Anda di halaman 1dari 78

PELATIHAN PERPAJAKAN

PAJAK PERTAMBAHAN NILAI


(PPN)

Oleh:

Bagian Pajak Divisi AMK KP BRI



1. UU no 42 tahun 2009 tentang PPN Barang dan Jasa dan PPn atas Barang
Mewah.

2. PP no 144 tahun 2000 tentang Jenis Barang dan Jasa yang Tidak Dikenakan
PPN.

3. PMK no 68/PMK.03/2010 tentang Batasan Pengusaha Kecil PPN.

4. PER 24/PJ/2012 tentang Bentuk, Ukuran, Prosedur Pemberitahuan Dalam
Rangka Pembuatan, Tata Cara Pengisian Keterangan, Tata Cara Pembetulan
atau Penggantian, dan Tata Cara Pembatalan Faktur Pajak.

5. SE -121/PJ/2010 tentang Penegasan Perlakuan PPN atas Kegiatan Usaha
Perbankan.






Dasar Hukum
PPN adalah pajak atas konsumsi barang dan jasa dalam negeri.

Karakteristik PPN:
Destination Principle artinya PPN hanya dikenakan atas Barang
Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP) yang dikonsumsi
di dalam daerah Pabean Indonesia.
Pajak Objektif
Pajak tidak langsung
Single Rate

Pengertian dan Karakteristik





















Pengusaha kecil adalah pengusaha yang selama satu tahun buku
melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak
dengan jumlah peredaran bruto dan/atau penerimaan bruto tidak lebih
dari Rp 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).
Pengusaha Kena Pajak (PKP) adalah Pengusaha yang melakukan
penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak
yang dikenai pajak berdasarkan Undang-undang ini tidak termasuk
pengusaha kecil, kecuali pengusaha kecil yang memilih dikukuhkan
menjadi PKP.

Subjek pajak PPN adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP)

Subjek PPN
Setiap pengusaha yang omset-nya > 600 juta setahun wajib
dikukuhkan menjadi PKP dengan bukti SPPKP (Surat Pengukuhan
Pengusaha Kena Pajak).

Kewajiban PKP:
Memungut PPN
Menerbitkan Faktur Pajak sebagai bukti pemungutan PPN
Menyetor PPN terutang ke Rekening Giro KPPN
Melaporkan PPN ke KPP

Pengusaha yang bukan PKP tidak boleh:
Memungut PPN dari pembeli.
Menerbitkan Faktur Pajak.


1. Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) di dalam Daerah Pabean yang dilakukan
oleh pengusaha;
2. Impor Barang Kena Pajak;
3. Penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP) di dalam Daerah Pabean yang dilakukan
oleh Pengusaha;
4. Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean di
dalam Daerah Pabean;
5. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah
Pabean;
6. Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak;
7. Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak; dan
8. Ekspor Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak.
9. Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan oleh Orang Pribadi atau Badan,
tidak dalam kegiatan usaha/pekerjaan, yang hasilnya digunakan sendiri.
10. Penyerahan aktiva yg dilakukan PKP yang menurut tujuan semula tidak untuk
diper-jualbelikan.



Objek PPN




setiap kegiatan pelayanan berdasarkan perikatan/perbuatan
hukum yang menyebabkan suatu barang, fasilitas,
kemudahan atau hak tersedia untuk dipakai, termasuk jasa
yang dilakukan untuk menghasilkan barang karena pesanan
atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari
pemesan yang dikenai pajak berdasarkan UU PPN.
barang berwujud, yang menurut sifat atau hukumnya dapat
berupa barang bergerak atau barang tidak bergerak, dan
barang tidak berwujud (hak Paten, hak merek, hak dagang,dll)
yang dikenai pajak berdasarkan UU PPN.
BKP
JKP
Kegiatan Membangun Sendiri Yang Dilakukan Tidak
Dalam Kegiatan Usaha Atau Pekerjaan
Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas kegiatan membangun sendiri yang
dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh orang pribadi atau
badan yang hasilnya digunakan sendiri atau digunakan pihak lain.

Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau
pekerjaannya, dikenakan Pajak Pertambahan Nilai dengan pertimbangan untuk
mencegah terjadinya penghindaran pengenaan Pajak Pertambahan Nilai.

Untuk melindungi masyarakat yang berpenghasilan rendah dari pengenaan
Pajak Pertambahan Nilai atas kegiatan membangun sendiri, maka diatur
batasan kegiatan membangun sendiri dengan Keputusan Menteri Keuangan.

Suatu kegiatan membangun sendiri dapat terhutang PPN, apabila
memenuhi syarat sbb :

Dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya.
Yang dibangun adalah untuk tempat tinggal atau tempat usaha.
Luas bangunan 300 meterpersegi atau lebih.
Bangunan konstruksi utama kayu, beton, pasangan batu bata/bahan se-
jenis, dan/atau baja tahan 20 th.
Pembangunan bertahap kurang dari 2 tahun

PPN = 10% x 40% x Biaya2 yang dikeluarkan untuk bangunan

Sebuah bank membangun gedung untuk garasi mobil dinas perusa-
haan. Dalam rangka mewujudkan tanggung jawab sosialnya, pelak-
sanaan pembangunannya dilakukan oleh tukang kayu dan tukang
batu yang bertempat tinggal di sekitar lokasi bank.
Luas gedung = 400 m2, biaya seluruhnya diperkirakan Rp 200 juta.
Pembangunan dimulai awal Januari, selesai akhir Februari.
Biaya yang dikeluarkan dapat dirinci sebagai berikut:
- Januari sebesar Rp 110 juta termasuk PPN atas pembelian mate-
rial sebesar Rp 7 juta.
- Februari sebesar Rp 90 juta termasuk PPN atas pembelian mate-
rial sebesar Rp 6 juta.
Penghitungan PPN yang terutang :
- Januari = 10% x 40% x Rp 110 juta = Rp 4.400.000,00
- Februari = 10% x 40% x Rp 90 juta = Rp 3.600.000,00
PPN tsb wajib disetor ke kas negara paling lama tgl 15 bln berikutnya
Contoh:
Penyerahan barang kena pajak berupa aktiva yang menurut tujuan
semula tidak untuk diperjualbelikan oleh pengusaha kena pajak
Pasal 16 D
Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas penyerahan Barang Kena
Pajak berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan oleh Pengusaha Kena Pajak, kecuali atas penyerahan
aktiva yang Pajak Masukannya tidak dapat dikreditkan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9 ayat (8) huruf b dan huruf c Undang Undang
Nomor 42 Tahun 2009, yaitu:

Aktiva yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha
Aktiva berupa sedan dan station wagon.

1. Barang hasil Pertambangan, Penggalian, dan Pengeboran yang diambil
langsung dari sumbernya (tanpa diolah). Misalnya: minyak mentah, gas
bumi, panas bumi, batubara, bijih besi, bijih timah, dll.

2. Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan rakyat banyak
(yang belum diolah). Misalnya: Beras, gabah, jagung, sagu, kedelai,
garam, daging segar, telur, susu, buah-buahan, sayur-sayuran, dll.

3. Makanan dan Minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan,
warung, dan sejenisnya, tidak termasuk makanan dan minuman yang
diserahkan oleh usaha jasa boga atau catering.

4. Uang, emas batangan, dan surat-surat berharga.




Bukan Termasuk BKP
1. Jasa di bidang pelayanan kesehatan medis. Misalnya: jasa dokter umum, dokter gigi,
dokter spesialis, jasa rumah sakit, rumah bersalin, klinik kesehatan, laboratorium
kesehatan, psikolog, psikiater, paramedis dan perawat, dll.

2. Jasa di bidang pelayanan sosial. Misalnya: Panti asuhan, panti jompo, jasa pemadam
kebakaran, jasa pertolongan pada kecelakaan, lembaga rehabilitasi, rumah duka,
pemakaman, olahraga kecuali untuk komersial.

3. Jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko.

4. Jasa Keuangan.
Misalnya: Jasa penghimpunan dana dari masyarakat, jasa penempatan dana,
meminjam dana, jasa pembiayaan, jasa penjaminan.

5. Jasa Asuransi. Misalnya: asuransi kerugian, jiwa, dan reasuransi, tidak termasuk jasa
penunjang asuransi seperti agen asuransi, penilai kerugian asuransi, dan konsultan
asuransi.

6. Jasa di bidang Keagamaan.

7. Jasa di bidang Pendidikan. Misalnya: jasa pendidikan sekolah dan jasa pendidikan
luar sekolah.

Bukan Termasuk JKP

8. Jasa di bidang kesenian dan hiburan.

9. Jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan.

10. Jasa Angkutan Umum di Darat, Air, dan Udara.

11. Jasa di Bidang Tenaga Kerja. Misalnya: Jasa tenaga kerja, jasa penyedia tenaga kerja
sepanjang pengusaha penyedia tenaga kerja tidak bertanggung jawab atas hasil kerja
dari tenaga kerja tersebut, jasa penyelenggaraan pelatihan tenaga kerja.

12. Jasa di Bidang Perhotelan. Meliputi persewaan kamar, motel, losmen, jasa persewaan
ruangan di hotel, dll.

13. Jasa Pemerintah dalam Menjalankan Pemerintahan. Meliputi pemberian IMB, KTP,
NPWP, SIUP, dll.

14. Jasa Penyediaan Tempat Parkir.
15. Jasa Telepon Umum dengan Uang Logam.
16. Jasa Pengiriman Uang dengan Wesel Pos.
17. Jasa Boga dan Catering.




Menurut Pasal 4A ayat (3) huruf d UU PPN, jasa keuangan yang tidak
dikenai PPN meliputi:

1. Jasa menghimpun dana dari masyarakat berupa giro, deposito berjangka,
sertifikat deposito, tabungan dan/atau bentuk lain yang dipersamakan
dengan itu;
2. Jasa menempatkan dana, meminjamkan dana,atau meminjamkan dana
kepada pihak lain dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi, wesel
unjuk, cek, dll.
3. Jasa pembiayaan, termasuk pembiayaan berdasarkan prinsip syariah,
berupa:
Sewa guna usaha dengan hak opsi;
Anjak piutang;
Usaha kartu kredit; dan/atau
Pembiayaan konsumen;
4. Jasa penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai, termasuk gadai syariah
dan fidusia;
5. Jasa penjaminan.


a. Menghimpun dana dari masyarakat berupa giro, deposito berjangka, sertifikat
deposito, tabungan, dan/atau bentuk lain yang dipersamakan dgn itu.
b. Memberikan kredit
c. Memberikan surat pengakuan hutang
d. Membeli, menjual atau menjamin atas risiko sendiri maupun untuk kepentingan dan
atas perintah nasabahnya:
1. Surat-surat wesel termasuk wesel yang diakseptasi oleh bank yg masa
berlakunya tdk lbh lama daripada kebiasaan dlm perdag. srt-srt dimaksud;
2. Surat pengakuan utang dan kertas dag. lainnya yg masa berlakunya tdk lbh lama
daripada kebiasaan dlm perdagangan srt-srt dimaksud;
3. Kertas perbendaharaan negara dan srt jaminan pemerintah;
4. Sertifikat Bank Indonesia (SBI);
5. Obligasi;
6. Surat dagang berjangka waktu sampai dengan satu tahun;
7. Istrumen srt berharga lain jg berjangka waktu sampai dg satu tahun


Pasal 6 UU Perbankan
Usaha Bank Umum
e. Memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan
nasabah;
f. Menempatkan dana pada, meminjam dana dari, atau meminjamkan dana kepada
bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dg wesel
unjuk, cek atau sarana lainnya;
g. Menerima pembayaran dari tagihan atas srt berharga dan melakukan perhitungan
dengan atau antar pihak ketiga;
h. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan srt berharga;
i. Melakukan kegiatan penitipan utk kepentingan pihak lain berdasar kontrak
j. Melakukan penempatan dana dari nasabah kpd nasabah lainnya dlm bentuk srt
berharga yg tdk tercatat di bursa efek;
k. Melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan wali amanat
l. Menyediakan pembiayaan dan/atau melakukan kegiatan lain berdasarkan Prinsip
Syariah, sesuai dg ketentuan yg ditetapkan oleh Bank Indonesia;
m. Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tdk bertentangan
dengan undang-undang ini dan peraturan per Undang-Undangan yang berlaku.

Kegiatan usaha bank umum sebagaimana di atas, dapat dibedakan
menjadi sebagai berikut :

a. Kegiatan usaha bank umum yang merupakan penyerahan jasa
keuangan yang tidak terutang PPN, yang karakteristiknya sebagai
berikut :
1) jasa keuangan yang diserahkan berupa jasa pembiayaan yang
mendapatkan imbalan berupa bunga, atau
2) jasa keuangan yang diserahkan secara langsung oleh bank
kepada nasabah, dalam hal jasa keuangan tersebut bukan
jasa pembiayaan;dan
b. Kegiatan usaha bank umum yang merupakan penyerahan jasa
yang terutang PPN.
A. Jasa-jasa Perbankan yang dikenakan PPN

SE-121/PJ/2010 tentang Penegasan Perlakuan PPN atas Kegiatan Usaha Perbankan,
mengatur mengenai jasa-jasa Perbankan yang dikenakan PPN yaitu:

1. Memindahkan uang untuk kepentingan bukan nasabah:
Pendapatan dari pengiriman uang yang bukan dari nasabah.
Pendapatan dari RTGS yang bukan dari nasabah.

2. Penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam bentuk surat berharga
yang tidak tercatat di bursa efek.
Misalnya: pendapatan atas Jasa Kustodian.

3. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan
dengan atau antar pihak ketiga.
Subscription fees dari transaksi reksadana
Switching fee dari transaksi reksadana
Subscription fee dari obligasi - primary market
Redemption fee


























SE-121/PJ/2010

4. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga
Misalnya: pendapatan atas SDB.

5. Melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu
kontrak
Misalnya fee dari wali amanat, security agent, dll.

6. Membeli dan menjual untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya,
Misalnya: pendapatan atas transaksi yang terkait dengan jasa penjualan surat
berharga (efek, reksadana, obligasi).

7. Kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank, misalnya:
Penghasilan dari transaksi bank draft, traveler check, payment
Pendapatan dari telex, swift, SKN (sentra kliring nasional) untuk kepentingan
non nasabah.
Pendapatan jasa penerimaan setoran sim, tilang, PLN dll.
Fee bank persepsi, dll.
B. Jasa-jasa Perbankan yang tidak dikenakan PPN

SE-121/PJ/2010 tentang Penegasan Perlakuan PPN atas Kegiatan Usaha
Perbankan, mengatur mengenai jasa-jasa Perbankan yang tidak dikenakan
PPN yaitu:

1. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan.
2. Memberikan kredit.
3. Menempatkan dana pada, meminjam dana dari atau meminjamkan dana
kepada bank lain.
4. Melakukan kegiatan anjak piutang usaha kartu kredit.
5. Menyediakan pembiayaan dan melakukan kegiatan lain berdasarkan
prinsip syariah sesuai ketentuan BI.
6. Menerbitkan surat utang dll.


Terutangnya pajak terjadi pada saat :
Penyerahan Barang Kena Pajak;
Impor Barang Kena Pajak;
Penyerahan Jasa Kena Pajak;
Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean;
Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean;
Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud;
Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud; atau
Ekspor Jasa Kena Pajak.

Dalam hal pembayaran diterima sebelum
penyerahan Barang Kena Pajak atau
sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak atau
dalam hal pembayaran dilakukan sebelum dimulainya pemanfaatan Barang
Kena Pajak Tidak Berwujud atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean,
maka saat terutangnya pajak adalah pada saat pembayaran.

Saat Terutangnya Pajak





Tarif PPN
Tarif PPN
0 %

Ekspor BKP berwujud
Ekspor BKP tidak berwujud
Ekspor JKP
10 %
(BKP & JKP non ekspor)
























Dasar Pengenaan Pajak (DPP)
Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah harga jual, penggantian, nilai impor, nilai
ekspor, atau nilai lain yang ditetapkan dengan keputusan Menteri Keuangan yang
dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terhutang.

HARGA JUAL adalah semua biaya yg diminta oleh penjual karena
penyerahan BKP tidak termasuk PPN


PENGGANTIAN adalah semua biaya yg diminta oleh penjual karena
penyerahan JKP tidak termasuk PPN


NILAI IMPOR adalah nilai berupa uang yg menjadi dasar perhitungan bea
masuk + pungutan lain tidak termasuk PPN

NILAI EKSPOR adalah nilai berupa uang termasuk semua biaya yang
diminta oleh eksportir.
Nilai Lain Yg Ditetapkan Oleh Menkeu (pemakaian Sendiri, pemberian
Cuma-Cuma dll)
DPP Nilai Lain
1. Berdasarkan PMK Nomor 83/PMK.03/2012 ditetapkan nilai lain sebagai DPP atas
jasa penyediaan tenaga kerja yaitu sebesar jumlah tagihan yang diminta atau
seharusnya diminta oleh Pengusaha jasa atas penyerahan jasa penyediaan tenaga
kerja kepada pengguna jasa setelah dikurangi dengan jumlah imbalan yang diterima
tenaga kerja berupa : gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan sejenisnya. Nilai lain ini
digunakan jika di dalam faktur pajak terdapat rincian antara jumlah tagihan jasa
dengan imbalan tenaga kerja.
DPP Nilai Lain = Nilai tagihan jasa
PPN = 10% x DPP Nilai lain

2. Untuk pemungutan PPN atas jasa ekspedisi, Dasar Pengenaan Pajak (DPP)
menggunakan DPP Nilai Lain dengan perhitungan sebagai berikut:
DPP Nilai Lain = 10% x Total tagihan
PPN = 10% x DPP Nilai lain

Faktur Pajak (FP) adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh
Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang melakukan penyerahan Barang
Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP).
1. Faktur Pajak Masukan (PM) adalah FP yang diterima oleh pembeli
atas pembelian BKP atau JKP.
2. Faktur Pajak Keluaran (PK) adalah FP yang diterbitkan oleh PKP
atas penjualan BKP atau JKP.

Faktur Pajak Gabungan
Untuk mempermudah administrasi pajak, PKP diperkenankan
membuat satu faktur pajak yang meliputi semua penyerahan
BKP/JKP yang terjadi selama satu bulan kalender kepada pembeli
atau penerima JKP yang sama.







Faktur Pajak
Saat Pembuatan Faktur Pajak:
1. Saat penyerahan BKP dan/atau JKP.
2. Saat penerimaan pembayaran dalam hal pembayaran terjadi
sebelum penyerahan BKP dan/atau JKP.
3. Saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan
sebagian tahap pekerjaan.
4. Saat PKP Rekanan menyampaikan tagihan kepada pemungut
PPN.
5. Saat lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan.

Saat pembuatan Faktur Pajak Gabungan:
FP gabungan dibuat paling lama pada akhir bulan penyerahan
BKP/JKP meskipun di dalam bulan penyerahan telah terjadi
pembayaran baik sebagian/seluruhnya
Saat Pembuatan Faktur Pajak
1. Saat penyerahan BKP/JKP (dalam hal pembayaran diterima setelah
saat penyerahan). (p2a1ha)
Penyerahan
BKP/JKP
01/04/2010
Pembayaran
01/05/2010
FP
diterbitkan
Back
Penyerahan
BKP/JKP
01/04/2010 01/05/2010
FP
diterbitkan
2. Saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran
terjadi sebelum penyerahan BKP/JKP. (p2a1hb)
Pembayaran
(DP)
Back
3. Saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian
tahap pekerjaan. (p2a1hc)
Pembayaran
Termin 1
01/04/2010
Pembayaran
Termin 2
15/06/2010
Penyerahan
Bangunan
01/08/2010
FP
diterbitkan
FP
diterbitkan
Faktur pajak sedikitnya harus memuat (pasal 13 ayat 5 UU PPN):

Nama, alamat, NPWP penjual atau menyerahkan BKP/JKP;
Nama, alamat, NPWP pembeli BKP atau penerima JKP;
Jenis barang atau jasa, jumlah harga jual atau penggantian, dan
potongan harga;
PPN yang dipungut;
PPnBM yang dipungut;
Kode, nomor seri, dan tanggal pembuatan faktur pajak, dan
Nama dan tandatangan yang berhak menandatangani faktur
pajak.

KODE DAN NOMOR SERI FAKTUR PAJAK
(Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-24/PJ/2012, 22 November 2012)
Kode Transaksi
Kode Status
Kode Cab. Th. Penerbitan
Nomor Urut
( 8 digit )
Nomor Seri Faktur Pajak
01 : Penyerahan kepada selain Pemungut PPN
02 : Penyerahan kepada Pemungut PPN Bendaharawan Pemerintah
03 : Penyerahan kepada Pemungut PPN lainnya
04 : Penyerahan dg DPP Nilai Lain selain kepada Pemungut PPN
05 : Penyerahan yang PM-nya di deemed, tidak digunakan lagi
06 : Penyerahan dengan tarif khusus selain kepada Pemungut PPN,dan
Penyerahan BKP kpd orang pribadi pemegang paspor luar negeri
07 : Penyerahan dg PPN Tidak Dipungut selain kepada Pemungut PPN
08 : Penyerahan dengan PPN Dibebaskan selain kepada Pemungut PPN
09 : Penyerahan Aktiva Ps. 16D selain kepada Pemungut PPN

Kode Status: 0 : Faktur Pajak Normal
1 : Faktur Pajak Pengganti
Faktur Pajak dianggap faktur pajak tidak lengkap apabila:

FP tidak diisi secara lengkap, jelas, dan benar
FP tidak ditandatangani oleh pejabat/kuasa yang ditunjuk oleh PKP
untuk menandatanganinya
FP dicoret
FP robek, basah, dan lecek yang menimbulkan ketidakjelasan
informasi
Hasil print atau ketikan FP tidak jelas

Apabila faktur pajak rusak, salah dalam pengisian, atau salah dalam
penulisan, maka PKP yang menerbitkan Faktur Pajak dapat
menerbitkan Faktur Pajak Pengganti.






Tata cara pembetulan faktur pajak yang rusak, salah dalam pengisian atau
salah dalam penulisan sbb :

1. Atas permintaan pihak pembeli atau atas kemauan sendiri, terhadap faktur
pajak yang rusak, salah dalam pengisian, atau salah dalam penulisan,
dapat diterbitkan faktur pajak pengganti oleh PKP.
2. Pembetulan faktur pajak yang rusak, salah dalam pengisian, atau salah
dalam penulisan tidak diperbolehkan dengan cara menghapus, atau
mencoret, atau dengan cara lain, selain dengan cara membuat faktur pajak
pengganti.
3. Penerbitan dan peruntukan faktur pajak pengganti dilaksanakan seperti
membuat faktur pajak yang biasa.
4. Faktur pajak pengganti, diisi berdasarkan keterangan yang seharusnya
dan dilampiri dengan faktur pajak yang rusak, salah dalam penulisan atau
salah dalam pengisian tersebut.


Faktur Pajak Pengganti
5. Faktur pajak pengganti tetap menggunakan nomor seri faktur pajak yang
sama dengan yang diganti. Sedangkan tanggal faktur pajak pengganti
adalah tanggal saat faktur pajak pengganti dibuat.

6. Pada faktur pajak pengganti, dibubuhkan cap yang mencantumkan Kode,
Nomor Seri, dan tanggal faktur pajak yang diganti tersebut.

Faktur pajak PPN yang diganti:
Kode dan Nomor Seri : ...............................
Tanggal : ...............................

7. Faktur pajak pengganti wajib dilaporkan kembali dalam SPT Masa PPN
pada masa pajak yang sama dengan masa pajak dilaporkannya faktur
pajak yang diganti (SPT pembetulan).

Faktur Pajak Hilang

Atas faktur pajak yang hilang, PKP penjual yang menerbitkan faktur pajak
dapat membuat copy dari arsip faktur pajak yang disimpan olehnya. Tata cara
penggantian faktur pajak yang hilang :

1. Pihak pembeli mengajukan permohonan tertulis untuk meminta copy
faktur pajak yang hilang kepada PKP penjual yang menerbitkan faktur
pajak dengan tembusan kepada KPP pembeli dan KPP PKP penjual.
2. Berdasarkan permohonan dari pihak pembeli , PKP penjual membuat
copy dari arsip untuk dilegalisir oleh KPP PKP penjual.
Copy dibuat dalam rangkap 2 :
Lembar ke-1 : Diserahkan ke pembeli melalui PKP penjual
Lembar ke-2 : Arsip KPP ybs.
3. Legalisir diberikan oleh KPP penjual setelah meneliti asli arsip faktur
pajak dan laporan SPT Masa PPN. Kemudian legalisir lembar ke-1
diserahkan ke PKP penjual untuk diteruskan ke pembeli.

Dokumen Tertentu yang Kedudukannya Dipersamakan dengan
Faktur Pajak

Sesuai PER-27/PJ/2011, berikut dokumen yang dipersamakan dengan FP:
a. Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) yang telah diberikan persetujuan ekspor
oleh pejabat yang berwenang dari Dirjen Bea dan Cukai dilampiri dengan
invoice yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan PEB
tersebut.
b. Surat Perintah Penyerahan Barang (SPPB) yang dibuat/dikeluarkan oleh
BULOG/DOLOG untuk penyaluran tepung terigu.
c. Paktur Nota Bon Penyerahan (PNBP) yang dibuat/dikeluarkan oleh Pertamina
untuk penyerahan BBM dan atau bukan BBM.
d. Bukti tagihan atas penyerahan jasa telekomunikasi oleh perusahaan
telekomunikasi;
e. Ticket, tagihan Surat Muatan Udara (Airway Bill), atau Delivery Bill, yang
dibuat/dikeluarkan untuk penyerahan jasa angkutan udara dalam negeri.
f. Nota Penjualan Jasa yang dibuat/dikeluarkan untuk penyerahan jasa
kepelabuhan.
g. Bukti tagihan atas penyerahan listrik oleh perusahaan listrik.




h. Pemberitahuan Ekspor Jasa Kena Pajak/Barang Kena Pajak Tidak Berwujud
yang dilampiri dengan invoice yang merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisahkan dengan Pemberitahuan Ekspor Jasa Kena Pajak/Barang Kena
Pajak Tidak Berwujud, untuk ekspor Jasa Kena Pajak/Barang Kena Pajak Tidak
Terwujud;
i. Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang mencantumkan identitas pemilik
barang berupa nama, alamat dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan
dilampiri dengan Surat Setoran Pajak, Surat Setoran Pabean, Cukai dan Pajak
(SSPCP), dan/atau bukti pungutan pajak oleh Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai, yang mencantumkan identitas pemilik barang berupa nama, alamat dan
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), yang merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisahkan dengan PIB tersebut, untuk impor Barang Kena Pajak;
j. Surat Setoran Pajak untuk pembayaran Pajak Pertambahan Nilai atas
pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau Jasa Kena Pajak dari luar
Daerah Pabean;
k. Bukti tagihan atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak
oleh Perusahaan Air Minum:
l. Bukti tagihan (Trading Confirmation) atas penyerahan Jasa Kena Pajak oleh
perantara efek;dan
m. Bukti tagihan atas penyerahan Jasa Kena Pajak oleh Perbankan

Dokumen tertentu sebagaimana di atas paling sedit harus memuat:

a. Nama, alamat dan NPWP yang melakukan ekspor atau penyerahan
b. Jumlah satuan barang apabila ada
c. Dasar Pengenaan Pajak
d. Jumlah pajak yang terutang kecuali dalam hal ekspor


Nota retur dibuat apabila PKP pembeli mengembalikan BKP

Nota Pembatalan dibuat apabila PKP pembeli membatalkan pembelian JKP

Fungsi nota retur dan nota pembatalan adalah:
- Mengurangi pajak masukan bagi PKP pembeli
- Mengurangi pajak keluaran bagi PKP penjual.

Nota retur dan nota pembatalan dibuat dalam masa pajak terjadinya
pengembalian atau pembatalan BKP atau JKP.

Konsekuensi dengan adanya nota retur dan/atau nota pembatalan tersebut
adalah PKP penjual harus melakukan pembetulan SPT masa tsb apabila SPT
masa pada masa tsb sudah dilaporkan ke KPP.
Nota Retur dan Nota Pembatalan
Dalam hal BKP yang diserahkan ternyata
dikembalikan (retur) oleh Pembeli, PPN dari
BKP yang dikembalikan tersebut dapat
mengurangi Pajak Keluaran yang terutang
oleh PKP Penjual dan mengurangi:
Pajak Masukan dari PKP Pembeli, dalam
hal Pajak Masukan atas BKP yang
dikembalikan telah dikreditkan;
Biaya atau harta bagi PKP Pembeli,
dalam hal pajak atas BKP yang
dikembalikan tersebut tidak dikreditkan
dan telah dibebankan sebagai biaya atau
telah ditambahkan (dikapitalisasi) dalam
harga perolehan harta tersebut; atau
Biaya atau harta bagi Pembeli yang
bukan PKP dalam hal PPN atas BKP
yang dikembalikan tersebut telah
dibebankan sebagai biaya atau telah
ditambahkan (dikapitalisasi) dalam harga
perolehan harta tersebut.


Nota retur paling sedikit harus mencantumkan
nomor urut nota retur;
nomor, kode seri, dan tanggal Faktur
Pajak dari Barang Kena Pajak yang
dikembalikan;
nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib
Pajak Pembeli;
nama, alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak
Pengusaha Kena Pajak Penjual;
jenis barang, jumlah harga jual Barang
Kena Pajak yang dikembalikan;
Pajak Pertambahan Nilai atas Barang
Kena Pajak yang dikembalikan, atau
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah atas
Barang Kena Pajak yang tergolong
mewah yang dikembalikan;
tanggal pembuatan nota retur; dan
nama dan tanda tangan yang berhak
menandatangani nota retur.

1. PKP yang melakukan penyerahan BKP/JKP wajib memungut PPN dari pembeli
BKP/JKP dengan membuat FP.

2. PPN yg tercantum dalam FP merupakan Pajak Keluaran (PK) bagi PKP Penjual
BKP/JKP, yang sifatnya sebagai pajak yang harus dibayar (hutang pajak).

3. Pada waktu PKP di atas melakukan pembelian BKP/JKP yg dikenakan PPN, PPN
tersebut merupakan Pajak Masukan (PM) bagi PKP.

4. Untuk setiap masa pajak (setiap bulan), apabila jumlah PK lebih besar dari pada
PM, maka selisihnya harus disetor ke Kas Negara. Dan sebaliknya, apabila jumlah
PM lebih besar dari pada PK, maka selisih tersebut dapat di kompensasi ke masa
pajak berikutnya atau diminta kembali (restitusi).
Jika PPN Keluaran > PPN Masukan Kurang Bayar, disetor ke kas negara paling
lambat akhir bulan berikutnya.
Jika PPN Keluaran < PPN Masukan Lebih Bayar, dikompensasi ke masa pajak
berikutny atau direstitusi di akhir tahun pajak

5. PKP di atas wajib menyampaikan Laporan Perhitungan PPN setiap bulan (SPT
Masa PPN) ke Kantor Pelayanan Pajak
Mekanisme Terhutangnya PPN
PAJAK
MASUKAN
(Ps. 1 angka 24
UU PPN 1984)
PPN yang seharusnya sudah dibayar oleh
PKP karena perolehan BKP dan/atau JKP
dan/atau pemanfaatan BKP tidak Berwu
jud dari luar Daerah Pabean, di dlm Dae-
rah Pabean dan/atau impor BKP
PAJAK
KELUARAN
(Ps. 1 angka 25
UU PPN 1984)
PPN terutang yg wajib dipungut oleh PKP
yang melakukan penyerahan BKP, penye -
rahan JKP, ekspor BKP Berwujud, ekspor
BKP Tidak Berwujud dan/atau ekspor JKP
PPN yg disetor ke kas negara dihitung menggunakan metode pengu-
rangan secara tidak langsung (indirect subtraction method) yaitu
mengurangkan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran sehingga
diperoleh jumlah pajak yang dihitung atas nilai tambah.
Pengkreditan Pajak Masukan
PPN Masukan (PM) dikreditkan dengan PPN Keluaran
(PK) yang dipungut pada masa pajak yang sama.
PM yang belum dikreditkan dengan PK dalam masa pajak
yang sama dapat dikreditkan sampai dengan selambat-
lambatnya tiga bulan setelah akhir masa pajak, dengan
syarat:
PM tersebut belum dibebankan sebagai biaya.
Belum dilakukan pemeriksaan, kecuali perolehannya
telah dicatat dalam pembukuan PKP yang
bersangkutan.
CONTOH:

Transaksi: PT ABC Mfg membeli bahan baku dengan harga Rp 150 juta (Pajak Masukan)
Harga Beli = 150 jt
PPN (PM) = 15 jt Membayar PPN
Jumlah = 165 jt

Transaksi: PT ABC Mfg menjual produk jadi (terdapat value added) dengan harga Rp
170 juta (Pajak Keluaran)
Harga Jual = 170 jt
PPN (PK) = 17 jt Memungut PPN
Jumlah = 187 jt

PPN yang harus disetor ke Kas negara adalah (proses pengkreditan PM):
PPN (Pajak Keluaran) = 17 jt
PPN (Pajak Masukan) = 15 jt
Setor ke Kas Negara = 2 jt




o Penyetoran PPN oleh PKP
Penyetoran PPN dilakukan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP)
Penyetoran dilakukan ke rekening giro KPPN melalui Bank Persepsi atau
Kantor Pos paling lambat akhir bulan berikutnya setelah
penjualan/penyerahan BKP/JKP.

o Pelaporan PPN oleh PKP
Pelaporan PPN dilakukan menggunakan Surat Pemberitahuan Massa
PPN (SPT Masa PPN)
Pelaporan dilakukan ke KPP tempat PKP terdaftar paling lambat akhir
bulan berikutnya setelah penjualan/penyerahan BKP/JKP.



Penyetoran dan Pelaporan PPN
PEMUNGUTAN PPN ATAS PEMBELIAN
BARANG DAN JASA
SESUAI PMK Nomor 85 /PMK.03/2012


Pasal 1 angka 27
Pemungut Pajak Pertambahan Nilai adalah
bendahara Pemerintah, badan, atau instansi
pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan
untuk memungut, menyetor, dan melaporkan pajak
yang terutang oleh Pengusaha Kena Pajak atas
penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan
Jasa Kena Pajak kepada bendahara Pemerintah,
badan, atau instansi Pemerintah tersebut.
Pasal 16A
1) Pajak yang terutang atas penyerahan Barang
Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena
Pajak kepada Pemungut Pajak Pertambahan
Nilai dipungut, disetor, dan dilaporkan oleh
Pemungut Pajak Pertambahan Nilai.
2) Tata cara pemungutan, penyetoran, dan
pelaporan pajak oleh Pemungut Pajak
Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1), diatur dengan Keputusan Menteri
Keuangan.

Pasal 1 angka 27
Pasal 16A

UU Nomor 42 Tahun 2009
Pemungut PPN
Keppres 56 Tahun 1988 jo
KMK 1289/KMK.04/1988
KMK 547/KMK.04/2000 jo
KMK 549/KMK.04/2000
KMK 563/KMK.03/2003
TMT1 Januari 1989, Pertamina, BUMN dan
BUMD, Bank Pemerintah dan Bank
Pembangunan Daerah, ditunjuk sebagai
Pemungut PPN
TMT1 Januari 2000, Pertamina, BUMN dan
BUMD, Bank Pemerintah dan Bank Daerah,
dan Bank Indonesia, ditunjuk sebagai
Pemungut PPN
TMT1 Januari 2004, Badan-badan tertentu,
termasuk BUMN, tidak lagi ditunjuk
sebagai Pemungut PPN
Dicabut
dengan
Dicabut
dengan
Historis Penunjukan BUMN Sebagai
Pemungut PPN
BUMN Ditunjuk
Sebagai Pemungut PPN
PMK Nomor 85 /PMK.03/2012
Berlaku sejak 1 Juli 2012
1. Badan Usaha Milik Negara adalah badan usaha yang seluruh atau
sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan
secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan.
2. BUMN terdiri dari:
a. Persero (minimal 51% sahamnya dimiliki Pemerintah); dan
b. Perum (seluruh modalnya dimiliki Pemerintah).
(Pasal 9 UU No 19 Tahun 2003 tentang BUMN)
Penunjukan Kembali BUMN Sebagai
Pemungut PPN
1. Bendaharawan Pemerintah
Bendaharawan Pemerintah merupakan Pemungut PPN atas pembelian
barang/jasa dari PKP Rekanan Pemerintah yang jumlahnya melebihi Rp
1.000.000 (include PPN). Kewajiban Bendaharawan Pemerintah sebagai
Pemungut PPN adalah memungut, menyetor dan melaporkan PPN yang
terhutang atas nama PKP Rekanan Pemerintah. (KMK-563/KMK.03/2003)

2. Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
Badan Usaha Milik Negara merupakan Pemungut PPN atas pembelian
barang/jasa dari PKP Rekanan yang jumlahnya melebihi Rp 10.000.000
(include PPN). Kewajiban Badan Usaha Milik Negara sebagai Pemungut
PPN adalah memungut, menyetor dan melaporkan PPN yang terhutang
atas nama PKP Rekanan. (PMK-85/PMK.03/2012)
Pemungut PPN
Perbedaan Mekanisme Pemungutan
Mekanisme Umum Pemungutan PPN
NEGARA
PENJUAL
PKP
Faktur Pajak
Barang/ Jasa
Harga + PPN
PEMBELI
PPN
Mekanisme Pemungut PPN
NEGARA
PENJUAL
PKP
Faktur Pajak
Barang/ Jasa
Harga tanpa PPN
PEMBELI
Pemungut PPN
PPN
SSP
Kewajiban BUMN sebagai Pemungut PPN:
Memungut
Menyetor
Melaporkan
atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa
Kena Pajak oleh Rekanan yang terutang PPN/ PPn BM.

Kewajiban PKP penyedia BKP/JKP:
PKP wajib membuat Faktur Pajak dan SSP untuk setiap
penyerahan BKP dan/atau JKP kepada BUMN.

BUMN sebagai Pemungut PPN
BUMN wajib menyetorkan PPN dan PPnBM yang telah dipungut
ke Kantor Pos/Bank Persepsi paling lama tanggal 15 (lima
belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir, dengan
menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP).
BUMN wajib melaporkan PPN dan PPnBM yang telah dipungut
dan disetor ke Kantor Pelayanan Pajak tempat BUMN terdaftar
paling lama pada akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya
Masa Pajak.
Dalam hal tanggal jatuh tempo penyetoran/pelaporan pajak
bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur
nasional, penyetoran/pelaporan pajak dapat dilakukan pada hari
kerja berikutnya.

Penyetoran dan Pelaporan
Kode Transaksi yang Digunakan
0 3 0 . 0 0 0 0 0 . 0 0 0 0 0 0 0 0
Kode Transaksi
Kode Status
Tahun Penerbitan Nomor Urut
Nomor Seri FP
Kode FP
Kode Cabang
Tata Cara Penggunaan Kode Transaksi pada Faktur Pajak yang
dibuat oleh Rekanan mengacu pada ketentuan yang berlaku
(kode transaksi 03)
LEMBAR
Untuk Arsip Wajib Pajak
:
:

Diisi sesuai Nomor Ketetapan : STP, SKPKB, SKPKBT
Jumlah Pembayaran :
Terbilang :
, Tanggal ....
Cap dan tanda tangan
Nama Jelas : . Nama Jelas : ..
F.2.0.32.01
......
......
......
Tanggal
SURAT SETORAN PAJAK
(SSP)
Wajib Pajak/Penyetor
..
Diterima oleh Kantor Penerima Pembayaran
Diisi sesuai dengan Nomor Objek Pajak
Cap dan tanda tangan
Ruang Validasi Kantor Penerima Pembayaran
" Terima kasih Telah Membayar Pajak - Pajak Untuk Pembangunan Bangsa "
Masa Pajak
ALAMAT WP
/
ALAMAT OP
NOP
Diisi sesuai dengan Nomor Pokok Wajib Pajak yang dimiliki
DEPARTEMEN KEUANGAN R.I.
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
NPWP
Uraian Pembayaran : ....
:
NAMA WP :
:
1
Okt Sep Nov Des
Tahun Pajak
/
Beri tanda silang (x) pada kolombulan, sesuai dengan pembayaran untuk masa yang berkenaan
:
Jan Feb Mar Apr Ags
......
......
Kode Akun Pajak Kode Jenis Setoran
......
.......
.......
Diisi Tahun terutangnya Pajak
Nomor Ketetapan
Diisi dengan rupiah penuh
.....
.....
.......
/
..
/
Mei Jun Jul
Diisi dengan Identitas
PKP Rekanan
Diisi dengan nama
dan tanda tangan
pengurus BUMN
Kode Akun Pajak:
- PPN DN: 411211
- PPN Impor: 411212
- PPnBM DN: 411221
- PPnBM Impor: 411222
- PTLL: 411619
Kode Jenis Setoran: 900
58
PPN dan PPnBM tidak dipungut oleh BUMN dalam hal:
a. pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah)
termasuk jumlah PPN dan PPnBM yang terutang dan tidak merupakan pembayaran
yang terpecah-pecah;
b. pembayaran atas penyerahan BKP dan/atau JKP yang menurut ketentuan
perundang-undangan di bidang perpajakan mendapat fasilitas PPN tidak dipungut
atau dibebaskan dari pengenaan PPN;
c. pembayaran atas penyerahan bahan bakar minyak dan bahan bakar bukan minyak
oleh PT Pertamina (Persero);
d. pembayaran atas rekening telepon;
e. pembayaran atas jasa angkutan udara yang diserahkan oleh perusahaan
penerbangan; dan/atau
f. pembayaran lainnya untuk penyerahan barang dan/atau jasa yang menurut ketentuan
perundang-undangan perpajakan tidak dikenai PPN dan PPnBM.
PPN dan PPnBM yang terutang di atas dipungut, disetor, dan dilaporkan oleh Rekanan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.
Dikecualikan dari Pemungutan PPN oleh BUMN
SANKSI
PKP
Penjual
PKP
Pembeli
Denda Ps.14 (4) KUP:
2% x DPP
Pajak Masukan tidak
dapat dikreditkan
Tidak membuat FP. [Ps.14 (1) d
KUP, 1)]
Terlambat membuat FP. [Ps.14
(1) d KUP, Ps.15 (1) b PER]
Membuat FP cacat. [Ps.14 (1) e
KUP, Ps.15 (1) a PER, 2)]
Terlambat melaporkan FP.
[Ps.14 (1) f KUP]
FP cacat. [Ps.9 (8) f PPN, Ps.15 (3) a
PER, 3)]
FP yg diterbitkan lebih dari 3
bulan sejak saat FP seharus-
nya dibuat. [Ps.14 (2) PER]
FP yg tidak memenuhi syarat
formal & material. [Ps.9 (8) f PPN]
Keterangan:
1) PKP yg menerbitkan FP lebih dari 3 bulan sejak saat FP seharusnya dibuat, dianggap
tidak menerbitkan FP. [p14(1) PER]

Sanksi Administrasi

PPN di BRI





Aspek PPN di BRI
BRI sebagai PKP menjual jasa
BRI sebagai PKP membeli barang dan jasa
1
2
A. Memungut PPN
Mekanisme pemungutan PPN menganut asas Desentralisasi yaitu unit kerja
BRI yang melakukan transaksi penyerahan jasa (SE-121/PJ/2010) kepada
nasabah/non nasabah wajib menambahkan dan memungut PPN sebesar
10% dari nilai penyerahan jasa. Kewajiban memungut PPN ini dilakukan
dengan menerbitkan faktur pajak.

Penjualan jasa dimaksud adalah jasa: RTGS, Kliring, Transfer non
nasabah, SDB, custodian, wali amanat, sewa tanah/bangunan, jasa
pembayaran PLN dan jasa lainnya.

I.BRI Sebagai PKP Menjual Jasa
B. Menyetorkan PPN
Pelimpahan PPN atas Fee Based Income (FBI) dari penyerahan jasa yang
dilakukan BRI bersifat sentralisasi. PPN yang dipungut oleh unit kerja BRI
wajib dilimpahkan ke Divisi AMK KP BRI setiap awal bulan berikutnya
(paling lambat tanggal 10) melalui rekening IA Penampungan PPN.
Divisi AMK KP BRI Bagian Pajak akan menyetorkan kembali seluruh
jumlah PPN yang terhutang dalam suatu masa pajak ke rekening giro
KPPN dengan menggunakan formulir SSP paling lambat akhir bulan
berikutnya.

C. Melaporkan Pemungutan PPN
Divisi AMK KP BRI Bagian Pajak melaporkan SPT Masa PPN dengan
dilampirkan SSP lembar ke-3 ke KPP Wajib Pajak Besar Empat dengan
menggunakan aplikasi e-SPT Masa PPN paling lambat akhir bulan
berikutnya.

Ketentuan PPN Penyerahan Jasa di Kanwil,
Sendik dan Kanca BRI
1. Mencantumkan aspek perpajakan (PPh/PPN) dalam setiap dokumen
perjanjian yang disepakati dengan pihak ketiga.
2. Memungut PPN 10% dari rekanan/nasabah ( rekanan bukan Pemungut
PPN).
Beban PPN mengacu pada ketentuan pajak yang berlaku yaitu beban
rekanan/nasabah, kecuali ditentukan lain dalam perjanjian.
Harga jual belum termasuk PPN, maka PPN = 10/100 x harga jual
Jika harga jual sudah termasuk PPN, maka PPN = 10/110 x harga jual

3. Membuat Faktur Pajak PPN
Faktur Pajak harus dibuat pada saat penagihan/penerbitan invoice kepada
rekanan.
Faktur dibuat dalam rangkap 2, dengan peruntukan sebagai berikut:
Lembar ke-1, untuk rekanan
Lembar ke-2, untuk arsip Divisi AMK KP BRI



Untuk Faktur Pajak gabungan, dibuat paling lambat pada akhir bulan
setelah terjadinya transaksi/penyerahan jasa.
Pada Kolom Pengusaha Kena Pajak harus mencantumkan Nama, Alamat
dan NPWP BRI sebagai berikut:

Nama : PT BRI (Persero) Tbk Kantor Pusat / (Kode Branch)
Alamat : Jl. Jenderal Sudirman No.44-46 Jakarta Pusat 10210
NPWP : 01.001.608.7-093.000

4. Melimpahkan PPN yang dipungut ke rekening IA-PPN (rekening terlampir)
pada saat pemungutan atau paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya
setelah terjadi transaksi dan menyampaikan faktur PPN lembar ke-2 ke
Divisi AMK Bagian Pajak.

FBI Rekening IA-PPN
403041000602 Jasa Transfer 0229-01-001024-99-6 (PPN Jasa Transfer)
403041000603 Jasa Save Deposit Box 0229-01-001025-99-2 (PPN Jasa Save Deposit Box)
403041000712 Pendapatan Jasa RTGS 0229-01-001036-99-3 (PPN Jasa RTGS/Kliring)
403041000711 Pendapatan Jasa Kliring 0229-01-001036-99-3 (PPN Jasa RTGS/Kliring)
403041000723 Komisi Intermediary AKK 0229-01-001038-99-5 (PPN Komisi Intermediary AKK)
403041000725 Pendapatan Komisi
Intermediary A3KOL
0229-01-001039-99-1 (PPN Komisi Intermediary A3KOL)
403041000802 Jasa Pengawasan TPSP-KUD 0229-01-001040-99-2 (PPN Jasa Pengawasan TPSD KUD)
403042000005 Collecting Fee Askrindo 0229-01-001041-99-8 (PPN Jasa Collecting Askrindo)
403041000601 Jasa Custodian 0229-01-001023-99-0 (PPN Jasa Custodian)
403041000604 Jasa Wali Amanat 0229-01-001026-99-8 (PPN Jasa Waliamanat)
403041000606 Jasa Agen Penjual Saham 0229-01-001027-99-4 (PPN Jasa Agen Penjual Saham)
403041000609 Jasa Agen Penjual Obligasi 0229-01-001028-99-0 (PPN Jasa Agen Penjual Obligasi)
403041000419 Fee Agen Penjual Reksadana 0229-01-001034-99-1 (PPN Fee Agen Penjual Reksadana)
Fee Sharing Mobile Banking 0229-01-001103-99-4 (PPN Sharing Mobile Banking)
Fee BRIfast Remittance 0229-01-001099-99-1 (PPN BRIfast Remittance)
Pendapatan Penjualan aktiva bekas 0229-01-001098-99-5 (PPN Penjualan Aktiva bekas)

Untuk PPN atas Fee Based Income lainnya (selain yang disebutkan pada tabel diatas), PPN dapat
dilimpahkan ke Rekening IA-Titipan Macam-Macam Pajak Pemerintah (0229-01-000200-99-7).

Apabila penyerahan jasa dilakukan kepada Pemungut PPN yaitu
Badan/Lembaga Pemerintah Pusat/Daerah, maka PPN dipungut oleh Badan
Pemerintah melalui Bendaharawannya sesuai KMK No.563/KMK.03/2003.
Contoh :
Kementerian Pertanian menyewa fasilitas ruangan pendidikan di Pusdiklat BRI.
Pada saat membayar, PPN 10% dipungut dan disetor langsung oleh
Kementerian Pertanian ke Rekening Giro KPPN.

Kewajiban BRI:
Menerbitkan Faktur Pajak rangkap 3
Menerbitkan SSP rangkap 5
Faktur Pajak dan SSP tersebut kemudian diserahkan ke Bendaharawan
Pemerintah.
Setelah PPN disetorkan oleh Bendaharawan Pemerintah, Uker BRI wajib
meminta kembali Faktur Pajak lembar ke 2 serta SSP lembar ke 1 dan 3.
Kemudian FP dan SSP yang diterima dari Bendaharawan Pemerintah tersebut
dikirim ke Divisi AMK bagian Pajak.










Kanpus (jasa custody,
Sewa TB/Jasa lain)


Kanwil. (jasa Sewa
tanah & bangunan)

Sendik (jasa :
Sewa/pendidikan pihak 3)

Kanca (Jasa
SDB/sewa/dll)

DIVISI AMK
KCK
(Bank Persepsi)

KPPN

KPP WP Besar
Empat

Setor SSP
Lapor e-SPT
Melimpahkan PPN yang telah dipungut
START
Mekanisme Pelimpahan PPN ke KP BRI
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelian atau pengadaan barang dan jasa adalah :
a. Apabila penjualnya atau subyek pajak adalah Orang Pribadi, Badan atau Perusahaan (PT,
CV, dll) yang belum dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) atau Pemungut
PPN, maka atas pembayaran barang/jasa tidak terhutang PPN. Unit Kerja BRI tidak wajib
membayar PPN 10%.
Contoh :
1) Kanca BRI menyewa rumah milik tuan Ali untuk tempat tinggal Pinca, maka atas
transkasi jasa persewaan bangunan tersebut tidak terhutang PPN 10%.
2) Kanca BRI membeli Alat Tulis Kantor (ATK) kepada Toko ABC, dimana Toko tersebut
adalah usaha kecil dan belum dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP), maka
atas pembelian ATK tersebut tidak terhutang PPN 10%

b. Apabila penjualnya adalah Badan, Yayasan atau Perusahaan yang telah dikukuhkan
sebagai PKP atau Pemungut PPN oleh KPP setempat, maka atas transaksi pembayaran
barang/jasa terhutang PPN.
Unit Kerja BRI wajib membayar PPN 10% dengan syarat pihak penjual atau rekanan
menyerahkan asli faktur pajak lembar ke-1 (untuk transaksi 10jt include PPN) atau faktur
pajak rangkap 3 dan SSP rangkap 5 (untuk transaksi >10jt include PPN).
Contoh :
Kanca BRI menyewa bangunan milik PT BKS (telah dikukuhkan sebagai PKP), maka atas
tranksaksi sewa bangunan tersebut terhutang PPN 10%.

II. BRI sebagai PKP membeli barang dan jasa

c. Apabila penjualnya adalah Badan atau Lembaga Pemerintah Pusat atau Daerah
(Provinsi, Kabupaten, Kota), maka atas transaksi pembayaran barang/jasa tidak
terhutang PPN. Unit Kerja BRI tidak membayar PPN 10%.
Contoh :
Kanca menyewa ruangan milik Kementerian Keuangan (melalui Bendaharawan)
untuk lokasi ATM, maka harga sewa yang timbul tidak terhutang PPN 10%

Catatan :
a. Kewajiban pemotongan, penyetoran dan pelaporan PPN atas transaksi 10jt
(include PPN) ada dipihak penjual atau rekanan. SSP (atas nama dan NPWP pihak
penjual atau rekanan) disetorkan sendiri ke KPPN dan dilaporkan ke KPP tempat
penjual atau rekanan berdomisili.

b. Sesuai UU PPN Pasal 16 F: Pembeli BKP atau penerima JKP bertanggung jawab
secara renteng atas pembayaran pajak, sepanjang tidak dapat menunjukkan bukti
bahwa Pajak telah dibayar.
Pembeli barang atau penerima jasa bertanggung jawab renteng atas pembayaran
pajak yang terutang apabila ternyata bahwa pajak yang terutang tersebut tidak dapat
ditagih kepada penjual atau pemberi jasa dan pembeli atau penerima jasa tidak
dapat menunjukkan bukti telah melakukan pembayaran pajak kepada penjual atau
pemberi jasa.
Oleh karena itu, Unit Kerja BRI wajib menyimpan dan mengadministrasikan
Faktur Pajak yang diterima dari rekanan PKP.




A. BRI Bukan Sebagai Pemungut PPN

1. Atas transaksi pembelian barang/jasa yang dilakukan Unit Kerja BRI
dengan jumlah tidak lebih dari Rp 10.000.000 (include PPN) kepada
Rekanan PKP, maka kewajiban pemugutan, penyetoran dan pelaporan
PPN dilakukan oleh rekanan PKP.
2. Unit kerja BRI menerima tagihan dan faktur pajak PPN lembar ke-1 dari
rekanan PKP.
Kode dan nomor seri dalam faktur pajak mencantumkan awalan 010
(010.xxx.xx.xxxxxxxx) untuk penyerahan kepada selain pemungut atau
040 untuk penyerahan yang menggunakan DPP nilai lain (seperti jasa
ekspedisi dan outsourcing).
Nama/Alamat/NPWP pembeli dalam faktur pajak mencantumkan
Nama/Alamat/NPWP Kantor Pusat BRI.
3. Membayar tagihan sebesar harga jual (dikurangi PPh) + PPN.
Jika harga jual belum termasuk PPN, maka PPN = 10/100 x harga jual
Jika harga jual sudah termasuk PPN, maka PPN = 10/110 x harga jual


B. BRI Sebagai Pemungut PPN

1. Atas transaksi pembelian barang/jasa yang dilakukan Unit Kerja BRI dengan jumlah
lebih dari Rp 10.000.000 (include PPN) kepada Rekanan PKP, maka kewajiban
pemugutan, penyetoran dan pelaporan PPN dilakukan oleh BRI sebagai Pemungut
PPN.
Catt: Khusus untuk penggunaan jasa outsourching, PPN dipungut oleh BRI apabila
nilai Fee Management diatas Rp 10.000.000 (include PPN).

2. Dalam setiap tagihan yang disampaikan ke BRI, pihak rekanan wajib menyerahkan
faktur pajak rangkap 3 dan SSP rangkap 5.
a. Faktur pajak dibuat rekanan dalam rangkap 3 :
Lembar ke-1 untuk BUMN/BRI
Lembar ke-2 untuk rekanan
Lembar ke-3 untuk BUMN/BRI dan dilaporkan ke KPP

b. Kode dan nomor seri faktur pajak yang dicantumkan adalah 030.000.00.00000000
(penyerahan kepada Pemungut PPN selain Bendaharawan Pemerintah).
Nama, NPWP dan alamat yang dicantumkan dalam kolom Pembeli adalah nama,
NPWP, dan alamat Kantor Pusat BRI.




c. SSP dibuat oleh rekanan dengan diisi identitas nama, alamat dan NPWP rekanan
ybs, tetapi kolom penandatanganan SSP dikosongkan untuk ditandatangani dan
diisi dengan nama pejabat BRI yang berwenang menandatangani sebagai
penyetor atas nama rekanan.
SSP 5 rangkap:
Lembar ke-1 untuk Rekanan
Lembar ke-2 untuk KPPN melalui Bank Persepsi atau Kantor Pos
Lembar ke-3 untuk Rekanan dan dilaporkan ke KPP
Lembar ke-4 untuk Bank Persepsi atau Kantor Pos
Lembar ke-5 untuk BUMN/BRI dan dilaporkan ke KPP

3. Unit kerja BRI menyetorkan pemungutan PPN paling lambat tanggal 15 bulan
berikutnya setelah terjadi transaksi dengan menggunakan SSP. SSP mencantumkan
Kode Akun Pajak 411211 dan Kode Jenis Setoran 900.

4. Atas faktur pajak yang sudah disetorkan, BRI wajib membubuhkan cap disetor
tanggal .. dan menandatanganinya.

5. SSP lembar ke-1 dan 3 yang telah disetor dan Faktur Pajak lembar ke-2 yang telah di
cap dan ditandatangani diserahkan kepada rekanan.

6. SSP lembar ke 5 dan faktur pajak PPN lembar ke 3 dilaporkan ke Divisi AMK Bagian
Pajak.


CATATAN :

Apabila Rekanan BRI (PKP) adalah BUMN (sesama pemungut PPN)
maka yang wajib memungut PPN tetap BRI.

Apabila pembelian diatas Rp 10.000.000 (include PPN) dilakukan ke
Perusahaan Jasa Telekomunikasi, maka kewajiban pemungutan,
penyetoran, dan pelaporan dilakukan sendiri oleh Rekanan tersebut.
LEMBAR
Untuk Arsip Wajib Pajak
:
:

Diisi sesuai Nomor Ketetapan : STP, SKPKB, SKPKBT
Jumlah Pembayaran :
Terbilang :
, Tanggal ....
Cap dan tanda tangan
Nama Jelas : . Nama Jelas : ..
F.2.0.32.01
......
......
......
Tanggal
SURAT SETORAN PAJAK
(SSP)
Wajib Pajak/Penyetor
..
Diterima oleh Kantor Penerima Pembayaran
Diisi sesuai dengan Nomor Objek Pajak
Cap dan tanda tangan
Ruang Validasi Kantor Penerima Pembayaran
" Terima kasih Telah Membayar Pajak - Pajak Untuk Pembangunan Bangsa "
Masa Pajak
ALAMAT WP
/
ALAMAT OP
NOP
Diisi sesuai dengan Nomor Pokok Wajib Pajak yang dimiliki
DEPARTEMEN KEUANGAN R.I.
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
NPWP
Uraian Pembayaran : ....
:
NAMA WP :
:
1
Okt Sep Nov Des
Tahun Pajak
/
Beri tanda silang (x) pada kolom bulan, sesuai dengan pembayaran untuk masa yang berkenaan
:
Jan Feb Mar Apr Ags
......
......
Kode Akun Pajak Kode Jenis Setoran
......
.......
.......
Diisi Tahun terutangnya Pajak
Nomor Ketetapan
Diisi dengan rupiah penuh
.....
.....
.......
/
..
/
Mei Jun Jul
Diisi dengan Identitas
PKP Rekanan
Diisi dengan nama dan
tanda tangan pejabat
BRI
Kode Akun Pajak:
- PPN DN: 411211
- PPN Impor: 411212
- PPnBM DN: 411221
- PPnBM Impor: 411222
- PTLL: 411619
Kode Jenis Setoran: 900
Pengisian SSP
PKP
Penjual
BRI sebagai
PEMBELI
NON PKP
Penjual
Kuitansi / Invoice
FP Masukan (bagi BRI)
Lembar ke-1
Harga+PPN

Harga tanpa PPN
Kuitansi/Invoice
Pembayaran PPN atas Pembelian
BKP/JKP
Contoh Soal
1. Kanwil BRI membeli barang dari Rekanan PT.Jaya (memiliki
NPWP 01.920.247.2.222.000 dan dikukuhkan sebagai PKP)
tanggal 22 Maret 2013. Harga yang disepakati adalah sebesar Rp
20.000.000,-, pajak ditanggung BRI. Berapa PPN, PPh Pasal 22,
nilai yang tercantum dalam invoice dan jumlah yang diserahkan
kepada rekanan?

2. DPP Nilai lain PT. Outsource
3. DPP nilai lain Jasa ekspedisi
4. Transaksi beli jasa Telekomunikasi

TERIMA KASIH