Anda di halaman 1dari 26

CONVERGENCE OF INCOME

AMONG PROVINCES
IN INDONESIA 1984-2008:
A Panel Data Approach
Yustirania S | Niken AL | Hermada D | Wiriyadi N
Pendahuluan
Konvergen didasarkan dari teori pertumbuhan neoklasikal ( solow
dan swan) dimana untuk memprediksi conditional convergen dan
absolute convergen. Menurut Barro & Sala-i-I Martin, 1991
terdapat dua konsep konvergen yang kemudian memunculkan
perdebatan terkait pertumbuhan ekonomi seluruh negara atau
daerah yakni :
Konsep pertama kondisi dimana daerah miskin mencapai
kemapanan cenderung tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan
daerah kaya yang telah mencapai kemapanan. Kondisi ini dikatakan
catching up effect, yaitu ketika negara-negara berkembang berhasil
mengejar negara-negara maju. Konsep ini dikenal sebagai
konvergen
Konsep kedua, konvergen terjadi ketika terdapat kondisi disparitas,
contoh nya standard deviasi logaritma dari pendapatan perkapita
atau produk seluruh kelompok dari negara atau daerah mengalami
penurunan. Proses ini dikatakan sebagai konvergen
Konvergen jenis pertama ( negara miskin
cenderung tumbuh lebih cepat dari negara kaya)
memiliki kecenderungan konvergen jenis dua (
memperkecil disparitas pendapatan perkapita atau
produk), tetapi proses ini cenderung menimbulkan
gangguan baru yakni kecenderungan peningkatan
disparitas
Konsep konvergen terkait erat dengan implimentasi
kebijakan pembangunan daerah dimana
pembangunan daerah menjadi bagian dalam
pembangunan nasional. Sehingga tujuannya tidak
hanya untuk meningkatkan pendapatan perkapita
dan kesejahteraan masyarakat tetapi juga
menaikkan dan menurunkan kemapanan daerah
sehingga terjadi pembangunan
Di indonesia kondisi diperkuat dengan adanya peraturan
No. 22 dan 25 tahun 1999 yang diperbaharui ke dalam
peraturan no 32 dan 33 tahun 2004 tentang otonomi
daerah. Jadi pemerintah daerah bertanggung jawab atas
setiap kebijakan pembangunan daerahnya sedangkan
pemerintah pusat hanya sebagai fasilitator.
Salah satu masalah pada pembangunan ekonomik
daerah di Indonesia adalah disparitas, dimana masalah
tersebut belum ditemukan solusinya dan memerlukan
perhatian serius oleh pemerintah, antara pemerintah
pusat dan daerah.
Disparitas ini sangat perlu dicarikan solusi karena
disparitas antara daerah kaya dan miskin dapat
menghalangi pertumbuhan national secara umum dan
berdampak juga pada pembangunan daerah juga.
Disparitas ini memperlihatkan bahwa tiap
provinsi memiliki sumber daya , dimana sumber
daya manusia dan sumber daya alam berbeda,
sehingga secara tidak langsung berdampak
pada perbedaan pendapatan perkapita tiap
provinsi.
tujuan
Untuk mengobservasi kesenjangan pendapatan
yang terjadi antara 26 provinsi di Indonesia
selama periode 1984-2004
Untuk menghitung conditional konvergen dan
absolute konvergen dari pertumbuhan daerah
dengan masalah utama di 26 provinsi di
indonesia selama periode 1984-2004
Untuk menghitung conditional konvergen dan
absolute konvergen dari pertumbuhan daerah
dengan masalah utama antara provinsi di jawa
dan diluar jawa selama periode 1984-2008.
Kerangka teori
1. konsep konvergenitas
Untuk membuat hubungan antara dua konsep
konvergen, maka menggunakan persamaan
pertumbuhan dari model pertumbuhan
neoklasikal:



Keterangan :
t : tahun
i : negara atau daerah






Keterangan:
= kondisi steady state dari
= tingkat teknologi
diasumsikan
it
memiliki rata-rata 0, varian
2
it
,
distribusi indepent dari log(y
i,t-1
), u
jt
untuk ji dan
terdapat gangguan lag
1 t x * y

log * e 1 x
i i

i it

i
y
i
y
i
x
Estimator 1
st
Difference & GMM Sistem
Dalam analisis pertumbuhan, estimator GMM pertama kali
diterapkan dalam Caselli, et al. (1996) yang berjudul
"Reopening the Convergence Debate: A New Look at
Cross-Country Growth Empiries
Secara sederhana, model pertumbuhan dengan efek
individual-specific yang tidak terobservasi adalah

dengan | | < 1
keterangan:
y
i,t
= pendapatan per kapita daerah i pada tahun t
X
i,t
= vektor dari hal-hal yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi

t
= konstanta waktu
v
i,t
= standard error
Estimator 1
st
Difference & GMM Sistem
Transformasi untuk menghilangkan pengaruh individu
melalui 1
st
difference


Keterangan:
Y
i,t-2
dan seluruh lag digunakan sebagai instrumen untuk ln y
i,t-1

diasumsikan bahwa
E[v
it
v
is
]=0 untuk i=1,,N,
st
Pada kondisi awal ln y
i1
ditentukan sebelumnya sebagai
E[ln y
i1
v
it
]=0 untuk i=1,,N dan t=2,,T
Asumsi tersebut menyatakan bahwa
m=0,5(T-1)(T-2) kendala momen: E[Z
i
t
v
i
]=0 dengan
Z
i
adalah (T-2) x matriks m
Estimator 1
st
Difference & GMM Sistem



Dengan X
i,T-k
= openness
i,1
,, 0penneSS
i,t-k
,
education
i,1
,,education
i,t-k
, health
i,1
,,
health
i,t-k
, ln(investment)
i-1
, ..., In(investment)
1,t-k
,
ln(net migration)
i,1
, ..., In(net migration)
i,t,k
,1)
v
i
adalah vektor (v
i,3
, v
i,4
, v
i,T
) dari
dimensi (T-2)
Hal ini menghasilkan estimator yang
konsisten saat N dengan T tetap
Estimator 1
st
Difference & GMM Sistem
Akan tetapi estimator 1
st
diff. GMM memiliki sifat poor
finite sample, dalam hal bias dan tidak tepat dalam satu
kasus penting
Hal ini terjadi saat tingkat lag dari series hanya
berhubungan lemah dengan 1
st
diff. yang selanjutnya,
sehingga instrumen yang dalam persamaan 1
st
diff.
adalah lemah
Estimator GMM dalam 1
st
diff. dikritik bahwa log GDP per
kapita tahunan mungkin menjadi persisten.
Terdapat korelasi lemah antara tingkat pertumbuhan log
GDP per kapita dan kelambanan log tingkat GDP per
kapita.
Estimator 1
st
Difference & GMM Sistem
Beberapa studi menghasilkan hasil yang baru dari
ekonometri data panel dinamis dengan menggunakan
estimator GMM sistem (GMM-SYS) yang ditunjukkan
oleh Arellano & Bond (1991) untuk mengatasi masalah
instrumen yang lemah diobservasi dengan GMM-DIFF
Arellano & Bond (1991) menunjukkan bahwa bias dapat
dikurangi dengan memasukkan lag 1
st
Diff.
Selain itu, mereka menunjukkan estimator GMM sistem
dengan sistem persamaan yang telah diestimasi dalam
1
st
Diff. dan dalam level
Kerangka Pertumbuhan Solow
Model pertumbuhan Solow banyak digunakan
oleh berbagai studi sebagai dasar analisis cross-
section mengenai konvergensi pendapatan
Namun Islam (1995), Caselli, et al. (1996), Lee et
al. (1997) menggunakan observasi cross-section
dan time-series untuk menguji konvergensi
pendapatan dan mengestimasi tingkat
konvergensi
Menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas
dengan asumsi constant return to scale
dengan 0<<1

Kerangka Pertumbuhan Solow
Tingkat pertumbuhan tenaga kerja dan teknologi
Keterangan:
n = tingkat pertumbuhan tenaga kerja
g = tingkat kemajuan teknologi
L(0) = kondisi awal tenaga kerja
A(0) = kondisi awal teknologi
Bentuk autoregressive dari model tingkat output per
kapita (model Solow)
Fokus pada:
1.Dinamika pertumbuhan transisi
dari suatu perekonomian untuk
alur pendapatan steady state-nya
2.Menunjukkan kerangka
dinamika umum dengan menguji
konvergensi pendapatan
Kerangka Pertumbuhan Solow
Maka dengan menambahkan jumlah observasi berupa
unit cross-section, dimungkinkan untuk menambahkan
efek province-specific dan time-specific untuk
melepaskan asumsi homogenitas parametrik dari kondisi
awal teknologi dan tingkat kemajuan teknologi.
Maka model data panelnya:

Keterangan:

i
= komposit faktor province-
specific yang tidak terobservasi
termasuk kondisi awal teknologi
T
t
= efek time-specific termasuk
perubahan teknologi

STUDI EMPIRIS SEBELUMNYA
Studi konvergensi masih banyak perdebatan baik secara
teori hingga secara empiris
Barro & Sala-I Martin (1991)
Dengan menggunakan analisis cross-section menemukan bahwa
Terdapat korelasi positif antara tingkat pertumbuhan GDP per
kapita, GDP per kapita awal, capaian pendidikan, ekspektasi
kehidupan, belanja pemerintah di bidang pendidikan, perubahan
dalam kaitannya dengan perdagangan, rasio investasi dan aturan
hukum
Terdapat hubungan negatif antara tingkat pertumbuhan konsumsi
pemerintah, distorsi pasar, ketidakstabilan politik, serta tingkat
kelahiran dan pertumbuhan populasi
Tingkat konvergensi berbeda-beda antara 1,4% - 2,8%, tapi
frekuensi tertinggi antara 2,5% - 2,7%
STUDI EMPIRIS SEBELUMNYA
Islam (1995)
Melakukan studi dari berbagai negara termasuk negara OECD
menggunakan data panel
Variabel human capital adalah negatif dan tidak signifikan
Sementara itu, termasuk variabel human capital, dalam regresi
dapat meningkatkan tingkat konvergensi
Saldanha (1997)
Studi di Indonesia dengan data panel
Provinsi di Indonesia cenderung konvergensi selama lebih dari 25
tahun
Konvergensi perekonomian adalah fenomena yang terjadi sejak
awal pertumbuhan ekonomi di Indonesia
STUDI EMPIRIS SEBELUMNYA
Garcia dan Soelistianingsih (1998)
Walaupun di Indonesia pendapatan provinsi naik dan kesetaraan
pendapatannya turun selama periode 20 tahun, disparitas
pendapatan personald dan regional tetap berlangsung
Terdapat fakta bahwa provinsi yang miskin cenderung mengejar
ketertinggalan dengan provinsi kaya tapi pada area tingkat
distribusi mediun tahun 1975
Pada posisi yang sama tahun 1993, investasi SDM (kesehatan &
pendidikan) menjadi sangat penting dan cara yang efektif
meningkatkan penerimaan dan menurunkan disparitas GDP per
kapita di Indonesia
Provinsi yang miski dan terletas di area pedesaan dapat tumbuh
lebih cepat jika memiliki keuntungan peningkatan kondisi
kesehatan secara keseluruhan, peningkatan keahlian manusia,
penurunan fertilitas dan mortalitas, dan penurunan intervensi
perdagangan
STUDI EMPIRIS SEBELUMNYA
Madariaga, et al. (2005)
Menguji konvergensi regional dan aglomerasi di Argentina pada
tahun 1983-2002
Menerapkan metode estimasi baru dengan menjalankan 2 langkah
prosedur
Mengkombinasikan variabel filter spasial untuk menghilangkan
korelasi spasial dan estimator yang tepat untuk estimator 1
st
diff.
dan GMM sistem
Estimasi variabel yang difilter menunjukkan proses konvergensi
konditional antara provinsi di Argentina dan secara positif dan
signifikan pengaruh variabel aglomerasi pada tingkat pertumbuhan
Hasilnya, dengan mengabaikan distorsi spasial maka hasil estimasi
akan menyesatkan dan merendahkan kecepatan konvergensi
khususnya untuk provinsi yang jauh dari Buenos Aires
Estimasi dengan pengaruh aglomerasi akan meningkat jika
autokorelasi spasialnya dihilangkan
STUDI EMPIRIS SEBELUMNYA

METODE DAN DATA
Model

Keterangan:
y
it
= log PDRB per kapita tahun 1984-2008 yang dibagi menjadi 5
tahun data rata-rata yang digunakan
y
i,t-1
= log linier dari PDRB per kapita awal dari provinsi i tahun t
x
it
= vektor variabel independen termasuk indikator ekonomi, sosial
dan demografi

i
= komposit faktor province-specific yang tidak terobservasi,
termasuk teknologi awal

t
= pengaruh time-specific, termasuk tingkat perubahan teknologi
METODE DAN DATA
Indikator
Ekonomi:
formasi modal tetap bruto dari invertasi regional
derajat keterbukaan yang diukur oleh ekspor + impor untuk
PDRB
Sosial:
Tingkat pendidikan yang diukur dengan persentase
kelulusan sekolah dan siswa dari populasi yang berumur
lebih dari 10 tahun
Tingkat kesehatan diukur dengan ekspektasi kehidupan
Demografi:
Migrasi netto

METODE DAN DATA
Seluruhnya diukur dengan harga riil tahun 2000
dari BPS
Unit analisis provinsi
Jumlah provinsi 26 (setelah desentralisasi,
Provinsi Banten bergabung dengan Jawa Barat,
Bangka Belitung bergabung dengan Sumatera
Selatan, Gorontalo dengan Sulawesi Utara,
Provinsi Maluku bergabung dengan Maluku
Utara, dan Irian Jaya Barat bergabung dengan
Papua)

Beri Nilai