Anda di halaman 1dari 28

ASPEK PSIKOSOSIAL

HIV/AIDS
Kelompok IV
Pengertian HIV
Menurut Green. CW (2007). HIV merupakan
singkatan dari Human Immunnedeficiency Virus.
Disebut human (manusia) karena virus ini hanya
dapat menginfeksi manusia, immuno-deficiency
karena efek virus ini adalah melemahkan kamampuan
sistem kekebalan tubuh untuk melawan segala
penyakit yang menyerang tubuh, termasuk golongan
virus karena salah satu karakteristiknya adalah tidak
mampu memproduksi diri sendiri, melainkan
memanfaatkan sel-sel tubuh. Sel darah putih manusia
sebagai sel yang berfungsi untuk mengendalikan atau
mencegah infeksi oleh virus, bakteri, jamur, parasit
dan beberapa jenis kanker diserang oleh HIV yang
menyebabkan turunnya kekebalan tubuh sehingga
mudah terserang penyakit.


Pengertian AIDS
AIDS singkatan dari Acquired Immuno
Defeciency Syndrome. Acquired berarti diperoleh
karena orang hanya menderita bila terinfeksi HIV
dari orang lain yang sudah terinfeksi. Immuno
berarti sistem kekebalan tubuh, Defeciency berarti
kekurangan yang menyebabkan rusaknya sistem
kekebalan tubuh dan Syndrome berarti kumpulan
gejala atau tanda yang sering muncul bersama
tetapi mungkin disebabkan oleh satu penyakit
atau mungkin juga tidak yang sebelum
penyebabnya infeksi HIV ditemukan. Jadi AIDS
adalah kumpulan gejala akibat kekurangan atau
kelemahan system kekebalan tubuh yang
disebabkan oleh virus yang disebut HIV (Gallant.
J 2010).




Manifestasi Klinis
Manifestasi gejala dan tanda dari HIV dapat
dibagi menjadi 4 stadium:
Stadium pertama : Infeksi Akut HIV
Stadium kedua : Asimtomatik
Stadium ketiga : Pembesaran kelenjar limfe
secara menetap dan merata
Stadium keempat : AIDS

Anoreksia
Ansietas
Angitasi
Depresi
Marah-marah
Pikiran atau prilaku
paranoid
Disorentasi
Tidak mampu
berkonsentrasi
insomnia
perasaan tidak berdaya

perasaan putus asa
retardasi psikomotor
kehilangan memori
tidak mampu membuat
keputusan
waham
Ide bunuh diri
Sulit berkomonikasi
dengan orang lain
Perubahan kepribadian
Gejala psikiatri yang menyertai
AIDS
Fase Awal Fase pertengahan Fase akhir
Ansietas , mungkin
panic
Marah
Penurunan harga diri
Rasa malu yang kuat
Berpikiran kehilangan
multiple
Depresi
Perasaan sakit
Periode mengingkari
atau pikiran penuh harap
Kesulitan memberikan
informasi kepada
pasangan seksual yang
berganti ganti dan
teman pengguna jarum
suntik yang sama
Munculnya gejala
penurunan kesehatan
Perubahan penampilan fisik
Pengunaan keterampilan
koping, hunungan dan
keuangan berlebihan
Peningkatan ansietas
Diperlukan bantuan
perawatan diri
Rasa tidak menentu
Kehilangan kontrol
Kesedihan depresi berat
Kekuatan keluarga
bergerak atau konflik
meningkat
Berduka adaptif pada
keluarga dan teman
Memilih persiapan
kematian terutama advance
Penurunan status
kesehatan
Kehidupan sehari-hari
dipengaruhi oleh masalah
fisik dan kognetif
Stresor berat
Melihat kembali
kehidupan secara
menyeluruh
Nyeri dan penderitan
Demensia
Takut membebani orang
lain terutama pengasuh
Cara Penularan :
Penularan utama HIV adalah melalui 3 jalur yang
melibatkan cairan tubuh, yaitu :
Transseksual atau jalur hubungan seksual
(Homoseksual/ heteroseksual).
Transhorisontal atau jalur pemindahan darah atau
produk darah seperti : transfusi darah, melalui alat
suntik, alat tusuk tato, tindik, alat bedah, dokter
gigi, alat cukur dan melukai luka halus di kulit,
jalur transplantasi alat tubuh.
Transvertikal atau jalur transplasental : janin
dalam kandungan ibu hamil denga HIV positif
akan tertular (Infeksi transplasental) dan infeksi
perinatal melalui ASI
Respon Adaptif Psikologis
Pengalaman suatu penyakit akan
membangkitkan berbagai perasaan dan reaksi
stres, frustasi, kecemasan, kemarahan,
penyangkalan, rasa malu, berduka dan ketidak
pastian menuju pada adaptasi terhadap
penyakit.


KEHILANGAN YANG DIALAMI KLIEN PENDERITA AIDS
Harga diri
Anggota keluarga
Teman dan sistem pendukung
Kesehatan dan fungsi fisik
Citra tubuh
Keintiman fisik atau kontak sosial
Gaya hidup
Pekerjaan
Otonami
Tujuan dan mimpi mimpi
Sumber keuangan
kebebasan
Reaksi Psikologis Pasien HIV
Reaksi Proses psikologis Hal-hal yang biasa di jumpai
1. Shock (kaget, Merasa bersalah, marah, Rasa takut, hilang akal,
Goncangan tidak berdaya frustrasi, rasa sedih, susah,
batin) acting out
2. Mengucilkan Merasa cacat dan tidak Khawatir menginfeksi orang
Diri berguna, menutup diri lain, murung
3. Membuka Ingin tahu reaksi orang lain, Penolakan, stres, konfrontasi
status secara pengalihan stres, ingin
Terbatas Dicintai

Lanjutt..
4. mencari orang Berbagi rasa, pengenalan, Ketergantungan, campur
lain yang HIV kepercayaan, penguatan, tangan, tidak percaya pada
Positif dukungan social pemegang rahasia dirinya
5. Status khusus Perubahan keterasingan Ketergantungan, dikotomi
menjadi manfaat khusus, kita dan mereka (sema orang
perbedaan menjadi hal yang dilihat sebagai terinfeksi HIV
istmewa, dibutuhkan oleh dan direspon seperti itu), over
yang lainnya Identification
6. Perilaku Komitmen dan kesatuan Pemadaman, reaksi dan
Mementingkan kelompok, kepuasan kompensasi yang berlebihan
orang lain memberi dan berbagi,

perasaan sebagi kelompok

7. Penerimaan Integrasi status positif HIV Apatis, sulit berubah.
dengan identitas diri,
keseimbangan antara
kepentingan orang lain
dengan diri sendiri, bisa
menyebutkan kondisi
Seseorang

Respon Psikologis terhadap
penyakit :
Menurut Kubler Ross (1974), tahap reaksi
emosi seseorang terhadap penyakit, yaitu :
Pengingkaran (denial)
Kemarahan (anger)
Sikap tawar menawar (bargaining)
Depresi
Penerimaan dan partisipasi

Respon Adaptif Spiritual
Respons adaptif Spiritual, meliputi:
Harapan yang realistis
Tabah dan sabar
Pandai mengambil hikmah

Respons Adaptif social, aspek
psikososial menurut Stewart (1997)
dibedakan menjadi 3 aspek, yaitu :

Stigma sosial memperparah depresi dan
pandangan yang negatif tentang harga diri pasien.
Diskriminasi terhadap orang yang terinfeksi HIV,
misalnya penolakan bekerja dan hidup serumah
juga akan berpengaruh terhadap kondisi
kesehatan.
Terjadinya waktu yang lama terhadap respons
psikologis mulai penolakan, marah-marah, tawar
menawar, dan depresi berakibat terhadap
keterlambatan upaya pencegahan dan
pengobatan.
Prinsip etika dalam kaitannya
dengan HIV/AIDS
Prinsip etika yang harus dipegang teguh oleh
seluruh komponen dalam menghadapi
HIV/AIDS adalah :
Empati
Solidaritas
Tanggung jawab
Stigma dan Diskriminasi
Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis
seseorang buruk moral/perilakunya sehingga
mendapat penyakit tersebut. Orang-orang yang di
stigma biasanya dianggap melakukan untuk alasan
tertentu dan sebagai akibat mereka dipermalukan,
dihindari, didiskreditkan, ditolak dan ditahan.
Faktor yang berhubungan dengan kurang diterimanya
ODHA antara lain karena HIV/AIDS dihubungkan
dengan perilaku penyimpangan seperti seks sesama
jenis, penggunaan obat terlarang, seks bebas, serta
HIV diakibatkan oleh kesalahan moral sehingga patut
mendapatkan hukuman. (Kristina dan Cipto dalam
Nursalam, 2008).

Lanjutt..
Diskriminasi atau perlakuan tidak adil
didefinisikan oleh UNAIDS sebagai tindakan
yang disebabkan perbedaan, menghakimi
orang berdasarkan status HIV/AIDS mereka
baik yang pasti maupun yang diperkirakan
sebagai pengidap.
Pengaruh stigma
Stigma menyebabkan hal-hal sebagai berikut :
Perubahan pandangan terhadap seseorang (
social identity)
Penolakan atau penurunan kesempatan interaksi
social
Kesempatan berkurang, missal perumahan,
pekerjaan, mendapat pelayanan kesehatan.
Perasaan malu dan membenci diri pada penilaian
masyarakat.
Memungkinkan pengurangan kualitas hidup
seseorang
Factor faktor yang mempengaruhi stigma
HIV/AIDS adalah penyakit yang mengancam hidup
Ketakutan untuk kontak dengan HIV
Hubungan HIV/AIDS dengan prilaku seperti
homoseksual, IDU, PSk, dll
ODHA dinilai sebagai penyakit yang dibuat sendiri
Realigi atau kepercayaan yang menyamakan
HIV/AIDS dengan kesalahan moral, seperti
penyimpangan seks yang pantas mendapat hukuman.
Status social ekonomi, usia dan gender.
Kurangnya pengetahuaan yang benar mengenai
HIV/AIDS

Bentuk bentuk stigma ( ICRW, 2003)
Pemberian nama atau sebutan
Menunjuk
Membuat bahan tertawaan
Menfitnah
Isolasi
Penolakan
Memisahkan diri
Tidak mau berbagi alat atau perlengkapan dengan
ODHA
Penyiksaan
Gangguan usikan
Kekerasan

Mengkambing hitamkan
Sindiran / ejekan / olok olokan
Member label
Menyalahkan
Mempermalukan
Menghakimi / menvonis
Gossip
Membuat asumis
Mencuragai
Mengabaikan
Rumor
Menghindari
Menjaga jarak

Efek stigma
Dapat menyebabkan efek negative terhadap individu, seperti misalnya :
Perubahan mengenai seseorang dipandang oleh orang lain( identitas
social)
Penolakan social atau penurunan dalam penerimaan dalam interaksi social
Keterbatasan atau kehilangan kesempatan seperti misalnya tempat tinggal,
pekerjaan , akses terhadap pelayanan kesehatan
Perasaan malu dan benci terhadap diri sendiri
Menurunkan kualitas hidup seseorang
Meningkatkan deskriminasi
Pelanggaran ham ( ODHA dan keluarganya)
Pemicu epidemic HIV/AIDS
Menghambat upaya pencegahan dan perawatan
Pasien akan berlarut-larut dalam diam dan penyangkalan
Memperkuat merginalisasi pada ODHA dan siapa saja yang rentan
terhadap infeksi HIV

KOPING TERHADAP STIGMA (ICRW 2003)
Menarik kembali stigma yang ada (withdrawing)
Abaikan orang-orang yang menstigmatisasi
Hindari situasi-situasi yang berkaitan dengan stigma
Anggap sebagai lelucon ( bukan sungguhan )
Jawab balik atau beri perlawanan atau penyanggahan
yang tepat
Bergabung dalam support group
Mencoba untuk menjelaskan atau memberikan
informasi yang benar kepada masyarakat
Melakukan diskusi atau dialog dengan orang-orang
yang menstigmatisasi

Strategi menangani stigma
Dipelayanan kesehatan
Dimasyarakat
Petugas HBC (Home Based Care)
Kelompok agama dan kepercayaan
Tempat kerja
Media


Upaya mengurangi beban
psikososial
Untuk mengurangi beban psikososial maka
pemahaman yang benar mengenai AIDS perlu
disebar luaskan. Konsep bahwa dalam era
obat antiretroviral AIDS sudah menjadi
penyakit kronik yang dapat dikendalikan juga
perlu dimasyarakatkan. Konsep tersebut
memberi harapan kepada masyarakat dan
Odha bahwa Odha tetap dapat menikmati
kualitas hidup yang baik dan berfungsi di
masyarakat.

Dukungan sosial
dukungan emosional, pasien merasa nyaman;
dihargai; dicintai; dan diperhatikan
dukungan informasi, meningkatnya
pengetahuan dan penerimaan pasien
terhadap sakitnya
dukungan material, bantuan / kemudahan
akses dalam pelayanan kesehatan pasien

Peran Perawat
Peran Perawat dalam Askep Pasien HIV/AIDS
menurut Nursalam 2007 Memfasilitasi strategi
koping :
Memfasilitasi sumber penggunaan potensi diri
agar terjadi respons penerimaan sesuai tahapan
dari Kubler-Ross
Teknik Kognitif, penyelesaian masalah; harapan
yang realistis; dan pandai mengambil hikmah
Teknik Perilaku, mengajarkan perilaku yang
mendukung kesembuhan: kontrol & minum obat
teratur; konsumsi nutrisi seimbang; istirahat dan
aktifitas teratur; dan menghindari konsumsi atau
tindakan yang menambah parah sakitnya

STRATEGI KOMONIKASI

Ungkapkan rasa empadi dan beri dukungan yang tulus
Dengarkan secara sungguh sungguh pernyataan klien
tentang ketakutan, kecemasan , nyeri dan masalah
Beri kesempatan pada klien untuk mendiskusikan perasaannya
Eksplorasi mitos-mitos tentang AIDS
Eksplorasi kepedulian baik secara verbal maupun nonverbal
Berkomonikasi melalui sentuhan yang sesuai
Tergaskan kembali bahwa klien mempunyai harkat dan martabat
Jika sesuai, diskusikan beberapa strategi untuk mengetasi
masalah potensial, kemungkinan menggunakan perawatan
hospice, dan persiapan kematian.