Anda di halaman 1dari 25

M Alfian Arif Darmawan

Muhammad Faisal
Saeful Alam
I. IDENTITAS PASIEN

Nama : An. Isa Danisa
Umur : 4 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Ngertak, sukorejo, tegalrejo
No CM : 23.11.049034
Tanggal Periksa : 18 Mei 2011
II. ANAMNESIS
Keluhan Utama:
Keluar darah dari liang hidung kanan dan kiri

Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang dengan keluhan keluar darah dari kedua
liang hidung, darah menetes tidak berhenti-berhenti
sejak 1hari yang lalu. Kira-kira 2 minggu yang lalu jatuh
dari sepeda dan keluar darah dari hidung namun darah
berhenti sendiri. Dan sekarang darah keluar lagi namun
tidak berhenti.

Riwayat Penyakit Dahulu:
oPernah sakit seperti ini sebelumnya disangkal.
oRiwayat penyakit perdarahan sebelumnya disangkal.
oRiwayat hipertensi disangkal.
oRiwayat penyakit jantung sistemik disangkal.
oRiwayat penyakit keganasan disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga:
Tidak ada yang sakit seperti ini.
Tidak ada riwayat penyakit keturunan.

Riwayat Sosial Ekonomi:
Biaya rumah sakit ditanggung sendiri (pasien umum)
III. PEMERIKSAAN FISIK
3.1. Status Generalis:
KU : Lemah
Kesadaran : Compos mentis
Aktifitas : hipoaktif
Status Gizi : baik

3.2. Status Lokalis (THT):
3.2.1. Kepala dan Leher :
Kepala : mesocephale
Wajah : simetris
Leher : Pembesaran kelenjar limfe (-)
3.2.2. Gigi dan Mulut
- Gigi-geligi: gigi geligi depan rempul post trauma
- Lidah : normal, kotor (-), tremor (-)
3.2.1. Telinga
Kanan Kiri
-Mastoid : Bengkak (-), nyeri tekan (-) Bengkak (-), nyeri tekan (-)
-Pre-aurikula : Bengkak (-), nyeri tekan (-) Bengkak (-), nyeri tekan (-)
- Retro-aurikula : Bengkak (-), nyeri tekan (-) Bengkak (-), nyeri tekan (-)

-Aurikula : Bentuk Normal Bentuk Normal
- Kanalis Eksternus
Discharge : (-) (-)
Serumen : (+) (+)
-Membran Timpani
Warna : putih mengkilat putih mengkilap
Ref. Cahaya : (+) (+)
Perforasi : (-) (-)
Retraksi : (-) (-)

3.2.2. Hidung
Pemeriksaan luar hidung : simetris,edema(-),sekret(-),darah(+)
Sinus paranasal : Nyeri tekan(-)
Pemeriksaan dalam hidung anterior
Kanan Kiri
Sekret : - -
Darah dan stolsel : + +
Mukosa hiperemis : + +
Konka hipertrofi : + +
Tumor : - -
Septum deviasi : - -
Pemeriksaan dalam hidung posterior
Kanan Kiri
Sekret : - -
Darah dan stolsel : + +
Mukosa hiperemis : - -
Konka hipertrofi : - -
Tumor : - -
3.2.3. Faring
Tonsil hipertropi : -
Darah dan stolsel : -
Faring hiperemis : -

IV. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan darah lengkap (Hb, eritrosit, leukosit, trombosit,
CT/BT, LED)
Foto Rontgen nasal


RINGKASAN
Anamnesis
Epistaksis : +
Riwayat trauma : +
Pemeriksaan Fisik
Mulut : gigi geligi depan rempul post trauma
Telinga : serumen (+)
Hidung :
Pemeriksaan luar : darah (+)
Pemeriksaan dalam :
Anterior
Kanan Kiri
Darah dan stolsel : (+) (+)
Mukosa hiperemis : (+) (+)
Konka hipertropi : (+) (+)
Posterior
Kanan Kiri
Darah dan stolsel : (+) (+)




VI. DIAGNOSIS BANDING
Epistaksis anterior post trauma
Epistaksis posterior post trauma

VII. DIAGNOSIS SEMENTARA
Epistaksis anterior post trauma


VIII. TERAPI
Bersihkan darah dan bekuan darah (suction).
Tampon kapas pehacain (lidokain+ephineprin).
Tampon kasa bethadin.
Antibiotika.
Antiperdarahan
Vitamin K.

IX. PROGNOSA
Dubia ad bonam
1. Definisi
Epistaksis adalah perdarahan dari hidung yang dapat terjadi
akibat sebab lokal atau sebab umum (kelainan sistemik).
Dasar teori



EPISTAKSIS

2. Etiologi

Epistaksis dapat ditimbulkan oleh sebab lokal dan sistemik.

1. penyebab local :
Idiopatik (85% kasus) biasanya merupakan epistaksis ringan dan berulang
pada anak dan remaja.
Trauma ; epistaksis dapat terjadi setelah trauma ringan misalnya mengorek
hidung, bersin, mengeluarkan ingus dengan kuat, atau sebagai akibat
trauma yang hebat seperti terpukul, jatuh, kecelakaan lalu lintas.
Iritasi ; epistaksis juga timbul akibat iritasi gas yang merangsang, zat kimia,
udara panas pada mukosa hidung.
Pengaruh lingkungan, misalnya tinggal di daerah yang sangat tinggi,
tekanan udara rendah atau lingkungan udaranya sangat kering.
Benda asing dan rinolit, dapat menyebabkan epistaksis ringan unilateral
disertai ingus yang berbau busuk.
Infeksi, misalnya pada rhinitis, sinusitis akut maupun kronis serta
vestibulitis.
Tumor, baik jinak maupun ganas yang terjadi di hidung, sinus paranasal
maupun nasofaring.
Iatrogenic, akibat pembedahan atau pemakaian semprot hidung steroid
jangka lama.
2. penyebab sistemik :
Penyakit kardiovaskular, misalnya hipertensi dan kelainan
pembuluh darah, seperti yang dijumpai pada arteriosclerosis,
nefritis kronis, sirosis hepatic, sifilis dan diabetes mellitus.
Epistaksis juga dapat terjadi akibat peninggian tekanan vena
seperti pada emfisema, bronchitis, pertusis, pneumonia, tumor
leher dan penyakit jantung. Epistaksis juga dapat terjadi pada
pasien yang mendapat obat anti koagulan (aspirin, walfarin, dll).
Infeksi, biasanya infeksi akut pada demam berdarah, influenza,
morbili, demam tifoid.
Kelainan endokrin misalnya pada kehamilan, menarche,
menopause.
Kelainan congenital, biasanya yang sering menimbulkan
epistaksis adalah hereditary haemorrhagic teleangiectasis atau
penyakit Osler-Weber-Rendu.
3. Patofisiologi
Terdapat dua sumber perdarahan yaitu bagian anterior dan
posterior. Pada epistaksis anterior, perdarahan berasal dari
pleksus kiesselbach (yang paling sering terjadi dan biasanya pada
anak-anak) yang merupakan anastomosis cabang arteri
ethmoidakis anterior, arteri sfeno-palatina, arteri palatine
ascendens dan arteri labialis superior.
Pada epistaksis posterior, perdarahan berasal dari arteri
sfenopalatina dan arteri ethmoidalis posterior. Epistaksis posterior
sering terjadi pada pasien usia lanjut yang menderita hipertensi,
arteriosclerosis, atau penyakit kardiovaskuler. Perdarahan
biasanya hebat dan jarang berhenti spontan.
Perdarahan yang hebat dapat menimbulkan syok dan anemia,
akibatnya dapat timbul iskemia serebri, insufisiensi koroner dan
infark miokard, sehingga dapat menimbulkan kematian. Oleh
karena itu pemberian infuse dan tranfusi darah harus cepat
dilakukan.
4. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang bertujuan untuk menilai keadaan umum
penderita, sehingga pengobatan dapat cepat dan untuk mencari
etiologi.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah pemeriksaan
darah tepi lengkap, fungsi hemostatis, uji faal hati dan faal ginjal.
Jika diperlukan pemeriksaan radiologik hidung, sinus paranasal
dan nasofaring dapat dilakukan setelah keadaan akut dapat
diatasi.
5. Penatalaksanaan
Pertama-tama keadaan umum dan tanda vital harus diperiksa. Anamnesis
singkat sambil mempersiapkan alat, kemudian yang lengkap setelah
perdarahan berhenti untuk membantu menentukan sebab perdarahan.
Penanganan epistaksis yang tepat akan bergantung pada suatu anamnesis
yang cermat. Hal-hal penting adalah sebagai berikut :
riwayat perdarahan sebelumnya
lokasi perdarahan
apakah darah terutama mengalir ke dalam tenggorokan (ke posterior)
ataukah keluar dari hidung depan (anterior) bila pasien duduk tegak
lama perdarahan dan frekuensinya
kecenderungan perdarahan
riwayat gangguan perdarahan dalam keluarga
hipertensi
diabetes mellitus
penyakit hati
gangguan anti koagulan
trauma hidung yang belum lama
obat-obatan misalnya aspirin, fenilbutazon (butazolidin).

Tiga prinsip utama dalam menanggulangi epistaksis, yaitu:
1. menghentikan perdarahan.
2. mencegah komplikasi.
3. mencegahberulangnya epistaksis.
Kalau ada syok, perbaiki dulu keadaan umum pasien.
Dampak hilangnya darah harus ditentukan terlebih dahulu
sebelum melakukan usaha mencari sumber perdarahan dan
menghentikannya. Walaupun sudah dihentikan, kemungkinan
fatal untuk beberapa jam kemudian untuk seorang pasien tua
yang mengalami perdarahan banyak akibat efek kehilangan
darahnya adalah lebih besar jika dibanding dengan akibat
perdarahan (yang terus berlangsung) itu sendiri. Penilaian klinis
termasuk pengukuran nadi dan tekanan darah akan
menunjukkan apakah pasien berada dalam keadaan syok. Bila
ada tanda-tanda syok segera infuse plasma expander
5.1. Menghentikan perdarahan
Menghentikan perdarahan secara aktif, seperti kaustik dan pemasangan
tampon, lebih baik daripada pemberian obat hemostatik sambil
menunggu epistaksis berhenti dengan sendirinya.
Posisi penderita sangat penting, sering terjadi pasien dengan perdarahan
hidung harus dirawat dengan posisi tegak agar tekanan vena turun.
Sedangkan kalau sudah terlalu lemah, dibaringkan dengan meletakkan
bantal di belakang punggungnya, kecuali sudah dalam keadaan syok.
Sumber perdarahan dicari dengan bantuan alat penghisap untuk
membersihkan hidung dari bekuan darah. Kemudian tampon kapas
yang telah dibasahi dengan adrenalin 1/10.000 dan lidocain atau
pantocain 2 % dimasukkan ke dalam rongga hidung, untuk
menghentikan perdarahan dan mengurangi rasa nyeri pada waktu
tindakan-tindakan selanjutnya. Tampon ini dibiarkan selama 3-5 menit.
Dengan cara ini dapatlah ditentukan apakah sumber perdarahan
letaknya di bagian anterior atau posterior.
Perdarahan anterior seringkali berasal dari septum bagian depan. Bila
sumbernya terlihat, tempat asal perdarahan dikaustik dengan larutan
Nitras Argenti 20-30%, atau dengan larutan Asam Trikloroasetat 10%,
atau dapat juga dengan elektrokauter.
Bila dengan cara ini perdarahan masih terus berlangsung, maka
diperlukan pemasangan tampon anterior, dengan kapas atau kain kasa
yang diberi vaselin atau salep antibiotik. Pemakaian vaselin atau salep
pada tampon berguna agar tampon tidak melekat, untuk menghindari
berulangnya perdarahan ketika tampon dicabut. Tampon dimasukkan
melalui nares anterior dan harus dapat menekan tempat asal
perdarahan. Tampon ini dapat dipertahankan selama 1-2 hari.
Bila hanya memerlukan tampon hidung anterior dan tanpa adanya
gangguan medis primer, pasien dapat diperlakukan sebagai pasien rawat
jalan dan diberitahu untuk duduk tegak dengan tenang sepanjang hari,
serta kepala sedikit ditinggikan pada malam hari. Pasien tua dengan
kemunduran fisik harus dirawat di rumah sakit.
Perdarahan posterior lebih sulit diatasi sebab biasanya perdarahan hebat
dan sulit dicari sumber perdarahan dengan rinoskopi anterior. Untuk
menanggulangi perdarahan posterior dilakukan pemasangan tampon
posterior, yang disebut tampon Bellocq.
Tampon ini terbuat dari kasa padat berbentuk bulat atau kubus
berdiameter kira-kira 3 cm. Pada tampon ini terdapat 3 buah benang,
yaitu 2 buah pada satu sisi dan sebuah pada sisi lainnya. Tampon harus
dapat menutupi koana (nares posterior)
Untuk memasang tampon posterior ini kateter karet dimasukkan melalui kedua nares
anterior sampai tampak di orofaring, lalu ditarik keluar melalui mulut. Kedua ujung
kateter kemudian dikaitkan masing-masing pada 2 buah benang pada tampon Bellocq,
kemudian kateter itu ditarik kembali melalui hidung. Kedua ujung benang yang sudah
keluar melalui nares anterior kemudian ditarik dan dengan bantuan jari telunjuk,
tampon ini didorong ke nasofaring. Jika dianggap perlu, jika masih tampak perdarahan
keluar dari rongga hidung, maka dapat pula dimasukkan tampon anterior ke dalam
cavum nasi. Kedua benang yang keluar dari anres anterior itu kemudian diikat pada
sebuah gulungan kain kasa di depan lubang hidung, supaya tampon yang terletak di
nasofaring tidak bergerak. Benang yang terdapat di rongga mulut terikat pada sisi lain
dari tampon Bellocq, dilakatkan pada pipi pasien. Gunanya adalah untuk menarik
tampon ke luar melalui mulut setelah 2-3 hari. Obat hemostatik diberikan juga di
samping tindakan penghentian perdarahan itu.
Pada epistaksis berat dan berulang yang tidak dapat diatasi dengan pemasangan tampon
anterior maupun posterior, dilakukan ligasi arteri. Arteri tersebut antara lain arteri
karotis interna, arteri maksilaris interna, arteri sfenopalatina dan arteri etmoidalis
posterior dan anterior.

5.2. Mencegah komplikasi
Komplikasi dapat terjadi sebagai akibat langsung dari epistaksis sendiri
atau sebagai akibat usaha penanggulangan epistaksis.
Sebagai akibat perdarahan yang hebat dapat terjadi syok dan anemia.
Turunnya tekanan darah mendadak dapat menimbulkan iskemia
serebri, insufisiensi koroner dan infark miokard, sehingga dapat
menyebabkan kematian. Dalam hal ini pemberian infusi atau transfusi
darah harus dilakukan secepatnya.
Pemasangan tampon dapat menyebabkan sinusitis, otitis media dan
bahkan septikemia. Oleh karena itu antibiotik haruslah selalu diberikan
pada setiap pemasangan tampon hidung, dan setelah 2-3 hari tampon
harus dicabut, meskipun akan dipasang tampon baru, bila masih ada
perdarahan.
Selain itu dapat juga terjadi hemotimpanum, sebagai akibat
mengalirnya darah melalui tuba Eustachius, dan air mata yang berdarah
(bloody tears), sebagai akbat mengalirnya darah secara retrograde
melalui duktus nasolakrimalis.
Laserasi palatum mole dan sudut bibir terjadi pada pemasangan tampon
posterior, disebabkan oleh benang yang keluar melalui mulut terlalu
ketat dilakatkan di pipi.

5.3. Mencegah epistaksis minor berulang
Saat pertama kali datang, pasien mungkin tidak dalam keadaan
perdarahan aktif, namun mempunyai riwayat epistaksis berulang dalam
beberapa minggu terakhir. Biasanya berupa serangan epistaksis ringan
yang berulang beberapa kali.
Pemeriksaan hidung dalam keadaan ini dapat mengungkap adanya
pembuluh-pembuluh yang menonjol melewati septum anterior, dengan
sedikit bekuan darah. Pembuluh tersebut dapat dikauterisasi secara
kimia atau listrik. Penggunaan anestetik topical dan agen
vasokonstriktor, misalnya larutan kokain 4% atau Xilokain dengan
epinefrin, selanjutkan lakukan kauterisasi, misalnya dengan larutan
asam trikloroasetat 50% pada pembuluh tersebut.
Perdarahan berulang dari suatu pembuluh darah septum dapat diatasi
dengan meninggikan mukosa setempat dan kemudian membiarkan
jaringan menata dirinya sendiri, atau dengan merekonstruksi deformitas
septum dasar, untuk menghilangkan daerah-daerah atrofi setempat dan
lokasi tegangan mukosa.
Pada perdarahan hidung ringan yang berulang dengan asal yang tidak
diketahui, dokter harus menyingkirkan tumor nasofaring atau sinus
paranasalis yang mengikis pembuluh darah. Sinusitis kronik merupakan
penyebab lain yang mungkin. Akhirnya pemeriksa harus mencari
gangguan patologik yang terletak jauh seperti penyakit ginjal dan
uremia, atau penyakit sistemik seperti gangguan koagulasi. Agar
epistaksis tidak berulang, haruslah dicari dan diatasi etiologi dari
epistaksis.
KESIMPULAN
Epistaksis atau perdarahan hidung sering ditemukan sehari-hari dan
bukan merupakan suatu penyakit, melainkan sebagai gejala dari suatu
kelainan.
Epistaksis dapat ditimbulkan oleh sebab lokal dan sistemik. Sebab local
antara lain : idiopati, trauma, infeksi hidung dan sinus paranasal, tumor,
pengaruh lingkungan, benda asing dan rinolit. Sebab sistemik yaitu
penyakit kardiovaskular, kelainan darah, infeksi sistemik, gangguan
endokrin, kelainan congenital.
Pada epistaksis anterior, perdarahan berasal dari pleksus kiesselbach
(yang paling sering terjadi dan biasanya pada anak-anak). Pada
epistaksis posterior, perdarahan berasal dari arteri sfenopalatina dan
arteri ethmoidalis posterior, sering terjadi pada pasien usia lanjut yang
menderita hipertensi, arteriosclerosis, atau penyakit kardiovaskuler dan
perdarahan biasanya hebat dan jarang berhenti spontan.
Tiga prinsip utama dalam menanggulangi epistaksis, yaitu
menghentikan perdarahan secara aktif seperti dengan cara kaustik dan
pemasangan tampon, mencegah komplikasi baik sebagai akibat
langsung epistaksis atau akibat usaha penanggulangan epistaksis dan
mencegah berulangnya epistaksis. Kalau ada syok, perbaiki dulu
keadaan umum pasien.