Anda di halaman 1dari 19

SKENARIO 2

KELOMPOK B2

Ketua : Muhammad Rahmandika 1102010186
Sekretaris : Muthia Ayu Aztari 1102010190
Anggota : Nabila 1102010197
Nadia Paramaosa 1102010199
Ririk Riyanti 1102010246
Syahirah Shahab 1102010274
Wan AsmaulAtmam 1102010285
Wira Sari 1102010290
Yusra Dina 1102010306
SKENARIO 2

Astaga......Ada Mayat Bayi di Kardus Aqua

Mayat bayi berjenis kelamin laki-laki ditemukan di sebuah tempat pembuangan sampah akhir
(TPA) Darupono Kaliwungu Selatan, Kendal Jawa Tengah Kamis (6/12/12) pagi. Bayi
berada di dalam kardus aqua di bungkus kantong plastik hitam, dalam keadaan membusuk
dan berbau. Saat ini, jasad bayi berada di Rumah Sakit Umum Suwondo Daerah (RSUD)
Kabupaten Kendal. Menurut Kepala Urursan (Kaur) Bin Ops Satuan Reskrim Polres Kendal,
Iptu Abdullah Umar, mayat dibuang oleh seorang perempuan yang semula hamil tua,
sekarang perutnya sudah mengempis. Bayi itu pertama kali ditemukan oleh seorang
pemulung bernama Jokarmo (31), warga Desa Daruponi, Kecamatan Kaliwungu Selatan,
Kendal.

Saat itu, Jokarmo sedang mengais sampah. dia mengaku terkejut ketika ada plastik hitam
besar yang dikerumuni lalat kata Umar. Karena curiga, jelas Umar, pemulung tersebut
mendekati kantong plastik hitam. Setelah dekat, ia terkejut, saat melihat kepala bayi. Lalu
plastik itu dibuka dan terlihat sosok mayat bayi. kemudian, pemulung itu melapor kepada
polisi jelasnya. Mayat bayi yang diperkirakan berusia 1 hari itu akan di bawa ke Rumah
Sakit Bhayangkara Semarang untuk diotopsi. Kasus itu, sekarang masih ditangani oleh
petugas polisi. kami akan mencari orang tua mayat bayi tersebut tambah Umar. Pelaku
sudah diamankan di Polres.

Warni, sang pelaku mengaku menjadi korban pemerkosaan yang dilakukan oleh tetangga
desanya di Merapen Gerobokan, karena ketakutan hamil dan akan melahirkan, korban pergi
ke Kaliwungu untuk bekerja dipabrik gula dan mengasingkan diri.
Sasaran Belajar
1. Memahami dan Menjelaskan Otopsi
1.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Otopsi
1.2 Memahami dan Menjelaskan Tujuan Otopsi
1.3 Memahami dan Menjelaskan Jenis-Jenis Otopsi
1.4 Memahami dan Menjelaskan Teknik Otopsi

2. Memahami dan Menjelaskan Neonaticide
2.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Neonaticide
2.2 Memahami dan Menjelaskan Dasar Hukum Menyangkut Neonaticide
2.3 Memahami dan Menjelaskan Peran Dokter Pada Kasus Neonaticide
2.4 Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan Terhadap Pelaku Neonaticide

3. Memahami dan Menjelaskan Identifikasi Kasus Pemerkosaan
3.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Pemerkosaan
3.2 Memahami dan Menjelaskan Cara dan Prosedur Pemeriksaan

4. Memahami dan Menjelasakn Perubahan Pasca Kematian
4.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Kematian
4.2 Memahami dan Menjelaskan Tanda Kematian

5. Memahami dan Menjelaskan Pandangan Islam Tentang Membunuh Anak

1. OTOPSI
Definisi :pemeriksaan terhadap tubuh mayat, yang meliputi pemeriksaan
terhadap bagian luar maupun dalam, dengan tujuan menemukan proses
penyakit dan atau adanya cedera, melakukan interpretasi atau penemuan-
penemuan tersebut, menerangkan penyebab kematian serta mencari
hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan
penyebab kematian.

Pembagian otopsi
1.otopsi anatomi
2.otopsi klinik
3.otopsi medikolegal/forensik
Otopsi medikolegal
Otopsi medikolegal dilakukan atas permintaan penyidik sehubungan
dengan adanya penyidikan suatu perkara. Hasil pemeriksaan adalah
temuan obyektif pada korban, yang diperoleh dari pemeriksaan medis.

Hal-hal yg perlu diperhatikan

1. Tempat untuk melakukan otopsi adalah pada kamar jenazah.
2. Otopsi hanya dilakukan jika ada permintaan untuk otopsi oleh pihak yang berwenang.
3. Otopsi harus segera dilakukan begitu mendapat surat permintaan untuk otopsi.
4. Hal-hal yang berhubungan dengan penyebab kematian harus dikumpulkan dahulu
sebelum memulai otopsi. Tetapi kesimpulan harus berdasarkan temuan-temuan dari
pemeriksaan fisik.
5. Pencahayaan yang baik sangat penting pada tindakan otopsi.
6. Identitas korban yang sesuai dengan pernyataan polisi harus dicatat pada laporan.
Pada kasus jenazah yang tidak dikenal, maka tanda-tanda identifikasi, photo, sidik
jari, dan lain-lain harus diperoleh.
7. Ketika dilakukan otopsi tidak boleh disaksikan oleh orang yang tidak berwenang.
8. Pencatatan perincian pada saat tindakan otopsi dilakukan oleh asisten.
9. Pada laporan otopsi tidak boleh ada bagian yang dihapus.
10. Jenazah yang sudah membusuk juga bisa diotopsi.
Tujuan
menentukan sebab kematian yang pasti.
menentukan apakah diagnosis klinik yang dibuat
selama perawatan sesuai dengan diagnosis
postmortem,
mengetahui korelasi proses penyakit yang ditemukan
dengan diagnosis klinis dan gejala-gejala klinik.
menentukan efektifitas pengobatan.
mempelaiari perjalanan lazim suatu proses penyakit.
pendidikan para mahasiswa kedokteran dan para
dokter
Persiapan sebelum melakukan otopsi

1. Melengkapi surat-surat yang berkaitan dengan otopsi yang akan dilakukan, termasuk
surat izin keluarga, surat permintaan pemeriksaan/pembuatan visum et repertum.
2. Memastikan mayat yang akan diotopsi adalah mayat yang dimaksud dalam surat
tersebut.
3. Mengumpulkan keterangan yang berhubungan dengan terjadinya kematian selengkap
mungkin untuk membantu memberi petunjuk pemeriksaan dan jenis pemeriksaan
penunjang yang harus dilakukan.
4. Memastikan alat-alat yang akan dipergunakan telah tersedia. Untuk otopsi tidak
diperlukan alat-alat khusus dan mahal, cukup :
o Timbangan besar untuk menimbang mayat.
o Timbangan kecil untuk menimbang organ.
o Pisau, dapat dipakai pisau belati atau pisau dapur yang tajam.
o Gunting, berujung runcing dan tumpul.
o Pinset anatomi dan bedah.
o Gergaji, gergaji besi yang biasanya dipakai di bengkel.
o Forseps atau cunam untuk melepaskan duramater.
o Gelas takar 1 liter.
o Pahat.
o Palu.
o Meteran.
o Jarum dan benang.
o Sarung tangan.
o Baskom dan ember.
o Air yang mengalir
5. Mempersiapkan format otopsi, hal ini penting untuk memudahkan dalam pembuatan
laporan otopsi.
Dasar Hukum :133,134,179 KUHAP
Teknik otopsi
A.luar
1.Catat label mayat
2.Mencatat jenis/bahan, warna, corak, serta kondisi (ada tidaknya
bercak/pengotoran) dari penutup mayat
3.Catat bahan pakaian mayat
4.Catat perhiasan mayat
5.Catat benda disamping mayat
6.Catat perubahan tanatologi
7.Identitas
8. Mencatat segala sesuatu yang dapat dipakai untuk penentuan identitas khusus
9.Periksa rambut
10.Mata 11.telinga dan hidung 12.leher
13. Alat kelamin
14.Ada tidaknya patah tulang
B.Dalam
Cara: insisi I,insisi Y dan Insisi melalui lekukan suprastenal menuju
simfisis pubis, lalu dari lekukan suprasternal ini dibuat sayatan
melingkari bagian leher
Pada pengambilan organ satu persatu dicata
-ukuran,bentuk ,permukaan, konsistensi,kohesi,potongan penampang
melintang
Bagian yg diperiksa
1.Dada
2.Perut
3.Leher
4.Kepala
5.Tengkorak neonatus
C.Khusus
Menggunakan insisi Y
-tes emboli udara
-tes apung paru
-pneumothoraks
-tes alpha Naphthylamine
Insisi Y, dilakukan semata-mata untuk alasan kosmetik,
sehingga jenazah yang sudah diberi pakaian, tidak
memperlihatkan adanya jahitan setelah dilakukan bedah
mayat. Ada dua macam insisi Y,
2. NEONATICIDE
Neonaticide
pembunuhan pada anak dalam waktu 24 jam setelah kelahiran.

Pada kasus pembunuhan bayi terdapat 3 unsur yang penting, yaitu
:
1. Si pelaku haruslah ibu kandung korban
2. Alasan pembunuhan adalah karena takut ketahuan akan melahirkan
anak
3. Pembunuhan segera dilakukan pada saat anak dilahirkan atau tidak
berapa lama

Dasar Hukum Menyangkut Neonaticide
(Pasal 341). Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan
melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak lama
kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya,
diancam karena membunuh anak sendiri dengan pidana
penjara paling lama tujuh tahun.

(Pasal 342). Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang
ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa ia akan
melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama
kemudian merampas nyawa anak sendiri dengan rencana,
dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

(Pasal 343). Bagi orang lain yang turut serta melakukan
kejahatan yang diterangkan dalam pasal 342 KUHP diartikan
sebagai pembunuhan atau pembunuhan berencana
Peran Dokter Pada Kasus Neonaticide

Memperoleh kejelasan di dalam hal sebagai berikut:
Apakah anak tersebut dilahirkan hidup atau lahir mati?
Apakah terdapat tanda-tanda perawatan?
Apakah ada luka-luka yang dapat dikaitkan dengan penyebab
kematian?
Apakah anak yang dilahirkan itu cukup bulan dalam kandungan?
Apakah pada anak tersebut didapatkan kelainan bawaan yang dapat
mempengaruhi kelangsungan hidup bagi si anak?

3. IDENTIFIKASI KASUS PEMERKOSAAN
Definisi
Perkosaan ialah tindakan menyetubuhi wanita yang bukan istrinya dengan
kekerasan atau ancaman kekerasan.

Cara dan prosedur pemeriksaan
1.Serah terima korban
2.Izin untk diperiksa
3.Pemeriksaan korban
4.Pemeriksaan baju korban
5.Pemeriksaan lab
6.Serah terima korban kembali







4. PERUBAHAN PASCA KEMATIAN
Definisi Kematian
Kematian individu dapat didefinisikan secara sederhana
sebagai terhentinya kehidupan secara permanen (permanent
cessation of life) atau dapat diperjelas lagi menjadi berhentinya
secara permanen fungsi berbagai organ vital yaitu paru-paru,
jantung dan otak sebagai kesatuan yang utuh yang ditandai
oleh berhentinya konsumsi oksigen
Tanda Kematian
Tanda Kematian Tidak Pasti
o Berhentinya sirkulasi darah
o Berhentinya pernafasan
o Tanda-tanda kematian setelah beberapa saat kemudian:
o Perubahan pada mata
o Perubahan pada kulit
Tanda Kematian Pasti
o Perubahan temperatur tubuh
o Lebam mayat
o Kaku mayat
Tanda-tanda kematian setelah selang waktu yang lama:
o Proses pembusukan
o Saponifikasi atau adiposera
o Mumifikasi

5. PANDANGAN ISLAM TENTANG PEMBUNUHAN ANAK
Firman Allah:
"Jangan kamu membunuh anak-anakmu lantaran takut
kelaparan, Kamilah yang akan memberi rezeki kepada
mereka maupun kepadamu; sesungguhnya membunuh
mereka suatu dosa besar." (al-Isra': 31)

"Cukup berdosa seseorang yang mengabaikan orang yang
menjadi tanggungannya." (Riwayat Abu Daud, Nasa'i dan
Hakim)

Daftar Pustaka
1. Shepherd R. Deaths and injury in infancy. In : Simpson , s forensic
medicine. Twelfth Edition. London : Arnold A Member Of The Hodder
Headline Group; 2003.
2. Anonim. PAS dan pengguguran kandungan stop infanticide. [Online].
2006. [cited 2008 September]. Available from : URL :
http://www.freewebs.com/pas_pengguguran_kandungan_by_summervern
ith/carainfantisida.htm
3. Chadha PV. Infantisida. Dalam : Catatan kuliah ilmu forensik dan
toksikologi. Edisi V. Jakarta : Widya Medika; 1995.
4. Dimaio VJ, Dimaio D. Neonaticide, infanticide, and child homicide. In :
Forensic pathology. Second Edition
5.http://www.mykhilafah.com/sautun-nahdhah/2370-sn231-hukum-
pembunuhan-menurut-islam