Anda di halaman 1dari 21

Referat/Case science session

*Kepaniteraan klinis Senior/ Januari 2014



Pembimbing: dr. Victor Elizer, Sp.KJ

ANTIPSIKOTIK
Oleh
Baihaki, S.Ked
Ayu Wulandari, S.Ked
Nana Heriyana, S.Ked


KEPANITERAAN KLINIS SENIOR
BAGIAN ILMU KESEHATAN JIWA RUMAH SAKIT JIWA JAMBI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2014

PENGERTIAN

Obat antipsikotik adalah sekelompok bermacam-
macam obat yang menghambat reseptor dopamine tipe 2
(D2).

Indikasi utama untuk pemakaian obat adalah terapi
skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya.
JENIS-JENIS ANTIPSIKOTIK
ANTIPSIKOTIK GENERASI PERTAMA (APG I)
Antipsikotik generasi pertama mempunyai cara kerja
dengan memblok reseptor D2 khususnya di mesolimbik
dopamine pathways, oleh karena itu sering disebut juga
dengan Antagonist Reseptor Dopamin (ARD) atau
antipsikotik konvensional atau tipikal.

Kerugian pemberian APG I:
1. Mudah terjadi EPS dan tardive dyskinesia
2. Memperburuk gejala negatif dan kognitif
3. Peningkatan kadar prolaktin

ANTIPSIKOTIK GENERASI PERTAMA (APG I)

Keuntungan pemberian
APG I adalah jarang
menyebabkan terjadinya
Sindrom Neuroleptik
Malignant (SNM) dan
cepat menurunkan gejala
negatif.
Pembagian APG I
bedasarkan rumus kimia:
1.Phenotiazine
Rantai Aliphatic:
Clorpromazine
Rantai Piperazine:
Perphenazine,
Trifluoperazine,
Fluphenazine.
Rantai Piperidine:
Thioridazine
2.Butyrophenoone: Haloperidol
3.Diphenyl-butyl-piperidine:
Pimozide


ANTIPSIKOTIK GENERASI KEDUA
(APG II)
APG II sering disebut juga sebagai Serotonin
Dopamin Antagosis (SDA) atau antipsikotik atipikal. APG II
mempunyai mekanisme kerja melalui interaksi antara
serotonin dan dopamin pada ke 4 jalur dopamin di otak. Hal
ini yang menyebabkan efek samping EPS lebih rendah dan
sangat efektif untuk mengatasi gejala negatif.


Perbedaan antara APG I dan APG II
APG I hanya dapat memblok reseptor D2
APG II memblok secara bersamaan reseptor serotonin
(5HT2A) dan reseptor dopamin (D2).
APG yang dikenal saat ini adalah clozapine, risperidone,
olanzapine, quetiapine, zotepine, ziprasidone,
aripiprazole. Saat ini antipsikotik ziprasidone belum
tersedia di Indonesia.
Antipsikotik generasi kedua yang
digunakan
First line: Risperidone, Olanzapine,
Quetiapine, Ziprasidone, Aripiprazole
Second line: Clozapine.
Keuntungan yang didapatkan dari pemakaian APG II selain
efek samping yang minimal juga dapat memperbaiki gejala
negatif, kognitif dan mood sehingga mengurangi
ketidaknyamanan dan ketidakpatuhan pasien akibat pemakian
obat antipsikotik.
Pemakaian APG II dapat meningkatkan angka remisi dan
menigkatkan kualitas hidup penderita skizofrenia karena dapat
mengembalikan fungsinya dalam masyarakat.

INTERAKSI OBAT
Antipsikosis + Antipsikosis lain = potensi efek
samping obat dan tidak ada bukti lebih efektif (tidak
ada sinergis antara 2 obat anti-psikosis). Misalnya,
Chlorpromazine + Reserpine = potensiasi efek
hipotensif.
Antipsikosis + Antidepresan trisiklik = efek samping
antikolinergik meningkat (hati-hati pada pasien
dengna hipertrofi prostat, glaukoma, ileus, penyakit
jantung).
Antipsikosis + anti-anxietas = efek sedasi meningkat,
bermanfaat untuk kasus dengan gejala dan gaduh
gelisah yang sangat hebat (acute adjunctive therapy).

LANJUTAN
Antispikosis + ECT = dianjurkan tidak memberikan obat
anti-psikosis pada pagi hari sebelum ECT (Electro
Convulsive Therapy) oleh karena angka mortalitas yang
tinggi.
Antipsikosis + antikonvulsan = ambang konvulsi
menurun, kemungkinan serangan kejang meningkat, oleh
karena itu dosis antikonvulsan harus lebih besar (dose-
related). Yang paling minimal menurunkan ambang
kejang adalah obat anti-psikosis Haloperidol.
Antipsikosis + Antasida = efektivitas obat antu-psikosis
menurun disebabkan gangguan absorpsi.

CARA PEMILIHAN OBAT
Semua obat anti-psikosis mempunyai efek primer (efek
klinis) yang sama pada dosis ekivalen, perbedaan
terutama pada efek sekunder (efek samping ; sedasi,
otonomik, ekstrapiramidal).
Pemilihan jenis obat anti-psikosis mempertimbangkan
gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat.
Pergantian obat disesuaikan dengan dosis ekivalen

Lanjutan
Apabila obat anti-psikosis tidak memberikan respons
klinis dalam dosis yang sudah optimal setelah jangka
waktu yang memadai, dapat diganti dengan obat anti-
psikosis lain (sebaiknya dari golongan yang tidak sama),
dengan dosis ekivalen-nya, dimana profil efek samping
belum tentu sama.
Apabila gejala negatif (afek tumpul, penarikan diri,
hipobulia, isi pikiran miskin) lebih menonjol dari gejala
positif (waham, halusinasi, bicara kacau, perilaku tak
terkendali) pada pasien Skizofrenia, pilihan obat
antipsikosis atipikal perlu dipertimbangkan
PENGATURAN DOSIS
Dalam pengaturan dosis perlu dipertimbangkan :

Onset efek primer (efek klinis) : sekitar 2 4 minggu
Onset efek sekunder (efek samping) : sekitar 2 6 jam.

Waktu paruh : 12 14 jam (pemberian obat 1-2 x
perhari).

Dosis pagi dan malam dapat berbeda untuk
mengurangi dampak dari efek samping (dosis pagi
kecil, dosis malam lebih besar) sehingga tidak begitu
mengganggu kualitas hidup pasien.

LAMA PEMBERIAN TERAPI
Untuk pasien dengan serangan
Sindrom Psikosis yang multi
episode, terapi pemeliharaan
(maintenance) diberikan
paling sedikit selama 5 tahun.
Pemberian yang cukup lama
ini dapat menurunkan derajat
kekambuhan 2,5 5 kali.

Pada umumnya pemberian
obat anti-psikosis sebaiknya
dipertahankan selama 3 bulan
sampai 1 tahun setelah semua
gejala psikosis mereda sama
sekali. Untuk Psikosis
Reaktif Singkat penurunan
obat secara bertahap setelah
hilangnya gejala dalam kurun
waktu 2 minggu 2 bulan.
LANJUTAN
Pada penghentian yang mendadak dapat timbul
gejala Cholinergic Rebound : gangguan lambung,
mual, muntah, diare, pusing, gemetar dan lain-lain.
Keadaan ini akan mereda dengan pemberian
anticholinergic agent (injeksi Sulfas Atropin 0,25 mg
(im), tablet Trihexyphenidyl 3x 2 mg/h). Oleh karena
itu pada penggunaan bersama obat anti-psikosis +
antiparkinson, bila sudah tiba waktu penghentian obat,
obat antipsikosis dihentikan lebih dahulu, kemudian
baru menyusul obat antiparkinson.


PENGGUNAAN PARENTERAL
Obat anti-psikosis long acting (Fluphenazine
Decanoate 25 mg/cc atau Haloperidol Decanoas 50
mg/cc, im, setiap 2 4 minggu sangat berguna untuk
pasien yang tidak mau atau sulit teratur makan obat
atau apapun yang tidak efektif terhadap medikasi
oral.
sebelum penggunaan parenteral diberikan secara oral
lebih dahulu beberapa minggu untuk melihat apakah
terdapat efek hipersensitivitas.

LANJUTAN
Dosis mulai dengan cc setiap 2 minggu pad bulan pertama
kemudian bau ditingkatkan menjadi 1 cc setiap bulan.

Pemberian obat anti psikosis long acting hanya untuk terapi
stabilisasi dan pemeliharaan (maintenance therapy) terhadap
kasus Skizofrenia. 15 25 % kasus menunjukkan toleransi
yang baik terhadap efek samping ektrapiramidal.


KESIMPULAN
Antipsikotik adalah sekelompok bermacam-macam obat
yang menghambat reseptor dopamine tipe 2 (D2).

Efek samping yang sering ditimbulkan pada pemakaian
antipsikotik tipikal seperti : gangguan pergerakan seperti
distonia, tremor, bradikinesia, akatisia, koreoatetosis,
anhedonia, sedasi, peningkatan berat badan yang sedang,
disregulasi tempertur, hiperprolaktinemia, dengan
galaktorea dan amenorea pada wanita dan ginekomastia
pada pria, serta disfungsi seksual pada pria dan wanita,
hipotensi postural (ortostatik), interval QT memanjang,
risiko terjadi fatal aritmia.

LANJUTAN
Efek samping yang ditimbulkan oleh pemakaian
antipsikotik atipikal seperti:
Gangguan pergerakan yang sedang
Sedasi
Hiperkolesterolemia
Peningkatan berat badan sedang sampai berat
Hipotensi postural
Hiperprolaktinemia
Kejang

DAFTAR PUSTAKA
1. Agnes Maria Magdalena. Referat antipsikotik atipikal. (di akses 27
desember 2011) di Unduh dari URL:
http://www.scribd.com/doc/178899106/Referat-antipsikotik-atipikal
2. Kaplan & Sadock. Buku Ajar Psikiatri Klinis. Ed. 2. Jakarta : EGC. 2010.
3. Tan Hoan Tjay, Kirana Raharja. Obat-obat Penting Khasiat, Pengunaan
Dan Efek-Efek Sampingnya. Jakarta : PT Elex Media Komputindo
Kelompok Gramedia. 2007.
4. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Sriwijaya.
Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta : EGC.2009.
5. Ika Ayu Paramita. Referat Efek Samping Antipsikotik (di Akses 26 juni
2010) di Unduh dari URL :
http://www.scribd.com/doc/145498802/REFERAT-ES-ANTIPSIKOTIK-
doc
6. Rusdi Maslim. Pengunaan Klinis Obat Psikotropika (Psychotropic
Medication). Ed 3. Jakarta.
7. Arif Mansjoer dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media
Aesculapius. Edisi ke III . 1990.