Anda di halaman 1dari 114

LAPORAN KASUS FRAKTUR

Pembimbing : dr.Eddy Yuswardi , Sp.B



Disusun oleh :
Eka Laela S
Faridah Laili
Tania V antika
Syarifah Nur Aini



IDENTITAS PASIEN
Identitas Pasien
Nama : Tn. H
Usia : 27 tahun
Pekerjaan : Buruh
Alamat : Cibadak

ANAMNESA
Keluhan utama:
Nyeri pada punggung bila digerakan

Riwayat penyakit sekarang:
Nyeri pada punggung bila digerakan setelah pasien jatuh dari
motor akibat tertabrak mobil.
Pasien terjatuh saat naik motor melewati tikungan. Pasien jatuh
dengan posisi duduk tertimps motor pasien,dan punggung
pasien terbentur aspal jalan raya dan mobil. dengan posisi
kedua tangan menahan badan.
Pasien membawa kendaraan tidak ingat dengan kecepatan
berapa dan tidak menggunakan helm .Pasien tidak pingsan
dan menyangkal adanya mual muntah pada saat kejadian.
PRIMARY SURVEY
Kesadaran : Composmentis
GCS : 15
Keadaan Umum : sakit sedang
A : clear
B : clear. RR : 20x/menit,Oksigenasi : Nafas
spontan
C : clear. HR : 72 x/menit, kualitas baik, isi cukup
Tanda Vital :TD = 110/80 mmHg
S = 36,2C
SECONDARY SURVEY
Status Generalisata
Kepala : deformitas (-)
Mata : konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-)
THT : perdarahan telinga (-), perdarahan hidung (-)
Leher : kelainan(-)
KGB : perbesaran (-)
Dada : simetris, statis, jejas (+), hematoma (+), krepitasi , nyeri
tekan (+)
Jantung : bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)
Paru : vesikuler, ronki (-), wheezing (-)
Abdomen : datar, lemas, bising usus (+) normal, jejas (-)
Ekstremitas atas : tidak ada data
Ekstremitas bawah : lihat status lokalis



1.Punggung
-Look : jejas (+),
laserasi(+),
hematom(+)
-Move : nyeri saat
bergerak saat
menunduk
-Feel : krepitasi (-), nyeri
(+)




2.Kedua tangan
Siku Kanan
-Look : Laserasi(+),
hematoma (-),
perdarahan (-)
-Move : nyeri saat
bergerak (-)
-Feel : krepitasi (-), nyeri
(+)
Telapak tangan kiri
-Look : Laserasi(+),
hematoma (-),
perdarahan (-)
-Move : nyeri saat
bergerak (-)
-Feel : krepitasi (-), nyeri
(+)

3.Tungkai kaki kiri
-Look : Laserasi(+),
hematoma (-),
perdarahan (-)
-Move : nyeri saat
bergerak (-)
-Feel : krepitasi (-), nyeri
(-)

DIAGNOSIS
Multiple Trauma Multiple trauma ec kecelakaan
lalu lintas
Trauma tumpul servikal dengan susp.closed fraktur
C1-C4 (tanpa komplikasi)
Vulnus laseratum humerus dekstra,metakarpal
sinistra,fibula sinistra
PENATALAKSANAAN
Kontrol servikal dengan colarneck
Pemberian O2 3L-4L/menit
Pasang Kateter Urin
IVDF NaCl 30 rpm,
ATS
FRAKTUR SERVIKAL

Fraktur cervical diskontinuitas
tulang 1 segmen cervical atau lebih yang
kebanyakan cidera merupakan hasil dari
benturan/tubrukan cervicalis.. Prognosis
yang baik terjadi jika tidak cedera tidak
mengenai spinal cord
Secara keseluruhan, cervical
terdiri atas 2 seg-men
anatomikal dan fungsional yaitu
:
Segmen superior (suboccipital),
terdiri atas C1 (atlas) dan C2
(axis) upper cervical spine
Segmen inferior yang
memanjang dari permukaan in-
ferior axis ke permukaan superior
Th1 lower cervical spine
Seluruh vertebra cervical
adalah sama kecuali atlas (C1)
dan axis (C2).

Sekitar 50% dari
gerakan fleksi-ekstensi
terjadi pd oociput-C1
(yes Joint)
Sekitar 50% dari
gerakan rotasi terjadi pd
C1-C2 (No Joint)
Sisanya gerakan fleksi-
ekstensi, rotasi dan
lateral fleksi terjadi di
segmen C2-C7
ATLAS (C1)
AXIS (C2)
O
T
O
T
GAMBAR DIBAWAH MERUPAKAN OTOT LEHER YANG MEMBANTU
EKSTENSI KEPALA DAN TERLETAK RELATIF DALAM: M. SEMISPINALIS
CAPITIS DAN M.LONGISSIMUS CAPITS
Gambar di atas merupakan Otot leher yang membantu ekstensi kepala
dan terletak relatif dalam: m. Splenius capits
Ligamen
ELEMEN-ELEMEN SARAF
8 pasang saraf cervical
Akar saraf keluar dari
kanal spinal superior
diantaranya:
saraf C1 keluar dari kanal
antara Occ & C1
saraf C2 keluar dari kanal
antara C2 & C3
saraf C8 keluar dari kanal C7
& T1
Saraf Innervasi motorik Refleks
C 1-2 Kepala dan leher
C 3-5 diafragma
C5 otot deltoid, biceps
C6 ekstensor wrist, abduktor
dan ekstensor thumb
C 5-6 biceps, brachioradialis
C7 triceps, fleksor wrist,
ekstensor jari
C 6-7 tricpes
C8 fleksor jari
Th1 otot-otot intrinsik tangan
MYOTOME
Root Joint Action
C1 Upper cervical flexion
C2 Upper cervical extension
C3 Cervical lateral flexion
C4 Shoulder girdle elevation
C5 Shoulder Abduction
C6 Elbow flexion
C7 Elbow extension
C8 Thumb extension; finger flexion
DERMATOM

Dermatom adalah daerah kulit yang dipersarafi oleh
akson sensoris radikssaraf segmen tertentu.

Level sensoris dermatom dengan fungsi sensoris
normal yang palingrendah dan seringkali berbeda
pada kedua sisi tubuh


ROM CERVICAL
MCRAE 1999
0-80 derajat

0-45 derajat

0-50 derajat 0-80 derajat
fleksi ekstensi
rotasi
Lateral
fleksi
COUPLED MOTION OF CERVICAL SPINE
(GERAKAN BERPASANGAN PADA CERVICAL
SPINE)
Atlantoaxial
Segment
(C1/C2)
Subaxial
Spine (C3-
C7)


EPIDEMOLOGI
Kecelakaan penyebab kematian ke4.Insidensi trauma
pada laki-laki perempuan 5 : 1.
Ducker dan Perrot melaporkan :
40% spinal cord injury kecelakaan lalu lintas,
20% jatuh,
40% luka sport, kecelakaan kerja.
ETIOLOGI

1. Kecelakaan lalu lintas
2. Kecelakaan olahraga
3. Kecelakaan industri
4. Jatuh dari pohon atau bangunan
5. Luka tusuk
6. Luka tembak
7. Kejatuhan benda keras

Fracture
cervica;
Hiperfleksi
Flexion tear
drop fracture
dislocation
Wedge
fracture
Clay shovelers
fracture
Fraktur
Odontoid (C2)
Hiperextensi
Axial injury
KLASIFIKASI CERVICAL TRAUMA MENURUT
MEKANISMENYA :

Fracture
cervica;
Hiperfleksi
Hiperextensi
Fraktur
hangman
Fraktur tear
drop extension
Axial injury

Fracture
cervica;
Hiperfleksi
Hiperextensi
Axial injury Burst injury
Fraktur
Jefferson
Cervical
tengah dan
bawah
TRAUMA HIPERFLEKSI
1. Flexion tear drop fracture dislocation
2. Wedge fracture
3. Clay shovelers fracture
4. Fraktur Odontoid

FLEXION TEAR DROP FRACTURE
DISLOCATION
Force fleksi murni ditambah komponen
kompresi menyebabkan robekan pada
kumpulan ligamen posterior disertai fraktur
avulse pada bagian antero-inferior korpus
vertebra. Lesi tidak stabil. Tampak tulang
servikal dalam fleksi:
- Fragmen tulang berbentuk segitiga pada
bagian antero-inferior
korpus vertebrae
- Pembengkakan jaringan lunak pravertebral




WEDGE FRACTURE
Vertebra terjepit sehingga berbentuk
baji. Ligament longitudinal anterior
dan kumpulan ligament posterior
utuh sehingga lesi ini bersifat stabil.

CLAY SHOVELERS FRACTURE
Fleksi tulang leher dimana terdapat
uluran maksimal ligament posterior
tulang leher mengakibatkan terjadinya
fraktur oblik pada prosesus spinosus ;
biasanya pada CVI-CVII atau Th1.


FRAKTUR ODONTOID
Kira-kira 60% dari fraktur C2 terjadi
pada prossesus odontoid, tonjolan
tulang seperti pasak yang menonjol ke
atas dan dalam keadaan normal
berhubungan dengan arkus anterior
C1. Prossesus odontoid terikat
ditempatnya oleh ligamentum
transversum.
Fraktur odontoid bisa dilihat
dengan foto servikal lateral atau
dengan proyeksi open mouth. Namun
biasanya CT scan dibuat untuk
meyakinkan.
Tipe I
terjadi pada ujung odontoid dan
relative jarang terjadi
Tipe II
tejadi pada dasar dens dan
merupakan fraktur odontoid tersering.
Pada anak berusia kurang dari 6
tahun masih terdapat lempeng
epifisis dan mungkin tampak seperti
garis fraktur.

Tipe III
terjadi pada dasar dens dan berlanjut
secara oblik kearah korpus aksis. biasanya
akan pulih hanya dengan stabilisasi
melalui pemasangan traksi servikal.


TRAUMA HIPEREXTENSI
1. Fraktur hangman
2. Fraktur tear drop extension
FRAKTUR HANGMAN
Hangmans fracture terjadi pada elemen
posterior C2 yang merupakan pars interkularis.
Fraktur jenis ini terjadi kira-kira 20% dari
semua fraktur aksis dan biasanya diakibatkan
cedera hiperekstensi. Dinamakan Hangman
karena sesuai dengan kelainan yang terjadi
pada orang yan dihukum gantung dengan
simpul di depan dagu.
Fraktur hangman jarang menimulkan deficit
neurologis mengingat fraktur menimbulkan
pemisahan antara korpus C2 dengan elemen
osterior.
Fraktur Hangman dibedakan menjadi tiga tipe.

Tipe I :
Merupakan fraktur yang stabil, dimana pergeseran atau
angulasi di sini hanya minimal saja serta cukup
diterapi dengan pemasangan collar neck.

Tipe II
Angulasi korpus lebih dari 10 derajat dan pergeseran
korpus dari elemen posterior lebih dari 3mm

Tipe II
Adalah fraktur yang menimbulkan dislokasi faset C2
bilateral dan sangat tidak stabil sehingga untuk kasus ini
perlu dioperasi untuk stabilisasi. Pasien dengan fraktur
ini harus diimobilisasi eksternal sampai mendapatkan
fisioterapi khusus.
GAMBARAN TIPE FRAKTUR
MEKANISME CEDERA
Ekstensi yg dipaksakan pada leher yg sudah
dalam keadaan ekstensi.

Fleksi leher yg sudah dalam keadaan fleksi dan
kompresi leher yg sedang dalam keadaan
ekstensi.

Dalam sejarah, penyebab utama cedera yg
mematikan ini adalah akibat penggantungan
dengan simpul pada prominentia dagu.

Gambaran Tipe-Tipe Fraktur
FRAKTUR TEAR DROP EXTENSION

AXIAL INJURIES
1. Burst fracture >> Jefferson fracture
>> Fracture cervical tengah
ke bawah
JEFFERSON FRACTURE
Tulang atalas tipis, berbentuk cincin
dengan permukaan sendi yang luas.
Fraktur atlas tejadi 5% dari fraktur
tulang servikal akut. Kira-kira 40% fraktur
atlas berhubungan dengan fraktur aksis
(C2). Fraktur tersering C1 adalah burst
fracture (Fraktur Jefferson).
Mekanisme trauma yang biasa terjadi
adalah axial loading, yang terjadi bila ada
beban berat jatuh secara vertical ke kepala
pasien atau pasien jatuh ke permukaan
dengan kepala berada pada posisi netral.
Fraktur jefferseon meliputi terputusnya
kedua ring anterior dan posterior C1
dengan bergesernya massa lateral ke arah
lateral.
Fraktur ini paling baik dilihat dengan pandangan
open mouth dari C1 dan C2 dan dengan CT-
scan axial. Bila patahan tulang tampak
bergeser lebih dari 7 mm pada foto proyeksi
frontal, kemungkinan ligamentum
transversumnya robek. Konfirmasi tentang
cedera ligamentum ini dipastikan bersasarkan
adanya gerakan abnormal antara odontoid
dan atlas pada pemeriksaan radiologis.
Pada pasien yang selamat, fraktur ini
biasanya tidak berhubungan dengan fraktur
medulla spinalis. Namun fraktur ini tidak stabil
dan pertama kali harus ditanganni dengan collar
neck.
Tindakan operasi (fusi) ditujukan untuk kasus
yang ligamennya ikut cedera. Tindakan operasi
adalah fiksasi antara oksiput dengan lamina
dan pada saat pascabedah dipasang jaket
halo.



BURSTING FRACTURE CERVICAL TENGAH
DAN BAWAH



GEJALA UMUM

a. Nyeri
Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini
dikarenakan adanya spasme otot, tekanan dari patahan
tulang atau kerusakan jaringan sekitarnya.
b. Bengkak/edama
Edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa yang
terlokalisir pada daerah fraktur dan extravasi daerah di
jaringan sekitarnya.

c. Memar/ekimosis
Merupakan perubahan warna kulit sebagai akibat
dari extravasi daerah di jaringan sekitarnya.
d. Spame otot
Merupakan kontraksi otot involunter yang
terjadu disekitar fraktur.
e. Penurunan sensasi
Terjadi karena kerusakan syaraf, terkenanya syaraf
karena edema.
f. Gangguan fungsi
Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang frkatur,
nyeri atau spasme otot. paralysis dapat terjadi
karena kerusakan syaraf.


g. Mobilitas abnormal
Adalah pergerakan yang terjadi pada bagian-bagian yang
pada kondisi normalnya tidak terjadi pergerakan. Ini
terjadi pada fraktur tulang panjang.
h. Krepitasi
Merupakan rasa gemeretak yang terjadi jika bagian-bagaian
tulang digerakkan.
i. Deformitas
Abnormalnya posisi dari tulang sebagai hasil dari
kecelakaan atau trauma dan pergerakan otot yang
mendorong fragmen tulang ke posisi abnormal, akan
menyebabkan tulang kehilangan bentuk normalnya.
j. Shock hipovolemik Shock terjadi sebagai kompensasi
jika terjadi perdarahan hebat.

SINDROMA MEDULLA SPINALIS INKOMPLIT
Central cord syndrome
Anterior cord syndrome
Posterior cord syndrome
Brown Sequard syndrome
Cauda equina syndrome
SINDROM MEDULLA SPINALIS
Central cord synd.
Kehilangan motorik
eks. atas > bawah
Kehilangan sensorik
variasi
Gg. Vaskuler di area
diperdarahi A. spinalis
anterior sentral
med. spin.
Biasa pada lansia,
cedera hiperekstensi
dan fraktur kompresi
Anterior cord synd.
Paraplegia
Kehilangan sensorik
disosiasi dan sensasi
nyeri + suhu
Infark pada area yang
diperdarahi A. spinalis
anterior
Brown Sequard synd.
Hemiseksi med. spin
Kehilangan motorik
ipsilateral
Kehilangan sensasi
suhu dan nyeri
kontralateral 1-2 level
di bawah level trauma
Hilang sensasi posisi
Akibat trauma tembus
SINDROMA MEDULLA SPINALIS
Posterior cord synd.
gg. Proprioseptif (ataxia dan
faltering gait)
Motorik-sensorik baik
Akibat cedera hiperekstensi
dengan fraktur vert. posterior
Cauda equine synd.
Gejala non spesifik :
Back pain
Disfungsi bowel dan bladder
Tungkai bawah lemas dan
baal
Saddle paresthesia
Akibat kompresi tulang atau
protrusi diskus ke region
lumbal / sacral
EVALUASI RADIOLOGI
Indikasi radiologi tulang servikal, pasien trauma
dengan :
Nyeri leher di garis tengah
Nyeri pada palpasi
Defisit neurologis berhubungan dengan tulang servikal
Atau penurunan kesadaran atau dengan kecurigaan
intoksikasi
Pemeriksaan radiologis proyeksi lateral, anteroposterior
(AP), dan gambaran odontoid mouth open


Defisit neurologis
MRI / CT
mielografi
Epidural
hemotom spinal,
herniasi diskus
traumatic
KOMPLIKASI FRAKTUR CERVICAL

Spinal Cord Injury Paralysis
Infeksi
Kerusakan saraf
Ketidaksejajaran dalam penyambungan dan
malunion

OA
Avascular necrosis
Depresi
Hiperekstensi leher (Kifosis)
tetraplegia (Kelumpuhan dua tungkai)
Quadriplagia/tetraplegia (Kelumpuhan pada empat tungkai)

MANAJEMEN

VAS
0 10 8
Interpretasi : nyeri diam: 5
nyeri tekan: 7,5
nyeri gerak: 5



TES ROM
Regio
Cervikal
ROM FLEKSI EKSTENSI
LATERAL
SIDE
FLEKSI
ROTASI
Normal 0-80
o
0-50
o
0-45
o
0-80
o
Hasil Pengukuran 20
o
50
o
20
o
20
o

ROM menurut ISOM:
S.50.0.20 (Flexi-Extensi)
F.20.0.20 (Lateral side flexi sinistra-dextra)
T.20.0.20 (Rotasi kiri-Rotasi kanan)

TES SENSASI SENSORIK
Tes rasa posisi
Tes rasa gerak
Tes arah gerak
Tes tajam tumpul
Tes kasar halus
Tes diskriminasi 2 titik

TES PROVOKASI
Dilakukan dengan cara posisi leher
diekstensikan dan kepala dirotasikan ke
salah satu sisi, kemudian berikan tekanan
ke bawah pada puncak kepala. Hasil positif
bila terdapat nyeri radikuler ke arah
ekstremitas ipsilateral sesuai arah rotasi
kepala. Pemeriksaan ini sangat spesifik
namun tidak sensitif, karena berguna untuk
mendeteksi adanya nyeri radikulopati
servikal.
TES PROVOKASI
TES DISTRAKSI KEPALA
Distraksi kepala akan menghilangkan nyeri yang diakibatkan
oleh kompresi terhadap radiks syaraf. Hal ini dapat
diperlihatkan bila kecurigaan iritasi radiks syaraf lebih
memberikan gejala dengan tes kompresi kepala walaupun
penyebab lain belum dapat disingkirkan.
TES DISTRAKSI KEPALA
TES KOMPRESI

TES ADL ( INDEKS ADL MODIFIKASI )
NO
JENIS AKTIVITAS
FUNGSIONAL
KRITERIA
1 BERPAKAIAN 0 = tidak dapat melakukan
1 = melakukan dengan bantuan*
2 = melakukan tanpa bantuan
2 KEMAMPUAN
MENGGUNAKAN
TOILET
0 = tidak dapat melakukan *
1 = melakukan dengan bantuan
2 = melakukan tanpa bantuan
3 TRANSFER DARI
LANTAI KE KURSI
0 = tidak dapat melakukan
1 = melakukan dengan bantuan*
2 = melakukan tanpa bantuan
4 TRANSFER DARI KURSI
KE TEMPAT TIDUR
0 = tidak dapat melakukan
1 = melakukan dengan bantuan*
2 = melakukan tanpa bantuan
5 BERJALAN DI DALAM
RUANGAN
0 = tidak dapat melakukan *
1 = melakukan dengan bantuan
2 = melakukan tanpa bantuan
6 BERJALAN DI LUAR
RUANGAN
0 = tidak dapat melakukan
1 = melakukan dengan bantuan*
2 = melakukan tanpa bantuan
7 NAIK TANGGA 0 = tidak dapat melakukan*
1 = melakukan dengan bantuan
2 = melakukan tanpa bantuan
8 TURUN TANGGA 0 = tidak dapat melakukan
1 = melakukan dengan bantuan*
2 = melakukan tanpa bantuan
TOTAL 5 ( Ketergantungan Berat )
PENATALAKSANAAN

Adakan imobilisasi di tempat kejadian (dasar
papan)
Optimaliasi faal ABC : jalan napas,pernapasan.
Pemerikasaan neurologis untuk menentukan
tempat lesi.
Pemeriksaan radiologis (kadang diperlukan)
Tindak bedah (dekompresi,reposisi dan stabilisasi)
Pencegahan penyulit : ileus paralitik -> sonde
lambung
Pemyulit kelumpuhan kandung kemih -> kateter

AIRWAY

AIRWAY
1.Clear = Nafas spontan
2.Sesak
3. Pernafasan berbunyi
Gurgling (bunyi kumur-kumur) Cairan
Snoring (mengorok) Lidah
Stridor ( Crowing ) Sumbatan Anatomis

AIRWAY DEFINITIF
Nasotrakeal
Orotrakeal
Kriko/Trakeostom
BREATHING
Gejala gangguan breathing :
1. Frekuensi pernafasan
2. Dispnea
3. Sianosis
4. Pemeriksaan fisik ( Look listen feel )
5. Saturasi O2 (normal > 95% )

SIRKULASI
Pemberian cairan pada pasien dengan Multiple
Trauma
Dengan pasien syok
Dengan pasien perdarahan
ALAT BANTU
O2 face mask 11 LPM
O2 non-rebreathing mask 11 LPM
Assissted ventilation (sering perlu
airway definitif)
DO NO FURTHER HARM

JENIS-JENIS IMOBILISASI

Soft collar Hard collar

Cervical orthrosis Cervical orthrosis

Halo orthrosis Cervico-thoracics