Anda di halaman 1dari 65

Disampaikan pada : Peningkatan Kapasitas Aparatur, Tata Laksana dan

Kelembagaan Penataan Ruang Kawasana Perbatasan


Dr. Priyadi Kardono M.Sc.
Badan Informasi Geospasial
Implikasi Penataan Ruang Dalam
Penetapan dan Penegasan Batas
Wilayah Negara
OUTLINE PAPARAN

1. Pendahuluan
2. Batas Wilayah Indonesia dari Masa Ke Masa
3. Peran BIG dalam penentuan Batas Wilayah
NKRI
4. Status terkini Batas Wilayah NKRI
Batas Darat
Batas Laut
5. Tata Ruang dan Batas Wilayah Negara
6. Penutup

PENDAHULUAN
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Negara
Kepulauan yang memiliki lebih dari 13.466 pulau yang
sudah mempunyai nama & koordinat,

Indonesia berbatasan di wilayah darat dengan 3
negara dan di wilayah laut/batas laut (batas maritim)
dengan 10 negara.

Masalah penataan ruang dan pengelolaan kawasan
perbatasan merupakan masalah multidimensional
menyangkut pembinaan garis batas, pembinaan
masyarakat perbatasan, dan pembinaan hubungan
internasional antar negara yang berbatasan.

Pembinaan garis batas menyangkut proses delimitasi,
demarkasi, densifikasi serta pemeliharaannya.

Kejelasan dan ketegasan batas antar negara sangat
penting dalam rangka menjamin adanya kepastian
kewenangan, terutama berkenaan dengan kepentingan
penanganan eksplorasi dan eksploitasi SDA, pertahanan,
keamanan, ekonomi, sosial budaya dan teknologi.
Mengingat sisi terluar dari wilayah negara atau yang
dikenal dengan Kawasan Perbatasan merupakan
kawasan strategis dalam menjaga integritas Wilayah
Negara, maka diperlukan juga pengaturan secara
khusus.
Pengelolaan Wilayah Negara (termasuk di kawasan
perbatasan) dilakukan dengan pendekatan
kesejahteraan, keamanan dan kelestarian lingkungan
secara bersama-sama.
PENDAHULUAN
Pertahanan dan Keamanan
Pengelolaan sumberdaya alam
Wilayah Pengelolaan Perikanan
Tata Kelola Pemerintahan
Penyusunan Tata Ruang
Politik (Pemilu, Pilkada)
Perijinan dan Perpajakan
Perhitungan DAU
Pemekaran Wilayah / Daerah Otonom Baru
Perhitungan Luas Wilayah
Sensus data-data statistik
Dan lain-lain

Urgensi Batas Negara dan Wilayah
administrasi
secara definitif
BATAS NEGARA DI WILAYAH DARAT
Ada tiga pulau besar yang dimiliki oleh Indonesia dengan negara tetangga:
Di pulau Kalimantan berbatasan dengan negara Malaysia
Di pulau Papua berbatasan dengan negara Papua New Guinea (PNG)
Di pulau Timor, berbatasan dengan negara Timor Leste

BATAS NEGARA DI WILAYAH LAUT (BATAS MARITIM)
Sebagai negara kepulauan, wilayah Indonesia terdiri atas pulau-pulau,
perairan pedalaman, perairan kepulauan (archipelagic waters), laut
wilayah/teritorial, zona tambahan, zona ekonomi eksklusif, dan landas
kontinen. Di wilayah laut, Indonesia berbatasan dengan:
NEGARA TETANGGA
NEGARA TETANGGA
Philipina
Palau
PNG
Australia
Timor-Leste
India
Thailand
Malaysia
Singapura
Vietnam
Indonesia dan Negara Tetangga
DARI MASA KE MASA
Batas Wilayah Indonesia
Wilayah NKRI Pasca Kemerdekaan (17/8/1945) hingga
Deklarasi Djuanda (13/12/1957)
- Laut Territorial hanya 3 mil, disekitar Pulau-Pulau
- Laut antara Pulau-Pulau Indonesia merupakan laut bebas
Berdasarkan TZMKO 1939
Territoriale Zee en Maritime Kringen Ordonantie (TZMKO)
Djuanda Declaration 1957
Law Number 4/Prp.1960
Wilayah NKRI Berdasarkan Deklarasi Djuanda (13/12/1957) hingga Deklarasi
Landas Kontinen Indonesia (17/2/1969)
-Laut territorial 12 mil
-Garis Pangkal Kepulauan, >> Perjuangan Wawasan Nusantara
-UU No.4/Prp. 1960 ttg Perairan Indonesia (pengganti TZMKO39)
11
- Tap MPR VI/1978, tentang Pengukuhan Integrasi Timor-Timur
- UU No. 17/1985, tentang Ratifikasi UNCLOS 1982
- UU No. 6/1996, tentang Perairan Indonesia (revisi UU No. 4/Prp. 1960
- PP 61/1998, tentang Penutupan Kantong Natuna
Wilayah NKRI
Setelah Deklarasi Landas Kontinen (17/02/1969) hingga 1998
Wilayah NKRI
Setelah 1998 (Lepasnya Timtim) - sebelum sidang UN CLCS 2010
- PP no 37 / 2008 Koord Geografis Titik Pangkal Indonesia
- Berubahnya status Timor leste dan P. Sipadan , P. Ligitan
13

Wilayah NKRI Pasca sidang UN CLCS (17/08/2010)
Hingga sekarang 2013
PP No. 38/2002 ttg Koord Geografis Titik Titik GPK Indonesia
Berubahnya Status Timor Timur dan Pulau Sipadan Ligitan
PP No. 37/2008 ttg Perubahan PP No. 38/2002.
Indeks 92 Pulau Terluar NKRI
Catatan:
1. UU No. 4/Prp. Th 1960, telah direvisi menjadi UU No. 6 tahun 1996 dan PP No.38 tahun 2002,
PP No.37 Tahun 2008.
2. Status pemotretan dan pemetaan : 80 pulau dan masih diperlukan Field completion
PENGKAJIAN DAN PEMETAAN PULAU TERLUAR
DALAM PENENTUAN WILAYAH BATAS NKRI
Peran Badan Informasi Geospasial
TRANSFORMASI
BAKOSURTANAL MENJADI BIG
BAKOSURTANAL
PENGKAJI KEBIJAKAN
NASIONAL
BIDANG SURVEI DAN
PEMETAAN (SURTA)
PEMBINA DI BIDANG SURTA
PEMBINA INFRASTRUKTUR
DATA SPASIAL
BIG
PENYELENGGARA SURTA DAN
PEMBANGUNAN INFORMASI GEOSPASIAL
DASAR (IGD)
PEMBINA BIDANG SURTA DAN
PEMBANGUNAN INFORMASI GEOSPASIAL
TEMATIK (IGT)
PENYELENGGARA INFRASTRUKTUR DAN
JARINGAN INFORMASI GEOSPASIAL

REFERENSI SPASIAL TUNGGAL:
MENJAMIN KETERPADUAN INFORMASI NASIONAL
IG DASAR (JARING KERANGKA GEODESI DAN PETA
DASAR) SEBAGAI ACUAN
STATUS JARING KERANGKA
GEODESI:
TELAH SIAP RIBUAN JARING
KERANGKA GEODESI (POSISI DAN
GAYABERAT BUMI) SEBAGAI
ACUAN INFORMASI GEOSPASIAL
SEDANG DIPERLUAS JARING
KERANGKA GEODESI KONTINU
YANG TERINTEGRASI DENGAN
PEMANTAUAN GEMPA DAN
TSUNAMI
STATUS PETA DASAR:
IG DASAR (GARIS PANTAI, BATAS
ADMINISTRASI, BANGUNAN, HIDROGRAFI,
PENUTUP LAHAN DAN TOPONIMI).
PERLU AKSELERASI PENYEDIAAN PETA
DASAR (RUPABUMI, LINGKUP PANTAI, DAN
LINGKUP LAUT) SEBAGAI ACUAN INFORMASI
GEOSPASIAL
SEDANG DILENGKAPI PETA RUPABUMI SKALA
MENENGAH SEBAGAI ACUAN IG TEMATIK
UNTUK DATA DASAR PROGRAM
PEMBANGUNAN
Peran BIG dalam
Pengelolaan Perbatasan Negara:
Pembinaan data geospasial batas negara ( pembinaan peta NKRI
dan yurisdiksinya, termasuk pembinaan titik-titik dasar garis pangkal
kepulauan Indonesia, survei Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia
(ZEEI) dan Landas Kontinen Indonesia (LKI),

Pengkajian dan pembinaan aspek teknis delimitasi dan demarkasi
batas negara,

Survei dan pemetaan batas wilayah negara dan wilayah
administrasi, termasuk pemetaan pulau-pulau kecil terluar,

Pembinaan peta dasar dan peta tata ruang wilayah perbatasan,
serta peta teknis pembangunan perbatasan (berbagai skala),
pembinaan dan pemeliharaan sistem informasi geografis wilayah
perbatasan dan batas-batasnya,



Empat tahap pembuatan batas wilayah

1. Alokasi adalah proses penentuan secara
umum kawasan yang menjadi milik satu pihak
dan pihak lain, tanpa melakukan pembagian
secara akurat/teliti. Proses ini bersifat politis
2. Delimitasi adalah penetapan garis batas
secara teliti di atas peta, berdasarkan proses
alokasi sebelumnya.
3. Demarkasi adalah proses penegasan titik
dan garis batas dengan pemasangan
pilar/patok di lapangan berdasarkan delimitasi
sebelumnya.
4. Administrasi adalah Pengelolaan
perbatasan, termasuk pemeliharaan
titik/garis.
Stephen B. Jones,1945.
Berbagai Keputusan Presiden tentang ratifikasi hasil-hasil perundingan
batas Landas Kontinen dan batas-batas laut tertentu antara Indonesia
dengan India, Thailand, Malaysia, Singapura, Papua New Guinea dan
Australia; yang mana Badan Informasi Geospasial ditugaskan untuk
menetapkan titik-titik batas tersebut secara pasti di lapangan.
Skep Menlu merujuk kepada UU No.24/2000 tentang perjanjian
internasional; Badan Informasi Geospasial menjadi anggota tim
perunding batas negara.
.
Peran BIG dalam
Pengelolaan Perbatasan Negara:
CPD Barat JWG CBDRF & JBM
JBC
CPD Timur
Ketua JBC : Sekjen Kemdagri
Anggota : BIG, dll
Ketua JTC : Dir. Wilhan Kemhan
Anggota : BIG, dll
Ketua : Dit. Top AD
Anggota : BIG, Kemlu,
Kemdagri, BIN
Ketua : Dit. Top AD
Anggota : BIG, Kemlu,
Kemdagri, BIN
Ketua : Dir. Wilhan
Kemhan
Anggota : BIG,
Kemlu, Kemdagri
Ketua : BIG
Anggota : Dit. Top AD,
Kemlu, Kemdagri, BIN
JTC JWG OBP
JBC: Joint Border Committee
JTC: Joint Technical Committee
JWG: Joint Working Group
JBC: Joint Border Committee
JTC: Joint Technical Committee
JWG OBP: Joint WG
Outstanding Border Problem
JBM: Joint Border Mapping
JTC: Joint Technical Committee
JMC
SOM JMC
(Kemlu)
JBC
(Kemdagri)
TSC-CBMPGC
(Kemdag)
TSC-RWM
(Kem PU)
TSC-BDR
(BIG)
TSC-BS
(Mabes TNI)
BLC
(Pemprov NTT)
Anggota:
Wilhan Kemhan, Dit
Top AD, BIN, SOPS
TNI, STER TNI,
BPN, Kemdagri,
Kemlu, Pemprov,
Pemkab
WG
(Border Issues)
WG
(Border Issues)
WG
(Border Issues)
JMC: Joint Ministerial Committee
JBC: Joint Border Committee
SOM JMC:
JTSC SDM
JTSC on Survey and
Demarcation of the Boundary
and Mapping of The Border
Areas)

JBC
JIMWG
(Joint Implementation and
Monitoring Working Group)

JSCSM, JSC
lainnya
TUGAS:
1. Penyelesaian TOR Densifikasi, TOR
Monitoring Sungai Fly, dan TOR
maintenance pilar
2. Survei CBDRF dan processingnya
3. Updating Joint Map
Ketua JBC : Mendagri
Anggota : BIG, Kemlu dll
Ketua JBC : Dir. Wilhan Kemhan
Anggota : BIG, Kemlu, dll
Ketua JBC : Bakosurtanal
Anggota : Kemhan, Kemlu, BNPP,
Dittop-AD, dll
BATAS DARAT WILAYAH NKRI
Status Terkini
Skala Existing Target
1:50.000 89 172
1:25.000 0 688
1:10.000 0 2752
1:5.000 0 11.008
1:1.000 0 44.032
JBM 1:50.000 16 45
Contoh Peta JBM RI-Mal:
Tj. Datu (JBM Sheet 1)
SURVEI DAN DENSIFIKASI PILAR BATAS
Batas Panjang
Batas
Existing Target Keterangan
RI - MAL 2004 Km 19.328 19.328 Per 100 M
Panjang garis batas 2004 km
Jumlah Pilar
Batas`: 19.328
pilar
Pilar Type A : 7 jarak antara pilar 300 km
Pilar Type B : 76 jarak antara pilar 50 km
Pilar Type C : 535 jarak antara pilar 3 km
Pilar Type D :18.710 jarak antara pilar 100-200 m
Permasalahan : 1. Penggunaan Datum Timbalai (milik Malaysia)
2. Peta Batas RI Malaysia (peta Topografi lama)
Solusi 1. Diperlukan Common Border Datum (WGS 84)
2. Joint Mapping dengan datum WGS 84
- Dari total 172 NLP, baru diselesaikan sebanyak 89 NLP
- Terdiri dari 18 kecamatan
89 NLP
Panjang Garis Batas
Sektor Timur: 149,1 km
Sektor Barat : 119,7 km

Delineasi : 96%
Demarkasi : 50 tugu batas
Titik CBDRF: 49 buah
PETA PERBATASAN RI TIMOR LESTE
Batas Panjang
Batas
Existing Target Keterangan
RI TL 287 Km 303 1004 Per 500 m
Skala Target Existing
1:50.000 10 10
1:25.000 45 45
1:10.000 180 0
1:5.000 720 0
1:1.000 2.880 0
Border
Mapping
1:25.000
27 27
SURVEI DAN DENSIFIKASI PILAR BATAS
PETA PERBATASAN RI PAPUA NEW GUINEA (PNG)
Skala Existing Target
1:50.000 37 37
1:25.000 0 148
1:10.000 0 592
1:5.000 0 2.368
1:1.000 0 9.472
JBM 1:50.000 27 27
Peta Batas Skala 1:50.000 sebanyak 27 lembar
Survei pengukuran CBDF di 14 pilar.
SURVEI DEMARKASI & PEMETAAN PERBATASAN RI-PNG
Batas Panjang
Batas
Existing Target Keterangan
RI PNG 820 Km 52 820 Per 1 Km
Kegiatan Tahun 2010
Kegiatan Tahun 2011 (18 Utara & 19 Selatan)
Contoh Peta:
BATAS MARITIM WILAYAH NKRI
Status Terkini
Batas Maritim Indonesia India
Jenis Batas:
Batas Darat tidak ada
Batas Laut Teritorial tidak
berbatasan langsung
Batas Landas Kontinen
dengan perjanjian tahun
1974, 1977, 1978
Batas ZEE belum
dirundingkan
Batas Maitim Indonesia Thailand
Jenis Batas:
Batas Darat tidak ada
Batas Laut Teritorial tidak
berbatasan langsung
Batas Landas Kontinen
dengan perjanjian tahun
1971, 1975, 1978
Batas ZEE belum
dirundingkan
Batas Maritim Indonesia Malaysia (Selat Malaka)
Jenis Batas:
Batas Darat ada di
Kalimantan
Batas Laut Teritorial dengan
perjanjian 1971 di Selat
Malaka, untuk Selat
Singapura dan Laut Sulawesi
sedang dirundingkan
Batas Landas Kontinen
dengan perjanjian tahun
1969 di Selat Malaka & Laut
China Selatan, untuk Laut
Sulawesi sedang
dirundingkan
Batas ZEE sedang
dirundingkan (Selat Malaka,
Laut China Selatan, Laut
Sulawesi)
Perundingan batas telah dilakukan 18 kali, mulai tahun
2005 sampai saat ini
Batas Maritim Indonesia Malaysia
(Selat Singapura)
Jenis Batas:
Batas Darat ada di Kalimantan
Batas Laut Teritorial dengan
perjanjian 1971 di Selat
Malaka, untuk Selat Singapura
dan Laut Sulawesi sedang
dirundingkan
Batas Landas Kontinen
dengan perjanjian tahun 1969
di Selat Malaka & Laut China
Selatan, untuk Laut Sulawesi
sedang dirundingkan
Batas ZEE sedang
dirundingkan (Selat Malaka,
Laut China Selatan, Laut
Sulawesi)
Perundingan batas telah dilakukan 18 kali, mulai tahun 2005 sampai
saat ini
Batas Maritim Indonesia Malaysia
(Laut China Selatan)
Jenis Batas:
Batas Darat ada di
Kalimantan
Batas Laut Teritorial dengan
perjanjian 1971 di Selat
Malaka, untuk Selat
Singapura dan Laut
Sulawesi sedang
dirundingkan
Batas Landas Kontinen
dengan perjanjian tahun
1969 di Selat Malaka & Laut
China Selatan, untuk Laut
Sulawesi sedang
dirundingkan
Batas ZEE sedang
dirundingkan (Selat Malaka,
Laut China Selatan, Laut
Sulawesi)
Perundingan batas telah dilakukan 18 kali, mulai tahun 2005 sampai
saat ini
Penampakan tiang pancang yang dibangun Malaysia, di Tanjung Datu.
Ketiga tiang pancang itu kini telah bercatkan merah dan putih
Batas Maritim Indonesia Singapura
Jenis Batas:
Batas Darat tidak ada
Batas Laut Teritorial
dengan perjanjian
1973, 2009, untuk
segmen timur belum
dirundingkan
Batas Landas
Kontinen tidak ada
Batas ZEE tidak ada
Terdapat 2 segmen yang masih belum dirundingkan, yaitu sebelah timur Changi dan di
sekitar Pedra Branca
Batas Maritim Indonesia Vietnam
Jenis Batas:
Batas Darat tidak ada
Batas Laut Teritorial tidak
berbatasan langsung
Batas Landas Kontinen
dengan perjanjian tahun
2003
Batas ZEE sedang
dirundingkan
Perundingan batas telah dilakukan 2 kali pada tahun 2010
Batas Maritim Indonesia Filipina
Jenis Batas:
Batas Darat tidak ada
Batas Laut Teritorial tidak
berbatasan langsung
Batas Landas Kontinen
belum dirundingkan
Batas ZEE pernah
dirundingkan namun
terhenti
Perundingan batas telah dilakukan 7 kali, tahun 2005 2007. Setelah pertemuan ke-7 sampai dengan
saat ini belum dilanjutkan perundingan. 2 segmen yang belum disepakati, yaitu segmen utara
P.Miangas dan barat P.Marore
Sudah ada
kesepakatan
batas maritime
antara Pilipina
dengan
Indonesia
Batas Maritim Indonesia Palau
Jenis Batas:
Batas Darat tidak ada
Batas Laut Teritorial tidak
berbatasan langsung
Batas Landas Kontinen
belum dirundingkan
Batas ZEE sedang
dirundingkan
Perundingan batas telah dilakukan 2 kali pada tahun 2010
Batas Maritim Indonesia PNG (bag. Utara)
Jenis Batas:
Batas Darat ada di Papua
Batas Laut Teritorial belum
dirundingkan
Batas Landas Kontinen
dengan perjanjian tahun
1973, 1980
Batas ZEE belum
dirundingkan
Perjanjian 1980 (segmen utara) merupakan perjanjian batas landas kontinen
Diantara titik C1 C2 terdapat batas laut teritorial yang belum tertuang dalam perjanjian tersebut
Batas Maitim Indonesia PNG
(bag. Selatan)
Jenis Batas:
Batas Darat ada di Papua
Batas Laut Teritorial belum
dirundingkan
Batas Landas Kontinen
dengan perjanjian tahun
1973, 1980
Batas ZEE belum
dirundingkan
Perjanjian 191973 (segmen selatan) merupakan perjanjian batas landas kontinen
Diantara titik B3 B2 merupakan batas laut teritorial yang belum tertuang dalam perjanjian tersebut
Batas Maritim Indonesia Australia
Jenis Batas:
Batas Darat tidak ada
Batas Laut Teritorial tidak
berbatasan langsung
Batas Landas Kontinen
dengan perjanjian tahun
1971, 1972, 1997
Batas ZEE dengan
perjanjian 1981, 1997
Perjanjian batas Landas Kontinen & ZEE tahun 1997 belum diratifikasi kedua negara, dengan demikian di
segmen Laut Timor digunakan perjanjian tahun 1981 tentang pengawasan perikanan untuk operasional.
Batas Maritim Indonesia Australia
(selatan P. Jawa)
Jenis Batas:
Batas Darat tidak ada
Batas Laut Teritorial tidak
berbatasan langsung
Batas Landas Kontinen
dengan perjanjian tahun
1971, 1972, 1997
Batas ZEE dengan
perjanjian 1981, 1997
Pada segmen selatan P.Jawa adalah perjanjian batas Landas Kontinen & ZEE
tahun 1997, dan sampai saat ini belum diratifikasi kedua negara.
Batas Maritim Indonesia Timor Leste
Jenis Batas:
Batas Darat ada di P,
Timor
Batas Laut Teritorial belum
dirundingkan
Batas Landas Kontinen
belum dirundingkan
Batas ZEE belum
dirundingkan
Panjang Segmen Batas Maritim
No.
Dengan
Negara
Batas Maritim
Laut Teritorial
(mil laut)
Zona Ekonomi Eksklusif
(mil laut)
Landas Kontinen
(mil laut)
Belum Sudah Jumlah Belum Sudah Jumlah Belum Sudah Jumlah
1 India - - - 336,66 0 336,66 51,65 279,72 331,37
2 Thailand - - - 231,49 0 231,49 0 190,70 190,70
3 Malaysia 76,01 174,41 250,42 974,58 0 974,58 144,89 973,25 1118,14
4 Singapura 1,88 31,18 33,06 - - - - - -
5 Vietnam - - - 251,30 0 251,30 0 250,71 250,71
6 Filipina - - - 661,00 0 661,00 0 661,00 661,00
7 Palau - - - 258,64 0 258,64 0 258,64 258,64
8 Papua Nugini 0 30,04 30,04 0 279,72 279,72 0 279,72 279,72
9 Australia - - - 0 1814,56 1814,56 0 1396,22 1396,22
10 Timor Leste 228,80 0 228,80 205,45 0 205,45 205,45 0 205,45
TOTAL 228,8 228,8 228,8 1376,39 2094,28 3470,67 205,45 2846,29 3051,74
Batas Maritim Yang Sudah Ditetapkan
Sudah Menyepakati di beberapa segmen dengan Malaysia, Singapura, India,
Thailand, PNG, Australia dan Vietnam

Batas Maritim Yang Sedang Dirundingkan
Beberapa batas laut wilayah dan zona maritim dengan Filipina, Malaysia,
Vietnam, Palau dan Singapura

Batas Maritim Yang Belum Dirundingkan
Beberapa batas laut wilayah dan zona maritim dengan Timor-Leste, India, dan
Thailand

Batas Maritim Yang Dapat Ditetapkan Secara Unilateral
Di area yang tidak tumpang tindih dengan zona maritim negara lain, seperti di
Samudera Hindia dan Samudera Pasifik
Status Batas-Batas Maritim Indonesia
No
Dengan
Negara
Jenis Batas
Ada/
Tidak
Status Delimitasi
1 India Batas Darat
Laut Teritorial
Zona Tambahan
ZEE
LK
Tidakada
Tidak ada
Tidak ada
Ada
Ada
Batas bersama Landas Kontinen telah disepakati dan diratifikasi. Batas
ZEE msh perlu dirundingkan dan disepakati.
2 Thailand Batas darat
Laut Teritorial
Zona Tambahan
ZEE
LK
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Ada
Ada
Batas bersama ZEE msh perlu disepakati. Batas bersama Landas
Kontinen tlh disepakati dan diratifikasi
3 Malaysia Batas Darat
Laut Teritorial
ZEE
LK
Ada
Ada
Ada
Ada
Batas darat bersama di Kalimantan merujuk kepada Konvensi (Traktat) batas antara
Pemerintah Hindia Belanda dengan Inggris tahun 1891, 1915 dan 1928.
Batas bersama laut teritorial di selat Malaka tlh disepakati, RI meratifikasi dg UU
No.2/1971. Msh sdg dirundingkan segmen sambungan sampai selat Singapura.
Batas LK di selat Malaka dan laut China Selatan telah disepakati. Di laut Sulawesi
sdg dirundingkan. ZEE msh dlm proses perundingan.
Status Batas Maritim NKRI
[1]
N
o
Dengan
Negara
Jenis Batas
Ada/
Tidak
Status Delimitasi
4 Singapura Batas Darat
Laut Teritorial
Zona Tambahan
ZEE
LK
Tidak ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Batas laut territorial segmn tengah selat dg 6 ttk bts tlh disepakati, RI
meratifikasi dg UU No.7/1973. segmen barat sdh disepakati dgn UU
no.4/2010. Segmen timur blm mulai dirundingkan. Terdpt Tri junction point
(TJP) yg hrs disepakati Ina-Sin-Mal.
5 Vietnam Batas Darat
Laut Terrtorial
Zona Tambahan
ZEE
LK
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Ada
Ada
Batas ZEE bersma sedang dlm proses dirundingkan.
Batas landas kontinen bersama sdh disepakati, dan diratifikasi dengan UU
No. 18/2007.
6 Filipina Batas Darat
Laut Teritorial
Zona Tambahan
ZEE
LK
Tidak ada
Tidak ada
Ada
Ada
Ada
Batas bersama zona tambahan, ZEE dan Landas Kontinen kedua negara
di Laut Sulawesi msh dlm proses perundingan.
7 Palau Batas Darat
Laut Teritorial
Zona Tambahan
ZEE
LK
Tidak ada
Tidak ada
Tidak Ada
Ada
Ada
Batas bersama ZEE dan Landas Kontinen sedang dirundingkan.
Status Batas Maritim NKRI
[2]
No
Dengan
Negara
Jenis Batas
Ada/
Tidak
Status Delimitasi
8 Papua Nugini Batas Darat
Laut Teritorial
Zona Tambahan
ZEE
LK
Tidak ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Batas bersama Laut Territorial, ZEE dan LK yang sifatnya lateral telah disepakati
Batas darat bersama RI-PNG merujuk kepada Traktat Belanda-Inggris 1989,
diupdate dengan perjanjian RI-Australa 1973, dan RI meratifikasi dengan UU
No.6/1973.
9 Australia Batas Darat
Laut Teritorial
Zona Tambahan
ZEE
LK
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Ada
Ada
Batas bersama ZEE telah disepakati, namun belum diratifikasi. Batas LK telah
disepakati dan diratifikasi.
10 Timor Leste Batas Darat
Laut Teritorial
Zona Tambahan
ZEE
LK
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Batas maritim kedua negara masih perlu dirundingkan dan disepakati, dengan
catatan setelah batas darat selesai diperjanjikan.
Batas darat bersama merujuk kepad Traktat Belanda-Portugis 1904 dan PCA 1914
dan PA 2005.
11 ZEE & LK
200 Nm
ZEE
LK
Ada
Ada
Jurisdiksi atas ZEE dan LK sampai 200 NM dar grs pangkal di Lautan Hindia dan
Pasifik selesai ditetapkan.
12 LK > 200 Nm LK Ada Ada potensi submisi di sebelah barat Sumatera, selatan Nusa Tenggara, dan utara
Papua, akan dilakukan secara parsial. Submisi tahap I untuk seblah barat
Sumatera telah disampaikan ke UN-CLCS tahun 2008.
Status Batas Maritim NKRI
[3]
Titik Dasar dan Garis Pangkal
Sudah didepositkan di PBB pada tanggal 11 Maret 2009
195 titik dasar
30 garis
pangkal biasa
162 garis
pangkal lurus
4 garis pangkal
lurus > 100M
Landas Kontinen > 200 M
Luas area Landas Kontinen > 200 M sebesar 4209 km (Zona Tambahan)
Sudah didepositkan ke CLCS tanggal 16 Juni 2008 dan dibahas sampai dengan Agustus 2010
Rekomendasi CLCS sudah diterima pada bulan April 2011
PERJANJIAN GARIS BATAS LAUT DENGAN
NEGARA TETANGGA
INDONESIA - MALAYSIA
1. Landas Kontinen , 27 Otober 1969
2. Laut Teritorial di Selat Malaka, 17 Maret 1970

Keppres No. 89 tahun 1969
UU No. 2 tahun 1971
INDONESIA - SINGAPURA
3. Laut Teritorial di Selat Singapura, 25 Mei 1973
4. Laut Teritorial di Selat Singapura bagian barat, 10 Maret 2009

UU No. 7 tahun 1973
UU No. 4 tahun 2010
INDONESIA - AUSTRALIA
5. Dasar Laut Tertentu, 18 Mei 1971
6. Dasar Laut Tertentu di Wilayah Laut Timor dan Arafura, Tambahan terhadap Persetujuan
tanggal 18 Mei 1971
7. Garis-garis Batas Tertentu antara Indonesia dan Papua Nugini, 12 Februari 1973
8. ZEE dan Dasar Laut Tertentu, 14 Maret 1997

Keppres No. 42 tahun 1971
Keppres No. 66 tahun 1972
UU No. 6 tahun 1973
Belum diratifikasi
INDONESIA MAYASIA - THAILAND
9. Landas Kontinen di Bagian Utara Selat Malaka (juga dengan Thailand), 21 December 1971

Keppres No. 20 tahun 1972
INDONESIA - THAILAND
10. Landas Kontinen di Bagian Utara Selat Malaka dan di Laut Andaman, 17 Desember 1971
11. Dasar Laut di Laut Andaman, 11 Desember 1975

Keppres No. 21 tahun 1972
Keppres No. 1 tahun 1977
INDONESIA - INDIA
12, Garis Batas Landas Kontinen, 8 Agustus 1974
13. Perpanjangan Garis Batas Landas Kontinen 1974, 14 Januari 1977

Keppres No. 51 tahun 1974
Keppres No. 26 tahun 1977
INDONESIA INDIA - THAILAND
14. Trijunction Point dan Garis Batas dari Garis-garis Batas Tertentu di Laut Andaman, 22 Juni
1978

Keppres No. 24 tahun 1978
INDONESIA - VIETNAM
15. Garis Batas Landas Kontinen di Utara P. Natuna, 2004

UU No. 18 tahun 2007
BATAS WILAYAH NKRI
DAN TATA RUANG
1. LAUT TERITORIAL - Hak kedaulatan
- Kedaulatan Mutlak
- Kegiatan Asing Minta Izin

2. ZONA TAMBAHAN Hak berdaulat BUKAN Hak kedaulatan
- Berdaulat di beberapa aspek terkait pengawasan untuk :
mencegah pelanggaran peraturan perundang-undangan bea cukai,
fiscal, imigrasi

3. ZEE dan LANDAS KONTINEN
- Hak berdaulat BUKAN Hak kedaulatan
- Berdaulat di bidang eksploitasi & eksplorasi SDA
- Hak negara lain ada : Hak navigasi dan hak pemasangan kabel laut/pipa,
dsb


Di LAUT LEPAS (high seas), tidak ada kedaulatan maupun hak berdaulat negara
pantai.

HAK-HAK NEGARA DI ZONA MARITIM
BEBERAPA CONTOH PETA-PETA TATA RUANG
PETA RTRW NASIONAL REVIEW POLA PEMANFAATAN RUANG (2003)
Indonesia memiliki posisi geografis yang strategis, terletak di persilangan
antara dua benua dan dua samudera. Sebagai negara kepulauan,
Indonesia memiliki batas-batas darat dengan 3 negara dan batas-batas
laut (maritim) dengan 10 negara. Telah disepakati delimitasi 19 segmen
batas maritim, dan delimitasi batas darat.
Batas Wilayah NKRI masih terus tumbuh secara dinamis. Jika
dibandingkan dengan saat-saat awal kemerdekaan, luas wilayah NKRI
menjadi lebih besar terutama wilayah lautnya.
Badan Informasi Geospasial bersama kementrian/kelembagaan lain terus
memperjuangkan setiap jengkal wilayah NKRI baik di laut maupun di
darat. Pengamanan/perawatan pilar-pilar batas yang sudah ditetapkan
masih terus dilakukan..
Indonesia masih mempunyai potensi untuk mengajukan submisi ke CLCS-
PBB terkait batas landas kontinen di luar 200 mil laut, di selatan NTB
NTT dan di sebelah utara Papua.
Penutup

o Ketersediaan Informasi geospasial wilayah NKRI yg andal , akurat dan
terintegrasi dlm kerangka sistem informasi nasional berperan guna
mendukung keutuhan wilayah NKRI, penataan ruang dan pemanfaatan
sumber kekayaan alam guna kesejahteraan rakyat.

o Data geospasial sangat berperan selain untuk keperluan deliniasi,
delimitasi dan demarkasi wilayah perbatasan, juga diperlukan bagi
perencanaan dan penyusunan tata ruang serta perencanaan fisik
pembangunan dan pengelolaan daerah perbatasan.

o Pemetaan dan pendataan aspek geografi wilayah (data geospasial)
nasional secara baik dan benar adalah bagian dari bukti adanya efectivitie
kekuasaan atas suatu wilayah yang dikuasai negara.

o Peta juga berperan penting dalam proses boundary arbitrations, yang
dapat memberikan bukti sejarah (historic evidence) dari keberadaan lokasi
garis batas wilayah negara. Kekurang lengkapan data geospasial dapat
menyebabkan lemahnya argumen-argumen dalam perundingan, karena
aspek geografi merupakan salah satu bagian penentu dalam perundingan
di tingkat teknis.



Atas perhatiannya
Terima Kasih