Anda di halaman 1dari 72

1

IMUNOLOGI
BAGIAN MIKROBIOLOGI
FK-UISU
MEDAN
2011
2
PENDAHULUAN
IMUNITAS adalah resistensi terhadap penyakit terutama
penyakit infeksi

Gabungan sel, molekul dan jaringan yang berperan
dalam resistensi terhadap infeksi disebut SISTEM IMUN

reaksi yang dikoordinasi sel-sel molekul-milekul dan
bahan lainnya terhadap mikroba disebut RESPON IMUN

SISTEM IMUN DIPERLUKAN TUBUH untuk
mempertahankan keutuhannya yang dapat ditimbulkan
berbagai bahan dalam lingkungan hidup
3
IMUNOLOGI
DISIPLIN ILMU yang dalam perkembangannya berakar
dari pencegahan dan pengobatan penyakit infeksi

KEBERHASILAN dalam pengembangan imunologi telah
dapat memberantas penyakit polio dan menghilangkan
penyakit cacar

SEJAK 1960 imunologi sudah merupakan disiplin ilmu
yang lebih luas lagi yang tidak hanya terbatas pada
pemberantasan penyakit infeksi saja

DISFUNGSI SISTEM IMUN yang berperanan dalam
patogenesis berbagai penyakit semakin banyak diketahui
4
PANDANGAN SEKARANG
RESPON IMUN DIPERLUKAN UNTUK
TIGA HAL:
1. PERTAHANAN infeksi mikroorganisme
2. HOMEOSTATIS eliminasi komponen tubuh
yang sudah tua
3. PENGAWASAN untuk menghancurkan sel-
sel yang bermutasi terutama yang menjadi
ganas
5
RESPON IMUN DAPAT DIARTIKAN
sebagai suatu sistem agar tubuh dapat
mempertahankan keseimbangan antara
lingkungan diluar dan didalam tubuh
6
GAMBARAN UMUM SISTEM IMUN
I. PEMBAGIAN UMUM SISTEM IMUN
II. SISTEM IMUN NONSPESIFIK
SISTEM IMUN SPESIFIK
III. ORGAN DAN SISTEM LIMFATIK
A. ORGAN LIMFOID PRIMER
SEKUNDER
B. SISTEM LIMFATIK RESIRKULASI LIMFOSIT
HEV (TEMPAT EKSTRAVASASI LIMFOSIT)
HOMING
IV. DETERMINANT:
A. SPESIES
B. KETURUNAN DAN USIA
C. HORMON
D. SUHU
E. NUTRISI
F. FLORA NORMAL BAKTERI

7
IMUNOLOGI
MIKROBIOLOGI
ILMU DASAR
20 THN BERKEMBANG
CEPAT
SPESIALIS
SUBSPESIALIS
BANYAK MENGUNGKAPKAN:
- PATOFISIOLOGI PENYAKIT
- PENANGANAN PENYAKIT
P.DALAM
ANAK
THT
KULIT
MATA
KANDUNGA
N
SYARAF
PSIKIATRI
8
IMUNOLOGI
IMUNOLOGI
DASAR
IMUNO
PATOLOGI
IMUNOLOGI
KLINIK
INFLAMASI AKUT
DAN KRONIS
HIPERSENSITIFI
TAS
AUTOIMUNITAS
PENYAKIT
INFEKSI
REJEKSI
DEFISIENSI
IMUN
SALURAN NAFASM HATI,
USUS,
ENDOKRINE, GINJAL,
KULIT, MATA,
SISTEM SYARAF,
JARINGAN IKAT,
DARAH
PENYAKIT INFEKIS,
VAKSINASI,
TUMOR, OBAT, AIDS DLL
9
SISTEM IMUN
NON-SPESIFIK SPESIFIK
FISIK LARUT SELULER HUMORAL SELULER
10
SISTEM IMUN
NON SPESIFIK
SPESIFIK
FISIK/
MEKANIK
LARUT SELULER
KULIT
SELAPUT
LENDIR
SILIA
BATUK
BERSIN
ASAM LAMBUNG
LISOZIM
INTERFERON
AS.NEURAMINIK
DLL
B
I
O
K
I
M
I
A
KOMPLEMEN
INTERFERON
C REACTIVE PROTEIN
(CRP)
H
U
M
O
R
A
L
-FAGOSIT:
MONONUKLEAR
PMN
-SEL NOL: NK
K
-SEL MEDIATOR:
BASOFIL, MAST,
TROMBOSIT
HUMORAL
SEL B
SELULER
SEL T
Th1 Th2
Ts
Td
Tc
11
SISTEM IMUN NON-SPESIFIK
FISIK LARUT SELULER
Kulit Biokimia Fagosit
Selaput lendir Lisozim (keringat) - Mononuklear
Silia Sekresi sebaseus - Polimorfonuklear
Batuk Asam lambung Sel NK
Bersin Laktoferin Sel mast
Asam neuraminik Basofil
Humoral
Komplemen
Interferon
CRP
12 12
SISTEM IMUN SPESIFIK
HUMORAL SELULER
Sel B Sel T
- IgM - Th1
- IgG - Th2
- IgE - Ts
- IgA - Tdth
- IgD - Tc
13
PERBEDAAN SIFAT-SIFAT SISTEM IMUN NON-SEPSIFIK
DAN SPESIFIK
NON-SPESIFIK SPESIFIK
Resistensi Tidak berubah oleh
infeksi
Membaik oleh infeksi
berulang (=memori)
Spesifisitas Umumnya efektif
thdp semua
mikroorganisme
Spesifik utk mikro-
organisme yg sudah
men-sensitisasi
sebelumnya
Sel yang penting Fagosit Limfosit (T dan B)
Sel NK
Molekul yang penting Lisozim Antibodi
Komplemen Sitokin
Protein fase akut Mediator
Interferon
14
SISTEM IMUN NON-SPESIFIK

KOMPONEN NORMAL TUBUH
TIDAK PERLU INDUKSI
TIDAK MENUNJUKKAN SPESIFISITAS

15
SISTEM IMUN NON-SPESIFIK

MAMPU MELINDUNGI TUBUH
PERTAHANAN TUBUH TERDEPAN
TERDAPAT PADA TUBUH
SIAP BERFUNGSI SEJAK LAHIR.

16
SISTEM IMUN NON-SPESIFIK
1. PERTAHANAN FISIK/MEKANIK
2. PERTAHANAN BIOKIMIA
3. PERTAHANAN HUMORAL
4. PERTAHANAN SELULER.



17
1. Determinan
1.1 SPESIES
1.2 FAKTOR KETURUNAN DAN USIA
1.3 SUHU
1.4 PENGARUH HORMON
1.5 FAKTOR NUTRISI
1.6 FLORA BAKTERI NORMAL


18
1.1 SPESIES
. MANUSIA SANGAT RENTAN THDP
DIFTERI, TIKUS RESISTEN

1.2 FAKTOR KETURUNAN DAN USIA
HEREDITER RESISTENSI THDP
TUBERKULOSIS PADA PASANGAN
KEMBAR.
19
1.3 SUHU
BANYAK MIKROBA AKAN MATI PADA SUHU
DI ATAS 40
0
C.

1.4 PENGARUH HORMON
DIABETES MELITUS, HIPOTIROIDISME
DAN DISFUNGSI ADRENAL RESISTENSI
MENURUN THDP INFEKSI.

20

1.5 FAKTOR NUTRISI
NUTRISI YANG BURUK MENURUNKAN RESISTENSI
THDP INFEKSI.
1.6 FLORA BAKTERI NORMAL
MEMBENTUK BERBAGAI BAHAN ANTIMIKROBA.
KUMAN KOMENSAL DAPAT MENYINGKIRKAN KUMAN
PATOGEN.

21
2. Pertahanan Fisik/Mekanik

KERATINOSIT
LAPISAN EPIDERMIS
EPITEL MUKOSA.

22
22
3. Pertahanan Biokimia

PH asam dari keringat dan sekresi sebaseus.

Berbagai asam lemak yang dilepas kulit.

23
4. Pertahanan Humoral
4.1 ANTIBODI DAN KOMPLEMEN
SERUM NORMAL dapat membunuh
dan menghancurkan beberapa
bakteri gram-negatif.
ANTIBODI DAN KOMPLEMEN dapat
menghancurkan membran
lapisan lipopolisakarida
dinding sel.
24
4. Pertahanan Humoral
4.1 KOMPLEMEN :
Dapat menghancurkan sel
membran banyak bakteri.

Dapat melepas bahan kemotaktik yg
mengerahkan makrofag ke tempat
bakteri.

Dapat mengendap pada permukaan
bakteri yang memudahkan makrofag
untuk mengenal (opsonisasi)
dan memakannya.
25
4.2 INTERFERON
INTERFERON (IFN) SITOKIN
(GLIKOPROTEIN) dihasilkan oleh
berbagai sel tubuh yg mengandung
nukleus dan merupakan respons
thdp virus. ( terutama pd hiv aids )

4.3 C-REAKTIF PROTEIN
Dibuat oleh hati. Kadarnya meningkat pada infeksi
akut (6-10 jam dan puncaknya 48-72 jam).
CRP tetap tinggi menunjukkan infeksi yang persisten.
26
5. Pertahanan Seluler
5.1 FAGOSIT
SEL MONONUKLEAR MONOSIT(memakan antigen dalam darah)
DAN MAKROFAG(memakan antigen dalam jaringan) DAN
POLIMORFONUKLEAR
(GRANULOSIT).

5.2 MAKROFAG
SEL KUPPFER (HATI), HISTIOSIT
(JARINGAN IKAT), MAKROFAG ALVEOLAR
(PARU), SEL GLIA (OTAK) SEL LANGERHANS
DI KULIT.
27

5.3 SEL NK (NATURAL KILLER) DAN
LARGE GRANULAR LYMPHOCYTE
(LGL).
SEL NK 5-15 % DARI
LIMFOSIT DALAM SIRKULASI DAN
45% DARI LIMFOSIT DALAM
JARINGAN. LGL NK
28
SISTEM IMUN SPESIFIK
1. SISTEM IMUN SPESIFIK HUMORAL
2. SISTEM IMUN SPESIFIK SELULER
3. SISTEM LIMFOID
4. SISTEM IMUN MUKOSA
5. SISTEM IMUN KULIT
6. SISTEM LIMFATIK.
29
1. Sistem Imun Spesifik Humoral


Limfosit B atau sel B
Humor = Cairan tubuh
Bila dirangsang akan berproli-ferasi dan berkembang
Sel Plasma Antibodi (ab)
30


FUNGSI UTAMA Ab Pertahanan thdp infeksi
ekstraseluler, virus dan bakteri serta menetralisasi
toksinnya.
31
2. Sistem Imun Spesifik Seluler

LIMFOSIT T ATAU SEL T
SUMSUM TULANG TIMUS
TIMOSIN DITEMUKAN DALAM PEREDARAN
DARAH


32

Sel T terdiri atas beberapa sel subset

Fungsi utama Pertahanan thdp bakteri
intraseluler, virus, jamur, parasit, dan keganasan.
33
3. Sistem Limfoid

Jaringan dan organ

Limfosit, sel epitel dan stroma

Organ limfoid primer & sekunder

34
35

ORGAN LIMFOID PRIMER
KELENJAR TIMUS BURSA FABRICIUS
(SUMSUM TULANG).

Singkatnya : Sumsum tulang(Bone Marrow) dan
Timus
36

ORGAN LIMFOID PRIMER (aSENTRAL)
Utk pematangan sel T dan B, diferensiasi &
proliferasi limfosit yg dpt mengenal antigen.

37
37

ORGAN LIMFOID SEKUNDER
Utk menangkap dan mengumpulkan antigen (Ag)
dengan efektif, utk proliferasi & diferensiasi limfosit
yg sudah disensitasi, dan tempat utama produksi
Ab dan sensitisasi sel T yg Ag spesifik.
38
38
4. Sistem Imun Mukosa

MUCOSAL-ASSOCIATED LYMPHOID TISSUE
(MALT)

JARINGAN MUKOSA SALURAN NAPAS ATAS,
SALURAN CERNA, SALURAN UROGENITAL DAN
KELENJAR MAMMAE (LIMFOID TANPA KAPSUL)
39
39


JARINGAN LIMFOID MUKOSA TERORGANISASI
DAN SISTEM IMUN MUKOSA DIFUS.

40
40
1. JARINGAN LIMFOID TERORGANISASI
TONSIL, PEYERS PATCHES, DAN
FOLIKEL LIMFOID YANG TERISOLASI.
2. SISTEM IMUN MUKOSA DIFUS :
a. Limfosit Intraepitel (terbanyak sel T >
90%, dpt berupa CD8
+
atau CD4
-
CD8
-
.
b. Lamina propria sel CD4
+
dan CD8
+
,
sel B.
41
41
5. SISTEM IMUN KULIT

SKIN-ASSOCIATED LYMPHOID TISSUE (SALT)

KULIT EPIDERMIS DAN DERMIS

42
42

EPIDERMIS KERATINOSIT, MELANOSIT, DAN
SEL LANGERHANS.

DERMIS KOLAGEN, MEMPRODUKSI BANYAK
FIBROBLAS; PEMBULUH DARAH; FOLIKEL
RAMBUT; KELENJAR KERINGAT; DAN
KELENJAR SEBASEUS.

43
43
6. SISTEM LIMFATIK
Sistem saluran limfe
Sebagai jalur gerakan Ag dari perifer ke kelenjar
getah bening, utk keperluan resirkulasi limfosit dan
sel dendritik
Dua duktus duktus torasikus dan duktus
limfatikus kanan.

44
44
SEL-SEL SISTEM IMUN
Tersebar di seluruh tubuh dan ditemukan dalam
darah, limpa, timus, kel.getah bening, saluran
napas, saluran cerna, saluran kemih dan jaringan.

Sel asal multipoten 2 gol. sel asal sel asal I
dan sel asal II

45
45
SEL-SEL SISTEM IMUN

SEL ASAL I
MEGAKARIOSIT (SEL ASAL TROMBOSIT),
ERITROID (SEL ASAL ERITROSIT), DAN SEL
MIELOID (SEL ASAL GRANULOSIT, SEL
MAST/BASOFIL, MONOSIT DAN MAKROFAG
46
46
SEL-SEL SISTEM IMUN
SEL ASAL II
SEL LIMFOID, SEL ASAL SEL B DAN T.
SEL MIELOID BERPERAN DALAM SISTEM IMUN
NON-SPESIFIK DAN SEL LIMFOID BERPERAN DALAM
SISTEM IMUN SPESIFIK.
SEL-SEL SISTEM IMUN (MENURUT FUNGSINYA)
SEL-SEL SISTEM IMUN NON-SPESIFIK DAN SEL-SEL
SISTEM IMUN SPESIFIK.

47
47
SEL-SEL SISTEM IMUN
NON-SPESIFIK
Fagosit
Basofil dan sel mast
Trombosit
Sel darah merah
Sel NK
SPESIFIK
Sel T
Sel B

48
48
SEL FAGOSIT
ISTILAH LAMA : RES
KINI : SISTEM FAGOSIT MAKROFAG
1. FAGOSIT MONONUKLEAR
a. SEL MONOSIT SUMSUM TULANG
PEREDARAN DARAH
BERFUNGSI SBG FAGOSIT.
b. SEL MAKROFAG (BBRP TEMPAT)
49
49
SEL FAGOSIT
1. FAGOSIT MONONUKLEAR
PROSES FAGOSITOSIS pencernaan
dan pembentukan vakuol, destruksi
intraseluler, pembunuhan
mikroorganisme yg oksigen independen,
pembunuhan mikroorganisme yg oksigen
dependen, produk yg dilepas fagosit,
faktor lain yang meningkatkan
fagositosis, fagosit frustrasi.

50
50
PRODUK YANG DILEPAS MAKROFAG YANG
DIAKTIFKAN
PRODUK
Enzim
- Proteinase
- Hidrolase
Protein plasma
Faktor koagulasi
Metabolit oksigen

Metabolit arakidonat
Metabolit nukleotide
Regulasi fungsi sel


CONTOH

Kolagenase
Lisozim
Fibronektin
C1, C2, C3, C4, C5
Hidrogen peroksid, Anion
superoksid, Nitrid oksid
PGE2
cAMP
IL-1, IFN-alfa
51
51
SEL FAGOSIT
2. FAGOSIT POLIMORFONUKLEAR =
GRANULOSIT NEUTROFIL,
EOSINOFIL DAN BASOFIL.
a. NEUTROFIL FAGOSITOSIS dan keluar juga jika tdpt
kuman piogenik (kuman yang menyebabkan penanahan)
terutama pada TBC.
b. EOSINOFIL FAGOSITOSIS,
IMUNITAS PARASIT.
52
52
BASOFIL & SEL MAST
FUNGSI SEL FAGOSIT & SEL MEDIATOR
MELEPAS BAHAN-BAHAN YANG MEMPUNYAI
AKTIVITAS BIOLOGIK
MENGANDUNG : HISTAMIN, HEPARIN,
LEUKOTRIN DAN EOSINOFIL CHEMOTACTIC
FACTOR (ECF).


53
53
TROMBOSIT
PERAN HEMOSTASIS MELALUI
PEMBENTUKAN AGREGASI DI DINDING
VASKULER YANG RUSAK.
TROMBOSITOPENI PERDARAHAN.
PENTING PADA MODULASI RESPONS
INFLAMASI, SITOTOKSIK SEBAGAI SEL
EFEKTOR DAN PENYEMBUHAN JARINGAN.

54
54
SEL NK
Sel nol atau sel populasi ketiga.
Membunuh sel sasaran dengan perforasi
membran sel melalui perforin yang
diproduksinya.
Membran sel mengandung protein (prolaktin) yg
mengikat perforin sehingga mencegah insersi
dan polimerisasi dalam membran sehingga sel
NK terhindar dari efek perforin.
55
55
SEL NK
ANTIGEN DEPENDENT CELLULAR
CITOTOXICITY (ADCC) dapat membunuh sel
sasaran tanpa partisipasi komplemen bila sel
sasaran dilapisi antigen spesifik.
ADCC diduga berperan pada imunitas virus,
tumor dan jamur.
Makrofag dan neutrofil berperan pada ADCC
56
56
ERITROSIT
MEMILIKI RESEPTOR UNTUK KOMPLEMEN
YANG DAPAT MENGIKAT KOMPLEMEN
PADA KOMPLEKS IMUN
MENGELIMINASI KOMPLEKS IMUN DARI
SIRKULASI TERUTAMA PADA INFEKSI
YANG PERSISTEN DAN BEBERAPA
PENYAKIT AUTOIMUN.
57
57
SEL-SEL SISTEM IMUN SPESIFIK
1. ANTIGEN PRESENTING CELL
2. SEL T
3. SEL B
4. SELEKSI KLON
5. KERJA SAMA ANTARSEL
6. IMUNOREGULASI.
58
58
SEL-SEL SISTEM IMUN SPESIFIK
1. SEL PENYAJI ANTIGEN
MELIBATKAN KOMPLEKS MOLEKUL MHC DAN
PEPTIDA ANTIGENIK, DAN RESEPTOR PADA SEL T.

2. SEL T
DAPAT MENGENAL BENDA ASING DAN MEMBEDA-
KANNYA DARI SEL JARINGAN SENDIRI.

59
59
SEL-SEL SISTEM IMUN SPESIFIK

2. SEL T
PENANDA PERMUKAAN T11, T1
DAN T3.
PENANDA CLUSTER
DIFFERENTIATION (CD).

60
60
SEL-SEL SISTEM IMUN SPESIFIK

FUNGSI SEL T
- membantu sel B dalam produksi
antibodi
- mengenal dan mengahancurkan sel
yang terinfeksi virus
61
61
SEL-SEL SISTEM IMUN SPESIFIK

FUNGSI SEL T
- mengaktifkan makrofag dalam
fagositosis
- mengontrol ambang dan kualitas sistem
imun.
62
62
SEL-SEL SISTEM IMUN SPESIFIK

SUBSET SEL T
1. SEL Th
2. SEL Ts
3. SEL Tdth
4. SEL Tc

63
63


5. SEL LIMFOSIT VIRGIN
6. SEL REGULATOR DAN EFEKTOR.

64
64
SEL-SEL SISTEM IMUN SPESIFIK
SEL Th (T helper) :

MENOLONG SEL B DALAM
DIFERENSIASI DAN MEMPRODUKSI Ab.
KEBANYAKAN SEL Th ADALAH CD4
+
YG
MENGENAL Ag YG DIPRESENTASIKAN DI
PERMUKAAN APC YG BERHUB. DENGAN
MOLEKUL MHC KELAS II.

65
SEL-SEL SISTEM IMUN SPESIFIK
SEL Ts (T supressor)
MENEKAN AKTIVITAS SEL T YANG LAIN DAN SEL B.

SEL Tdth (T delayed type
hypersensitivity)
MENGERAHKAN MAKROFAG DAN SEL INFLAMASI
LAINNYA KE TEMPAT REAKSI TIPE LAMBAT.
66
SEL-SEL SISTEM IMUN SPESIFIK
SEL Tc (T cytotoxicity)
KEBANYAKAN SEL Tc ADALAH CD8
+
DAN HANYA
MENGENAL Ag YANG BERHUBUNGAN DENGAN MHC
(Major Histocompatibility Complex) KELAS I.
MHC : molekul protein yang berguna untuk mengenali
fragmen antigen, merupakan seluruh aloantigen yang
terdapat pada permukaan sel manusia. Aloantigen
adalah antigen yang dapat dikenali oleh antiserum pada
sel dari individu lain

FUNGSI UTAMA : MENGELIMINASI SEL YG
TERINFEKSI VIRUS, MENGHANCURKAN SEL
GANAS DAN SEL HISTOKOMPATIBEL SEPERTI
PENOLAKAN PADA TRANSPLANTASI.

67
SEL-SEL SISTEM IMUN SPESIFIK
SEL Tc (T cytotoxicity)

DALAM KEADAAN TERTENTU DAPAT
JUGA MENGHANCURKAN SEL YG
TERINFEKSI BAKTERI
INTRASELULER.
68
SEL-SEL SISTEM IMUN SPESIFIK


SEL LIMFOSIT NAIF (VIRGIN)
SEL LIMFOSIT NAIF ADALAH SEL YANG
BELUM PERNAH TERPAJAN DENGAN Ag


69
SEL-SEL SISTEM IMUN SPESIFIK


SEL REGULATOR
SEL Th DAN Ts DISEBUT SEL T
REGULATOR DAN SEL Tdth DAN Tc
DISEBUT SEL EFEKTOR.

70
SEL-SEL SISTEM IMUN SPESIFIK
SEL B
SEMUA SEL MEMILIKI MOLEKUL
IMUNOGLOBULIN (Ig).
SEMUA SEL B MEMILIKI RESEPTOR
TERHADAP FRAKSI Fc DARI IgG.
MEMILIKI RESEPTOR UTK KOMPONEN
KOMPLEMEN YANG DIAKTIFKAN C3b.
RESEPTOR EBV.
71
SUMBER BACAAN

ABUL K. ABBAS & ANDREW H. LICHTMAN
BASIC IMMUNOLOGY, 2009. 3
RD
EDN., PHILADELPHIA :
SAUNDERS ELSEVIER.

IVAN ROITT, J. BROSTOFF, & D. MALE
IMMUNOLOGY, 2001, 6
TH
EDN. EDINBURG : MOSBY.

KARNEN G. BARATAWIDJAJA
IMUNOLOGI DASAR. JAKARTA : BP-FKUI.

72