Anda di halaman 1dari 49

LAPORAN KASUS

GAGAL GINJAL KRONIK


RATIH MASITA DEVY
1220221132
IDENTITAS

Nama : Ny. UK
Umur : 36 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Sepete 2/4 Kalongan
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Suku : Jawa
Status : Janda
Pekerjaan : Wiraswasta
Tgl masuk : 11 Desember 2013
No. CM : 049146
Kelompok : Kelas III/Jamkesda
Bangsal : Flamboyan (10)
KELUHAN UTAMA
Nyeri pinggang sejak 4 hari yll

Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak 4 hari SMRS pasien mengeluh nyeri pada bagian pinggang
belakang kanan dan kiri.
Nyeri seperti ditusuk-tusuk.
Skala nyeri 8.
Nyeri timbul mendadak.
Nyeri dirasakan terus menerus.
Nyeri dirasakan semakin bertambah sakit jika pasien beraktivitas dan
berkurang jika tidur terlentang.
Nyeri pinggang disertai nyeri perut pada bagain kanan dan kirinya.
KELUHAN TAMBAHAN
Wajah bengkak
Wajah bengkak sejak 4 hari yll
Kelopak mata kiri bengkak
Timbul mendadak disertai rasa gatal dan pusing pada kepala
Demam
Demam sejak 6 hari yll
Demam biasanya pada saat malam hari
Demam tanpa disertai menggigil
Mual
Mual sejak 1 hari yll
Mual tidak disertai muntah
Mual ketika makan
Nyeri ulu hati sejak 1 hari yll
Nafsu makan menurun sejak 1 hari yll.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Sekitar 5 bulan yll pernah bengkak pada kedua kelopak mata dan
kedua tungkai kakinya.
Riwayat darah tinggi : (+) dengan sistole sekitar 170-190
Riwayat kencing manis : disangkal
Riwayat batu ginjal : disangkal
Riwayat asam urat : disangkal
Riwayat sakit kuning : disangkal
Riwayat sakit jantung : disangkal
Riwayat asma : disangkal
Riwayat batuk lama : disangkal
Riwayat maag : (+)
Riwayat trauma : (-)
Riwayat opname : (-)
Riwayat operasi : (-)
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Keluhan yang sama dengan pasien : disangkal
Riwayat darah tinggi : disangkal
Riwayat kencing manis : disangkal
Riwayat batu ginjal : disangkal
Riwayat asam urat : disangkal
Riwayat sakit kuning : disangkal
Riwayat sakit jantung : disangkal
Riwayat asma : disangkal
Riwayat batuk lama : disangkal
RIWAYAT OBAT-OBATAN
Pasien belum berobat ke dokter untuk mengatasi keluhan demam
dan nyeri pinggangnya.
Pasien sering kontrol ke dokter tiap bulan untuk keluhan darah
tinggi dan ginjalnya tapi setiap kontrol diberikan obat yang berbeda.
Pasien masih mengonsumsi obat-obatan darah tinggi dan untuk
ginjalnya, terakhir diminum 1 hari yll.
Alergi obat antibiotik golongan sefalosporin.
Pasien tidak mengonsumsi jamu-jamuan.
HABIT
Merokok (-)
Alkohol (-)
Narkoba (-)
Minuman soda (-), kopi (-), teh (-)
Makan teratur dan jarang beli makanan diluar rumah.
Sejak tahu ada sakit ginjal dan saat merasakan nyeri di pinggang
pasien sering minum air putih banyak 2-4 L perhari.
RIWAYAT SOSIAL EKONOMI
Pasien adalah seorang perempuan berusia 36 tahun.
Bekerja sebagai wiraswasta.
Pasien tinggal serumah berdua dengan ibu kandungnya.
Pasien berobat di RSUD Ambarawa menggunakan fasilitas
pembayaran Jamkesda.
ANAMNESIS SISTEM
Kepala: pusing (+), sakit kepala (-), rambut mudah rontok (-),
bengkak pada wajah (+), gatal pada wajah (+)
Mata: mata berkunang-kunang (-/-), penglihatan kabur (-/-), gatal (-/-),
bengkak kelopak mata (-/+)
Leher: leher tegang (-), pembesaran (-)
Hidung: tersumbat (-), keluar darah (-), keluar lendir atau air
berlebihan (-), gatal (-)
Telinga: pendengaran berkurang (-/-), keluar cairan atau darah (-/-),
pendengaran berdenging (-/-)
Mulut: bibir kering (-), gusi mudah berdarah (-), lidah kotor (-)
Tenggorokan: terasa kering (-), terasa gatal (-), suara serak (-), nyeri
menelan (-)
Sistem respirasi: dada terasa sesak (-), mengi (-), batuk (-)
Sistem kardiovaskuler: dada terasa panas (-), nyeri dada (-),
berdebar-debar (-)
Sistem gastrointestinal: mual (+), muntah (-), nyeri ulu hati (+),
nafsu makan menurun (+), diare (-), sulit BAB (-), BAB berdarah (-),
BAB warna seperti dempul (-), BAB warna hitam (-), nyeri perut
pada bagian samping kanan dan kiri (+)
Sistem genitourinaria: BAK keluar sedikit-sedikit (-), rasa tidak
lampias setelah BAK (-), sering buang air kecil (-), nyeri saat BAK (-),
panas saat BAK (-), air kencing warna seperti teh (-), BAK darah (-).
Ekstremitas
Atas: nyeri (-/-), luka (-/-), kesemutan (-/-), bengkak (-/-)
Bawah: nyeri (-/-), luka (-/-), kesemutan (-/-), bengkak (-/-)
Sistem integumentum: kuning (-), pucat (-), bercak-bercak merah (-),
gatal (-), keringat dingin (-)
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum: tampak sakit sedang
Kesadaran: compos mentis, E4V5M6
Status gizi: BB = 55 kg TB = 155 cm
IMT: 22,9 kesan: normoweight
Tanda vital:

IGD BANGSAL
TD: 155/110 mmHg TD: 80/60 mmHg
Nadi: 94x/menit reguler Nadi: 80x/menit
RR: 20x/menit RR: 20x/menit
Suhu: 36,2 C Suhu: 36,5 C
GDS: 97 skala nyeri 8

Kepala: bentuk mesocephal, rambut hitam, tidak mudah
dicabut, edema wajah (+)
Mata: anemik (-/-), ikterik (-/-), pupil isokor, refleks cahaya
(+/+), edema kelopak mata (-/+)
Telinga: keluar sekret (-/-), darah (-/-)
Hidung: nafas cuping hidung (-), keluar sekret (-/-), darah (-/-),
deviasi septum nasi (-)
Mulut: bibir kering (-) bibir sianosis (-), lidah kotor (-), tremor (-),
papil lidah atrofi (-), gigi gusi berdarah (-), T1-T1 tampak
tenang
Tenggorokan: pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-),
deviasi trakhea (-)
Paru:
Inspeksi: normochest, dada mengembang ka=ki, retraksi
intercostal (-)
Palpasi: pergerakan dada ka=ki, fremitus taktil ka=ki
Perkusi: sonor (+/+)
Auskultasi: vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung:
Inspeksi: iktus kordis tidak tampak
Palpasi: iktus kordis teraba
Perkusi: kiri bawah: SIC V, 2 cm medial linea midclavicularis
sinistra
kiri atas: SIC II linea parasternalis sinistra
kanan atas: SIC II linea sternalis dextra
kanan bawah: SIC IV linea sternalis dextra
kesan: tidak ada pembesaran jantung
Auskultasi: BJ I-II murni reguler, S1>S2, murmur (-), gallop (-)
Abdomen:
Inspeksi: dinding perut sejajar dinding dada, supel, venektasi (-), spider
nevi (-), sikatriks (-), striae (-)
Auskultasi: bising usus (+) normal, suara bruit (-)
Perkusi: timpani, pekak sisi (-), pekak alih (-), tes undulasi (-)
Palpasi: supel, nyeri tekan (+), tak teraba pembesaran hepar, lien tidak
teraba +
+ +
Ekstremitas:
Atas: piting oedem (-/-), sianosis (-/-), pucat (-/-), akral
dingin (-/-), luka (-/-) spoon nail (-/-), jari tabuh (-/-),
deformitas (-/-), atrofi otot skelet(-/-), nyeri tekan (-/-)
Bawah: piting oedem (-/-), sianosis (-/-), pucat (-/-), akral
dingin (-/-), luka (-/-) spoon nail (-/-), jari tabuh (-/-),
deformitas (-/-), atrofi otot skelet(-/-), nyeri tekan(-/-)
Kulit: Ikterik (-), petekie (-), turgor cukup, kulit kering (-), kulit
hiperemis (-)
RESUME
Nyeri pada bagian pinggang belakang kanan dan kiri sejak 4 hari
yll, nyeri seperti ditusuk-tusuk, nyeri dirasakan terus menerus,
nyeri pinggang disertai nyeri perut pada bagian samping kanan
dan kirinya.
Demam sejak 6 hari yll, demam biasanya pada malam hari.
Wajah bengkak sejak 4 hari yll disertai rasa gatal, kelopak mata
kiri bengkak.
Nyeri ulu hati dan nafsu makan menurun sejak 1 hari yll.
5 bulan yll pernah bengkak pada kelopak mata dan kaki.
HT (+) terkontrol, riwayat maag (+)
Kontrol rutin ke dokter setiap 1 bulan untuk HT dan ginjal, minum
obat teratur setiap hari.
Sejak sakit ginjal dan sering nyeri pinggang pasien mengonsumsi
air putih banyak 2-4 L perhari.
PLANNING
Lab darah lengkap (HB, HT, Eritrosit, leukosit, trombosit, diff count)
Lab kimia darah (GDS, SGOT, SGPT, ureum, kreatinin, albumin,
globulin, uric acid, trigliserid, kolestrol)
Elektrolit (Na, Cl, K)
Urin rutin
Foto rontgen thorax PA
BNO 3 posisi
USG abdomen
EKG
ASSASMENT
1. Kolik renal ec gagal ginjal akut
DD:
nefrolitiasis

2. Dispepsia
TERAPI
Non farmako:
Edukasi mengenai kelainan pada ginjal
Diet rendah purin
Banyak minum air putih, jika fungsi ginjal baik.

Farmako:
Inf. RL 16 tpm
Inj. Ketorolac 1 amp/12 jam
Inj. Ranitidin 1 amp/12 jam
Inj. Furosemid 1 amp/12 jam
Paracetamol tab 500 mg/8 jam
Antacid 3x1
TANGGAL S O A P
12/12/2013 Nyeri
pinggang (+/+)
Nyeri perut
samping (+/+)
Nyeri ulu hati
(+)
Wajah
bengkak (+)
Wajah terasa
gatal
Mual (+) saat
makan
Muntah (-)
Pusing (+)
Demam (+)
BAK (N)
BAB (N)
TD: 100/70
Nadi: 88x/min
RR: 16X/min
Suhu: 36,7 C
Bengkak pada
wajah dan
kelopak mata
(-/+)
Skala nyeri
pinggang 8
CVA (+/+)
Nyeri tekan
abdomen (+)

Kolik renal ec
gagal ginjal
akut
Dispepsia
Inf. RL 16
tpm
Inj. Ranitidin
1 amp/12
jam
Inj.
Furosemid 1
amp/12 jam
Inj. Ketorolac
1 amp/12
jam
Paracetamol
tab 500 mg/8
jam
Antacid 3x1
Lab darah
rutin
Lab kimia
darah
PEMERIKSAAN HASIL NILAI NORMAL
HEMOGLOBIN 8 L 12.5-15.5
LEKOSIT 3.5 L 4.0-10
ERITROSIT 2.68 L 3.8-5.4
HEMATOKRIT 23.4 L 40-58
TROMBOSIT 202 200-400
MCV 87.3 80-90
MCH 29.9 >=27
MCHC 34.2 32-36
RDW 13.2 10-16
MPV 8.0 7-11
LIMFOSIT 0.6 L 1.0-4.5
MONOSIT 0.4 0.4-3.1
LIMFOSIT% 17.0 L 25-40
MONOSIT% 10.7 H 2-8
PCT 0.162 L 0.2-0.5
PDW 12.4 10-18
PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN
GULA DARAH PUASA 70 L 74-106
UREUM 96.4 H 10-50
CREATININ 2.85 H 0.45-0.75
SGOT 33 0-35
SGPT 9 0-35
PROTEIN TOTAL 5.15 L 6-8
ALBUMIN 1.85 L 3.4-4.8
GLOBULIN 3.30 2.0-4.0
TRIGLYCERID 259 H 70-140
HBsAg NON REAKTIF NON REAKTIF
TANGGAL S O A P
13/12/2013 Nyeri
pinggang (+/+)
Nyeri perut
samping (+/+)
Nyeri ulu hati
(+)
Wajah
bengkak (+)
Wajah terasa
gatal
Mual (+) saat
makan
Muntah (-)
Pusing (+)
Demam (+)
BAK (N)
BAB (N)
TD: 120/80
Nadi: 80x/min
RR: 20X/min
Suhu: 37,8 C
Bengkak pada
wajah dan
kelopak mata
(-/+)
Skala nyeri
pinggang 7
CVA (+/+)
Nyeri tekan
abdomen (+)

Kolik renal ec
gagal ginjal
akut
Dispepsia
Terapi lanjut
Urin rutin
PEMERIKSAAN HASIL RUJUKAN
WARNA YELLOW
KEKERUHAN NEGATIVE NEGATIVE
PROTEIN URIN NEGATIVE NEGATIVE
GLUKOSA URIN NEGATIVE NEGATIVE
PH 6.5 5-9
BILIRUBIN URIN NEGATIVE NEGATIVE
URIN RUTIN
UROBILINOGEN HASIL RUJUKAN
BERAT JENIS URIN 1.020 1000-1030
KETON URIN NEGATIVE NEGATIVE
LEUKOSIT NEGATIVE NEGATIVE
ERITROSIT + NEGATIVE
NITRIT NEGATIVE NEGATIVE
SEDIMEN
EPITEL 5-6 <4
ERITROSIT 7 0-1/LPB
LEUKOSIT 8 <5
SILINDER NEGATIVE NEGATIVE
KRISTAL (+) NEGATIVE
LAIN BAKTERI (-)
TANGGAL S O A P
14/12/2013 Nyeri
pinggang
berkurang
Nyeri perut
samping
berkurang
Nyeri ulu hati
(-)
Wajah
bengkak (+)
Wajah terasa
gatal
berkurang
Mual (-)
Muntah (-)
Pusing (-)
Demam (-)
BAK (N)
BAB lembek
warna coklat
kehitaman
sejak pagi
sudah 3x
TD: 110/80
Nadi: 80x/min
RR: 20X/min
Suhu: 36,8 C
Bengkak pada
wajah dan
kelopak mata
(-/+)
Skala nyeri
pinggang 6
CVA (+/+)
Nyeri tekan
abdomen (+)

Kolik renal ec
gagal ginjal
akut
Dispepsia
Terapi lanjut
New diatab
3x1
Feses rutin
TANGGAL S O A P
15/12/2013 Nyeri
pinggang (-)
Nyeri perut (-)
Nyeri ulu hati
(-)
Wajah
bengkak (+)
Wajah terasa
gatal (-)
Mual (-)
Muntah (-)
Pusing (-)
Demam (-)
BAK (N)
BAB warna
coklat 1x/hari
TD: 120/70
Nadi: 80x/min
RR: 20X/min
Suhu: 35,8 C
Bengkak pada
wajah dan
kelopak mata
(-/+)
CVA (-/-)
Nyeri tekan
abdomen (-)

Kolik renal ec
gagal ginjal
akut
Dispepsia
Terapi lanjut
TANGGAL S O A P
16/12/2013 Nyeri
pinggang (-)
Nyeri perut (-)
Nyeri ulu hati
(-)
Wajah
bengkak (+)
Wajah terasa
gatal (-)
Mual (-)
Muntah (-)
Pusing (-)
Demam (-)
BAK (N)
BAB (N)
TD: 110/70
Nadi: 80x/min
RR: 20X/min
Suhu: 36,2 C
Bengkak pada
wajah dan
kelopak mata
(-/+)
CVA (-/-)
Nyeri tekan
abdomen (-)

Kolik renal ec
gagal ginjal
akut
Dispepsia
Terapi lanjut
Stop new
diatab
TANGGAL S O A P
17/12/2013 Nyeri
pinggang (-)
Nyeri perut (-)
Nyeri ulu hati
(-)
Wajah
bengkak (-)
Wajah terasa
gatal (-)
Mual (-)
Muntah (-)
Pusing (-)
Demam (-)
BAK (N)
BAB (N)
TD: 120/80
Nadi: 80x/min
RR: 20X/min
Suhu: 36,2 C
Bengkak pada
wajah dan
kelopak mata
(-/-)
CVA (-/-)
Nyeri tekan
abdomen (-)

Kolik renal ec
gagal ginjal
akut
Dispepsia
Terapi lanjut
TANGGAL S O A P
18/12/2013 Sudah tidak
ada keluhan
Pasien minta
pulang
TD: 110/80
Nadi: 80x/min
RR: 20X/min
Suhu: 36,8 C
Kolik renal ec
gagal ginjal
akut
Dispepsia
Terapi pulang:
Captopril 3x1
tab
Ranitidin 2x1
tab
Vit.complex
3x1 tab
Kontrol rutin
GAGAL GINJAL AKUT
Penyakit ginjal akut adalah sindrom yang terdiri dari
penurunan kemampuan filtrasi ginjal (jam sampai hari),
retensi produk buangan dari nitrogen, gangguan
elektrolit dan asam basa. Terjadi oliguri (pengeluaran
urin < 400mL/d) namun jarang terjadi sebagai
manifestasi klinis
KRITERIA
R : 1,5x , <25%
I : 2x, 50 75 %
F : 3x , >75%
L : >4mgg
E : >3bulan
ETIOLOGI
Pre-renal (yg menyebabkan hipoperfusi)
Hipovolemia, penyebab hipovolemi misalnya pada
perdarahan, luka bakar, diare, asupan kurang,
pemakaian diuretic yang berlebihan.
Penurunan curah jantung pada gagal jantung
kongestif, infark miokardium, tamponade jantung, dan
emboli paru.
Vasodilatasi perifer terjadi pada syok septic,
anafilaksis dan cedera, dan pemberian obat
antihipertensi.

Renal (yg menyebabkan inflamasi pada ginjal)
Kelainan pembuluh darah ginjal, terjadi pada
hipertensi maligna.
Penyakit pada glomerolus, terjadi pada pascainfeksi
akut, glomerulonefritis,
Penyakit interstisial pada nefritis interstisial alergi
(antibiotika, diuretic, allopurinol, rifampin, fenitoin,
simetidin, NSAID), infeksi (stafilokokus, bakteri gram
negatif, leptospirosis, bruselosis, virus, jamur, basil
tahan asam) dan penyakit infiltratif (leukemia,
limfoma, sarkoidosis).

Post renal
sumbatan ureter yang terjadi pada fibrosis atau tumor
retroperitoneal, striktura bilateral pascaoperasi atau
radiasi, batu ureter bilateral.

PATOFISIOLOGI
Pada hipoperfusi ginjal yang berat (tekanan arteri rata-
rata < 70 mmHg) serta berlangsung dalam jangka waktu
lama, maka mekanisme otoregulasi tersebut akan
terganggu dimana arteriol afferent mengalami
vasokonstriksi, terjadi kontraksi mesangial dan
penigkatan reabsorbsi natrium dan air. Keadaan ini
disebut prerenal atau gagal ginjal akut fungsional
dimana akan terjadi kerusakan struktural dari ginjal.
GGA post-renal disebabkan oleh obstruksi intra-renal
dan ekstrarenal. Obstruksi intrarenal terjadi karena
deposisi kristal (urat, oksalat, sulfonamide) dan protein
(mioglobin, hemoglobin). Obstruksi ekstrarenal dapat
terjadi pada pelvis ureter oleh obstruksi intrinsic (tumor,
batu, nekrosis papilla) dan ekstrinsik ( keganasan pada
pelvis dan retroperitoneal, fibrosis) serta pada kandung
kemih (batu, tumor, hipertrofi/ keganasan prostate) dan
uretra (striktura). GGA post-renal terjadi bila obstruksi
akut terjadi pada uretra, buli buli dan ureter bilateral,
atau obstruksi pada ureter unilateral dimana ginjal
satunya tidak berfungsi.
GAGAL GINJAL KRONIK
Disebabkan penyakit kronik yang mengenai kedua ginjal
(bilateral) bersifat progresif yang pada umumnya tidak
reversibel.
Patofisiologi penyakit ginjal kronik pada awalnya
tergantung pada penyakit yang mendasari, tetapi dalam
perkembangan selanjutnya proses yang terjadi kurang
lebih sama.
Pada gagal ginjal kronik terjadi pengurangan massa
ginjal mengakibatkan hipertrofi struktural dan fungsional
nefron yang masih tersisa.
Hal ini mengakibatkan terjadinya hiperfiltrasi, yang
diikuti oleh peningkatan tekanan kapiler dan aliran darah
glomerulus.
PENYEBAB GAGAL GINJAL
KRONIK
Glomerulonefritis kronik
Nefropati toksik
Nefropati diabetik
Glomerulosklerosis difus
Nefritis interstitial
Hypertensive renal vascular disease
Penyakit ginjal bawaan (ginjal polikistik, nefritis interstitial
herediter)
Penyakit kolagen (sle, skleroderma)
Penyakit ginjal obstruksi
Proses adaptasi ini berlangsung singkat, akhirnya diikuti
oleh proses maladaptasi berupa sklerosis nefron yang
masih tersisa. Proses ini akhirnya diikuti dengan
penurunan fungsi nefron yang progresif.
Perubahan fungsi neuron yang tersisa setelah
kerusakan ginjal menyebabkan pembentukan jaringan
ikat, sedangkan nefron yang masih utuh akan
mengalami peningkatan beban eksresi sehingga terjadi
lingkaran setan hiperfiltrasi dan peningkatan aliran darah
glomerulus.
Demikian seterusnya, keadaan ini berlanjut menyerupai
suatu siklus yang berakhir dengan Gagal Ginjal Terminal
(GGT) atau End Stage Renal Disease (ESRD).
GEJALA KLINIS
Pada gagal ginjal kronik, gejala gejalanya berkembang secara
perlahan. Pada awalnya tidak ada gejala sama sekali, kelainan
fungsi ginjal hanya dapat diketahui dari pemeriksaan
laboratorium. Sejalan dengan berkembangnya penyakit, maka
lama kelamaan akan terjadi peningkatan kadar ureum darah
semakin tinggi (uremia). Pada stadium ini, penderita
menunjukkan gejala gejala fisik yang melibatkan kelainan
berbagai organ seperti:
Kelainan saluran cerna: nafsu makan menurun, mual, muntah
dan fetor uremik
Kelainan kulit: urea frost dan gatal di kulit
Kelainan neuromuskular: tungkai lemah, parastesi, kram otot,
daya konsentrasi menurun, insomnia, gelisah
Kelainan kardiovaskular: hipertensi, sesak nafas, nyeri dada,
edema
Gangguan kelamin: libido menurun, nokturia, oligouria
Pada stadium yang paling dini penyakit ginjal kronik,
terjadi kehilangan daya cadang ginjal, pada keadaan
mana basal LFG masih normal atau malah meningkat.
Kemudian secara perlahan tapi pasti, akan terjadi
penurunan fungsi nefron yang progresif, yang ditandai
dengan peningkatan kadar urea dan kreatinin serum.
Sampai pada LFG sebesar 60 % pasien masih belum
merasakan keluhan (asimptomatik), tapi sudah terjadi
peningkatan kadar urea dan kreatinin serum. Sampai
pada LFG sebesar 30 % mulai terjadi keluhan pada
seperti nokturia, badan lemah, mual, nafsu makan
kurang dan penurunan berat badan.
PEMERIKSAAN LAB
Sesuai dengan penyakit yang mendasarinya
Penurunan fungsi ginjal berupa peningakatan kadar
ureum dan kreatinin serum, dan penurunan LFG
Kelainan biokimiawi darah meliputi penurunan kadar
hemoglobin, peningkatan kadar asam urat, hiper atau
hipokalemia, hiponatremia, hiper atau hipokloremia,
hiperfosfatemia, hipokalsemia, asidosis metabolik
Kelainan urinalisis meliputi proteinuria, hematuria,
leukosuria, cast, isostenuria
GAMBARAN RADIOGRAFI
Foto polos abdomen, bisa tampak batu radio opak
Pielografi intravena jarang dikerjakan karena kontras
sering tidak bisa melewati filter glomerulus, disamping
kekhawatiran terjadinya pengaruh toksik oleh kontras
terhadap ginjal yang sudah mengalami kerusakan
Ultrasonografi ginjal bisa memperlihatkan ukuran
ginjal yang mengecil, korteks yang menipis, adanya
hidronefrosis atau batu ginjal, kista, massa, kalsifikasi
PENATALAKSANAAN
Terapi spesifik terhadap penyakit dasarnya.
Waktu yang tepat untuk terapi penyakit dasarnya adalah
sebelum terjadinya penurunan LFG. Bila LFG sudah
menurun sampai 20-30% dari normal, terapi terhadap
penyakit dasar sudah tidak banyak bermanfaat.
Memperlambat perburukan fungsi ginjal
Faktor utama penyebab perburukan fungsi ginjal adalah
terjadinya hiperfiltrasi glomerulus.
Cara untuk mengurangi hiperfiltrasi glomerulus adalah:
Pembatasan asupan protein. Karena kelebihan protein
tidak dapat disimpan didalam tubuh tetapi di pecah menjadi
urea dan substansi nitrogen lain, yang terutama
dieksresikan melalui ginjal. Oleh karena itu, pemberian diet
tinggi protein pada penderita gagal ginjal kronik akan
mengakibatkan penimbunan substansi nitrogen dan ion
anorganik lainnya dan mengakibatkan sindrom uremia.
TATA LAKSANA
Terapi Farmakologi:
Untuk mengurangi hipertensi intraglomerulus.
Pemakaian obat antihipertensi (ACE inhibitor) disamping
bermanfaat untuk memperkecil resiko kardiovaskular
juga sangat penting untuk memperlambat perburukan
kerusakan nefron dengan mengurangi hipertensi
intraglomerular dan hipertrofi glomerulus.
Pemberian phentoxifylline
Terapi HD
Transplantasi ginjal