Anda di halaman 1dari 30

ILEUS OBSTRUKTIF

Ferdy 030.08.102
Pembimbing:
Dr. Daddy Samuel Carol, Sp.B



PENDAHULUAN
Ileus: gangguan pasase isi usus yang merupakan
tanda adanya obstruksi usus akut yang segera
memerlukan tindakan. Gangguan pasase usus dapat
disebabkan obstruksi lumen usus yang disebut ileus
obstruktif atau oleh gangguan peristaltik yang
selanjutnya disebut sebagai ileus paralitik.
1
Setiap tahunnya 1 dari 1000 penduduk dari segala usia
didiagnosa ileus (Davidson, 2006). Di Indonesia
tercatat ada 7.059 kasus ileus paralitik dan obstruktif
tanpa hernia yang dirawat inap dan 7.024 pasien rawat
jalan pada tahun 2004 menurut Bank data Departemen
Kesehatan Indonesia.
PEMBAHASAN
ANATOMI USUS
PENDARAHAN

HISTOLOGI

FISIOLOGI

ILEUS OBSTRUKTIF
DEFINISI

Ileus obstruktif: suatu penyumbatan mekanis pada
usus di mana merupakan penyumbatan yang sama
sekali menutup/mengganggu jalannya isi usus,
yaitu oleh karena kelainan dalam lumen usus,
dinding usus atau luar usus yang menekan.
Hambatan pada jalan isi usus akan menyebabkan
isi usus terhalang dan tertimbun di bagian
proksimal dari sumbatan, sehingga pada daerah
proksimal tersebut akan terjadi distensi atau dilatasi
usus. Dapat terjadi pada usus halus maupun usus
besar.
Pada ileus obstruksi dapat dibedakan lagi menjadi
1. obstruksi sederhana
2. obstruksi strangulasi.

Obstruksi usus yang disebabkan oleh hernia,
invaginasi, adhesi, dan volvulus mungkin sekali
disertai strangulasi, sedangkan obstruksi oleh
tumor atau askaris adalah obstruksi sederhana
yang jarang menyebabkan strangulasi.
1

ETIOLOGI
Ekstraluminal Intrinsik Intraluminal
Adhesi Intususepsi Batu empedu
Hernia inkarserata Penyakit Crohn
Neoplasma Kongenital (volvulus)
Abses, hematoma Striktur
Hernia Oklusi mesentrial Volvulus Adhesi Tumor Invaginasi
PATOFISIOLOGI

MANIFESTASI KLINIK

DIAGNOSIS

S : Subjektif

- Keluhan muntah
- Jarang muntah fekal
- Perasaan tidak enak perut
bagian atas
- Kejang sekitar pusat, tidak
terus-terusan
- Muntah fekal
- Nyeri sekali STRANGULASI

Prox
Dist
OBSTRUKSI USUS HALUS
O : Objektif
Generalis: tanda dehidrasi?
Abdomen
Inspeksi : Scar bekas operasi,
Cembung, Distensi, Darm Steifung
Auskultasi : Peristaltik (+)
Perkusi : Timpani
Palpasi : -

Foto Polos Abdomen 3 Posisi
FLUID LEVEL (+)
OBSTRUKSI USUS HALUS
A : Assessment

DD:/
Ileus Paralitik
Nyeri ringan, konstan, difus
Distensi
Bisisng usus (-)
Obstruksi usus besar
- Obstipasi - Kolik jarang
- Distensi abdomen - Muntah jarang

OBSTRUKSI USUS HALUS
P : Planning

Penanggulangan DARURAT
DEFENITIF
Operasi ditujukan pada
sumber penyumbatan
OBSTRUKSI USUS HALUS
OBSTRUKSI USUS HALUS
S : Subjektif

Nyeri terasa di ulu hati
Nyeri hebat & terus menerus
Oleh karena peritonitis & iskemia
Tidak BAB
Jarang muntah fekal , jika muntah berarti
katup ileosekal tidak mampu mencegah
refluks
OBSTRUKSI USUS BESAR
OBSTRUKSI USUS BESAR
O : Objektif
Abdomen
Inspeksi : distensi
Auskultasi : Peristaltik (+) ,
Metallic sound (+)
Perkusi : Timpani
Palpasi : Teraba massa

PLAIN ABDOMINAL FOTO
FLUID LEVEL (+)
KOLON DISTENSI

OBSTRUKSI USUS BESAR
A : Assessment

DD:/
Ileus paralitik
Bising usus (-)
Dinding perut tidak tegang
Obstruksi usus halus
- Nyeri Perlahan-lahan, lebih ringan
- Jarang muntah


OBSTRUKSI USUS BESAR
P : Planning

Penanggulangan DARURAT
DEFENITIF
menghilangkan penyebab obstruksi

RECTAL TOUCHER
Isi rektum menyemprot : Hirschprung disease
Adanya darah dapat menyokong adanya
strangulasi, neoplasma
Feses yang mengeras : skibala
Feses negatif : obstruksi usus letak tinggi
Ampula rekti kolaps : curiga obstruksi
Nyeri tekan : lokal atau general peritonitis
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
Radiologi
Foto abdomen tegak dan berbaring harus yang pertama
dibuat.
Adanya gelung usus terdistensi dengan batas udara-
cairan dalam pola tangga pada film tegak sangat
menggambarkan ileus obstruksi sebagai diagnosis.
Dalam ileus obstruktif usus besar dengan katup
ileocaecalis kompeten, maka distensi gas dalam kolon
merupakan satu-satunya gambaran penting.
Penggunaan kontras dikontraindikasikan adanya
perforasi-peritonitis. Barium enema diindikasikan untuk
invaginasi, dan endoskopi disarankan pada kecurigaan
volvulus.

FOTO POLOS ABDOMEN

KOMPLIKASI
Strangulasi menjadi penyebab dari kebanyakan kasus
kematian akibat obstruksi usus. Isi lumen usus
merupakan campuran bakteri yang mematikan, hasil-
hasil produksi bakteri, jaringan nekrotik dan darah.
Usus yang mengalami strangulasi mungkin mengalami
perforasi dan mengeluarkan materi tersebut ke dalam
rongga peritoneum. Tetapi meskipun usus tidak
mengalami perforasi bakteri dapat melintasi usus yang
permeabel tersebut dan masuk ke dalam sirkulasi
tubuh melalui cairan getah bening dan mengakibatkan
syok septik.

PENATALAKSANAAN
Pre-operatif

Operatif
Simple correction
By-pass
Fistula entero-cutaneus
Reseksi usus

Post-operatif

PROGNOSIS
Obstruksi usus halus yang tidak mengakibatkan
strangulasi mempunyai angka kematian 5 %.
Kebanyakan pasien yang meninggal adalah pasien
yang sudah lanjut usia. Obstruksi usus halus yang
mengalami strangulasi mempunyai angka kematian
sekitar 8 % jika operasi dilakukan dalam jangka waktu
36 jam sesudah timbulnya gejala-gejala, dan 25 % jika
operasi diundurkan lebih dari 36 jam.
11

Pada obstruksi usus besar, biasanya angka kematian
berkisar antara 1530 %. Perforasi sekum merupakan
penyebab utama kematian yang masih dapat
dihindarkan.
11

KESIMPULAN
Ileus obstruktif: kerusakan atau hilangnya pasase usus
yang disebabkan sumbatan mekanik, oleh karena
obstruksi dalam lumen usus, dinding usus/luar usus
yang menekan pada usus halus maupun usus besar.
Gejala utama ileus obstruksi:nyeri kolik abdomen,
mual, muntah, perut distensi dan tidak bisa bab serta
flatus.
Dari pemeriksaan fisik: demam, takikardi, hipotensi dan
gejala dehidrasi berat. Pada pemeriksaan abdomen:
distensi, terdapat Darm Contour dan Darm Steifung,
pada auskultasi: hiperperistaltik berlanjut dengan
Borborygmi menjadi bunyi metalik (klinken).


Pada fase lanjut, bising usus dan peristaltik melemah
sampai hilang. Pada foto posisi tegak: bayangan air fluid
level banyak di beberapa tempat yang tampak
terdistribusi dalam step ladder appearance, juga terlihat
gambaran distensi.
Dasar pengobatan ileus: koreksi keseimbangan cairan
dan elektrolit, menghilangkan peregangan dan muntah
dengan dekompresi traktus gastrointestinal, mengatasi
peritonitis dan syok bila ada serta menghilangkan
obstruksi untuk memeperbaiki kelangsungan dan fungsi
usus kembali normal dengan cara operasi.
Prognosis baik bila diagnosis dan tindakan dilakukan
dengan segera.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sjamsuhidayat R, De Jong Wim. Usus halus, apendiks, kolon, dan anorektum. Buku Ajar Ilmu Bedah.
Edisi 2. Jakarta: EGC; 2005. p. 623-31.
2. Yates K. Bowel obstruction. In: Cameron P, Jelinek G, Kelly AM, Heyworth T, editors. Textbook of
Adult Emergency Medicine. 2nd ed. New York: Churchill Livingstone; 2004 . p. 306-9.
3. Price SA, Wilson LM. Gangguan Usus Halus Usus Besar. Dalam: Wijaya, Caroline, editors.
Patofisiologi: Konsep Klinis Proses Penyakit Volume 1. Edisi 6. Jakarta: EGC; 2006. p. 437-59.
4. Sabiston DC. Kelainan Bedah Usus Halus. Dalam: Andrianto P, Oswari J, editors. Buku Ajar Bedah
Bagian 1. Jakarta: EGC; 1995. p. 544-59.
5. Geneser F. Histologi Usus Besar. Dalam: Gunawijaya AF, editor. Buku Teks Histologi Jilid 2. Jakarta:
Binarupa Aksara; 1994.
6. Anonymous. Ileus. September 13, 2008. Available from URL:
http://medlinux.blogspot.com/2007/09/ileus.html. Accessed February 24, 2013.
7. Mukherjee S. Ileus. December 28, 2009. Available from URL: http://www.emedicine.medscape.com.
Accessed February 24, 2013.
8. Ansari p. Intestinal Obstruction. 2007 September. Available from URL:
http://www.merck.com/mmpe/sec02/choll/chollh.html. Accessed February 24, 2013.
9. Anonym. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Lab/UPF Ilmu Bedah. Rumah Sakit Umum Daerah Dokter
Soetomo. Surabaya, 1994.
10. Evers BM. Small intestine. In: Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mttox
KL,editors. Sabiston textbook of surgery. The biological basis of modern surgical
practice. 17th ed. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2004. p. 1323-42.
11. Sjamsuhidayat R, De Jong Wim. Hambatan Pasase Usus. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta:
EGC; 2005. p. 841-5.