi &
komplemen
Komplemen
& neutrofil
Monosit &
limfosit
Dipindahkan
melalui
antibodi antibodi antibodi Sel T
Contoh Alergi,
asma,
influensa
Eritroblastosis
fetalis,
syndroma
Goodpastur,
nefritis
Sel LE
Farmers
Lung
Disease
Tuberculin,
granuloma,
eksim