Anda di halaman 1dari 57

REAKSI

HIPERSENSITIVITAS
KELOMPOK 3B
Mind Mapping
Tujuan Pembelajaran
Mahasiswa diharapkan mampu
mengetahui, memahami dan menjelaskan
mengenai:
1. Definisi reaksi hipersensitivitas (waktu terjadi
dan Gell-Coombs)
2. Penyebab reaksi hipersensitivitas
Hipersensitivitas 1, Cepat:
3. Mekanisme patofisiologis
4. Gejala
5. Pemeriksaan penunjang
6. Tatalaksana obat (dosis, mekanisme
kerja)
TUJUAN PEMBELAJARAN 1
Definisi reaksi hipersensitivitas
Definisi
Hipersensitivitas adalah peningkatan
reaktivitas atau sensitivitas terhadap
antigen yang pernah dipajankan atau
dikenal sebelumnya. (Imunologi Dasar
FKUI, 2012)

Reaksi hipersensitivitas adalah reaksi
imun berlebih, baik non-spesifik
maupun spesifiknya. (Imunologi Dasar
FKUI, 2012)
Reaksi hipersensitivitas adalah reaksi
berlebihan, tidak diinginkan karena
terlalu sensitifnya respon imun
(merusak, menghasilkan
ketidaknyamanan, dan terkadang
berakibat fatal) yang dihasilkan oleh
sistem kekebalan normal. (Wikipedia)
Reaksi
Hipersensitivitas
Reaksi cepat
Reaksi intermediet
Reaksi lambat
Tipe 1/ Alergi
Tipe 2/ Sitolitik
Tipe 3/
Kompleks imun
Tipe 4
Tipe modifikasi
Waktu timbulnya reaksi
1. Reaksi cepat
Terjadi dalam hitungan detik, hilang
dalam 2 jam.
2. Reaksi intermediet
Terjadi setelah beberapa jam, hilang
dalam 24 jam
3. Reaksi lambat
Terjadi setelah 48jam terpajanan
dengan antigen
Reaksi Tipe I (Alergi)
Disebut juga reaksi cepat atau reaksi
anafilaksis.
Reaksi ini timbul segera sesudah
terpajan dengan alergen.
Terdapat 3 fase:
Fase sensitasi Pembentukan Ig E
sampai diikat silang oleh reseptor
Fase aktivasi Pajanan ulang
Fase efektor Waktu terjadi respon
kompleks (anafilaksis)
Reaksi Tipe II (Reaksi sitolitik)

Manifestasi Klinik
1. Reaksi Transfusi kasus golongan
darah
2. Penyakit hemolitik bayi baru lahir
karena inkompatibilitas Rh dalam
kehamilan
3. Anemia hemolitik Antibiotika
tertentu diabsorbsi nonspesifik
membentuk hapten Ab mengikat
obat pada SDM lisis dengan
anemia progresif
Reaksi Tipe III (Kompleks Imun)
Dalam keadaan normal, kompleks
imun diangkut ke hati & limpa
dihancurkan.
Reaksi Tipe III kompleks imun
mengendap di jaringan.
(lanjutan)
Kompleks Imun mengendap di dinding
pembuluh darah
antigen biasanya berasal dari
kuman patogen yang persisten, bahan
yang terhirup atau dari jaringan
sendiri.
disebabkan tidak adanya respons
antibodi yang efektif.
(lanjutan)
Bentuk Reaksi:
Reaksi Lokal atau Fenomena Arthus
ditemukan dgn menyuntikkan serum
kuda ke dalam kelinci intradermal
Reaksi tipe III sistemik (serum
sickness) kompleks imun kecil sulit
dibersihkan fagosit.
Reaksi Tipe IV
Yang berperan: CD4+ dan CD8+
Melalui CD4+ : DTH
Melalui CD8+ : T Cell Mediated
Cytolisis
(lanjutan)
Manifestasi Klinis
a. Dermatitis Kontak akibat kontak
dengan bahan tidak berbahaya
b. Hipersensitivitas Tuberkulin
alergi bakterial spesifik thdp produk
filtrat biakan M. tuberkulosis
c. Reaksi Jones Mote terhadap
antigen protein yang berhubungan
dengan infiltrasi basofil di kulit bawah
dermis
d. Penyakit CD8+ kerusakan terjadi
pada sel CD8+ yang langsung
membunuh sel sasaran.
TUJUAN PEMBELAJARAN 2
Penyebab hipersensitivitas
Faktor Penyebab Hipersensitifitas
Faktor genetik => di sebabkan oleh
keturunan
Faktor makanan => kekebalan tubuh
melepas antibodi sebagai respon
terhadap masuknya makanan tertentu.
Faktor fisik => kelelahan merupakan
salah satu penyebab utama dan paling
mengganggu fisisk yang menimbulkan
alergi.


Faktor psikis => stres dapat
menimbulkan alergi.
Faktor lingkungan => lingkungan
sekitar seperti debu, asap kendaran,
asap rokok, bau cat, dll.
Faktor cuaca => udara panas, lembab,
dan perubahan cuaca ekstrim dapat
mengakibatkan alergi.
Macam-macam alergen
Alergen Contoh
Obat Antibiotik, analgesik, vaksin,
hormon Insulin, progesteron
Darah / produk darah Imunoglobulin IV
Enzim streptokinase
makanan Susu, telor, ikan, kacang
tanah
Venom / bisa Lebah, semut api
Lain-lain Tungau debu, polen
Obat-obat yg biasanya memicu
terjadinya alergi
Nama obat golongan
Paracetamol Analgesik, antipiretik
Aspirin Analgesik, antipiretik
Ibuprofen Analgesik, antipiretik
Penicilin Antibiotik
Amoksilin Antibiotik
Antibiotik golongan sulfa :
sulfadoxin, sulfadiaxine
Antibiotik
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
Mekanisme patofisiologis
PEMBAGIAN REAKSI HIPERSENSITIFITAS
MENURUT WAKTU
Reaksi cepat

Terjadi dalam hitungan
detik,menghilang dlm 2 jam.
Antigen yang diikat IgE pada
permukaan sel mast menginduksi
penglepasan mediator vasoaktif.
Manifestasi : anafilaksis sistemik adalah
anafilaksis lokal spt pilek,bersin, asma,
urtikaria & eksim
PEMBAGIAN REAKSI HIPERSENSITIFITAS
MENURUT MEKANISME GELL AND COOMBS
Reaksi Hipersensitivitas
Gell dan Coombs Tipe I
Urutan kejadian reaksi Tipe 1
1. Fase sensitisasi: waktu yang dibutuhkan u/
pembentukan IgE sampai diikat oleh
reseptor spesifik (Fce-R) pada permukaan
sel mast & basofil
2. Fase aktivasi: waktu yg diperlukan antara
pajanan ulang dengan antigen spesifik & sel
mast melepas isinya yang berisi granul yg
menimbulkan reaksi
3. Fase efektor: waktu terjadi respons
kompleks (anafilaksis) sebagai efek
mediator yang dilepas sel mast dengan
aktivitas farmakologik
TUJUAN PEMBELAJARAN 4
Gejala
Gejala
Manifestasi Klinis
Pemberian antigen protein dan obat
(ex: lebah atau penisilin).
Timbul :
a. Gatal
b. Urtikaria (bintik merah dan
bengkak)
c. Eritema kulit

d. Kesulitan bernapas karena
bronkokontriksi paru.
e. Menyerang otot saluran
pencernaan (kaku perut, diare).
TUJUAN PEMBELAJARAN 5
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan in vivo
2. Pemeriksaan in vitro
Pemeriksaan in vivo
-Uji tempel (patch test)
-Uji tusuk (prick/scratch test)
-Uji provokasi (exposure test)
Pemeriksaan in vitro
- Radio immunoassay
- Tes transformasi limfosit
- Leucocyte migration inhibition tes
TUJUAN PEMBELAJARAN 6
Tatalaksana
Pengobatan
Manifestasi klinis ringan umumnya
tidak memerlukan pengobatan khusus
Untuk pruritus, urtikaria, atau edema
angioneurotik dapat diberikan
antihistamin
Bila kelainan tersebut cukup luas
dapat diberikan pula adrenalin
Reaksi anafilaktik akut membutuhkan
epinefrin, antihistamin, dan
kortikosteroid
Antihistamin
Antihistamin berguna untuk pengobatan
simtomatik berbagai penyakit alergi dan
mencegah atau mengobati mabuk
perjalanan
Antihistamin berguna untuk mengobati
alergi tipe eksudatif akut misalnya pada
polinosis dan urtikaria
Pengobatan dengan antihistamin generasi
I bersifat sedatif. Untuk antihistamin
generasi berikutnya yang dari golongan
Piperion tidak menimbulkan efek sedatif

Penggolongan Antihistamin
ANTIHISTAMIN 1
Golongan: Etanolamin
Contoh Obat:
Difenhidramin Dosis: 25-50 mg 3-
4x/hari
Dimenhidrinat Dosis: 50 mg setiap
4-6jam


Golongan: Piperazin
Contoh Obat:
Hidroksizin Dosis: 25-100 mg 3-4x/hari

Golongan: Alkilamin
Contoh Obat:
Klorfeniramin Dosis: 4-8 mg 3-4x/hari

Golongan: Derivat Fenotiazin
Contoh Obat:
Prometazin Dosis: 10-25 mg 3x/hari

ANTIHISTAMIN GENERASI II
Contoh Obat:
Loratadin Dosis: 2-6 th: 5mg 1x/hari
>6 th: 10 mg 1x/hari
Setirizin Dosis: 5-10 mg 1-2x/hari
Feksofenadin Dosis: 60 mg 2x/hari
Lama kerja antihistamin generasi I
setelah pemberian dosis tunggal
umunya 4-6 jam
Sedangkan beberapa derivat piperazin
dan antihistamin generasi II memiliki
masa kerja lebih panjang (12-24 jam)
Adrenalin (Epinefrin)
Epinephrine adalah obat yang digunakan untuk
penyuntikan pembuluh darah dalam pengobatan
hipersensitivitas akut.
Indikasi:
Digunakan untuk mengobati
anaphylaxis dan sepsis.
Jenis Obat: Agonis / adrenergik
Dosis:
IM/SC: 0.01 mg/kg (0.01 ml/kg dari larutan
1/1000) hingga 0.1 mg/kg. Dapat diulang 3x
dengan interval 20 menit jika perlu
Kortikosteroid
Kortikosteroid umumnya digunakan untuk
mengurangi pembengkakan, kemerahan,
gatal, dan reaksi alergi. Seringkali
digunakan untuk mengobati sejumlah
penyakit yang berbeda, seperti alergi
parah, masalah kulit, asma, dan artritis.
Nama Obat: Triamsinolon
Dosis:
Intraartikuler: 2.5-15 mg
IM: 0.05-0.2 mg/kg setiap 1-7 hari
Krim 0.02%, 0.05%: dipakai setiap 6-8 jam

Nama Obat: Deksametason
Dosis:
Oral atau IV 0.1-0.25mg/kg/kali, 4x/hari

Nama Obat: Deksametason
Dosis:
Oral atau IV 0.1-0.25mg/kg/kali, 4x/hari

Nama Obat: Betametason
Dosis:
Gel 0.05% cream, lotion, atau ointment 0.02%,
0.05%,
0.1% dioleskan 1-3x/hari
Nama Obat: Hidrokortison
Dosis:
Krim 0.5%, 1%, setiap 6-12 jam

Nama Obat: Mometason Furoat
Dosis:
Krim 0.1% dipakai 1x/hari


Pencegahan
1. Memberikan obat hanya kalau ada indikasinya
2. Ditanyakan secara teliti riwayat alergi obat dahulu (uji kulit)
3. Obat lebih baik diberikan secara oral
4. Di sediakan obat-obat untuk menanggulangi keadaan
darurat alergik
5. Pasien diberikan penyuluhan


Daftar Pustaka
Bratawidjaja, Karnen Garna., Rengganis, Iris.
Imunologi Dasar. Penerbit: FKUI, 10. 2012
http://Id.m.wikipedia.org/wiki/Hipersensitivitas
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/
000819.htm
http://www.acaai.org/allergist/allergies/Types/dru
g-allergy/Pages/default.aspx
Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Departemen
Farmakologi dan Terapeutik FKUI 2007
Ilmu penyakit dalam. Edisi 4 Jilid 1 . Departemen
Ilmu Penyakit Dalam FKUI 2006