Anda di halaman 1dari 40

REF ERAT

Pol i p Nasi

Pembimbing : dr. Made Jeren, Sp.THT




Adha NurJanah
Ririn Nurpebriansari
Tutut Setyani
Hima Fitriana Dewi
Tina Multazami
pendahuluan
Polip nasi
Masa udematous lunak
berwarna putih atau keabuan
Terdapat dalam rongga hidung
dan berasal dari pembengkaan
mukosa hidung atau sinus
pendahuluan
Polip antrokoanal
Killians polyps
Definisi
Anatomi
Fisiologi
Etiologi
Patogenesis
Manifestasi
klinis
Pemeriksaan
penunjang
Diagnosis
Differential
diagnosis
Tatalaksana
REFERAT
Polip nasi


definisi
suatu pseudotumor bersifat edematosa
yang merupakan penonjolan keluar dari
mukosa hidung atau sinus paranasalis
terdapat di dalam
rongga hidung
massa lunak,
bertangkai, bulat,
berwarna putih atau
keabu-abuan
asal
Seringkali
Dari meatus
Ke rongga
hidung
Kadang
(antrokoana)
Dari mukosa
daerah antrum
Ke koana
posterior
anatomi
Nasus
Nasus
eksternus
Cavitas nasi
Vaskularisasi
hidung
A.Spenopalatina
A.palatina major
A.labialis
superior
A.etmoidalis
anterior
A.etmoidalis
posterior
Plexus Kiesselbach
(Little Area)
fisiologi
Fungsi
hidung
Jalan nafas
Air
conditioning
Penyaring
dan
pelindung
Penghidu
Resonansi
suara
Proses
berbicara
Reflek nasal
epidemiologi
etiologi
Faktor-faktor
yang
berpengaruh
Umur, alergi, infeksi dan
inflamasi dominasi
eosinofil
Deviasi septum
Intoleransi aspirin,
perubahan polisakarida
dan ketidakseimbangan
vasomotor
Belum diketahui secara pasti
patogenesis
Paparan lingkungan (udara)
Epitel mukosa hidung
Potensi kerusakan epitel dan infeksi
Polip Nasi
Peradangan kronis
membran mukosa hidung
dan sinus
Karena kerusakan epitel
akibat paparan iritan,
virus, atau bakteri
Aktivasi
sel
epitel
alergen
polutan
Agen
infeksius
faktor yang berperan dalam respon
inflamasi :
neuropeptide-degrading enzym,
endothelin, nitric oxide, asam
arakidonat, sitokin inflamasi
faktor yang berperan dalam respon
inflamasi
Peningkatan
permeabilit
as PD
Adhesi
leukosit
Sekresi
mukus
Stimulus
fibroblas
dan kolagen
Proses peradangan kronis
Hiperplasi membran mukosa hidung
cairan serous di celah-celah jaringan, tertimbun dan
menimbulkan edema
Akumulasi cairan edema prolaps mukosa
Terbentuk tangkai polip
Terdorong ke dalam rongga hidung oleh gaya berat
Alergen
seringkali dialami penderita
asma dan rinitis alergi
penimbunan eosinofil dalam
jumlah besar dari jaringan polip
atau dalam sekret hidung
Infeksi virus
dan bakteri
Infiltrasi sel-sel neutrofil,
sedangkan sel eosinofil tidak
ditemukan
Polip hidung
disertai deviasi
septum
(Ogawa)
Polip lebih sering didapatkan
pada rongga hidung dengan
septum yang cekung
Deviasi septum
Hiperplasi
membran
mukosa hidung
aliran udara pada
bagian rongga hidung
dengan septum yang
cekung, akan lebih
cepat
menimbulkan
tekanan negatif
rangsangan bagi
mukosa hidung
meradang,
edema
Intoleransi
aspirin
inhibisi cyclooxygenase enzyme
pelepasan mediator radang,
yaitu cysteinyl leucotrienes
manifestasi klinis
Timbul gejala biasanya pelan, tapi dapat
juga cepat dan tiba-tiba setelah infeksi
akut
Keluhan utama : hidung tersumbat ,
sumbatan hebat hiposmia, anosmia,
lendir di tenggorok
Pilek lama tidak sembuh
Sengau
Sakit kepala
Rhinoskopi
anterior
Masa lunak
Bertangkai
Tidak nyeri
tekan
Tidak mudah
berdarah
Tidak mengecil
dengan
vasokonstriktor
Rhinoskopi
posterior
ukuran besar tampak
massa berwarna putih keabu-
abuan mengkilat,
mengggantung di nasofaring
Pemeriksaan Penunjang
Memberikan gambaran yang baik dari polip
Polip stadium 1 dan 2 dapat terlihat
Pada polip koanal juga dapat dilihat tangkai polip yang
berasal dari ostium asesorius sinus maksila
Nasoendoskopi
Foto polos sinus paranasal (AP, caldwell, dan lateral)
Memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas
udara dan cairan di dalam sinus
Kurang bermanfaat pada pada kasus polip.
Pemeriksaan
Radiologi
Bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di
hidung dan sinus paranasal
Diindikasikan pada kasus polip yang gagal diterapi
dengan medikamentosa
CT scan
pemeriksaan penunjang
Contoh gambaran
Gb. Nasoendoskopi
Gb. CT Scan polip
Antrochoanal
Diagnosis Banding

Angiofibroma Nasofaring Juvenil
Etiologi dari tumor ini belum diketahui
Jaringan asal tumor ini mempunyai tempat
perlekatan spesifik di dinding posterolateral atap
rongga hidung.
Klinis: rhinorhea kronis yang diikuti gangguan
penciuman, otalgia, sefalgia
Massa tumor konsistensinya kenyal, warna
bervariasi dari abu-abu sampai merah muda,
diliputi oleh selaput lendir keunguan
Gambaran Holman Miller
diagnosis banding
Keganasan pada hidung
Etiologi belum diketahui, diduga karena adanya
zat-zat kimia seperti nikel, debu kayu,
formaldehid, kromium, dan lain-lain
Sering pada laki-laki
Klinis: obstruksi hidung, rhinorhea, epistaksis,
penonjolan pada palatum, nyeri pada pipi, sakit
kepala hebat dan dapat disertai likuorhea.
Pemeriksaan PA didapatkan 85% tumor termasuk
sel squamous berkeratin.
Hemangioma
Lesi vaskuler jinak di rongga hidung dan sinus
paranasal.
Muncul dari septum hidung anterior dan turbinat
hidung.
Mukokel
Mengandung lendir dan epitel desquamated yang
dapat mengisi rongga sinus.
Biasanya terjadi di frontoethmoid
Mucoceles jarang muncul di sinus maksilaris dan
tidak mencapai choana

Terapi
Konservatif
Kortikosteroid
sistemik
Kortikosteroid
spray
Leukotrin
inhibitor

Terapi operatif
Pada kasus polip yang berulang /
polip yang sangat besar, tidak
membaik dengan terpi konservatif.
Polipektomi intranasal, Antrostomi intranasal,
Ethmoidektomi intranasal,Ethmoidektomi
ekstranasal, Caldwell-Luc (CWL), Bedah Sinus
Endoskopi Fungsional (BSEF)
tatalaksana
Komplikasi yang terbanyak meliputi :
SSP: Kerusakan LCS , meningitis, perdarahan
intrakranial, abses otak, hernisasi otak
Mata: Kebutaan, trauma nervus opticus, orbital
hematoma, trauma otot-otot mata bisa
menyebabkan diplopia, trauma yang mengenai
duktus lakrimalis dapat menyebabkan epiphora
Pembuluh darah: trauma pada pembuluh darah
dapat menyebabkan perdarahan.
Kematian

komplikasi operasi
Polip nasi adalah suatu pseudotumor yang
merupakan penonjolan dari mukosa hidung atau
sinus paranasalis yang terdorong karena adanya gaya
berat.
Etiologi polip nasi belum diketahui secara pasti.
Diduga karena adanya reaksi alergi, infeksi, deviasi
septum hidung, intoleransi aspirin, perubahan
polisakarida, dan ketidakseimbangan vasomotor.
kesimpulan
Diagnosis polip nasi berdasarkan pada anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Pengelolaan penderita polip nasi dengan cara
operatif (polipektomi) atau dengan non operatif
(kortikosteroid).
Diagnosis dan penanganan yang tepat sangat
diperlukan agar penderita tidak jatuh ke dalam
penyulit yang lebih berat.
daftar pustaka
1. Van Der Baan. Epidemilogy and natural history dalam Nasal Polyposis. Copenhagen: Munksgaard,1997.
13-15.
2. Nizar NW, Mangunkusumo E. Polip hidung. Buku ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok.
Edisi 4. Jakarta : Balai penerbit FKUI, 2000: 97-99.
3. Staf Pengajar Bagian Anatomi. Materi Kuliah Anatomi: organum sensuum. FK Undip, 2000.
4. Adams GL, Boies LR, Higler PH. Buku ajar penyakit THT. Edisi 6. Jakarta : EGC, !997: 173-94
5. Calderon, Devalia, Davies. Biology of Nasal Epithelium dalam Nasal Polyposis.
Copenhagen:Munksgaard,1997. 31-41
6. Larsen, Tos. Origin and Structure of Nasal Polyps dalam Nasal Polyposis.
Copenhagen:Munksgaard,1997.17-21
7. Drake Lee AB. Nasal polyps. In : Scott Brown`s Otolaryngology, Rrhinology. 5
th
ed. Vol 4 (Kerr A,
Mackay IS, Bull TR edts). Butterworths. London. 1987 : 142-53.
8. Archer. Nasal Polyps, Non surgical Treatment. http:// emedicine.com
9. Adams GL, Boies LR, Higler PH. Buku ajar penyakit THT. Edisi 6. Jakarta : EGC, !997: 173-94
10.szczeklik. Intolerence to aspirin and other non-steroidal anti-inflammatory drugs in airway disease
dalam Nasal Polyposis. Copenhagen: Munksgaard, 1997. 105-106
11. Montgomery William. Surgery of the Ethmoid and Sphenoid sinuses in Surgery of the Upper
Respiratory System vol 1. Philadelphia : Lea & febiger,1971 : 41-52
12.Tardy ME Jr, Kasterbauer ER. Operation on the ethmoid sinuses. In : Head and neck Surgery vol 1.
face, nose and facial skull part two. Stuttgard- New York : George Thiem Verlag, 1995 : 465-9
13.Tardy ME Jr, Kasterbauer ER. Operation on the Maxillary antrum. In : Head and neck Surgery vol 1.
face, nose and facial skull part two. Stuttgard- New York : George Thiem Verlag, 1995 : 465-9
THAnk you...


Any question??