Anda di halaman 1dari 28

Oleh: Christin Englin W. Liu, S.

Ked

Pembimbing: Dr. Pramudyo Adiptro, Sp.OG (K)
Kelainan tiroid merupakan kelainan endokrin
tersering kedua yang ditemukan selama kehamilan.
Kelainan endokrin ini sering terjadi pada wanita muda
dan dapat mempersulit kehamilan, demikian pula
sebaliknya
Hipertiroid adalah kelainan yang terjadi ketika
kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid yang
berlebihan dari kebutuhan tubuh.

Selama kehamilan normal kadar tiroid binding
globulin (TBG) dalam sirkulasi meningkat dan
juga akhirnya T3 dan T4 ikut meningkat
Hormon tiroid tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3)
disintesis di dalam folikel tiroid
Tiroid stimulating hormone (TSH) merangsang
sintesis dan pelepasan T3 dan T4, yang sebelumnya
didahului dengan pengambilan iodide yang penting
untuk sintesis hormon tiroid

Selama trimester pertama kehamilan, fetus
bergantung pada ibu untuk menyediakan hormon
tiroid melalui plasenta karena fetus tidak
dapat menghasilkan hormon tiroid sendiri sampai
trimester kedua
Pada minggu ke 10 - 12, kelenjar tiroid fetus mulai
berfungsi namun fetus tetap membutuhkan iodin dari
ibu untuk menghasilkan hormon tiroid
trimester kedua dan ketiga, hormon tiroid disediakan
oleh ibu dan fetus, namun lebih banyak oleh ibu

TSH dapat dideteksi dalam serum janin mulai usia
kehamilan 10 minggu, tetapi masih dalam kadar yang
rendah sampai usia kehamilan 20 minggu yang
mencapai kadar puncak 15 uU per ml dan kemudian
turun sampai 7 uU per ml
Penurunan ini mungkin karena kontrol dari hipofisis
yang mulai terjadi pada usia kehamilan 12 minggu
sampai 1 bulan post natal
Selama kehamilan, fungsi kelenjar tiroid maternal
bergantung pada tiga faktor independen namun saling
terikat, yaitu:
(a) peningkatan konsentrasi hCG yang merangsang
kelenjar tiroid
(b) peningkatan ekskresi iodide urin yang signifikan
sehingga menurunkan konsentrasi iodin plasma
(c) peningkatan thyroxine binding
globulin (TBG) selama trimester pertama,
menyebabkan peningkatan ikatan hormon tiroksin.
Pada akhirnya, faktor-faktor ini bertanggung jawab
terhadap peningkatan kebutuhan tiroid
Wanita terkena kira-kira 5 kali lebih banyak
daripada pria

Penyakit ini dapat terjadi pada segala umur,
dengan insiden puncak pada kelompok umur 20 -
40 tahun










Dapat diklasifikasikan sebagai
(1). primer (kegagalan tiroid)
(2). sekunder (terhadap kekurangan TSH hipofisis)
(3). tersier (berhubungan dengan defisiensi TRH
hipotalamus)
(4). resistensi perifer terhadap kerja hormon tiroid
Insidens berbagai penyebab hipotiroidisme
akan berbeda-beda tergantung faktor-
faktor geografis dan lingkungan seperti diet iodida dan
asupan bahan-bahan goitrogenik, ciri-ciri genetika
dan populasi dan distribusi umur populasi (anak atau
dewasa)
Trimester I

Pada awal kehamilan sampai minggu ke-12
atau pada kondisi patologis tertentu, termasuk
hipermesis gravidarum dan tumor trofoblastik,
konsentrasi hCG mencapai kadar maksimal yang akan
menginduksi keadaan hipertiroid dimana kadar
tiroksin bebas meningkat dan kadar TSH ditekan
Trimester II

Hipertiroksinemia ringan biasanya bersifat sementara,
menurun pada kehamilan minggu ke-18 tanpa terapi
antitiroid
Namun, hipertiroksinemia yang signifikan disertai
dengan peningkatan T4 bebas dan TSH yang rendah,
dan penemuan klinik hipertiroid, memerlukan terapi
obat antitiroid
Trimester III

Kelebihan tiroiksin dapat menyebabkan terjadinya
keguguran spontan
Pada perernpuan yang tidak mendapat pengobatan, at
au pada mereka yang tetap hipertiroid meskipun
terapi telah diberikan penggobatan, akan
meningkatkan risiko terjadinya pre-eklampsia,
kegagalan jantung, dan keadaan perinatal yang buruk
Anak-anak yang dilahirkan oieh wanita dengan kadar
T4 kurang dari 10 persen, berisiko terjadinya
ketidakseimbangan perkembangan psikomotor
Selain itu, bisa meningkatkan terjadinya persalinan
prematur, solusio plasenta, dan perawatan bayi di
NICU
A. Hipertiroid
Insidensi kehamilan dengan gejala tirotoksikosis
atau hipertiroidisme adalah 1:2000 kehamilan
Beberapa gejala yang sering ditemukan adalah
takikardi pada kehamilan normal, nadi rata-rata
waktu tidur meningkat, tiromigali, eksoftalmus, dan
berat badan tidak tambah walaupun cukup makan
Gambaran laboratorium memperlihatkan kadar
serum T4 bebas meningkat, sedangkan
kadar tirotropin menurun
Kadar tirotropin bisa terdeteksi sampai kadar kurang
dari 0,1 mU/I, sehingga akan meyebabkan
ditemukannya keadaan hipertiroid subklinis (sekitar
1%)
Efek jangka panjang keadaan tirotoksikosis subklinikal
yang persisten diawasi secara berkala karena dan
menyebabkan terjadinya aritmia jantung, hipertrofi
ventrikel jantung, dan osteopenia
B. Hipotiroid
Saat ini, terdapat 3-4% perempuan hamil yang
mengalami hipotiroid dan diperkirakan akan
melahirkan anak dengan kondisi cacat mental
Insidensi keadaan hipotiroid subklinis pada perempua
n berusia antara 18 - 45 tahun adalah sekitar 5%
Hipotiroid dengan gambaran klinik yang jelas
berhubungan dengan keadaan perinatal yang buruk

A. Gejala Hipertiroid
Gejala yang sering timbul biasa adalah intoleransi
terhadap panas, berkeringat lebih banyak, takikardi,
dada berdebar, mudah lelah namun sulit untuk
tidur, gangguan saluran cerna, berat badan menurun
meskipun asupan makan cukup, mudah tersinggung,
merasa cemas dan gelisah
Selain itu dapat juga timbul tanda-tanda penyakit
graves, seperti perubahan mata, tremor padatangan,
miksedema pretibial dan pembesaran kelenjar tiroid
Kelebihan tiroksin dapat menyebabkan terjadinya
keguguran spontan
Pada wanita yang tidak mendapat pengobatan, atau
pada mereka yang terapi telah diberikan, akan
meningkatkan risiko terjadinya pre-eklampsia,
kegagalan jantung, dan keadaan perinatal yang buruk
B. Gejala Hipotiroid
a. Pada Bayi Baru Lahir
kesukaran bernapas,
sianosis, ikterus,
kesulitan makan,
tangisan kasar,
hernia umbilikalis dan retardasi berat
retardasi pematangan tulang yang nyata
b. Pada Anak
pertumbuhan dan tanda-tanda retardasi mental
Pada remaja, pubertas prekok dapat terjadi
Postur tubuh pendek

c. Pada Dewasa
mudah lelah, kedinginan, penambahan berat badan,
konstipasi, menstruasi tidak teratur, dan kram otot
Pemeriksaan fisik termasuk kulit yang dingin, kasar,
kulit kering, wajah dan tangan sembab, suara parau
dan kasar, refleks lambat
Menurunkan konversi karoten menjadi vitamin A dan
peningkatan karoten dalam darah sehingga
memberikan warna kuning pada kulit
Diagnosis hipertiroid dalam kehamilan dapat
ditegakkan melalui pemeriksaan fisis dan
laboratorium, terutama pemeriksaan fungsi tiroid
Pada kehamilan, kadar T3 total dan T4 total
meningkat seiring meningkatnya konsentrasi TBG
FT3 sebaiknya diperiksa ketika nilai TSH rendah tetapi
kadar FT4 normal
Pemeriksaan TSI ini sebaiknya diukur pada trimester
ketiga karena nilai TSI yang tinggi sering
dihubungkan dengan tirotoksikosis fetus
Pemeriksaan Lab:
* Thyroid-stimulating hormone (TSH): Jika hipertiroid
maka kadar TSH biasanya rendah.
* Free (T4): T4 tinggi memperlihatkan adanya
hypertiroid.
* Triiodothyronine (T3): T3 tinggi memperlihatkan
adanya hypertiroid.
* TSH receptor antibody (TSI): antibodi ini ada pada
Grave's disease.
* Antithyroid antibodi: antibodi ini ada pada Hashimoto
dan Grave's disease
A. Hipertiroid
Tirotoksikosis yang terjadi selama kehamilan hampir
selalu dapat dikontrol dengan obat-obatan jenis
thiomide
Beberapa klinisi memilih propylthiouracil (PTU)
karena obat ini sebagian menghambat perubahan T4
menjadi T3 dan lebih sedikit melewati sawar
plasenta bila dibandingkan dengan metimazole
, penggunaan metimazole harus lebih berhati-hati
karena pemberian pada awal kehamilan diduga ada
hubungannya dengan terjadinya atresia
esofagus,khoana, dan apksia cutis
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati
penyakit tiroid ibu dapat menyebabkan penghancuran
jaringan kelenjar tiroid janin, sehingga dapat
dipertimbangkan untuk melakukan terminasi
kehamilan
B. Hipotiroid
Terapi pengganti yang digunakan adalah dengan
memberikan tiroksin, dosis antara 50-100 g/hari.

Kadar serum tirotropin diukur setiap 4 - 6 minggu dan
dosis tiroksin ditingkatkan antara 25 - 50 g sampai
mencapai nilai normal
A. Komplikasi Maternal:
keguguran,
infeksi,
preeklamsia,
persalinan preterm,
gagal jantung kongesti,
lepasnya plasenta
B. Komplikasi Fetus dan Neonatus:
prematur,
kecil untuk masa kehamilan,
kematian janin dalam rahim,
goiter pada fetus atau neonatus dan atau tirotoksikosis