Anda di halaman 1dari 103

1

KUSTA / LEPRA
MORBUS HANSEN
EKA NUR ASIA

DM F BOJONEGORO
2
KUSTA
PENYAKIT
INFEKSI
MENAHUN
BUKAN
PENYAKIT
TURUNAN
KUTUKAN
3
DEFINISI
Penyakit Infeksi menahun yang
disebabkan Mycobacterium Leprae
Menyerang : 1. saraf tepi
2. kulit & organ lain
Sebabkan kecacatan
psikososial
leprophobia
4
G.A. Hansen
5
Situasi Kusta di Dunia
6
EPIDEMIOLOGI
DUNIA :
India, Asia Utara, Afrika Utara
INDONESIA :
Maluku, Sulawesi, Irian, Jatim, Kalbar,
Kalsel, Kaltim, Pantura
JAWA TIMUR :
Tapal Kuda Banyu Wangi,
Situbondo, Pasuruan, Surabaya,
Gresik, Lamongan, Tuban, Madura
ETIOLOGI
Mycobacterium leprae merupakan
agen causal pada lepra. Kuman ini
berbentuk batang tahan asam yang
termasuk familia Mycobacteriaeceae
8
TERJADINYA INFEKSI
Kuman M. leprae
MANUSIA
Normal
Kuman berkembang biak
INDETERMINATE
SLPB
97% 3%
Manusia sebagai sumber infeksi
1,3 m, panjang 1-8 m
Udara, kontak kuat
MB
PB
SEMBUH KUSTA
85% 15%
9
PENULARAN
Sumber:
Px tipe L yang tidak diobati, melalui
Droplet
Lesi terbuka

Syarat:
Kontak lama
Intim / erat
Terus menerus

Dipermudah:
Kepadatan penduduk
SOSEK rendah
Hidup tak teratur
10
Bagaimana setelah terinfeksi
Infeksi M. Leprae Hystiosit (fagositosis)
Datia Langhans

Tergantung SIS
SIS tinggi : histiosit hancurkan M, leprae
SIS rendah: histiosit sbg tempat berbiak &
alat angkut M. leprae menuju syaraf tepi.
(Sel vircow / sel lepra)
(Fenomena kuda troya)
11
Kelainan Syaraf Tepi
Mengganggu :
Sensibilitas kulit
Motorik / gerak
Autonomik :
Keringat
Rambut
Perlemakan kulit
12
GEJALA AWAL
Mati rasa di kulit
Tes : - Panas dingin
- Nyeri
- Raba
Pembesaran syaraf tepi

MAKIN DINI DIOBATI MAKIN BAIK
(kecacatan dicegah)
13
GEJALA LANJUT
Gejala kulit makin parah
Gangguan penglihatan
Mengenai otot, tulang, ginjal,
liver dll
TETAP BISA DIOBATI
TETAPI JANGKA WAKTU
LEBIH LAMA
14
Tanda Lain
Kepala: Badan:
Madarosis Gynecomasti
Sadle nose Atrophy Testis
Penebalan Cuping Telinga
Facies leonina

Tangan / Kaki:
Ape Hand Drop Hand / foot
Gynaecologies hand Ulcus
Clow Hand / foot Atrophy mm. interossei

15
DIAGNOSA
Cardinal Sign
1. Lesi 4A dengan gangguan Syaraf
2. Penebalan Syaraf Perifer dengan
gangguan syaraf
3. Ditemukan M. Leprae (BTA)

4A : Anestesi, Achromi, Atrophi, Anhidrosis
Gangguan syaraf :
sensitivitas (nyeri, raba, suhu)
Motoris (clow hand, drop hand, drop foot)
Otonom (anhidrosis, xerosis, ichtiosis)
DIAGNOSA
cari gejala kulit : gangguan estesi,
bercak putih / kemerahan, nodul,
ulkus
periksa saraf tepi
tanda lain kusta : madarosis, saddle
nose, penebalan cuping telinga dll.
kecacatan : atrofi otot, drop foot dll.
GAMBARAN KLINIK KUSTA
GAMBARAN KLINIK KUSTA
GAMBARAN KLINIK KUSTA
GAMBARAN KLINIK KUSTA
GEJALA KERUSAKAN
SARAF
N Medianus
Anastesi ujung jari anterior ibu jari telunjuk
dan jari tengah
Tidak mampu aduksi ibu jari
Clawing ibu jari, telunjuk, jari tengah
Ibu jari kontraktur
N Ulnaris
Anastesi pada anterior kelingking atau jari
manis
Clawing kelingking dan jari manis


N Poplitea lateralis
Anastesi tungkai bawah
Foot drop
Kelemahan otot peroneus
N Radialis
Anastesi dorsum manus
Drop hand
Tidak mampu ekstensi jari dan
pergelangan tangan

N Tibialis Posterior
Anastesi telapak kaki
Claw toes
N Fasialis
Lapoftalmus oleh cabang temporal dan
zigomatikus
Cabang bukal, servikal, mandibular
menyebabkan hilang ekspresi wajah dan tidak
bs menutup mulut
N Trigeminus
Anastesi kulit wajah
Palpasi Auricularis Magnus
Pemeriksaan Raba Saraf Ulnaris


Fungsi Motorik Saraf Ulnaris


Fungsi Saraf Medianus

Sensoris Ulnaris dan Medianus

Fungsi Saraf Radialis

Saraf Peroneus Communis

Saraf Tibialis Posterior

Peroneus Communis

Tibialis Posterior

38
PEMERIKSAAN BAKTERIOLOGIS
Lokasi sediaan:
1. Cuping telinga
2. Lesi kulit yang paling aktif

Pemeriksaan :
IB = Indeks Bakteriologis
IM = Indeks Morfologis
39
Bagan Mikroskopis
40
IB = Indeks Bakteriologis
Menunjukkan kepadatan kuman
Dihitung jumlah proporsional
Dinyatakan dengan nilai 0 6+

1+ 1 10 BTA dalam 100 LP
2+ 1 10 BTA dalam 10 LP
3+ 1 10 BTA dalam 1 LP
4+ 11 100 BTA dalam 1 LP
5+ 101 - 1000 BTA dalam 1 LP
6+ > 1000 BTA dalam 1 LP
41
IM = Indeks Morfologi
Menunjukkan daya penularan

seluruh BTA utuh
IM = ------------------------------------------- X 100%
seluruh BTA yang diperiksa
42
Klasifikasi KUSTA
Ridley & Jopling (1965):
TT = Tuberculoid Tuberculoid
BT = Boderline Tuberculoid
BB = Boderline Boderline
BL = Boderline Lepromatus
LL = Lepromatus Lepromatus

WHO (1982) :
PB = Pausi Basiler
MB = Multi Basiler
43
TT BT BB BL LL
PB MB
NORMAL
Kekebalan Seluler Jumlah Kuman
44
TANDA UTAMA PB MB
Bercak kusta Jumlah 1 s/d 5 Jumlah > 5
Penebalan saraf tepi yang disertai
dengan gangguan fungsi
(Gangguan fungsi bisa berupa kurang
/ mati rasa atau kelemahan otot yang
dipersarafi oleh saraf yang
bersangkutan)
Hanya satu saraf
Lebih dari satu
saraf
Sediaan apusan BTA Negatif BTA Positif
45
KELAINAN KULIT & HASIL
PEMERIKSAAN
PB MB
1. Bercak kusta
a. Ukuran Kecil dan besar Kecil-kecil
b. Distribusi Unilateral atau
bilateral simetris
Bilateral simetris
c. Konsistensi Kering dan kasar Halus, berkilat
d. Batas Tegas Kurang tegas
e. Kehilangan rasa pada bercak Selalu ada & jelas Biasanya tidak
jelas, jika ada,
terjadi yang
sudah lanjut
f. Kehilangan kemampuan untuk
berkeringat, bulu rontok pada
bercak
Selalu ada & jelas Biasanya tidak
jelas, jika ada,
terjadi yang
sudah lanjut
46
KELAINAN KULIT &
HASIL PEMERIKSAAN
PB MB
2. Infiltrat
a. Kulit Tidak ada Ada, kadang-kadang
tidak ada
b. Membrana mukosa (hidung
tersumbat, perdarahan di hidung)
Tidak pernah ada Ada, kadang-kadang
tidak ada
3. Ciri-ciri Central healing
(penyembuhan
ditengah)
Punched out lesion
(lesi berbentuk
seperti donat)
Madarosis
Ginekomasti
Hidung pelana
Suara sengau
4. Nodulus Tidak ada Kadang-kadang ada
5. Deformitas Terjadi dini Biasanya simetri
Tipe tuberkuloid
Tipe borderline
Borderline lepromatous
Tipe lepromatous
52
LEPROMIN TEST
Tidak dapat digunakan untuk Diagnostic Test
Bersifat Non-spesifik
Positif pada mayoritas orang sehat pada daerah non-endemik
kusta (yang tidak pernah kontak dengan M. Leprae)
Sangat berguna dalam Klasifikasi
Terdiri dari : Mitsuda, Dharmendra, Liprosin (masih dalam
penelitian)
Disuntikkan 0,1 ml antigen M. leprae intradermal, lengan
bagian volar
53
Reaksi ada 2 macam, yaitu :
1. Reaksi Fernandez
Dibaca dalam 48 jam
Merupakan delayed hypersensitivity
2. Reaksi Mitsuda
Dibaca dalam 4 minggu
Menunjukkan sistem imunitas seluler
(SIS) / Cell-Mediated Immunity
54
HASIL REAKSI FERNANDEZ
Negatif (-)
Tidak ada apa-apa atau eritema tanpa
indurasi atau eritema dengan indurasi,
diameter < 5 mm
Positif satu (+) Eritema dan indurasi, diameter 5-10 mm
Positif dua (++)

Eritema dan indurasi, diameter 11-15
mm
Positif tiga (+++) Eritema dan indurasi, diameter > 16 mm
55
HASIL REAKSI MITSUDA
Negatif (-) Tidak ada apa-apa
Meragukan (+) Papula, diameter < 3 mm
Positif satu (+)
Papula eritematus, diameter 4-7 mm,
tanpa ulserasi
Positif dua (++)
Papula eritematus, diameter 8-10 mm,
tanpa ulserasi
Positif tiga (+++)
Papula eritematus, diameter > 10 mm
atau salah satu ukuran dengan ulserasi
56
LLp : Polar Lepromatous (LLp) Immunologically stable
LLs : Sub Polar Lepromatous (LLs) Immunologically unstable
TTp : Primary tuberculoid (TTp) Immunologically stable
TTs : Secondary tuberculoid (TTs) Immunologically stable
LLp LLs TTs TTp
BL BB BT
(+++)
(++)
(+)
(-)
(+++)
(++)
(+)
(-)
57
Differential Diagnosa
Tipe T :
Pt. versicolor Pt. alba
T. corporis Diabetic neuropathi
TBC kutis verukosa

Tipe L :
Drug erruption
Ichtiosis simpleks
Lymfoma kutis
58
Penatalaksanaan
1. Anti kusta MDT (multi drug terapy)
2. Atasi Penyulit
Reaksi Kusta. Ulkus dll
3. Terapi Supportif
Vit B1 . Anti anemia
4. Rehabilitasi Medis
5. Rehabilitasi Sosial / Psiko terapi
59
MDT WHO 1997
MDT PB
Dapson Rifampisin
Dewasa 100mg/hr 600mg/bln
Anak 50mg/hr 450mg/bln

MDT MB
Dapson Rifampisin Klofazimin
Dewasa 100mg/hr 600mg/bln 300mg/bln dan 50mg/hr
Anak 50mg/hr 450mg/bln 150mg/bln dan 50 mg/h
Anak : 10 14thn
60
61
REAKSI KUSTA
Definisi :
Suatu episode akut dalam perjalanan penyakit kusta yang kronis
yang merupakan suatu reaksi kekebalan (SIS) atau reaksi antigen-
antibodi (sistem hormonal) dengan akibat yang merugikan
penderita terutama pada syaraf-syaraf tepi yang menyebabkan
gangguan fungsi (cacat)

Dapat terjadi sebelum, pada saat maupun sesudah pengobatan
Dapat berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan
Terdiri atas 2 tipe reaksi yaitu:
1. Reaksi kusta tipe 1 disebabkan
oleh reaksi hipersensitivitas seluler
2. Reaksi kusta tipe 2 disebabkan
olehreaksi hipersentivitas humoral

Bentuk berat dr reaksi kusta tipe 2
dikenal dengan Lucio Fenomena

Lucio Phenomenon

ENL

65
Pencetus reaksi kusta, misalnya :
1. Keadaan kondisi lemah
2. Kehamilan, setelah melahirkan (masa nifas)
3. Sesudah mendapat imunisasi
4. Infeksi (malaria, infeksi gigi, bisul, cacingan, dll)
5. Stress fisik dan mental
6. Kurang gizi



REAKSI RINGAN DAN REAKSI BERAT PADA REAKSI
KUSTA TYPE 1

Gejala Reaksi Ringan Reaksi Berat
1. Lesi kulit






2. Saraf tepi


3. Keadaan umum
-tambah aktif,
menebal, merah,
teraba panas dan nyeri
tekan
-makula yg menebal
dpt sampai
membentuk plak

-tdk ada neuritis (tdk
ada nyeritekan dan
ggn fungsi)
-tdk ada demam
-Lesi membengkak
sampai ada yg pecah
merah, teraba panas
dan nyeri tekan
-Ada lesi kulit baru,
tangan & kaki
membengkak, sendi-
sendi sakit
-Ada neuritis (nyeri
tekan dan ggn fungsi
saraf)
-Kadang-kadang ada
demam

REAKSI KUSTA TIPE 2 YG RINGAN DAN BERAT
Gejala Reaksi ringan Reaksi berat
1. Lesi kulit ENL yg nyeri tekan jumlah
sedikit, biasanya hilang
sendiri dlm 2-3 hari
-ENL nyeri tekan, ada yg sampai
pecah (ulserasi)
-Jumlah banyak
-Berlangsung lama
2. Konstitusi Demam tdk ada sampai
demam ringan
Demam ringan sampai berat
3. Saraf tepi Tdk ada neuritis (nyeri
tekan & ggn fungsi saraf)
Neuritis (+) nyeri tekan &
ggn fungsi saraf
4. Organ tubuh Tdk ada ggn Tjd peradangan pd organ tbh.
Mata iridocytitis
Testisepididymoorchitis
Ginjalnephritis
Sendiarthritis
Kel. Limf lymphadenitis
Ggn pd tulang, hidung &
tenggorokan
68
Perbedaan Reaksi Tipe I dan Tipe II
Gejala / Tanda Tipe I Tipe II
1. Keadaan umum
Umumnya baik, demam
ringan (subfebril) atau
tanpa demam
Ringan sampai berat
disertai kelemahan umum
dan demam tinggi
2. Peradangan di kulit
Bercak kulit lama
menjadi lebih meradang
(merah), dapat timbul
bercak baru
Timbul nodul kemerahan,
lunak dan nyeri tekan.
Biasanya pada lengan dan
tungkai. Nodul dapat
pecah (ulcerasi)
3. Saraf
Sering terjadi, umumnya
berupa nyeri tekan saraf
dan / atau gangguan
fungsi saraf
Dapat terjadi
69
Perbedaan Reaksi Tipe I dan Tipe II
Gejala / Tanda Tipe I Tipe II
4. Peradangan pada
organ lain
Hampir tidak ada
Terjadi pada mata, kelenjar
getah bening, sendi, ginjal,
testis, dll
5. Waktunya timbul
Biasanya segera
setelah pengobatan
Biasanya setelah mendapat
pengobatan yang lama,
umumnya lebih dari 6 bulan
6. Tipe kusta
Dapat terjadi pada
kusta tipe PB
mupun tipe MB
Hanya pada kusta tipe MB
70
Pengobatan Reaksi
Prinsip pengobatan reaksi ringan
Berobat jalan, istirahat dirumah
Pemberian analgetik / antipiretik, obat penenang bila
perlu
Bila dianggap perlu dapat diberikan Cloroquine Base
150 mg 3 x 1 tablet selama 3-5 hari
MDT diberikan terus dengan dosis tetap
Menghindari / menghilangkan faktor pencetus
REAKSI KUSTA


TIPE 1
( REAKSI REVERSAL)
TIPE 2
( E . N . L )
ONSET
Awal terapi
(1-3 bulan pertama)
Pertengahan / Akhir
( > 6 bulan / RFT )
TIPE M.H.
PB/MB MB
KLINIS
Lesi lama menjadi
aktif, menebal
Timbul nodule baru
yang meradang
SISTEMIK
Jarang, febris
ringan, oedem
Sering, febris,
artralgi, sefalgi dll.
TERAPI REAKSI KUSTA

TIPE 1

TIPE 2
RINGAN
Simtomatis :
anti-inflamasi non-
steroid, analgesik

idem
BERAT
Kortiko-steroid
sistemik menurun
( 1 3 bulan )
Idem + Lampren
100 300mg/hari
( 3 6 bulan )
Catatan :
Cegah neuritis dan
kecacatan
Kadang perlu rawat
jalan, cegah steroid
dependancy
73
TT
74
TT
75
TT
76
TT
77
TT
78
TT
79
BT
80
BT
81
BT
82
BT
83
BT
84
BT
85
BB
86
BB
87
BB
88
BL
89
BL
90
LLs
91
LLs
92
LLp
93
LLp
94
LLp
95
LLp
96
ENL
97
ENL
98
99
Erythema Nodosum Leprosum (ENL)
100
DIAGNOSIS BANDING
Pitiriasis Rosea
101
Pitiriasis alba
102
Tuberculosis verrucosa cutis
103
sekian

Beri Nilai