Anda di halaman 1dari 40

SEMINAR

PROPOSAL
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Petugas Laboratorium Terhadap
Kepatuhan Menerapkan Standart Operasional Proesedur (sop) Di
Rumah Sakit Umum Haji Medan
Nama: Alyando
NIM: 101001010
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA
2013
1
BAB 1
PENDAHULUAN
2
1.1. Latar belakang
Pelayanan Laboratorium Kesehatan merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari pelayanan kesehatan
kepada masyarakat.
Laboratorium kesehatan sebagai unit pelayanan
penunjang medis berperan memberikan informasi
yang teliti dan akurat tentang aspek laboratoris dari
spesimen/sampel (darah, urin, dll.) yang memberikan
informasi tentang kesehatan masyarakat.
Resiko yang mungkin timbul akibat kesalahan hasil
pemeriksaan akan sangat fatal karena dapat
menyebabkan kesalahan diagnosis oleh dokter, yang
akhirnya akan mengakibatkan kesalahan terapi.

3
4
Laboratorium kesehatan dinyatakan baik apabila telah
memiliki peralatan yang lengkap, modern dan cocok
dengan jenis pemeriksaan,disamping itu juga memiliki
tenaga profesional, serta pelayanan yang
menyenangkan.
Salah satu strategi yang dilakukan oleh pengelola
laboratorium kesehatan dalam mempertahankan atau
meningkatkan jumlah pasiennya adalah dengan
memberikan pelayanan yang berkualitas (service
quality),maka dari itu petugas laboratorium
memerlukan suatu pedoman atau petunjuk
pemeriksaan laboratorium disebut dengan Standar
Operasional Prosedur (SOP) laboratorium atau
standar kesehatan dan keselamatan kerja di Rumah
sakit (Depkes RI, 2001).


5
Standart Operasional Prosedur (SOP) laboratorium
adalah suatu pedoman tertulis,patokan pencapaian
tingkat,pernyataan tertulis tentang harapan yang
spesifik atau sebagai model untuk ditiru yang
dibakukan. Standart Operasional Prosedur (SOP)
meliputi peraturan-peraturan dalam mengaplikasi
proses-proses dan hasilnya sesuai dengan ketentuan
yang diharapkan.
6
Adapun tujuan Standart Operasional Prosedur (SOP)
adalah :
1. Memberikan pelayanan yang berkualitas dan
bermutu.
2. Pertahanan diri menghadapi lingkungannya.
3. Mencegah penularan berbagai penyakit
Kelemahan dari penerapan Standart Operasional
Prosedur (SOP) adalah:
1. Kurangnya pengetahuan dan sikap petugas.
2. Tidak adanya pengawasan pimpinan
3. Tidak adanya sanksi

1.2. Rumusan masalah
Bagaimanakah hubungan pengetahuan
dan sikap petugas laboratoriumterhadap
kepatuhan menerapkan Standar
Operasional Prosedur (SOP)di Rumah Sakit
Umum Haji Medan

7
Tujuan
Untuk mengetahui hubungan
pengetahuan dan sikap petugas
laboratorium terhadap kepatuhan
menerapkan Standar Operasional
Prosedur (SOP) di Rumah Sakit
Umum Haji Medan.


1.3. Tujuan penelitian
8
1.4 Hipotesis
9
Ho : Tidak ada hubungan antara pengetahuan dan
sikap petugas laboratoriumterhadap kepatuhan
menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) di
Rumah Sakit Umum Haji Medan.
Ha : Ada Hubungan antara pengetahuan dan sikap
petugas laboratorium terhadap kepatuhan
menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) di
Rumah Sakit Umum Haji Medan.

1.5. Manfaat penelitian
Memberi masukan bagi pengambil keputusan
tentang pengetahuan dan sikappetugas
laboratorium terhadap kepatuhan menerapkan
Standar Operasional Prosedur (SOP), sebagai bahan
pertimbangan dalam membina dan
mengembangkan manajemen pelayanan kesehatan
khususnya di Rumah Sakit Umum Haji Medan.
Sebagai masukan pada petugas laboratorium untuk
meningkatkan kesadaran dan kepatuhan dalam
menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) di
Rumah Sakit Umum Haji Medan.

10
11
Untuk menambah pengetahuan penulis dan dapat
dimanfaatkan sebagai referensi ilmiah untuk
pengembangan ilmu khususnya tentang
keselamatan dan kesehatan kerja (K3) petugas
kesehatan Rumah Sakit Umum Haji Medan..
Bagi peneliti lain sebagai bahan perbandingan
dalam melakukan penelitian yang terkait dengan
hubungan pengetahuan dan sikap petugas
laboratorium terhadap menerapkan Standar
Operasional Prosedur (SOP) di Rumah Sakit Umum
Haji Medan.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
12
2.1. Pengetahuan
2.1.1 Tingkat Pengetahuan di dalam Domain
Kognitif
1. Tahu (know)
2. Memahami (comprehension)
3. Aplikasi (aplication)
4. Analisis (analysis)
5. Sintesis (synthesis)
6. Evaluasi (evaluation)
13
2.2. Sikap (attitude)
Sikap adalah suatu cara bereaksi terhadap suatu perangsang.
Sikap merupakan suatu perbuatan atau tingkah laku sebagai
reaksi (respons) terhadap sesuatu rangsangan atau stimulus,
yang disertai dengan pendirian dan perasaan orang itu.
Perbedaan sikap pada setiap individu ,seperti adanya
perbedaan dalam bakat, minat, pengalaman, pengetahuan,
intensitas perasaan dan juga situasi lingkungan

14
15
2.2.1. Komponen Pokok Sikap
Menurut Allport (1954) yang dikutip oleh Notoatmodjo
(2007) bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok, yaitu:
1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu
objek.
2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
3. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).


16
2.2.2. Tingkatan Sikap
Menurut Sudjana (2006) ada beberapa jenis kategori atau
tingkatan sikap. Kategorinya dimulai dari tingkat dasar atau
sederhana sampai tingkat yang kompleks, yaitu:
a. Reciving/attending (menerima)
b. Responding (merespon)
c. Valuing (penilaian)
d. Organisasi
e. Karakteristik nilai atau internalisasi nilai
2.2.3 Praktek atau Tindakan
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan
(overt behaviour). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu
perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi
yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Di samping, juga
diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain.











2.3. Standart Operasional Prosedur (SOP)
2.3.1. Pengertian SOP
Menurut Mulyana dkk (2003) memberikan pengertian
standar operasional prosedur (SOP) adalah suatu
standar/pedoman tertulis yang dipergunakan untuk
mendorong dan menggerakkan suatu kelompok untuk
mencapai tujuan organisasi.
Dan selanjutnya menurut Depkes RI (1995) Standar
Operasional Prosedur (SOP) adalah suatu protap yang
merupakan tata atau tahapan yang harus dilalui dalam suatu
proses kerja tertentu, yang dapat diterima oleh seorang yang
berwenang atau yang bertanggung jawab untuk
mempertahankan tingkat penampilan atau kondisi tertentu
sehingga sesuatu kegiatan dapat diselesaikan secara efektif
dan efisien.


17
2.3.2. Tujuan SOP
1. Agar petugas menjaga konsistensi dan tingkat kinerja
petugas atau tim dalam organisasi atau unit.
2. Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap
posisi dalam organisasi.
3. Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab
dari petugas terkait.
4.Melindungi organisasi dan staf dari malpraktek atau
kesalahan administrasi lainnya.
5.Untuk menghindari kegagalan/kesalahan, keraguan,
duplikasi dan inefisiensi.

18
2.3.3. Fungsi SOP
1. Memperlancar tugas petugas atau tim.
2. Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan.
3. Mengetahui dengan jelas hambatan-hambatannya dan mudah
dilacak.
4. Mengarahkan petugas untuk sama-sama disiplin dalam
bekerja.
5. Sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas rutin.
2.3.4. Prinsip-pinsip SOP
1. Harus ada pada setiap kegiatan pelayanan.
2. Bisa berubah sesuai dengan perubahan standar profesi atau
perkembangan iptek serta peraturan yang berlaku.
3.Memuat segala indikasi dan syarat-syarat yang harus dipenuhi
pada setiap upaya.
4.Harus didokumentasikan.



19
2.3.5. Standart Pelayanan Laboratorium di
Puskesmas
2.3.5.1. Standart Operasional Prosedur
Laboratorium (Standart Kesehatan dan
Keselamatan Kerja) di Laboratorium Puskesmas
(Depkes RI,2002)
2.3.5.2. Pengertian
Memuat pedoman tentang pelaksanaan kesehatan dan
keselamatan kerja di laboratorium secara baik dan benar
sesuai pedoman demi terciptanya kesehatan dan keselamatan
petugas maupun lingkungan kerja.
20
2.3.5.3. Prosedur
a.Pakailah jas laboratorium
b.Cuci tangan sebelum pemeriksaan
c.Menggunakan alat pelindung diri
d.Semua spesimen harus dianggap infeksius
e.Semua bahan kimia harus dianggap berbahaya
f.Tidak makan,minum,merokok,tidak menyentuh mulut dan mata
saat bekerja.
g.Tidak menyimpan makanan dilemari pendingin bahan-bahan
klinik.
h. Melakukan pengisapan pipet menggunakan alat mekanik.
21
i.Tidak membuka sentrifuge sewaktu masih berputar.
j.Menutup ujung tabung penggumpal dengan kertas.
k. Bersihkan semua peralatan bekas pakai dengan desinfektan
l. Pakai sarung tangan rumah tangga sewaktu membersihkan
alat-alat dari bahan gelas.
j. Letakkan bahan limbah infeksi didalam kantong plastik.
K. Cuci tangan dengan sabun dan beri desinfektan setiap kali
selesai bekerja.

22
2.4. Infeksi yang didapat di Laboratorium
2.4.1.Pengertian Infeksi yang Didapat di
Laboratorium
Infeksi nosokomial akibat kegiatan staf laboratorium tanpa
memperkirakan bagaimana kejadiannya.
2.4.2. Jenis Paparan Akibat Infeksi yang didapat di
Laboratorium
1. Inhalasi
2. Tertelan
3. Luka tusukan
4.Kontaminasi pada kulit dan selaput lendir


23
2.4.3. Pengambilan Darah (Flebotomi)
Centers for Disease Control (CDC) menyatakan bahwa
flebotomi merupakan prosedur yang beresiko paling tinggi,
karena jarum paling sering digunakan adalah ukuran besar (8-
22 gauge) dan jumlah darah tertinggal di dalam jarum
sesudah pemakaian. Pada laporan 1999 (EPINet), 21% dari
1.993 perlukaan tajam yang dilaporkan di Amerika Serikat
berhubungan dengan flebotomi. Lebih dari 80% perlukaan
jarum terjadi sewaktu mengambil darah vena, menggunakan
jarum vakum, jarum sekali pakai dan jarum butterfly.

24
2.5. Alat Pelindung Diri
2.5.1. Jenis Alat Pelindung Diri yang Dipakai di
Laboratorium
a. Sarung tangan
b. Masker
c. Pelindung mata
d. Gaun penutup
e. Kap (penutup rambut)
f. Apron
g. Alas kaki
25
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
26
3.1. Kerangka Konsep
Variabel Independen Variabel Dependen
27
-pengetahuan
-sikap
Kepatuhan
menerapkan Standart
Operasional Prosedur
(SOP)
3.2. Jenis penelitian
28
Jenis penelitian adalah penelitian observational yang
bersifat deskriptif analitik dengan metode cross sectional
study. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan
kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui kolerasi
antara variabel bebas yaitu pengetahuan dan sikap petugas
laboratorium terhadap kepatuhab menerapkan SOP di
rumah sakit umum haji.
3.3. Lokasi Penelitian dan waktu penelitian
29
Waktu
penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan
November - Desember 2013.
Lokasi
penelitian

Penelitian dilakukan di Rumah Sakit
Umum Haji Medan

3.4. Populasi dan Sampel
a) Populasi
Seluruh petugas laboratorium Rumah Sakit Umum Haji
Medan
b) Sampel
Total sampling
3.5. Metoda Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini jenis data yang dikumpulkan adalah
data primer. Data primer diperoleh dari wawancara,
observasi dengan menggunakan kuesioner-kuesioner yang
dipersiapkan.


30
3.6. Varibel dan Definisi Operasional
3.6.1. Variabel Penelitian
a. Independent dan Dependent
3.6.2. Definisi Operasional
a. pengetahuan
b. sikap
c. petugas laboratorium
d. Kepatuhan
e. Standart Operasional Prosedur laboratorium
f. Umur
g. Jenis kelamin
h. Pendidikan dan masa kerja

31
3.7. Metode Pengukuran
3.7.1. Pengetahuan
Penilaian pengetahuan melihat kemungkinan responden
dapat menjawab atau tidak 15 pertanyaan, yang dikategorikan
sebagai berikut :
a. Baik jika nilai 76-100 % ( 12-15 pertanyaan)
b. Cukup jika nilai 56-75 % ( 9-11 pertanyaan)
c. Kurang jika nilai < 56 % ( < 8 pertanyaan)
(Suharsimi Arikunto, 1998 : 246).

32
Untuk mengukur sikap responden digunakan instrumen angket
berjumlah 14 pernyataan tertutup yang menggunakan skala
ordinal yang menggunakan skala likert dengan 5 kategori
penilaian yaitu Sangat Setuju (SS) , Setuju (S), Netral/Ragu-
Ragu (N), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS).
Pernyataan Sikap Favorable (Positif) pilihan jawaban Sangat
Setuju (SS) diberi skor 5, Setuju (S) diberi skor 4, Netral (ragu-
ragu) skor 3, Tidak setuju (TS) diberi skor 4, Sangat Tidak Setuju
(STS) diberi skor 1 Sedangkan Pernyataan Sikap Unfavorable
(Negatif) skor jawaban kebalikannya (Sudarmayanti, 2002).

33
Penilaian kategori sikap ada 2 kategori yaitu sikap positif dan
sikap negative yang diukur berdasarkan nilai tengah (median).
Nilai tertinggi adalah 70 dan nilai terendah adalah 14,
sehingga nilai tengah (median) untuk pernyataan sikap adalah
42. Penilaian kategori sikap yaitu :
a. Sikap Positif : Bila interval nilai yaitu 43-70
b. Sikap Negatif : Bila interval nilai yaitu 14-42

34
3.7.3. Penerapan standar operational prosedur (SOP)

Penilaian terdiri dari Menerapkan (patuh) nilai 1 (> 60 100 %
interval 9-16) dan Tidak menerapkan (tidak patuh) nilai 0
(<50% interval 0-8) ( Suyanto, 2008). Nilai tertinggi adalah 16
dan terendah adalah 0.
Berdasarkan total skor dari 16 pertanyaan yang diajukan,
maka tingkat kepatuhan dalam menerapkan Standar
Operasional Prosedur (SOP) responden dikategorikan dalam 2
kategori : patuh dan tidak patuh
35
3.8. Metode Analisa Data
3.8.1 analisa Univariat
Analisa univariat dilakukan untuk mendapatkan data tentang
distribusi frekuensi dari masing-masing variabel, kemudian
data ini disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
a. Pengetahuan petugas laboratorium tentang SOP.
b. Sikap petugas laboratorium dalam penerapan SOP
c. Karakteristik responder



36
3.8.2. Analisa Bivariat
Analisa bivariat adalah analisis statistik yang dapat
digunakan dalam mencari hubungan antara pengetahuan dan
sikap petugas laboratorium dengan penerapan SOP di Rumah
Sakit Umum Haji Medan. Untuk menganalisa data yang telah
dikumpulkan digunakan Uji Chi-Square test dengan bantuan
SPSS pada tingkat kepercayaan 95 % (x= 0,05). Bila p<0,05
maka ada hubungan yang signifikan antara variabel petugas
laboratorium dengan penerapan SOP di Rumah Sakit Umum
Haji Medan.

37
3.8.3. Analisa Multivariat
Analisis multivariat untuk melihat hubungan antara variabel
independen dan dependen dengan menggunakan uji regresi
logistik yang didapatkan dari uji bivariat dimana variabel yang
mempunyai nilai p < 0,25 dapat dijadikan variabel yang
berpengaruh terhadap kepatuhan SOP laboratorium. Dari uji
multivariat ini akan diketahui variabel yang paling dominan
pengaruhnya terhadap kepatuhan SOP. Analisis ini
menggunakan komputer dengan program SPSS for windows.

38
Daftar Pustaka
DEPKES RI, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1087/MENKES/SK/VIII/2010. STANDAR KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA DI RUMAH
SAKIT.
Ibrahim B. Tingkat Kepatuhan Penggunaan Sarung Tangan Bagi Petugas Laboratorium Klinik di
Kota Cilegon Tahun 2009. Universitas Indonesia.
DIREKTORAT JENDERAL BINA UPAYA KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN, Buletin BUK.
Kebijakan pelayanan Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit. Edisi I. Thn 2012
Pangabean R. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PETUGASLABORATORIUM TERHADAP
KEPATUHAN MENERAPKANSTANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)DI PUSKESMAS KOTA
PEKANBARUTAHUN 2008. Universitas Sumatera Utara.
RSU Sidikalang. Standar Prosedur Operasional (SPO). Available from
http://rsudsidikalang.blogspot.com/ last update 2010
Rumah Sakit Wijaya Kusumah. Standar Operasional Prosedur. Available from
http://rumahsakitwijayakusumahkuningan.blogspot.com/2012/10/sop-rekam-medis-rumah-
sakit-wijaya.html last update 2010
Wikimedia Foundation. SIKAP. Available from http://id.wikipedia.org/wiki/Sikap last update
2012
Sjamsuhidajat, R. dan De Jong, Wim. 2003. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC.
Sastroasmoro S, Prof.DR,Dr, Sp.A(K). Ismael S,Prof.Dr.Sp.A(K). Dasar-Dasar Metodologi
Penelitian Klinis. Edisi ke-3. Sagung seto.2008.







39
Terima kasih
40
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA
2012