Anda di halaman 1dari 29

Oleh:

Hendra dirga putra (110 201 125)


Fitri Hariyati (110 207 016)

Pembimbing:
dr. Rismayanti Nawir

Pendahuluan
Ada tiga jenis gangguan pendengaran yang dapat
dikenali dengan uji pendengaran
Tuli konduktif
Tuli sensorineural
Tuli campuran (Konduktif & sensorineural)
Diperlukan pemeriksaan hantaran melalui udara
dan tulang dengan memakai garpu tala atau
audiometer nada murni
Anatomi
Continue
Continue
Telinga terdiri dari tiga bagian, yaitu telinga luar,
telinga tengah, dan telinga dalam

1) Telinga luar : aurikel, pinna, kanalis auditori
eksternus, membran timpani, Kanalis auditori
eksternus berbentuk huruf S, dengan rangka
tulang rawan pada seperti bagian luar, sedangkan
dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari
tulang. Panjangnya kira-kira 2- 3 cm

Continue
2) Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas:
1,2,3

Batas luar : membran timpani
Batas depan : tuba eustachius
Batas bawah : vena jugularis (bulbus
jugularis)
Batas belakang : aditus ad antrum, kanalis
fasialis pars vertikalis.
Batas atas : tegmen timpani

Continue
Batas dalam: berturut-turut dari atas ke bawah
kanalis semisirkularis horizontal,
kanalis fasialis, tingkap lonjong,
tingkap bundar, dan
promontorium
3)Telinga dalam : Koklea,
Vestibule yang terdiri dari 3
buah kanalis semisirkularis,
Continue
3)Telinga dalam : Helikotrema,
Skala vestibuli
Organ corti
Membran tektoria

Fisiologi Pendengaran
Gangguan Fisiologis Telinga
Gangguan telinga luar dan telinga tengah : tuli
konduktif.
Gangguan telinga dalam : tuli sensorineural.
tuli koklea
tuli retrokoklea
Sumbatan tuba eustachius : tuli konduktif.

Pemeriksaan Garpu Tala
Continue
Perangkat yang lazim mengambil beberapa sampel
nada C dari skala musik yaitu 128 Hz, 256 Hz, 512
Hz, 1024 Hz, dan 2048 Hz.
Semakin tinggi frekuensi, makin tinggi pula
nadanya. Dengan mambatasi survei pada
frekuensi bicara, maka frekuensi 512, 1024 dan
2048 Hz yang biasanya memadai.

Pembahagian Pemeriksaan Garpu
Tala
Tes Batas Atas dan Batas Bawah
Prinsip. Untuk menentukan frekwensi garpu tala
yang dapat di dengar penderita melewati hantaran
udara bila dibunyikan pada intensitas ambang
normal .
Teknik.
1. Menggunakan semua garpu tala (dapat
dimulai dari frekwensi terendah berurutan
sampai frekwensi tertinggi / sebaliknya)
dibunyikan satu persatu.

Continue
2. didengarkan terlebih dulu oleh pemeriksa
sampai bunyi hampir hilang untuk mencapai
intensitas bunyi yang terendah bagi orang
normal/ nilai ambang normal),
3. kemudian diperdengarkan pada penderita
dengan meletakkan garpu tala pada MAE di
jarak 1-2 cm dalam posisi tegak pada garis yang
menghubungkan MAE kanan dan kiri.

Interpretasi
Interpretasi.
Normal : mendengar garpu tala pada semua
frekwensi
Tuli konduksi : batas bawah naik (frekwensi
rendah tak terdengar)
Tuli sensori neural : batas atas turun (frekwensi
tinggi tak terdengar)
Prinsip. Tes Rinne ialah tes untuk
membandingkan hantaran melalui udara dan
hantaran melalui tulang pada telinga yang sama.
Teknik.
1. konduksi udara diuji dengan memegang garpu
tala di dekat telinga tanpa menyentuh telinga,
dan konduksi tulang dilakukan dengan
meletakkan garpu tala pada mastoid
Tes Rinne
Continue
2. Tangkai garpu tala yang bergetar ditempelkan
pada mastoid pasien (hantaran tulang) hingga
bunyi tidak lagi terdengar; garpu tala kemudian
dipindahkan ke dekat telinga sisi yang sama


Interpretasi
Interpretasi.
Rinne positif : Penderita masih mendengar
garpu tala di depan MAE.
Rinne negatif : Penderita tidak mendengar
garpu tala di depan MAE.


False Rinne (pseudopositif atau pseudonegatif )
: stimulus bunyi ditangkap oleh telinga yang
tidak di tes, Telinga yang tidak di tes
pendengarannya lebih baik daripada yang di tes.

Tes Weber
Prinsip : untuk membandingkan hantaran tulang
telinga kiri dengan telinga kanan.
Teknik. Garpu tala digetarkan dan tangkainya
diletakkan di garis tengah kepala, biasanya di
vertex atau di dahi. Getaran akan dipindahkan
oleh konduksi tulang ke koklea
Interpretasi
Normal : Tidak ada lateralisasi
Tuli konduktif : Lateralisasi ke telinga yang
sakit
Tuli sensorineural : Lateralisasi ke telinga yang
sehat.

Tes Schwabach
Prinsip. Membandingkan hantaran tulang orang yang
diperiksa dengan pemeriksa yang pendengarannya
normal.

Teknik.
1) Garpu tala frekuensi 512 Hz dibunyikan, kemudian
tangkainya diletakkan tegak lurus pada mastoid
pemeriksa.
2) Pemeriksa sudah tidak mendengar, secepatnya garpu
tala dipindahkan ke mastoid penderita.
Continue
3. Bila penderita masih mendengar, maka Schwabach
memanjang, penderita tidak mendengar, terdapat 2
kemungkinan yaitu Schwabach memendek atau
normal.
4. Untuk membedakan kedua kemungkinan ini, maka
tes dibalik, yaitu tes pada penderita dulu baru
pemeriksa. Garpu tala 512 Hz dibunyikan kemudian
diletakkan tegak lurus pada mastoid penderita

Continue
4. Bila penderita sudah tidak mendengar maka
secepatnya garpu tala dipindahkan pada mastoid
pemeriksa, bila pemeriksa tidak mendengar
berarti sama-sama normal bila pemeriksa masih
mendengar berarti Schwabach penderita
memendek.



Interpretasi
Tuli konduktif : Schwabach memanjang
Tuli sensorineural : Schwabach memendek

Tes Bing (Oklusi)
Prinsip :untuk mengetahui konduksi tulang dan
untuk menentukan efek oklusi pada kanalis
telinga.
Teknik. Garpu tala yang bergetar diletakkan di
mastoid penderita sementara pemeriksa membuka
dan menutup kanalis telinga (dengan menekan
tragus).

Interpretasi
Bing positif : Bunyi mengeras jika kanalis ditutup,
melemah bila kanalis dibuka.
Bing negatif : Tidak ada perubahan kekerasan bunyi.
Kesimpulan
Tes garpu tala adalah suatu tes untuk mengevaluasi
fungsi pendengaran individu secara kualitatif. Untuk
tes garis pendengaran digunakan garpu tala dengan
frekuensi 128 Hz, 256 Hz,512 Hz,1024 Hz, dan 2048 Hz
Continue
Pemeriksaan garpu tala yang sering dilakukan untuk
membantu menegakkan diagnosa adalah:
Tes Batas Atas dan Batas Bawah
Tes Rinne
Tes Weber
Tes Schwabach
Tes Bing (Oklusi)