Anda di halaman 1dari 45

Palpitasi

Sakinah
Ditaris Galih Iman
Azaria Rahmah
Yosefin Eka Budiarti
Yennie Ayu Setianingsih
Pembimbing dr. Munsifah Zaiyanah,
SpEM
Teori
Definisi Palpitasi

Palpitasi adalah perasaan (sensasi) yang tidak
menyenangkan yang disebabkan oleh denyut
jantung yang tidak teratur

Etiologi
Intracardiac Extracardiac

aortic insufficiency or
stenosis
atrial or ventricular
septal defect
congestive heart failure
Cardiomyopathy
congenital heart
disease

Fever
Dehydration
Hypoglycemia
Anemia
evidence of thyrotoxicosis
Efek obat
Strong emotional responses, such as
stress or anxiety
Exercise berlebih
Perubahan hormon terkait menstruasi,
kehamilan, atau menopause
atau abnormalitas irama jantung
(arrhythmia)
Sign and Symptoms
Palpitasi dapat dikaitkan dengan rasa berdebar-
debar
Atau jika palpitasi yang berkepanjangan, bisa ada
perasaan penuh di dada
Kadang-kadang pasien merasa sesak napas, dan
mungkin sulit untuk memutuskan apakah kepenuhan
Episode berkepanjangan dapat dikaitkan dengan
nyeri dada, sesak napas, berkeringat, dan, mual dan
muntah. Beberapa jenis masalah irama jantung
dapat menyebabkan pusing atau bahkan pingsan
(pingsan).
Algoritma
Klasifikasi Palpitasi Jantung
TACHYCARDIA adalah aritmia cepat (denyut jantung
lebih cepat dari 100 detak/menit).
BRADYCARDIA adalah aritmia lambat (denyut jantung
lebih lambat dari 60 detak/menit).
FIBRILLATION atau fibrilasi adalah irama jantung yang
tidak teratur.
PREMATURE CONTRACTION adalah satu detak
jantung yang terjadi lebih dini dari normal dan ini dapat
menyebabkan perasaan denyut jantung yang
dipaksakan.
KELAINAN (ABNORMALITIES) pada serambi (atrium),
bilik (ventricle) dan sistim penghantar listrik jantung (SA,
Sino-Atrial Node dan AV, Atrio-Venticular Node) dapat
menjurus ke aritmia yang menyebabkan palpitasi
(jantung berdebar).

Jenis-Jenis Palpitasi

1. PAC dan PVC

PAC (Premature Atrial Contraction), SA node memberikan sinyal
sebelum denyut sebelumnya selesai. Sama halnya dengan PVC
(Premature Ventricle Contraction), otot ventrikel berkontraksi saat
masih ada darah tersisa di jantung. PAC dan PVC bila terjadi, akan
terasa seperti ada lompatan atau ketukan kecil di dada. Keduanya
merupakan variasi normal dan tidak berbahaya.

2. SVT (Supraventricular Tachycardia)

Bila sistem listrik di atrium terganggu, akan menyebabkan atrium
memompa sangat cepat (bisa sampai 150 kali per menit). Aliran
listrik ini juga menjalar ke ventrikel yang mengikuti kecepatan pompa
atrium. Kondisi ini normal terjadi dalam kondisi stress, pengaruh
kopi, obat pseudoefedrin, dll. Karena semua berawal dari SA node,
maka sering dinamakan sebagai sinus tachycardia.
3. PSVT (Paroxymal Supraventricular
Tachycardia)
Dengan cara yang sama, PSVT dapat terjadi antara
hitungan detik sampai berjam-jam dan terjadi karena
dipicu oleh tinggi konsumsi kafein atau alkohol,
kelebihan thyroid hormon, dan abnormalitas level
elektrolit.

4. Atrial Fibrillation & Atrial Flutter

Terjadi bila seluruh sel otot di atrium menjadi
seperti pacemaker, sehingga kontraksi atrium
menjadi tidak beraturan menyebabkan bentuk
detakan yang bergetar seperti agar-agar yang
bergetar. Saat sinyalnya diteruskan ke ventrikel,
ventrikel berusaha menyamakan kecepatan atrium,
sehingga terjadilah denyut jantung yang sangat tidak
beraturan.
5. VT (Ventricular Tachycardia) & VF (Ventricular
Fibrillation)

Ventricular Tachycardia adalah kondisi otot ventrikel
berdetak sendiri, tidak mengikuti detakan atrium.
Merupakan jenis palpitasi yang dapat mengancam
jiwa. Terjadi karena penyakit jantung koroner saat
otot jantung tidak cukup mendapatkan suplai darah.
Ventricular Fibrillation lebih berbahaya dibandingkan
VT karena dalam kondisi ini, jantung tidak berfungsi
sama sekali dan dapat menyebabkan kematian
seketika seperti yang terjadi pada sebuah serangan
jantung
Supraventrikular takikardi
regular, narrow QRS, takikardi 200/menit, tidak
ditemukan gelombang P.
Atrial Flutter
Terdapat gambaran gelombang flutter
Ventricular takikardi
Regular, QRS lebar, takikardi 158/menit
Atrial fibrillation
Irregular, kecepatan ventrikular sangat cepat
QRS complex are variably widen
Atrial Fibrilasi
Definisi
Takiaritmia supraventrikuler dengan karakteristik
aktivasi atrium yang tidak terkoordinasi dengan
konsekuensi terjadinya perburukan fungsi mekanik
atrium
Paling sering dijumpai dalam praktek sehari-hari. Di
US 2,2 juta pasien AF dan tiap tahun ditemukan
160.000 kasus baru
Prevalensi 1,2% & meningkat dengan
bertambahnya usia
Etiologi
Cardiac
PJK
Dilated cardiomyopathy
Kardiomiopati hipertrofik
Penyakit katup jantung:
reumatik maupun non reumatik
Aritmia jantung
Perikarditis
Non Cardiac
Hipertensi sistemik
Diabetes mellitus
Hipertiroidisme
Penyakit paru: COPD, hipertensi
pulmonal primer, emboli paru
akut
Neurogenik
Klasifikasi
AF Paroksismal <7hari
AF Persisten
>48 jam tapi <7
hari
AF
kronik/permanen
>7 hari

GEJALA
KLINIS
PALPITASI
SESAK NAPAS
KELEMAHAN /
KESULITAN
BEROLAHRAGA
NYERI DADA
PUSING ATAU
PINGSAN
KELELAHAN
KEBINGUNGAN
PEMERIKSAAN PENUNJANG
EKG
Monitor Holter
Event Monitor
Pada EKG
terdapat irreguleritas yang absolut- interval yang tidak
sama antara gelombang R & tidak terdapat Gelombang
P yg normalnya mendahului setiap Komplek QRS
AF menjadi suatu keadaan yang emergensi dibidang
kardiovaskular ketika terjadi peningkatan respon
yang berlebihan oleh ventrikel (Nadi>100x/),
keadaan ini kita sebut sebagai Rapid Ventricular
Response
Echocardiogram
Transesophageal Echocardiogram
Tes Darah hormon tiroid
- keseimbangan elektrolit darah
DIAGNOSIS
Anamnesa : gejala, RPD, Riwayat penyakit keluarga,
kesehatan, kebiasaan


Pemeriksaan Fisik :
- Inspeksi : pembengkakan, pembesaran kelenjar tiroid
- Palpasi : pulsasi arteri radialis
- Auskultasi : laju dan irama detak jantung
Manajemen
Pilihan terapi AF

KASUS
Identitas
Nama : Ny. S
Jenis Kelamin : Wanita
Usia : 70 tahun
No Reg : 111xxxxx
Alamat : Ds. Purwosari RT 2 RW 5
Singosari Malang
Pekerjaan : -
Datang ke IGD 8 Agustus 2014 pukul 13:00
Primary Survey
A : Paten, tidak didapatkan suara nafas
tambahan
B : Gerak dinding dada simetris, RR
36x/mnt, retraksi dinding dada (-), ronki (+)
C : Nadi : 155x/mnt ireguler kuat, akral
hangat, Tax: 37C, CRT < 2 detik,
TD168/108mmHg
D : GCS 456


Pasien masuk triage P 1

Initial Treatment
A : -
B : O2 suport NRBM 10 lpm
C : pasang IV line NaCl 0,9% life line
D : -
Anamnesa (Heteroanamnesa)
Keluhan utama : tidak sadar

Pasien datang dengan keluhan tidak sadar dan sesak sejak 2 jam sebelum
MRS. Selain itu pasien juga mengalami demam terus menerus, sejak 1 hari
sebelum MRS. Namun keluarga pasien tidak mengukur suhu pasien, dan
pasien belum diberi obat apapun oleh keluarganya. Sebelumnya, pasien
menderita luka di punggung kaki kiri sejak 2 minggu SMRS, berawal dari luka
kapalan yang berukuran kecil 3 cm x 4 cm, yang kemudian dikelupas sendiri
oleh pasien, kemudian luka tersebut merembet dan menghitam hingga
mengenai 4 jari kaki kiri pasien. Riwayat pusing (-), mual (-), muntah (-), dan
abdominal discomfort (-).
Pasien diketahui menderita DM sejak 4 tahun yang lalu.

Riwayat penyakit dahulu : pasien tidak memiliki riwayat penyakit seperti ini
sebelumnya. Riwayat DM (+), riw. HT (-), riw. Asthma/alergi (-).

Riwayat pengobatan : pasien mengkonsumsi Glibenclamide sejak 4 tahun yang
lalu, namun pasien tidak rutin dalam meminum obatnya. Pasien kontrol ke
Puskesmas Kedungkandang namun jarang.

Secondary Survey
KU : tampak sakit berat
A : Paten Rh Wh
B : RR= 36x/m, simetris
C : T = 168/108 mmHg
N = 155 x/m, irreguler kuat
Akral hangat, CRT < 2 detik, Tax=37C

Head to toe
Kepala : conjungtiva an (-), ict (-), cy -, pupil bulat isokor 3 mm|3
mm
Leher : pembesaran KGB (-), massa (-), kaku kuduk (-),
Kernig sign I dan II (-)







Thoraks :
C/I = ictus invisible
P = ictus palpable ICS V, 2cm lateral MCL (S)
P = RHM ~ SL (D)
LHM ~ ictus
A = S1S2 tunggal, m (-), g (-)

Abdomen :
flat, soefl, BU (+) N
H : 10 cm, unpalpable
L : traube space tympani
Ekstremitas : edema , akral hangat, CRT > 2 detik
P/ I = spontan, simetris,
retraksi ()
P = SF D=S
P =

A Rh Wh






v v
v v
v v
s s
s s
s s


Planning Diagnosis
EKG
Foto torak
Lab (DL, SE, GDA, troponin, CK-MB, CK-NAC,
Faal hati, Faal ginjal)

EKG (8 Agustus 2014 pukul 13:05)
Hasil :
Atrial fibrilasi (interval yang tidak sama antara
gelombang R, tidak terdapat gelombang P yang
mendahului kompleks QRS)
heart rate 150 x/menit
Kesimpulan :
Atrial fibrilasi dengan heart rate 150 x/menit ( Atrial
Fibrillation Rapid Ventricular Response)


Foto toraks
Hasil :
Posisi AP, asimetris
Soft tissue dan sistem pertulangan
normal
Trakea terletak di tengah
Hemidiaphragm dekstra dan sinistra
dome-shaped
Sudut phrenico costalis dekstra dan
sinistra tajam
Aorta : Elongasi aorta
Jantung : letak normal, CTR >50%
Pulmo : hillus D/S normal, corakan
vaskular normal, gambaran infiltrat
pada lapangan paru D/S

Kesimpulan : kardiomegali
Hasil Laboratorium
Lab Value Lab Value
Leukosit 9910 4000-11.000/L Na 133 136-145
Hitung jenis 1.7/0.5/66.5/24.2/7.1 0-4/0-1/51-67/25-33/2-5 % K 3,72 3.5-5.0
Hemoglobin 12.3 11,4-15,1 g/dL Cl 117 98-106
MCV 91,30 80-93 fl Ureum 52,10
16,6-48,5
mg/dL
MCH 28,90 27-31pg Creatinin 1,65 < 1,2 mg/dL
Hematokrit 38,80% 38-42 % BGA
(on NRBM
10 lpm)
Trombosit 176.000 142-424x10
3
/L pH 7,07 7,35-7,45
SGOT/AST 25 0 - 32 pCO2
38,6
35-45 mmHg

SGPT/ALT 26 0 - 33 pO2 154,9 80-100 mmHg
Albumin 3,66 3.5-5.5 g/dL HCO3 11,3 21-28 mmol/L
GDS
100 <200 BE -19,0
(-3)-(+3) mmol/L
Troponin 0,70 Negatif bila < 1,0 g / L
Positif 1,0 g / L
Sat O2 98,9 >95 %
CK-NAC 108 26 192 U/L Hb 17,5 g/dL
CK-MB 18 7 25 U/L Suhu 37C
Diagnosa Kerja
Atrial Fibrilasi Rapid Ventricular Response
ADHF

Planning Therapy
Inj. Digoxin 1 x 0,25 mg
Inj. Furosemid 40 mg iv
Drip ISDN 1 mg/jam iv
Dispose ke teman sejawat Kardio
Pembahasan
Primary Survey

A : Paten
B : Gerak dinding dada simetris, RR 36x/mnt,
retraksi dinding dada (-), suara nafas
tambahan (+) ronki
C : Nadi : 155x/mnt ireguler, akral hangat ,
Tax: 37C, CRT < 2 detik, TD 168/108 mmHg
D : GCS 456

Pasien masuk triage P 1
Anamnesa Pemeriksaan Fisik
Sesak
Dada berdebar-debar
Ngongsrong
Tidur dengan 2 bantal
Kaki bengkak
DOE (+), PND (+), OE
(+)
Riwayat Hipertensi
Vital Sign
- Takipneu : RR 36x/m
- Takikardi : 155x/m iregular
- Tensi : 168/108 mmHg
Head to toe
- Rhonki lapangan 2/3 paru
bawah
- Ictus palpable at ICS 5 2
cm lateral MCL S
- Edema pada ekstremitas


Diagnosis
Algoritma
Pasien mengeluh sesak dan berdebar debar,
takipneu, takikardi iregular
Anamnesa, Pemeriksaan Fisik, EKG :

Narrow complex Wide complex
Regular Irregular Regular Irregular

Sinus takikardia Atrial Fibrillation Monomorphic VT Polymorphic VT
Supraventrikular
takikardi
Trial flutter with
varying blocks
SVT with
abberancy
Any irregular,
narrow complex
tachycardia with
BBB or WPW
syndrome
Atrial flutter with 1:1
or 2:1 conduction
Multifocal atrial
tachycardia
Any regular,
narrow complex
tachycardia w/
bundle branch
block or Wolff-
Parkinson White

Terapi
Digoxin pada Terapi AF tidak menunjukkan
keefektifan untuk mengontrol kasus akut, namun
pada kasus AF disertai gagal jantung,
digoxin/amiodarone menjadi obat pilihan.
Inj. Digoxin 1 x 0,25
mg
Inj. Furosemid 40 mg
iv
Drip ISDN 1 mg/jam
iv

Terima Kasih