Anda di halaman 1dari 38

Kelompok 4

Pendahuluan
Pneumotoraks adalah keadaan terdapatnya udara atau gas dalam rongga
pleura. Pada keadaan normal rongga pleura tidak berisi udara, supaya paru-paru
leluasa mengembang terhadap rongga dada. Pneumotoraks dapat terjadi secara
spontan atau traumatik. Pneumotoraks spontan dibagi menjadi sekunder dan
primer, primer jika penyebab tidak diketahui, sedangkan sekunder jika terdapat
latar belakang penyakit paru. Pneumotoraks traumatik dibagi menjadi traumatik
iatrogenic dan bukan iatrogenic.
Insidens pneumotoraks sulit diketahui karena episodenya banyak yang tidak
diketahui, pria lebih banyak dari wanita dengan perbandingan 5:1. Pneumotoraks
spontan primer sering dijumpai pada individu sehat, tanpa riwayat penyakit paru
sebelumnya. Pneumotoraks spontan primer (PSP) banyak dijumpai pada pria
dengan usia decade 3 dan 4. Salah satu penelitian menyebutkan sekitar 81%
kasus PSP berusia kurang dari 45tahun. Seaton dkk, melaporkan bahwa pasien
tuberculosis aktif mengalami komplikasi pneumotoraks sekitar 1,4% dan jika
terdapat kavitas paru komplikasi pneumotoraks meningkat lebih dari 90%.
Di Olmested Country, Minnesota, Amerika, Melton et al melakukan penelitian
selama 25tahun (tahun 1950-1974) pada pasien yang terdiagnosis sebagai
pneumotoraks atau pneumomediastinum, didapatkan 75 pasien karena trauma,
102 pasien karena iatrogenic dan sisanya 141 pasien pneumotoraks spontan.
Laporan Kasus
Lembar 1
Seorang laki-laki 24 tahun dibawa ke UGD rumah sakit dalam keadaan sesak napas. Penderita terlihat pucat da
kebiruan. Nadi teraba cepat dan lemah.

Lembar 2
Satu jam sebelum ke UGD, penderita mengalami kecelakaan lalu lintas. Sewaktu naik sepeda motor dengan
kecepatan tinggi, penderita bertabrakan dengan sepeda motor lain, sehingga dada kanan terbentur setang sepeda
motor. Penderita sadar penuh dan tidak pingsan, tidak mual dan muntah.penderita mengalami nyeri di dada, dada
seperti ditekan, napas cepat dan dangkal. Suara napas di hemithorax dextra menghilang.

Lembar3

Pembahasan Kasus
Identitas Pasien
Nama : -
Usia : 24 tahun
Jenis Kelamin: Laki-laki
Alamat : -
Pekerjaan : -

Keluhan Utama
Sesak napas
Pucat dan kebiruan
Nadi teraba cepat dan
lemah
Keluhan Tambahan
Dada kanan terbentur
setang sepeda motor
Nyeri di dada
Dada ditekan
Napas cepat dan dangkal
Suara napas di
hemithorax dekstra

Anamnesis
Sejak kapan sesak napasnya ?
Apakah disertai batuk-batuk atau tidak ? apakah terdapat sputum?
Timbul sesak saat aktifitas atau tidak ?
Ada nyeri dada atau tidak?
Sebelumnya pernah mengalami hal yang sama atau tidak ?
Sesak napas bertambah berat atau tidak ?
Apakah pasien mendertita asma?
Apakah pasien pernah mengalami trauma?
Apakah memiliki riwayat hipertensi?
Kondisi apa yang mengurangi sesak pada pasien?
Apakah dilingkungan anda ada yang menderita hal yang sama ?

Hipotesis
PNEUMOTHORAX HEMOTHORAX
Pemeriksaan Fisik
Lakukan pemeriksaan kesdaran berdasarkan
Glasgow Coma Scale. Hal yang perlu dinilai yaitu
Eye, Verbal, dan Motor (EVM)
Lakukan pemeriksaan tanda vital yang meliputi :
Suhu, Denyut nadi, Tekanan darah, Laju pernafasan,
Dilakukan juga pemeriksaan tinggi badan dan berat
badan
Status
Generalis
Dilakukan pemeriksaan yang menyeluruh dari ujung
kepala sampai ujung kaki untuk mencari penyebab
penyakit ataupun penyakit penyerta. Sebaiknya
seluruh pakaian pasien dilepas agar dapat dilakukan
pemeriksaan pada seluruh tubuh pasien
Status
lokalis
Status Lokalis (1)
Pemeriksaan Kepala dan leher :
Inspeksi: Dilihat apakah ada tanda-tanda cedera kepala seperti
luka lecet atau hematom, apakah ada luka tembus/terbuka
(perdarahan) dan dinilai pengembangan vena leher
Pemeriksaan Dada :
Inspeksi : Dilihat apakah ada tanda-tanda trauma pada dada,
seperti luka lecet, luka tembus/terbuka (perdarahan), apakah ada
deformitas akibat adanya fraktur tulang
Palpasi : Dilakukan penilaian vocal fremitus, pemeriksaan nyeri
tekan pada permukaan dada
Auskultasi : Menilai suara pernafasan, bunyi jantung: apakah ada
kelainan/suara tambahan
Perkusi : Menilai keadaan paru dan jantung
Status Lokalis (2)
Pemeriksaan abdomen :
Inspeksi : Melihat tanda-tanda trauma seperti luka lecet,
tembus/terbuka, perdarahan ataupun adanya massa (mungkin
terjadi hematom)
Palpasi : Memeriksa apakah ada nyeri tekan, bila ada massa dapat
diketahui konsistensinya
Perkusi : Menilai keadaan organ dalam abdomen seperti hepar,
usus, dan lain-lain
Pemeriksaan Pelvis dan Ekstremitas :
Inspeksi : Melihat tanda-tanda trauma seperti luka lecet,
tembus/terbuka (perdarahan), apakah ada massa (mungkin
hematom), mencari tanda-tanda fraktur seperti kelainan bentuk
pada ekstremitas
Palpasi : pemeriksaan nyeri tekan dan mencari apakah ada suatu
massa pada pelvis
Penanganan Penderita Trauma
1. Airway
2. Breathing
3.Circulation
4.Disability
5.Exposure
I. PRIMARY SURVEY
Airway
1. Bicara kepada pasien
2. Berikan oksigen dengan sungkup muka (masker)
atau kantung nafas ( selfinvlating)
3. Menilai jalan nafas









4. Menjaga stabilitas tulang leher

Chin Lift dan Jaw Thrust
Pipa Orofarings
Pipa Nasofarings
Teknik Dasar
Intubasi orotrakhea
Intubasi Trakhea
Krikotiroidotomi
Tehnik Lanjutan
Tanda obstruksi jalan nafas
antara lain :
- Suara berkumur
- Suara nafas abnormal
(stridor, dsb)
- Pasien gelisah karena
hipoksia
- Bernafas menggunakan otot
nafas tambahan / gerak dada
paradoks
- Sianosis

5. Pertimbangkan untuk memasang jalan nafas buatan

Kebutuhan untuk perlindungan airway Kebutuhan untuk ventilasi
Tidak sadar Apnea
Paralisis neuromuskuler
Tidak sadar
Fraktur maksilofasial Usaha nafas yang tidak adekuat
Takipnea
Hipoksia
Hiperkarbia
Sianosis
Bahaya aspirasi
Perdarahan
Muntah - muntah
Cedera kepala tertutup berat yang
membutuhkan hiperventilasi singkat,
bila terjadi penurunan keadaan neurologis
Bahaya sumbatan
Hematoma leher
Cedera laring, trakea
Stridor
Breathing (1)
Inspeksi / lihat frekwensi nafas (LOOK)
Adakah hal-hal berikut : Sianosis, Luka tembus dada,
Flail chest, Sucking wounds, Gerakan otot nafas
tambahan
Palpasi / raba (FEEL)
Pergeseran letak trakhea
Patah tulang iga
Emfisema kulit
Dengan perkusi mencari hemotoraks dan atau
pneumotoraks
Breathing (2)
Auskultasi / dengar (LISTEN)
Suara nafas, detak jantung, bising usus
Suara nafas menurun pada pneumotoraks
Suara nafas tambahan / abnormal
Tindakan Resusitasi
Jika dimungkinkan, berikan oksigen hingga pasien menjadi
stabil
Jika diduga ada tension pneumotoraks, dekompresi harus
segera dilakukan dengan jarum besar yang ditusukkan
menembus rongga pleura sisi yang cedera. Lakukan pada
ruang sela iga kedua (ICS 2) di garis yang melalui tengah
klavikula. Pertahankan posisi jarum hingga pemasangan drain
toraks selesai.
Jika intubasi trakhea dicoba satu atau dua kali gagal, maka
kerjakan krikotiroidotomi.
Circulation
Diagnosa Syok
Hipotensi
takhikardia
takhipnea
pucat
hipothermi
ekstremitas dingin
melambatnya pengisian kapiler (capillary refill) dan
penurunan produksi urine
Circulation

Jenis Syok
Syok hemoragik (hipovolemik)
Syok kardiogenik
Syok neurogenik
Syok septik
Langkah-langkah resusitasi sirkulasi
1. Jalur intravena yang baik dan lancar harus segera
dipasang. Gunakan kanula besar (14 - 16 G). Dalam
keadaan khusus mungkin perlu vena sectie
2. Cairan infus (NaCL 0,9%) harus dihangatkan sampai
suhu tubuh karena hipotermia dapat menyababkan
gangguan pembekuan darah.
3. Hindari cairan yang mengandung glukose.
4. Ambil sampel darah secukupnya untuk pemeriksaan dan
uji silang golongan darah.
5. Produksi urine menggambarkan normal atau tidaknya
fungsi sirkulasi jumlah seharusnya adalah > 0.5
ml/kg/jam. Jika pasien tidak sadar dengan syok lama
sebaiknya dipasang kateter urine.
6. Transfusi darah

Disability
Tentukan tingkat kesadaran
memakai skor GCS/PTS
Nilai pupil : besarnya, isokor
atau tidak, reflek cahaya dan
awasi tanda-tanda lateralisasi
Evaluasi dan Re-evaluasi
aiway, oksigenasi, ventilasi
dan circulation
Exposure
Buka pakaian penderita
Cegah hipotermia : beri selimut hangat dan tempatkan
pada ruangan yang cukup hangat

II. SECONDARY SURVEY
Anamnesis
Anamnesis yang harus diingat :
A : Alergi
M : Mekanisme dan sebab trauma
M : Medikasi ( obat yang sedang diminum saat ini)
P : Past illness
L : Last meal (makan minum terakhir)
E : Event/Environtment yang berhubungan dengan kejadian
perlukaan
Pemeriksaan Fisik
Tingkat Kesadaran, Pupil, Kepala, Maksilofasial, Leher, Toraks,
Abdomen/ pinggang, Pelvis, Medula spinalis, Kolumna
vertebralis, Ekstremitas
Survei Sekunder hanya dilakukan bila ABC pasien sudah stabil.
Bila sewaktu survei sekunder kondisi pasien memburuk maka kita harus
kembali mengulangi PRIMARY SURVEY
Pemeriksaan Tambahan Secondary Survey
Sebelum dilakukan pemeriksaan tambahan, periksa keadaan
penderita dengan teliti dan pastikan hemodinamik stabil
Selalu siapkan perlengkapan resusitasi di dekat penderita
karena pemeriksaan tambahan biasanya dilakukan di ruangan
lain
Pemeriksaan tambahan yang biasanya diperlukan : CT scan
kepala, abdomen ;USG abdomen, transoesofagus; Foto
ekstremitas; Foto vertebra tambahan; Urografi dengan kontras
III. RE-EVALUASI PENDERITA
Penilaian ulang terhadap penderita, dengan
mencatat dan melaporkan setiap perubahan
pada kondisi penderita dan respon terhadap
resusitasi
Monitoring tanda-tanda vital dan jumlah urin
Pemakaian analgetik yang tepat diperbolehkan
IV. TRANSFER KE PUSAT RUJUKAN
Pasien dirujuk apabila rumah sakit tidak mampu
menangani pasien karena keterbatasan SDM maupun
fasilitas serta keadaan pasien yang masih
memungkinkan untuk dirujuk
Tentukan indikasi rujukan, prosedur rujukan dan
kebutuhan penderita selama perjalanan serta
komunikasikan dengan dokter pada pusat rujukan
yang dituju.
Diagnosis
Nyeri dada Sesak nafas Riwayat trauma
Pernafasan
cepat dan
dangkal
Suara nafas
hemithorax
kanan
menghilang
PNEUMOTHORAX
Thorakosentesis
Indikasi
Diagnostik
Untuk mengetahui
adanya darah dalam
rongga thoraks.
Dapat membuktikan
adanya tamponade.
Membuktikan adanya
udara.

Terapeutik
Membebaskan
peninggian tekanan
intrapleural yang
progressif (merupakan
suatu tindakan life
saving).
Mengeluarkan darah atau
cairan.
Mengeluarkan udara.

Thorakosentesis
Sarung tangan steril (Handskun).
Jarum dan spuit steril.
Jarum kateter intravaskuler yang kasar (no.
14)
Doek steril.
Antiseptic.
Selang karet atau stop cock steril.
Anestesi local.
Alat- alat
Thorakosentesis
Prosedur
Dipilih daerah atau tempat pungsi di sela iga kedua atau
di atas costa 3. Garis midklavikuler kanan, dan diberi
penekanan kulit oleh kuku sehingga tampak jelas bekas
atau tanda tersebut.
Operator mengenakan handskun.
Posisikan pasien tidur terlentang atau setengah duduk.
Daerah tempat pungsi dicuci dengan antiseptic.
Tutup daerah tempat pungsi dengan doek steril.
Tempat pungsi kulit dianestesi setempat dengan obat
anestesi.

Jarum ditusukkan tegak lurus dengan kulit sehingga terasa pleura
parietalis.
Dengan spuit yang diisi cairan jernih, diaspirasi. Apabila ada udara,
maka akan tampak jelas gelembung udara melalui cairan.
Untuk mengeluarkan udara, jarum disambung dengan selang karet
atau stop cock.
Udara dihisap sampai spuit penuh, lalu selang diklem atau stop
cock ditutup.
Spuit dilepas dan udara spuit dilepaskan.
Spuit disambungkan kembali dan udara dihisap.
Demikian seterusnya sampai paru mengembang seperti yang
diharapkan.
Apabila pleura visceralis terkena tusukan jarum, maka pasien akan
batuk batuk atau merasa sakit di bahu.

Water seal drainage
Pada trauma toraks WSD dapat berarti:
Diagnostik:
Menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil, sehingga
dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak, sebelum penderita
jatuh dalam syok.
Terapi:
Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul dalam rongga pleura.
Mengembalikan tekanan rongga pleura seperti yang seharusnya.
Preventif:
Mengeluarkan darah atau udara yang masuk rongga pleura sehingga
fungsi mekanik pernapasan tetap baik.
Penyulit pemasangan WSD
perdarahan dan infeksi atau super infeksi
Water seal drainage
Alat-alat
Chest tube dengan atau tanpa
trokar
Peralatan WSD
Surgical blade dan knife handle
Pinset jaringan dengan atau
tanpa gigi
Klem mosquito dan klem
lengkung panjang (forseps
kelly)
Needle holder
Retraktor dada
Gunting
Jarum dengan benang silk
besar



Anestesi lokal (lidokain 2%)
Jarum suntik disposable
Duk lubang steril
Kasa steril, plaster adhesive
Sarung tangan steril
Larutan disinfektan

Water seal drainage
INDIKASI PEMASANGAN WSD
a. Pneumothoraks :
- Spontan > 20% oleh karena rupture bleb
- Luka tusuk tembus
- Klem dada yang terlalu lama
- Kerusakan selang dada pada sistem drainase
b. Hemothoraks :
- Robekan pleura
- Kelebihan antikoagulan
- Pasca bedah thoraks
c. Hemopneumothorak
d. Thorakotomy :
- Lobektomy
- Pneumoktomy
e. Efusi pleura : Post operasi jantung
f. Emfiema :
- Penyakit paru serius
- Kondisi indflamsi
g. Profilaksis pada pasien trauma dada yang
akan dirujuk
h. Flail Chest yang membutuhkan pemasangan
ventilator
KONTRAINDIKASI PEMASANGAN WSD
a. Infeksi pada tempat
pemasangan
b. Gangguan pembekuan darah
yang tidak terkontrol
Water Seal Drainage
Bila mungkin penderita dalam posisi
duduk, bila tidak mungkin setengah
duduk, bila tidak mungkin juga pasien
bisa tiduran dengan sedikit miring ke sisi
sehat.
Tentukan tempat insersi, biasanya
setinggi puting (sela iga V atau VI) di
anterior linea mid aksilaris pada area
yang terkena.
Siapkan pembedahan dan tempat insersi
ditutup kain (doek) lubang steril.
daerah tempat masuk selang WSD dan
sekitarnya di anestesi setempat secara
block dan infiltrat.
Insisi horizontal 2-3 cm pada tempat yang
telah ditentukan dan diseksi tumpul
melalui jaringan subkutan tepat diatas
iga.


Tusuk pleura parietal dengan
ujung klem dan masukkan jari ke
tempat insisi untuk mencegah
melukai organ yang lain dan
melepaskan perlekatan, bekuan
darah, dll.
Selang WSD diklem dengan arteri
klem dan didorong masuk rongga
pleura.
Fiksasi selang WSD sesuai
dengan tanda pada selang WSD.
Jahit tube ditempatnya, jahitan
harus kedap udara dan jangan
gunakan simpul mati.
Tutup dengan kain/kasa dan
plester.
Perawatan Pasca Pemasangan WSD

Ganti perban tiga hari sekali agar tetap steril
Perban diberi zalf steril
Perawatan Luka WSD
Gunakan cairan antiseptik untuk mengisi botol WSD
Ganti cairan dalam botol setiap hari
Selalu catat pertambahan cairan setiap hendak mengganti cairan dalam botol
Catat ada tidaknya gelembung udara yang ke luar dari WSD
Klem atau ikat selang WSD dengan karet setiap saat akan mengganti botol
untuk mencegah udara masuk ke dalam rongga pleura.
Perawatan selang dan botol WSD
WSD dapat dilepas jika terapi telah dianggap berhasil, sesuai dengan criteria
yang telah disebutkan sebelumnya.
Teknik pengangkatan:
Angkat jahitan
Minta pasien untuk inspirasi dalam
Pada saat itu angkat WSD diangkat dan ditutup dengan kain kasa steril yang
mengandung zalf steril.
Mengangkat WSD
Komplikasi WSD
a. Komplikasi primer : perdarahan, edema
paru, tension pneumothoraks, atrial
aritmia
b. Komplikasi sekunder : infeksi, emfiema
c. Komplikasi lainnya : laserasi ( yang
mencederai organ: hepar, lien),
perdarahan, empisema subkutis, tube
terlepas, tube tersumbat
Prognosis
Ad bonam
Ad Vitam
Dubia ad bonam
Ad Functionam
Ad bonam
Ad Sanationam
Kesimpulan