Anda di halaman 1dari 43

DRY EYES

Andrew Leonardo Pandjaitan


030.05.027
Anatomi sistem lakrimal
Sistem produksi : glandula lakrimal
Glandula lakrimal utama
Glandula lakrimal asesoris : wolfring dan krause

Sistem ekskresi
- Pungtum lakrimal, kanalikuli lakrimal, sakus lakrimal, duktus lakrimal

AIR MATA
Air mata membentuk lapisan tipis setebal 7 10 mikrometer yang melapisi
epitel kornea dan konjungtiva. Fungsi dari lapisan tipis ini adalah
- untuk membasahi dan melindungi lapisan epitel kornea dan konjungtiva,
- mencegah pertumbuhan mikroorganisme dengan cara flushing
- dan untuk menyediakan nutrisi bagi kornea.

Lapisan air mata
Lapisan lemak ( 0.11 mikrometer) , dihasilkan oleh kelenjar Meibom
Lapisan akuos (7 mikrometer), dihasilkan oleh glandula lakrimal
Lapisan musin (0.02-0.05 mikrometer), dihasilkan oleh sel goblet
Vol air mata pada tiap mata 5 9 mikroliter
Protein airmata mengandung 60% albumin, 20% globulin dan 20% lysozyme
Pada airmata terdapat IgA, IgG, dan igE

Airmata
Na : 132 mMol/L
K : 24 mMol/L
HCO : 32.8 mMol/L
Cl : 0.8 mMol/L
Mg : 0.61 mMol/L
Glukosa : 5 mg/dL
Urea : 0.04 mg/dL
Ph : 5.2 8.35
Osmolaritas : 295 309 mosm/liter
DRY EYE
Definisi
Berdasarkan Internasional Dry Eye Workshop, 2007
Suatu penyakit multifaktorial dari airmata dan permukaan mata (kornea dan
konjungtiva) yang menuebabkan gejala tidak nyaman pada mata, gangguan
penglihatan, dan instabilitas airmata yang berpotensi menyebabkan
terjadinya kerusakan permukaan mata

Epidemiologi
Dry eye lebih sering terjadi pada wanita 86% dibandingkan pria
Sering terjadi pada daerah dengan tingkat polusi yang tinggi
Presentasi insiden terjadinya dry eye 20 30% terutama pada pasien
berusia diatas 40 tahun
Frekuensi terjadi dry eye lebih tinggi pada ras hispanik dan asia
dibandingkan ras kaukasius
Patofisiologi
Dua mekanisme utama penyebab terjadinya dry eye adalah
Hiperosmolaritas air mata
Instabilitas film air mata
Hiperosmolaritas air mata
Terjadi karena rendahnya aliran akuos atau tingginya penguapan air mata
Rendahnya aliran akuos terjadi karena disfungsi glandula lakrimal dan
berkurangnya reflex kornea/mengedip
Tinggi nya penguapan terjadi karena gangguan kelopak mata dan disfungsi
kelenjar Meibom
Airmata yang hiperosmolar dapat merusak epitel kornea dan konjungtiva
dengan mengaktivasi sel radang dan mengeluarkan mediator sel radang ke
dalam airmata

Instabilitas film airmata
Defisiensi dari salah satu komponen dari film air mata (lemak, akuos, musin)
menyebabkan airmata yang cepat rusak hingga menimbulkan dry spot ->
tereksposnya kornea dan konjungtiva sehingga terjadi kerusakan epitel
kornea dan konjungtiva
Dapat terjadi secara langsung karena kelainan lapisan lemak pada disfungsi
kelenjar Meibom
Atau secara tidak langsung karena menyebabkan peningkatan penguapan
yang pada akhirnya menyebabkan hiperosmolaritas airmata
Dry spot
Faktor resiko
Usia tua
Wanita
Keadaan lingkungan
Faktor pekerjaan
Faktor nutrisi
Status hormonal
Pengobatan sistemik
Obat mata tetes berpengawet
Penggunaan lensa kontak
Operasi LASIK
Parkinson
Diabetes mellitus


Gejala
Mata terasa kering, gatal, seperti berpasir
Seperti ada benda asing
Nyeri
Panas atau menyengat
Meningkatnya mata mengedip
Mata cepat leleh
Fotofobia
Pandangan kabur
Tidak bisa memakai lensa kontak

Diagnosis
Saat ini tidak ada kriteria uniform untuk diagnosis dry eye
Diagnosis dibuat berdasarkan
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Tes pemeriksaan
Kuisioner
Anamnesis
Didapatkan gejala seperti mata merah, mata terasa mengganjal seperti ada
benda asing, mata seperti berpasir,gatal, nyeri atau menyengat, mata cepat
lelah, pandangan kabur, fotofobia
Pemeriksaan fisik dan tes Pemeriksaan
1. Schirmer test
2. Tear breakup time (TBUT)
3. Pewarnaan fluoresein
4. Pewarnaan rose bengal
5. Pewarnaan lissamine green
6. Osmolaritas airmata
7. Ocular ferning test
8. Impression cytology
Schirmer test
Menentukan produksi airmata
Negatif pada defisiensi musin
Tanpa anestesi
Mengukur kemampuan glandula lakrimal utama
Abnormal bila dalam 5 menit kertas yang basah < 10 mm
Dengan anestesi
Mengukur kemampuan glandula krauss & wolfing
Abnormal bila dalam 5 menit kertas yg basah < 5mm
Tear Film Breakup Time
Tes ini dilakukan untuk mengestimasi komponen musin pada air mata.
Defisiensi musin akan menyebabkan instabilitas air mata sehingga
menyebabkan air mata rusak dalam waktu cepat. Pada air mata akan
muncul dry spot dengan disusul tereksposnya epitel kornea dan
kongjungtiva, hal ini akan merusak sel epitel sehingga epitel yang rusak akan
terlihat dengan pewarnaan. Epitel yang rusak menyebabkan munculnya
titik-titik pewarnaan saat kornea diberi pewarnaan dengan fluoresein.
Tear film break up time dapat diukur dengan menempelkan kertas
fluoresein pada konjungtiva bulbar dan meminta pasien untuk mengedip
tiga kali lalu pasien diminta untuk menahan agar tidak mengedip dan
melihat lurus ke depan sambil mata pasien diperiksa dengan menggunakan
slitlamp. Lampu slitlamp yang digunakan adalah lampu filter cobalt-blue.
Waktu sampai terlihatnya dry spot pertama merupakan waktu perusakan
air mata atau tear film breakup time. Dry spot akan terlihat berwarna
gelap diantara warna konjungtiva normal yang kebiruan dengan lampu
slitlamp. Normalnya adalah lebih dari 10 detik. namun penelitian terkini
menunjukan batas < 5 detik dinyatakan abnormal dengan kemungkinan
tinggi terdapatnya dry eye.
Pewarnaan
Fluoresein
Mewarnai epitel kornea yang rusak
Rose Bengal
Mewarnai epitel kornea dan konjungtiva yang rusak atau degenerasi
Lissamine Green
Mewarnai epitel kornea dan konjungtiva yang rusak atau degenerasi
Osmolaritas air mata
Tolak ukur dry eye
Osmolaritas >= 316 mOsm/L

Dapat diukur dengan
- tearLab
- Tear osmometer
tearLab
Mengukur osmolaritas dengen mengukur aktivitas elektrik melalui
kandungan garam pada air mata

Tear osmometer
Mengukur osmolaritas air mata berdasarkan titik beku nya

Ocular Ferning test
Melihat hasil ferning mukus pada kerokan konjungtiva
Mukus akan berkurang pada keadaan dry eye defisiensi mukus
a. ferning mukus uniform dan
bercabang banyak
b. ferning mukus lebih kecil dengan
cabang lebih sedikit
c. ferning mukus kecil dengan
hampir tanpa cabang
d. tidak ada ferning

Impression Cytology
Mengukur jumlah sel goblet pada permukaan konjungtiva
Sel goblet berkurang pada keadaan dry eye, trakoma, defisiensi vitamin A,
sindrom Steven Johnson
a. Sel goblet yang berkurang pada dry eye

b. Jumlah sel goblet normal
Manajemen & Terapi
Anggota The International Dry Eye WorkShop (DEWS) Subcommittee melakukan review terhadap
the Delphi Panel (the Dry Eye Preferred Practice Patterns of the American Academy of
Ophthalmology and the International Task Force Delphi Panel on Dry Eye) untuk penanganan dry
eye dan melakukan modifikasi. Penanganan yang dilakukan berdasarkan tingkat keparahan
penyakit


level 1
Edukasi dan modifikasi lingkungan atau makanan
Eliminasi pengobatan sistemik yang menyebabkan dry eye
Air mata buatan dengan pengawet (gel dan tetes mata), 4 kali sehari atau lebih
Perbaikan pada kelainan kelopak mata

level 2 dilakukan bila level 1 tidak cukup, ditambah dengan
Air mata buatan tanpa pengawet
Anti radang
Kortikosteroid tetes
Cyclosporine A tetes
Omega 3 fatty acid tetes atau sistemik
Punctal plugs atau oklusi pungtum (setelah mengontrol peradangan)
Tetrasiklin (untuk meibomanitis dan rosacea)
Secretagogues
Moisture chamber spectacles atau kacamata untuk menjaga kelembaban


Moisture chamber spectacles
level 3 dilakukan bila level 2 tidak cukup, ditambah dengan :
Serum autologous, serum umbilical cord
Lensa kontak
Punctal plug atau oklusi pungtal permanen


level 4 dilakukan bila level 3 tidak cukup, ditambah dengan:
Anti radang sistemik
Operasi
Operasi kelopak mata
Tarsorrhaphy
Grafting membran mukus
Transposisi duktus glandula saliva
Transplantasi membran amniotic

Komplikasi
Penurunan visus yang parah bila terjadi skaring dan neovaskularisasi di
kornea
Ulkus kornea

Komplikasi

- Keratitis filamentosa