Anda di halaman 1dari 31

Fraktur Basis Cranii

Fraktur Os Nasal
Devi Kurniyanti Ningsih
209.121.0021

Pembimbing:
Dr. Yahya Ari P., Sp.BS
&
Laporan Kasus Bedah Saraf
KEPANITERAAN KLINIK MADYA
RSUD KANJURUHAN KEPANJEN KABUPATEN MALANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM MALANG
2014
STATUS PENDERITA
IDENTITAS PENDERITA
Nama : Tn.B
Usia : 63 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Turen
Pekerjaan : Petani
Status : Menikah
Agama : Islam
Suku : Jawa
Tanggal MRS : 4 Juli 2014
Tanggal Periksa : 7 Juli 2014
No. Reg : 350550
ANAMNESA
Keluhan Utama

Muntah darah setelah tertabrak sepeda motor.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD RSUD Kanjuruhan Kepanjen
dengan keluhan nyeri kepala setelah tertabrak sepeda
motor sekitar 1 jam sebelum MRS. Pasien tertabrak
sepeda motor dari belakang sehingga jatuh
tersungkur dan wajah membentur aspal. Lalu
menurut keterangan keluarga, pasien kemudian
pingsan dan keluar darah dari hidung serta pasien
muntah darah sebanyak 4 kali sebelum di bawa ke
Rumah Sakit. Setelah sadar pasien mengeluh sakit
kepala. Riwayat kejang disangkal keluarga pasien.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit serupa : disangkal
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat diabetes : disangkal
Riwayat penyakit jantung : disangkal
Riwayat alergi : disangkal
Riwayat Pengobatan
Setelah kejadian pasien langsung dibawa ke
puskesmas setempat, pasien hanya di infus lalu segera
di rujuk ke RSUD Kanjuruhan.
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit serupa : disangkal
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat diabetes : disangkal
Riwayat penyakit jantung : disangkal
Riwayat alergi : disangkal
Riwayat Kebiasaan
Diet : makan 3 kali sehari dengan teratur, rutin
mengkonsumsi sayur.
Merokok : 2-3 batang per hari
Alkohol : disangkal

PEMERIKSAAN FISIK
Primary survey
A: epistaksis (+), maxillofacizl injury (+), C-spine
stabil
B: Spontan, 20 x/menit, retraksi dinding dada (-),
pernafasan cuping hidung (-)
C: akral H/M/K, nadi : 93 x/menit, TD : 122/78
mmHg
D: GCS 14 (E4V4M6)
E: 36,4C
Vital sign
Tekanan darah: 122/78 mmHg
Suhu : 36,4 C
Nadi : 93 x/menit
RR : 20 x/menit
Status neurologik
Kesadaran : compos mentis
GCS : 4.4.6
Kepala
Bentuk mesocephal, rambut keabu-abuan, tidak mudah dicabut,
terdapat laserasi pada regio zigomaticus dextra dengan ukuran
2 x 3 cm, di regio frontalis dextra dengan ukuran 2 x 1 cm dan di
regio frontalis sinistra dengan ukuran 1 x 1 cm.
Mata
Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), ekimosis periorbital
(+/+), subkonjungtiva bleeding (+/-).
Telinga
Bentuk normotia, otorhoe (-), bloody otorhoe (-), battle sign (-)
Hidung
Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (+), jejas (-)
Mulut dan Tenggorokan
Luka (-), perdarahan (-).
Leher
JVP kesan tidak meningkat, trakea ditengah, pembesaran
kelenjar tiroid (-), kelenjar getah bening tidak teraba membesar,
tidak teraba adanya benjolan, jejas (-)
Thorax
Paru-paru
Inspeksi : Simetris dalam keadaan statis dan dinamis, luka
dan benjolan tidak didapatkan.
Palpasi : Stem fremitus paru kanan sama dengan paru kiri
Perkusi : Sonor pada seluruh lapang paru
Auskultasi: Suara nafas vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung
Inspeksi : Tidak tampak pulsasi ictus cordis
Palpasi : Teraba ictus cordis di ICS IV MCLS
Perkusi : Redup
Batas kanan atas : SIC II PSL dextra
Batas kanan bawah : SIC IV PSL dextra
Batas kiri atas : SIC II PSL sinistra
Batas kiri bawah : SIC IV MCL sinistra
Auskultasi: Bunyi jantung I-II regular, Murmur -/-, Gallop -/-
Abdomen
Inspeksi : datar, tidak tampak adanya kelainan
Palpasi : supel, hepar dan lien tidak teraba, nyeri
tekan (-)
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus (+) normal (5x/mnt)
Ekstremitas
Superior : deformitas (-), vulnus appertum (+)
regio metacarpal dextra ukuran 3 x 1 cm
Inferior : deformitas (-) , vulnus appertum (+) 3 x 2 cm
regio genue dextra dan sinistra
PEMERIKSAAN PENUNJANG
RESUME
Tn. B, laki-laki usia 63 tahun dibawa ke IGD RSUD Kanjuruhan Kepanjen
dengan keluhan muntah darah setelah tertabrak sepeda motor sekitar 1
jam sebelum MRS. Pasien tertabrak sepeda motor dari belakang sehingga
jatuh tersungkur dan wajah membentur aspal. Lalu menurut keterangan
keluarga, pasien kemudian pingsan dan keluar darah dari hidung serta
pasien muntah darah sebanyak 4 kali sebelum di bawa ke Rumah Sakit.
Setelah sadar pasien mengeluh sakit kepala.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan vulnus appertum pada regio
zigomaticus dextra dengan ukuran 2 x 3 cm, regio frontalis dextra dengan
ukuran 2 x 1 cm, regio frontalis sinistra ukuran 1x1 cm, regio metacarpal
dextra dengan ukuran 3 x 1 cm, dan regio genue dextra dan sinistra
dengan ukuran 3 x 2 cm. Pada mata didapatkan ekimosis periorbital (+/+)
dan subconjungtival bleeding (+/-). Sedangkan pada hidung didapatkan
epistaksis (+). Dari CT scan didapatkan gambaran adanya fraktur os nasal
dan os frontalis pars orbita sinistra.

DIAGNOSA
Cedera kepala ringan dengan Fraktur basis cranii
dan fraktur os nasal.


PENATALAKSANAAN
Farmakologis
IVFD RL 20 tpm
Injeksi IV cefotaxim 2 x 1 gram
Injeksi IV asam tranexamat 3 x 250 mg
Injeksi IV ketorolac 2 x 10 mg
Non Farmakologis
KIE
MRS
Head up 30 atau boleh duduk
Tampon

PROGNOSA
Dubia ad bonam
TINJAUAN PUSTAKA
ANATOMI
KLASIFIKASI
MANIFESTASI KLINIS
Fraktur pertrous os temporal dijumpai dengan
otorrhea dan memar pada mastoids (battle
sign).
Fraktur basis cranii fossa anterior adalah
dengan rhinorrhea dan memar di sekitar
palpebra (raccoon eyes). Kehilangan
kesadaran dan Glasgow Coma Scale dapat
bervariasi, tergantung pada kondisi patologis
intrakranial.
4

Fraktur longitudinal os temporal berakibat
pada terganggunya tulang pendengaran dan
ketulian konduktif yang lebih besar dari 30 dB
yang berlangsung lebih dari 6-7 minggu. Tuli
sementara yang akan baik kembali dalam
waktu kurang dari 3 minggu disebabkan
karena hemotympanum dan edema mukosa
di fossa tympany. Facial palsy, nystagmus,
dan facial numbness adalah akibat sekunder
dari keterlibatan nervus cranialis V, VI, VII.
Fraktur tranversal os temporal melibatkan saraf
cranialis VIII dan labirin, sehingga menyebabkan
nystagmus, ataksia, dan kehilangan pendengaran
permanen (permanent neural hearing loss).
4

Fraktur condylar os oksipital adalah cedera yang
sangat langka dan serius.
12
Sebagian besar pasien
dengan fraktur condylar os oksipital, terutama
dengan tipe III, berada dalam keadaan koma dan
terkait cedera tulang belakang servikalis. Pasien
ini juga memperlihatkan cedera lower cranial
nerve dan hemiplegia atau quadriplegia.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
RADIOGRAFI
X-ray skull
CT scan
MRI
PEMERIKSAAN LAIN
Halo sign
PENATALAKSANAAN
Pasien dewasa dengan simple fraktur linear
tanpa disertai kelainan struktural neurologis
tidak memerlukan intervensi apapun bahkan
pasien dapat dipulangkan untuk berobat jalan
dan kembali jika muncul gejala.
Fraktur condylar tipe I dan II os occipital
ditatalaksana secara konservatif dengan
stabilisasi leher dengan menggunakan collar
atau traksi halo.

Terapi Bedah
Bayi dan anak-anak dengan open fraktur depress
memerlukan intervensi bedah. Indikasi untuk
elevasi segera adalah fraktur yang terkontaminasi,
dural tear dengan pneumocephalus, dan
hematom.
fraktur condylar os oksipital tipe unstable (tipe III)
yang membutuhkan arthrodesis atlantoaxial. Hal
ini dapat dicapai dengan fiksasi dalam-luar.
16


KOMPLIKASI
Facial palsy
Meningoensefalitis
Lesi nervus cranialispermanen
Liquorrhea

KESIMPULAN
Tn. B, laki-laki usia 63 tahun dibawa ke IGD RSUD Kanjuruhan Kepanjen
dengan keluhan muntah darah setelah tertabrak sepeda motor sekitar 1 jam
sebelum MRS. Pasien tertabrak sepeda motor dari belakang sehingga jatuh
tersungkur dan wajah membentur aspal. Lalu menurut keterangan keluarga, pasien
kemudian pingsan dan keluar darah dari hidung serta pasien muntah darah
sebanyak 4 kali sebelum di bawa ke Rumah Sakit. Setelah sadar pasien mengeluh
sakit kepala.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan GCS 14 (E4V4M6), vulnus appertum
pada regio zigomaticus dextra dengan ukuran 2 x 3 cm, regio frontalis dextra
dengan ukuran 2 x 1 cm, regio frontalis sinistra ukuran 1x1 cm, regio metacarpal
dextra dengan ukuran 3 x 1 cm, dan regio genue dextra dan sinistra dengan ukuran
3 x 2 cm. Pada mata didapatkan ekimosis periorbital (+/+) dan subconjungtival
bleeding (+/-). Sedangkan pada hidung didapatkan epistaksis (+). Dari CT scan
didapatkan gambaran adanya fraktur os nasal dan os frontalis pars orbita sinistra.
Pasien ini di diagnosa dengan cedera kepala ringan denan fraktur basis cranii
dan fraktur nasal. Pasien ini mendapat penatalaksanaan dengan pemberian
cefotaxim 2 x 1 gram, asam tranexamat 3 x 250 mg, ketorolac 2 x 10 mg dan
pemasangan tampon. Pasien dipulangkan pada hari ke 5 MRS.